Arsip Bulanan: September 2011

R.E.M. Bubar!

Yep, they call it a day. Setelah berkarier selama 31 tahun (1980 – 2011), grup musik R.E.M. akhirnya membubarkan diri.Selama 31 tahun itu, mereka merilis 15 album studio, yang terakhir dirilis bulan Maret 2011 lalu berjudul Collapse Into Now. Band ini didirikan tahun 1980 di Athens, Georgia oleh Michael Stipe (vokal), Peter Buck (gitar), Mike Mills (bass), dan Bill Berry (drum). R.E.M. mengawali kariernya sebagai band underground yang terkenal di kalangan mahasiswa, merilis lima album dengan label indie IRS: Murmur (1983), Reckoning (1984), Fables of the Reconstruction (1985), Lifes Rich Pageant (1986), dan Document (1987). Warner Bros kemudian mengontrak mereka sampai sekarang. Lima album kemudian dirilis: Green (1988), Out of Time (1991), Automatic for the People (1992), Monster (1994), dan New Advenures in Hi-Fi (1996) sebelum Bill Berry mengundurkan diri. Berry mendesak band untuk tetap berlanjut sebagai trio, yang kemudian merilis lima album terakhir: Up (1998), Reveal (2001), Around the Sun (2004), Accelerate (2008), dan Collapse Into Now (2011).

R.E.M. mulai dikenal di Amerika Serikat berkat hit top 10, The One I Love dari album Document (1987). Setelah menandatangani kontrak dengan Warner Bros, mereka mulai dikenal di seluruh dunia. Album Green (1988) mencetak hit top 10 selanjutnya, Stand. Namun, baru setelah album Out of Time (1991) dan hit Losing My Religion (no. 4 di Billboard Hot 100), R.E.M. benar-benar populer. Sepeninggal Berry, popularitas mereka terus menurun, namun tidak dengan kreativitas dan produktivitas mereka. R.E.M. akan selalu dikenang sebagai band underground/indie sebelum istilah underground/indie menjadi populer. Mereka juga dikenal sebagai salah satu pelopor musik alternatif sebelum musik alternatif menjadi genre tersendiri. Lagu-lagu mereka yang populer selain Losing My Religion antara lain: Everybody Hurts, Man on the Moon, Shiny Happy People, Imitation of Life, Radio Free Europe, Superman, dan It’s the End of the World as We Know It (And I Feel Fine).

Diskografi

Album Studio

  • Murmur (1983)
  • Reckoning (1984)
  • Fables of the Reconstruction (1985)
  • Lifes Rich Pageant (1986)
  • Document (1987)
  • Green (1988)
  • Out of Time (1991)
  • Automatic for the People (1992)
  • Monster (1994)
  • New Adventures in Hi-Fi (1996)
  • Up (1998)
  • Reveal (2001)
  • Around the Sun (2004)
  • Accelerate (2008)
  • Collapse Into Now (2011)

Kompilasi

  • Dead Letter Office (1986)
  • Eponymous (1987)
  • The Best of R.E.M. (1991)
  • In TIme: The Best of R.E.M. 1988 – 2003 (2003)
  • And I Feel Fine…The Best of IRS Years 1982 – 1987 (2006)
  • Part Lies, Part Heart, Part Truth, Part Garbage 1982–2011 (2011)

Album Live

  • R.E.M. Live (2007)
  • Live at the Olympia (2009)

Lain-lain

  • Chronic Town EP (1982)
  • Man on the Moon (1999) – Soundtrack

R.I.P: Utha Likumahuwa

Indonesia kembali kehilangan salah satu seniman terbaiknya, Doa Putra Ebal Johan Likumahuwa, atau yang lebih dikenal dengan nama Utha Likumahuwa, yang meninggal di Jakarta pada tanggal 13 September 2011.Utha, yang juga adik kandung musisi Benny Likumahuwa (The Rollies) ini dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1955 dan mulai mengibarkan namanya di dunia musik Indonesia saat menyanyikan lagu Tembang Pribumi dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1981. Sejak itu, nama Utha seolah tidak pernah hilang dari percaturan musik Indonesia. Mulai album solo, duet, kolaborasi (keroyokan) sampai festival lagu selalu ada namanya.

Dari album solonya terlahir hit seperti: Esok Kan Masih Ada, Gayamu, Aku Pasti Datang, Aku Tetap Cinta, Puncak Asmara, dan Untuk Apa Lagi. Sedangkan yang berupa duet dan kolaborasi anatra lain: Mungkinkah Terjadi dan Kisah Kehidupan (dengan Trie Utami), Percayalah dan Maafkan Kasih (dengan Vonny Sumlang), Kekagumanku (Miracle) (bersama Fariz RM dan Mus Mujiono), dan Cinta di Jalan Ilahi (dengan Louise Hutauruk). Di ajang festival, Utha antara lain menyanyikan Sesaat Kau Hadir (Festival Lagu Populer Indoneisa 1987), Sejuta Mimpiku (Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1988-89), dan Kusadari (Festival Lagu Populer Indonesia 1990). Nama Utha juga tercantum dalam album-album musisi seperti Dodo Zakaria (Akira), Oddie Agam (Beri Setengah Saja), dan Emerald (Cemas).

Nama Utha Likumahuwa perlahan menghilang mulai tahun 1990-an, dan akhirnya penyakit stroke, diabetes, dan gangguan jantung menaklukkannya. Dia pun telah dipanggil menghadap Sang Pencipta. Selamat Jalan, Bang Utha, kami tak kan melupakanmu.


Antara 1000 (A Thousand) Miles dan Sewu Kutho

Konon, orang Jawa hanya bisa menghitung sampai 1000, sehingga jumlah yang sangat banyak akan “dibulatkan” menjadi 1000 atau dalam bahasa Jawanya “sewu”. Di Semarang ada sebuah gedung milik PT KA yang terkenal dengan sebutan Lawang Sewu atau Seribu Pintu. Julukan yang diberikan karena gedung itu punya banyak ruang/kamar, dan terlihat dari jauh adalah pintu-pintu kamar tersebut yang jumlahnya saking banyaknya pun dibulatkan oleh masyarakat menjadi seribu (jumlah persisnya, kurang dari seribu).

Ternyata, orang barat pun tidak jauh berbeda, paling tidak dalam dunia sastra/musik. Buktinya, ada lagu berjudul 1000 Miles (Kimberly Frank, 1994) dan A Thousand Miles (Vanessa Carlton, 2002) yang menyebut jarak seribu mil (1 mil adalah sekitar 1,6 Km) untuk menyebut jarak yang sangat jauh. Dalam konteks kedua lagu itu, mungkin saja jaraknya tidak sampai 1000 mil.

Di Indonesia sendiri, kita mengenal lagu Sewu Kuto yang dipopulerkan oleh penyanyi campursari Didi Kempot. Lagu ini versi aslinya berjudul Hanya Sekejap, ditulis oleh (alm) Arie Wibowo dan dirilis dalam album Bill & Brod berjudul Kodok pun Ikut Bernyanyi (1987). Versi Didi Kempot mengalihbahasakan liriknya menjadi Bahasa Jawa dan mengubah judulnya menjadi Sewu Kuto yang diambil dari baris pertama lirik lagu ini.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.