Arsip Penulis: lawnosta

These Ain’t Love Songs

Yep, Bon Jovi mungkin menyatakan bahwa lagu yang terdapat pada album These Days (1995) itu bukan lagu cinta, tapi liriknya menunjukkan jelas bahwa lagu itu benar-benar lagu cinta. Masih berkaitan dengan arti lirik lagu, kadang-kadang para pendengar lagu langsung mneebak makna sebuah lagu dari judulnya saja. Apalagi jika kebetulan liriknya tidak terlalu lugas pengartiannya, lengkap dengan gaya bahasa penuh metafora, simbolisme, yang mengubur makna sebenarnya dalam bahasa yang berbunga-bunga, puitis, atau bahkan mendayu-dayu.

Salah satu contoh adalah saat Penulis terkaget-kaget melihat lagu U2 yang berjudul Pride (In the Name of Love) digunakan sebagai soundtrack satu episode acara TV yang mengulas soal percintaan (asmara). Sepengetahuan Penulis, lagu tersebut ditulis tentang Martin Luther King, seorang pejuang hak-hak minoritas di Amerika Serikat. Apakah ini memang disengaja, sebagai parodi tersembunyi dalam acara yang memang dikemas secara komedik ini, atau sebaliknya. Apalagi dalam acara tersebut, lagu ini hanya dinyanyikan refreinnya. Bukan berarti U2 tidak pernah menulis lagu cinta. Beberapa lagu U2 seperti: With or Without You, When Love Comes to Town, All I Want Is You, atau Sweetest Thing jelas-jelas bernuansa romantis.

Contoh yang paling mencolok mungkin lagu dari band R.E.M. berjudul The One I Love., yang merupakan hit Top 10 pertama mereka di Amerika Serikat. Dari judulnya orang akan mengira ini adalah sebuah lagu cinta. Lirik lagunya pun bisa diartikan sebagai lagu cinta kalau bukan karena satu baris yang berbunyi: … a simple prop, to occupy my time … Michael Stipe, sang penulis lirik, mengatakan bahwa lagu ini mengenai seseorang yang dimanfaatkan terus-menerus. Tidak pernah diketahui secara pasti apakah salah pengertian ini yang membuat lagu ini menjadi hit.

 


100 Album Terbaik Tahun 2000 – 2009 (versi Majalah Rolling Stone)

Well, ternyata artikel tentang 500 Album/Lagu Terbaik Sepanjang Masa versi Majalah Rolling Stone masih menarik perhatian sebagian besar pembaca blog ini. Banyak juga yang berkomentar mengapa album/lagu/artis tertentu tidak masuk dalam peringkat tersebut. Terus terang saja, daftar itu dikeluarkan beberapa tahun yanglalu dan mencakup sebagian besar album/lagu dari dekade 60-an sampai 90-an. Bagi mereka yang tidak familiar dengan album/lagu/artis dari dekade tersebut mungkin akan bertanya-tanya, kemana gerangan album/artis kontemporer. Nah, Majalah Rolling Stone telah mengeluarkan daftar 100 album terbaik dekade 2000-an, mencakup album-album yang dirilis pada tahun 2000 – 2009, silakan disimak di bawah ini:

  1. Kid A (Radiohead)
  2. Is This It (The Strokes)
  3. Hotel Foxtrot (Wilco Yankee)
  4. Jay-Z (The Blueprint)
  5. Elephant (The White Stripes)
  6. Funeral (Arcade Fire)
  7. The Marshall Mathers LP (Eminem)
  8. Modern Times (Bob Dylan)
  9. Kala (M.I.A.)
  10. The College Dropout (Kanye West)
  11. Love and Theft (Bob Dylan)
  12. Sound of Sliver (LCD Soundsystem)
  13. All That You Can’t Leave Behind (U2)
  14. The Black Album (Jay-Z)
  15. The Rising (Bruce Springsteen)
  16. Stankonia (Outkast)
  17. Sea Change (Beck)
  18. Oracular Spectacular (MGMT)
  19. White Blood Cells (The White Stripes)
  20. Back to Black (Amy Winehouse)
  21. A Rush of Blood to the Head (Coldplay)
  22. American Idiot (Green Day)
  23. Voodoo (Dangelo)
  24. Magic (Bruce Springsteen)
  25. Amnesiac (Radiohead)
  26. Cat Power (The Greatest)
  27. Yoshimi Battles the Pink Robots (The Flaming Lips)
  28. Fever to Tell (Yeah Yeah Yeahs)
  29. Agatis Byrjun (Sigur Ros)
  30. In Rainbows (Radiohead)
  31. Jacket Z (My Morning)
  32. Tha Carter III (Lil Wayne)
  33. Discovery (Daft Punk)
  34. Speakerboxxx/The Love Below (Outkast)
  35. Stories from the City, Stories from the Sea (PJ Harvey)
  36. No Line on the Horizon (U2)
  37. Get Rich or Die Tryin’ (50 Cent)
  38. Heartbreaker (Ryan Adams)
  39. Aha Shake Heartbreak (Kings of Leon)
  40. Late Registration (Kanye West)
  41. Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not (Arctic Monkeys)
  42. Figure 8 (Elliott Smith)
  43. Hot Fuss (The Killers)
  44. Toxicity (System of a Down)
  45. Graduation (Kanye West)
  46. Futuresex/Lovesounds (Justin Timberlake)
  47. Fleet Foxes (Fleet Foxes)
  48. Dear Science (TV on the Radio)
  49. Extraordinary Machine (Fiona Apple)
  50. I’m Wide Awake It’s Morning (Bright Eyes)
  51. Kill the Moonlight (Spoon)
  52. Arular (M.I.A.)
  53. Only by the Night (Kings of Leon)
  54. Come Away with Me (Norah Jones)
  55. Raising Sand (Robert Plant & Alison Krauss)
  56. Vampire Weekend (Vampire Weekend)
  57. Transatlanticism (Death Cab for Cutie)
  58. The Grey Album (Danger Mouse)
  59. Turn on the Bright Lights (Interpol)
  60. Phoenix (Wolfgang Amadeus Phoenix)
  61. Oh, Inverted World (The Shins)
  62. American III: Solitary Man (Johnny Cash)
  63. 808s and Heartbreak (Kanye West)
  64. Time (The Revelator) (Gillian Welch)
  65. Próxima Estación: Esperanza (Manu Chao)
  66. I Am a Bird Now (Anthony & The Johnsons)
  67. Vespertine (Bjork)
  68. How to Dismantle an Atomic Bomb (U2)
  69. Lifted or the Story is in the Soil, Keep Your Ear to the Ground (Bright Eyes)
  70. Under Construction (Missy Elliott)
  71. Franz Ferdinand (Franz Ferdinand)
  72. The Woods (Sleater Kinney)
  73. Parachutes (Coldplay)
  74. Stadium Arcanum (Red Hot Chilli Peppers)
  75. Neon Bible (Arcade Fire)
  76. Sigur Ros (Sigur Ros)
  77. And Then Nothing Turned Itself Inside Out (Yo La Tengo)
  78. Illinois (Sufjan Stevens)
  79. Electric Version (The New Pornographers)
  80. Youth and Young Manhood (Kings of Leon)
  81. Gold (Ryan Adams)
  82. Rated R (Queens of the Stone Age)
  83. Attack Release (The Black Keys)
  84. The Eminem Show (Eminem)
  85. Viva La Vida or Death and His Friends (Coldplay)
  86. Give Up (The Postal Service)
  87. St. Elsewhere (Gnarls Barkley)
  88. Smile (Brian Wilson)
  89. Hail to the Thief (Radiohead)
  90. Dimanche a Bamako (Amadou & Miriam)
  91. Veni Vidi Vicious (The Hives)
  92. For Emma Forever Ago (Bon Iver)
  93. Unearthed (Johnny Cash)
  94. Up the Bracket (The Libertines)
  95. Songs in A Minor (Alicia Keys)
  96. Original Pirate Material (The Streets)
  97. Sky Blue Sky (Wilco)
  98. Retirn to Cookie Mountain (TV on the Radio)
  99. Almost Killed Me (The Hold Steady)
  100. Ten New Songs (Leonard Cohen)

Whitney Houston (1963 – 2012), We Will Always Love You…

Whitney Elizabeth Houston, dilahirkan pada 9 Agustus 1963 di New Jersey, USA. Ibunya, Cissy Houston, adalah seorang penyanyi soul, dan tantenya, Dionne Warwick, adalah seorang penyanyi yang terkenal pada masanya (salah satu lagunya yang paling dikenal adalah That’s What Friends Are for, berkolaborasi dengan Stevie Wonder, Elton John, dan Gladys Knight). Aretha Franklin, yang dijuluki Queen of Soul adalah ibu permandiannya, jadi Whitney seolah terlahir sebagai seorang penyanyi. Suara mezzo-sopranonya seolah mampu menaklukkan lagu apapun. Whitney mengawali kariernya pada usia muda.  Tahun 1978, ia mengisi vokal latar untuk single Chaka Khan, I’m Every Woman (yang kemudian dinyanyikannya ulang dalam album soundtrack film The Bodyguard). Ia kemudian juga mencoba terjun ke dunia modeling. Tahun 1983, Arista Records mengontraknya dan setahun kemudian ia tampil sebagai bintang tamu untuk album Teddy Pendergrass untuk lagu Hold Me. Bulan Februari 1985, album solo perdananya, Whitney Houston, dirilis. Album ini mencetak tiga hit nomor satu: Saving All My Love for You, How Will I Know, dan Greatest Love of All serta memenangkan Grammy Award untuk penampilan pop wanita terbaik.

Album keduanya, Whitney (1987), bahkan lebih sukses lagi, mencetak empat hit nomor satu: I Wanna Dance with Somebody, Didn’t We Almost Have It All, So Emotional, dan Where Do Broken Hearts Go?, membuatnya menjadi artis pertama yang mencetak tujuh hit nomor satu di Amerika Serikat secara berturut-turut dan artis wanita pertama yang mencetak empat hit nomor satu dari satu album (sebelum disamai Mariah Carey dan Janet Jackson). Whitney juga memenangkan Grammy Award keduanya untuk penampilan pop wanita terbaik. Di tahun 1988, Whitney merekam lagu One Moment in Time untuk Olimpiade Musim Panas di Seoul, Korea Selatan.

Album ketiganya, I’m Your Baby Tonight (1990) tidak sesukses dua album sebelumnya, namun masih mampu mencetak dua hit nomor satu: I’m Your Baby Tonight dan All the Man That I Need. Memasuki dekade 90-an, Whitney mulai memasuki dunia film. Film perdananya, The Bodyguard (1992) yang dibintanginya bersama Kevin Costner menjadi box-office hit dan album soundtracknya terjual 44 juta kopi di seluruh dunia dan menjadi album soundtrack terlaris sepanjang masa, mengalahkan soundtrack film Saturday Night Fever dan Dirty Dancing. Lagu I Will Always Love You, yang ditulis dan dinyanyikan oleh Dolly Parton di tahun 1974, menjadi hit nomor satu selama 14 minggu, rekor terlama saat itu (sebelum dipecahkan Mariah Carey/Boyz II Men dengan lagu One Sweet Day). Whitney kemudian membintangi dan menyanyikan lagu tema untuk film Waiting to Exhale (1995) (yang melejitkan hit nomor satu Exhale (Shoop Shoop)) dan The Preacher’s Wife (1997). Whitney berduet dengan Mariah Carey dalam lagu When You Believe, yang menjadi lagu tema film Disney The Prince of Egypt (1998). Di tahun yang sama, Whitney merilis album keempatnya, My Love Is Your Love.

Whitney merilis album kompilasi, Whitney: The Greatest Hits (2000) yang berisi lagu-lagu hitnya dtambah empat lagu baru. Sepanjang ahun 2000-an Whitney hanya merilis dua album: Just Whitney (2002) dan I Look to You (2009). Sepanjang dekade ini, Whitney banyak menghadapi masalah, terutama dengan narkoba dan masalah rumah tangga dengan suaminya, Bobby Brown yang dinikahinya di tahun 1992. Pasangan ini akhirnya berpisah di tahun 2007. Saat album terakhirnya dirilis, nampak jelas bahwa pengaruh obat-obatan ini telah merusak asetnya yang paling berharga: suara emasnya, dan juga semua yang dihasilkan selama karier menyanyinya. Pada tanggal 11 Februari 2012, Whitney Houston ditemukan sudah tak bernyawa di Beverly Hilton Hotel di Beverly Hills, California. Sebelum meninggal, Whitney telah menyelesaikan syuting film terbarunya, Sparkle. Ia meninggalkan seorang putri. Selamat jalan, Whitney, terima kasih atas lagu-lagu yang telah kaubawakan dengan suara emasmu, yang akan tetap abadi di telinga dan hati kami semua. We will always love you…

Diskografi:

  • Whitney Houston (1985)
  • Whitney (1987)
  • I’m Your Baby Tonight (1989)
  • OST – The Bodyguard (1992)
  • OST – The Preacher’s Wife (1997)
  • My Love Is Your Love (1998)
  • Whitney: The Greatest Hits (2000)
  • Love, Whitney (2001)
  • Just Whitney (2002)
  • One Wish: the Holiday Album (2003)
  • The Ultimate Collection (2007)
  • I Look to You (2009)

Lirik Lagu dan Arti di Baliknya

Apakah kita bisa menebak isi pikiran orang lain? Pertanyaan sederhana yang seharusnya ditanyakan setiap kita mendiskusikan tentang orang lain. Sebuah karya seni, baik itu berupa seni rupa maupun seni suara (musik) penuh dengan unsur subyektivitas dan situasional. Sebuah lagu, jika proses kreatif penciptaannya menghasilkan sesuatu yang menarik dan patut dikenang (memorable), akan mampu menembus dimensi waktu, jauh setelah diciptakan dan populer. Lirik lagu, yang ditulis dalam bahasa tertentu, akan mengalami proses interpretasi oleh para pendengarnya, yang tidak mustahil melahirkan pemaknaan yang berbeda-beda, dan kadang-kadang jauh dari makna lugas atau bahkan yang dimaksudkan oleh sang penulisnya sendiri.

Tentu saja, seorang penulis (lirik) lagu yang kreatif biasanya tidak membiarkan karyanya berhenti pada satu level penafsiran saja. Walau kadang-kadang penafsiran lirik bisa sangat fantastis, terutama pada karya musisi barat, tema-tema kontroversial seperti homoseksualitas dan narkoba bisa tiba-tiba muncul pada lagu yang kedengaran “normal”. Bagi yang tertarik, bisa menyimak diskusi di situs-situs seperti songfacts.com, lagu-lagu seperti Kiss from a Rose (Seal) dan 25 or 6 to 4 (Chicago) ternyata bisa dihubungkan dengan narkoba, dan We Are the Champions (Queen) dan How Soon Is Now? (The Smiths) bisa dihubungkan dengan homoseksualitas (gay). Mereka yang mencari lagu bertema narkoba mungkin tidak terlu puas dengan lagu seperti White Lines (Grandmaster Flash yang dinyanyikan ulang oleh Duran Duran) atau Toy Soldiers (Martika, dicuplik oleh Eminem), atau tema homoseksualitas dalam lagu I’m Too Sexy (Right Said Fred) dan I Kissed a Girl (Jill Sobule, bisa juga Katie Perry).

Lalu, sedalam mana lirik-lirik lagu Indonesia? Jika Anda memperhatikan lagu-lagu yang populer beberapa tahun belakangan ini mungkin Anda bisa menjawab bahwa lirik lagu populer Indonesia cuma begitu-begitu saja. Mereka yang mengikuti perkembangan musik Indonesia sejak dekade 70-an mungkin akan sangat merindukan lirik-lirk lagu dari Iwan Abdurrachman, Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua (yang banyak berkolaborasi dengan para penyair), Iwan Fals, Sawung Jabo, Dorrie Kalmas, atau Katon Bagaskara. Untungnya, tema-tema kontroversial tidak terlalu banyak diangkat dan didiskusikan, mungkin karena kita telah terbiasa menerima apa adanya tema yang disodorkan para penulis lirik. Kalau kita menganalisis seperti di atas, mungkin lagu karya Sonny Josz, Minggat, bisa diartikan lain, karena nama Sri di Jawa itu juga bisa menjadi nama seorang pria…..


2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 35.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 13 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.


Warren Wiebe

Warren Wiebe

Warren Wiebe

Mungkin banyak yang akan bertanya-tanya, “Siapa Gerangan Warren Wiebe?” Well, kenalkah Anda dengan lagu This Must Be Love? Lagu yang terdapat dalam album David Foster, River of Love (1989) ini cukup populer di Indonesia, mungkin sampai saat ini. Lagu ini tidak dinyanyikan oleh David Foster sendiri, namun oleh dua vokalis, Warren Wiebe dan Jeff Pescetto. Wiebe juga menyanyikan empat lagu lain dalam album River of Love: River of Love (bersama Bryan Adams dan Hamish Stuart), Walkaway, Is There a Chance, dan Living for the Moment. Ya, Ia adalah salah satu vokalis kesayangan David Foster, yang dikenal sebagai penulis lagu dan produser bertangan dingin itu. Wiebe sering dipercaya untuk merekam versi demo dari beberapa lagu yang ditullis atau diproduseri oleh Foster.

Lagu-lagu lain yang mungkin Anda kenal adalah: Only Love (dari album Sadao Watanabe, Sweet Deal), Roxann (dari album Jay Graydon, Airplay for the Planet) dan Voices That Care (1991) juga dinyanyikan oleh Wiebe. Voices That Care merupakan proyek yang serupa dengan Band Aid atau USA for Africa yang bertujuan untuk memberikan dukungan moral bagi pasukan Amerika Serikat dalam Operasi Badai Gurun (Desert Storm) dalam Perang Irak 1991. Versi demo lagu ini dinyanyikan oleh Wiebe, dan dalam versi resminya vokal Wiebe dapat didengar pada bagian akhir lagu ini.

Dilahirkan pada tanggal 18 Juli 1953, Warren Wiebe mengawali kariernya sebagai pemain bass pada beberapa band jazz di San Diego, Wiebe ditemukan oleh David Foster dan Burt Bacharach di tahun 1987. Wiebe merekam lagu tema film Listen to Me (1989) bersama Celine Dion,namun tidak pernah dirilis secara resmi. Konon, saat merekam versi demo untuk lagu When I Fall in Love untuk soundtrack film Sleepless in Seattle (1992), Celine Dion sangat menyukainya, bahkan menyarankan agar Wiebe menyanyikan versi resminya menggantikan Clive Griffin. Wiebe banyak tampil sebagai vokalis tamu dan latar di banyak album, di antaranya sebagai vokal latar dalam lagu I Swear (All-4-One) dan Send Me a Lover (Taylor Dayne). Ia juga tampil pada pernikahan Celine Dion dan Rene Agnelli pada tahun 1994. Sayangnya, Wiebe memilih mengakhiri hidupnya pada tanggal 25 Oktober 1998, setelah berjuang dengan masalah psikologis. Sampai hari ini, ia belum merilis satu album solo pun dan lagu-lagu yang dinyanyikannya belum dirilis dalam bentuk album kompilasi. Selamat tinggal Warren Wiebe, suaramu akan tetap mengalun bertahun-tahun dari hari ini dan kami akan tetap mengenangmu dalam kondisi terbaikmu. (Sumber: Wikipedia dan warrenwiebe.com)
.

This Must Be Love
written by David Foster and Lamont Dozier
vocals by Warren Wiebe and Jeff Pescetto

What is this look I often see
faces filled with ecstasy
what’s going ’round,tell me what have they found
I’ve been searchin’ for the answer
trying to work my feelings out
I been up all night,girl
nothing is goin’ right
Since we met I’ve had some problems
with words I couldn’t say
now you’ve changed my life forever

Chorus:
This must be love
the one I heard about
no other kind of feeling
turns me inside out
Yes this must be love
controlling my heart and mind
let’s take a vow to make it last
’til the end of time,’til the end of time.

It’s a strange sensation,a new creation
and I just don’t have a defense against it
I’m completely outdone
for the first time there’s only one
the things I did,I don’t do no more
there’s no desire,no looking for
who or what is to blame
no it cannot be explained
since we’ve met I’ve had some problems
with words I couldn’t say
now you’ve changed my life forever

-Repeat Chorus-

Bridge:
Something’s come over me
you’re all my eyes can see
whatever it may be

-Repeat Chorus-


R.E.M. Bubar!

Yep, they call it a day. Setelah berkarier selama 31 tahun (1980 – 2011), grup musik R.E.M. akhirnya membubarkan diri.Selama 31 tahun itu, mereka merilis 15 album studio, yang terakhir dirilis bulan Maret 2011 lalu berjudul Collapse Into Now. Band ini didirikan tahun 1980 di Athens, Georgia oleh Michael Stipe (vokal), Peter Buck (gitar), Mike Mills (bass), dan Bill Berry (drum). R.E.M. mengawali kariernya sebagai band underground yang terkenal di kalangan mahasiswa, merilis lima album dengan label indie IRS: Murmur (1983), Reckoning (1984), Fables of the Reconstruction (1985), Lifes Rich Pageant (1986), dan Document (1987). Warner Bros kemudian mengontrak mereka sampai sekarang. Lima album kemudian dirilis: Green (1988), Out of Time (1991), Automatic for the People (1992), Monster (1994), dan New Advenures in Hi-Fi (1996) sebelum Bill Berry mengundurkan diri. Berry mendesak band untuk tetap berlanjut sebagai trio, yang kemudian merilis lima album terakhir: Up (1998), Reveal (2001), Around the Sun (2004), Accelerate (2008), dan Collapse Into Now (2011).

R.E.M. mulai dikenal di Amerika Serikat berkat hit top 10, The One I Love dari album Document (1987). Setelah menandatangani kontrak dengan Warner Bros, mereka mulai dikenal di seluruh dunia. Album Green (1988) mencetak hit top 10 selanjutnya, Stand. Namun, baru setelah album Out of Time (1991) dan hit Losing My Religion (no. 4 di Billboard Hot 100), R.E.M. benar-benar populer. Sepeninggal Berry, popularitas mereka terus menurun, namun tidak dengan kreativitas dan produktivitas mereka. R.E.M. akan selalu dikenang sebagai band underground/indie sebelum istilah underground/indie menjadi populer. Mereka juga dikenal sebagai salah satu pelopor musik alternatif sebelum musik alternatif menjadi genre tersendiri. Lagu-lagu mereka yang populer selain Losing My Religion antara lain: Everybody Hurts, Man on the Moon, Shiny Happy People, Imitation of Life, Radio Free Europe, Superman, dan It’s the End of the World as We Know It (And I Feel Fine).

Diskografi

Album Studio

  • Murmur (1983)
  • Reckoning (1984)
  • Fables of the Reconstruction (1985)
  • Lifes Rich Pageant (1986)
  • Document (1987)
  • Green (1988)
  • Out of Time (1991)
  • Automatic for the People (1992)
  • Monster (1994)
  • New Adventures in Hi-Fi (1996)
  • Up (1998)
  • Reveal (2001)
  • Around the Sun (2004)
  • Accelerate (2008)
  • Collapse Into Now (2011)

Kompilasi

  • Dead Letter Office (1986)
  • Eponymous (1987)
  • The Best of R.E.M. (1991)
  • In TIme: The Best of R.E.M. 1988 – 2003 (2003)
  • And I Feel Fine…The Best of IRS Years 1982 – 1987 (2006)
  • Part Lies, Part Heart, Part Truth, Part Garbage 1982–2011 (2011)

Album Live

  • R.E.M. Live (2007)
  • Live at the Olympia (2009)

Lain-lain

  • Chronic Town EP (1982)
  • Man on the Moon (1999) – Soundtrack

R.I.P: Utha Likumahuwa

Indonesia kembali kehilangan salah satu seniman terbaiknya, Doa Putra Ebal Johan Likumahuwa, atau yang lebih dikenal dengan nama Utha Likumahuwa, yang meninggal di Jakarta pada tanggal 13 September 2011.Utha, yang juga adik kandung musisi Benny Likumahuwa (The Rollies) ini dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1955 dan mulai mengibarkan namanya di dunia musik Indonesia saat menyanyikan lagu Tembang Pribumi dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1981. Sejak itu, nama Utha seolah tidak pernah hilang dari percaturan musik Indonesia. Mulai album solo, duet, kolaborasi (keroyokan) sampai festival lagu selalu ada namanya.

Dari album solonya terlahir hit seperti: Esok Kan Masih Ada, Gayamu, Aku Pasti Datang, Aku Tetap Cinta, Puncak Asmara, dan Untuk Apa Lagi. Sedangkan yang berupa duet dan kolaborasi anatra lain: Mungkinkah Terjadi dan Kisah Kehidupan (dengan Trie Utami), Percayalah dan Maafkan Kasih (dengan Vonny Sumlang), Kekagumanku (Miracle) (bersama Fariz RM dan Mus Mujiono), dan Cinta di Jalan Ilahi (dengan Louise Hutauruk). Di ajang festival, Utha antara lain menyanyikan Sesaat Kau Hadir (Festival Lagu Populer Indoneisa 1987), Sejuta Mimpiku (Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1988-89), dan Kusadari (Festival Lagu Populer Indonesia 1990). Nama Utha juga tercantum dalam album-album musisi seperti Dodo Zakaria (Akira), Oddie Agam (Beri Setengah Saja), dan Emerald (Cemas).

Nama Utha Likumahuwa perlahan menghilang mulai tahun 1990-an, dan akhirnya penyakit stroke, diabetes, dan gangguan jantung menaklukkannya. Dia pun telah dipanggil menghadap Sang Pencipta. Selamat Jalan, Bang Utha, kami tak kan melupakanmu.


Antara 1000 (A Thousand) Miles dan Sewu Kutho

Konon, orang Jawa hanya bisa menghitung sampai 1000, sehingga jumlah yang sangat banyak akan “dibulatkan” menjadi 1000 atau dalam bahasa Jawanya “sewu”. Di Semarang ada sebuah gedung milik PT KA yang terkenal dengan sebutan Lawang Sewu atau Seribu Pintu. Julukan yang diberikan karena gedung itu punya banyak ruang/kamar, dan terlihat dari jauh adalah pintu-pintu kamar tersebut yang jumlahnya saking banyaknya pun dibulatkan oleh masyarakat menjadi seribu (jumlah persisnya, kurang dari seribu).

Ternyata, orang barat pun tidak jauh berbeda, paling tidak dalam dunia sastra/musik. Buktinya, ada lagu berjudul 1000 Miles (Kimberly Frank, 1994) dan A Thousand Miles (Vanessa Carlton, 2002) yang menyebut jarak seribu mil (1 mil adalah sekitar 1,6 Km) untuk menyebut jarak yang sangat jauh. Dalam konteks kedua lagu itu, mungkin saja jaraknya tidak sampai 1000 mil.

Di Indonesia sendiri, kita mengenal lagu Sewu Kuto yang dipopulerkan oleh penyanyi campursari Didi Kempot. Lagu ini versi aslinya berjudul Hanya Sekejap, ditulis oleh (alm) Arie Wibowo dan dirilis dalam album Bill & Brod berjudul Kodok pun Ikut Bernyanyi (1987). Versi Didi Kempot mengalihbahasakan liriknya menjadi Bahasa Jawa dan mengubah judulnya menjadi Sewu Kuto yang diambil dari baris pertama lirik lagu ini.


Yen Ing Tawang Ana Lintang

Bicara tentang lirik yang ditafsirkan lain, lagu ini salah satu contohnya. Selintas, dlihat dari liriknya lagu ini berisi ungkapan seorang jejaka yang resah menantikan kedatangan seorang dara (cah ayu). Tak heran saat lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi wanita, sering kata “cah ayu” diganti dengan “cah bagus”, mengubah sudut pandang lagu. Seandainya penyanyi tersebut mengetahui latar belakang penciptaan lagu ini tentu penggantian kata itu tidak diperlukan.

Sebenarnya Andjar Any, penulis lagu ini, mendapat ilham saat menunggui kelahiran putri pertamanya (sebelumnya beliau sudah dikaruniai tiga orang putra) di tahun 1964. Konon ceritanya, Pak Andjar ini dilarang masuk ruang bersalin dan terpaksa menunggui kelahiran putri pertamanya itu di pelataran rumah sakit. Kebetulan waktu itu malam yang cerah, dan bintang-bintang di langit pun terlihat jelas. Muncullah ide untuk menulis lagu ini, melambangkan kegelisahan dan kecemasan seorang calon ayah menantikan kelahiran putri pertamanya. Jadi, “cah ayu” dalam lirik lagu ini bukanlah seorang gadis cantik, melainkan seorang jabang bayi perempuan yang baru lahir. Maka dari itu, Waldjinah, yang memopulerkan lagu ini pun menyanyikan liriknya tanpa mengganti satu kata pun. (dan jangan tanya lagi tentang yang menganggap “tawang” itu adalah Stasiun Kereta Api Tawang di Semarang!).

Tahun 1966, perusahaan rekaman Lokananta membeli lagu ini seharga Rp 16 juta, jumlah yang sangat besar. Andjar Any yang terlalu gembira, menyimpan uang itu terlalu lama, sampai tahun 1967 saat pemotongan nilai uang rupiah memangkas jumlah itu menjadi hanya 16 ribu rupiah saja.

(R.I.P. Andjar Any: Ponorogo, 3 Maret 1936 – Surakarta, 13 November 2008)

YEN ING TAWANG ANA LINTANG
(Andjar Any)

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu
Aku ngenteni tekamu
Marang mega ing akasa, nimas
Sun takokne pawartamu

Janji-janji aku eling cah ayu
Sumedot rasaning ati
Lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas
Tresnaku sundhul wiyati

Dhek semana janjmu disekseni
Mega kartika kairing rasa tresna ati

Yen ing tawang ana lintang cah ayu
Rungokna tangising ati
Binarung swaraning ratri, nimas
ngenteni mbulan ndadari

(Sumber: Lambertus Hurek)

[terjemahan Bahasa Indonesia]

jika di langit ada bintang..duhai cantik
kunanti kehadiranmu
kepada mega di angkasa, dinda
kutanyakan kabar beritamu

semua janji ku ingat..duhai cantik
nyaris putus asa di hati ini
bintang-bintang memanggil-manggil, dinda
cintaku sepenuh hati

Kala itu, janjimu disaksikan
langit dan bintang, teriring rasa cinta di hati

jika di langit ada bintang …duhai cantik
dengarkan tangis dalam hati
bersama suara malam, dinda
menanti bulan purnama


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.