Posted in Musik

Menemukan Musik di Internet


Salah satu daya tarik internet adalah cakupannya yang global. Siapapun bisa tampil, apapun bisa dibahas, juga lalu lintas pertukaran data yang berlangsung sekejap mata merupakan hakikat internet saat ini. Menemukan barang gratis, baik fisik maupun maya adlah daya tarik internet terbesar bagi Penulis. Saat-saat pertama mengenal internet, pencarian barang gratisan adalah prioritas utama, dan hampir setiap minggu kiriman barang itu menanti di kantor pos.

Setelah bekerja dengan ‘fasilitas’ utama koneks internet, kegemaran bergeser ke arah mencari musik, atau tepatnya lagu-lagu berformat digital (mp3) di internet. Kebetulan pada saat itu (1999-2000), Napster baru muncul dan seketika meledak. Di masa bandwidth internet masih terbatas (apalagi di Indonesia), munculnya Napster adalah impian yang menjadi nyata. Waktu itu, menemukan musik di internet sangat sulit. Situs yang memasang nama mp3 kebanyakan hanyalah situs berisi link yang jika diklik akan berputar-putar entah ke mana. Situs mp3.com yang populer (karena suka bagibagi CD gratis) hanya berisi artis-artis nonlabel yang kurang populer. Situs yang benar-benar berisi file mp3 yang bisa didownload (gratis) pun usianya tidak panjang.

Napster hadir dengan teknologi P2P yang revolusioner. Prinsipnya adalah, file mp3 yang didownload berada di PC pengguna yang terinstalasi program Napster di dalamnya dan disharing seperti halnya sharing file/folder di Windows Networking. Server Napster melakukan peng-indeks-an file-file mp3 agar bisa dicari dari dalam program Napster. Pengguna yang akan mendownload file tertentu akan langsung terhubung dengan PC pengguna lain yang memiliki file tersebut. Sebuah solusi penghematan bandwidth dan sumber daya server.

Sayang, kejayaan Napster tidak bertahan lama. Tuntutan hukum membuatnya gulung tikar. Para pengekor dan penggantinya pun bermunculan, mulai Gnutella, FileMX, KazaA, Morpheus, EDonkey, eMule, sampai BitTorrent. Satu per satu teknologi file sharing muncul dan hilang, kebanyakan karena tuntutan hukum. Akhirnya, iPod dan iTunes muncul dan manjadi solusi musik digital legal via internet. Layanan lain pun bermunculan seperti Rhapsody, Zune, dan (new) Napster.

Namun, di sisi lain, bandwidth internet yang semakin lega (lebar) dan kapasitas media penyimpanan yang semakin besar dan murah membuat munculnya (kembali) layanan penyimpanan file gratis seperti RapidShare, MegaUpload, dan GudangUpload. Layanan ini menjanjikan penyimpanan file ukuran besar, bandwidth besar, anonim, serta opsi gratis dan berbayar. Layanan ini dimaksudkan untuk mengirim file berukuran besar yang melebihi kuota attachment e-mail, sehingga link download hanya diketahui oleh yang mengupload. Selain itu, tidak ada fasilitas search untuk mencari file-file tertentu seperti mp3 atau DVD. Tentu saja, layanan seperti ini juga dimanfaatkan untuk menyimpan file mp3, warez, dan DVD ripping. Link downloadnya biasanya disebar melalui forum, IRC, atau blog. Dengan sedikit kesabaran, Anda bisa menemukan blog yang isinya melulu link-link download file-file musik, film, atau warez.

Akankah modus seperti ini bertahan? Akankah layanan penyimpanan file online terkena masalah hukum seperti Napster dkk? Sejauh ini nampaknya belum, mengingat penyedia layanan ini juga selalu mencantumkan klausul tentang larangan menyimpan file-file tipe tertentu. Namun, mengingat banyaknya file yang tersimpan dan hampir mustahil dilakukan pengecekan menyeluruh (hampir semua file disimpan berbentuk arsip zip/rar dan sebagian diproteksi dengan password), nampaknya banyak celah yang terbuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s