Born in the U.S.A.

Menilik judulnya, dan mendengarkannya untuk pertama kali, dengan beat dan chorus yang catchy, lagu ini dianggap sebagai semacam jingoisme ala Amerika. Begitulah perasaan Penulis saat pertama kali mendengarkan lagu ini 25 tahun yang lalu. Namun ternyata setelah mendalami keseluruhan liriknya, lagu ini merupakan otokritik terhadap kebijakan Amerika, terutama Perang Vietnam. Konon, judul awal lagu ini adalah Vietnam, dan menceritakan tentang perlakuan terhadap veteran perang Vietnam yang merasa diabaikan oleh pemerintah. Sutradara Paul Schrader menulis sebuah skrip film berjudul Born in the U.S.A. kepada musisi Bruce Springsteen yang kemudian memakainya sebagai judul lagu. Saat skrip itu difilmkan, judulnya terpaksa diganti menjadi Light of Day untuk menghindari asosiasi dengan lagu dan album Springsteen yang tengah meledak waktu itu.

Uniknya, Ronald Reagan dari Partai Republik yang sedang berkampanye untuk pemilihan Presiden tahun 1985, menggunakan lagu ini sebagai tema kampanyenya, tanpa menyadari makna sesungguhnya dari lagu ini. Seperti kita ketahui, kebijakan partai Republik di AS adalah mendukung perang untuk menyelesaikan konflik. Springsteen, seorang demokrat, sangat terkejut dengan kenyataan ini. Di kesempatan lain, ia menolak tawaran US$ 12 juta dari Chrysler untuk menggunakan lagu ini dalam iklan produknya. Lagu ini dirilis dalam album Born in the U.S.A. (1984) dan menduduki posisi ke-9 di tangga lagu Billboard. Album Born in the U.S.A. menjadi album Bruce Springsteen tersukses, terjual 15 juta kopi di Amerika dan menduduki posisi pertama serta melahirkan tujuh hit top 10 di tangga lagu Billboard.

Born in the U.S.A.
(Bruce Springsteen)

Born down in a dead man’s town
The first kick I took was when I hit the ground
You end up like a dog that’s been beat too much
‘Til you spend half your life just covering up

[chorus:]
Born in the U.S.A.
Born in the U.S.A.
Born in the U.S.A.
Born in the U.S.A.

I got in a little hometown jam
And so they put a rifle in my hands
Sent me off to Vietnam
To go and kill the yellow man

[chorus]

Come back home to the refinery
Hiring man says “Son if it was up to me”
I go down to see the V.A. man
He said “Son don’t you understand”

[chorus]

I had a buddy at Khe Sahn
Fighting off the Viet Cong
They’re still there, he’s all gone
He had a little girl in Saigon
I got a picture of him in her arms

Down in the shadow of the penitentiary
Out by the gas fires of the refinery
I’m ten years down the road
Nowhere to run, ain’t got nowhere to go

I’m a long gone Daddy in the U.S.A.
Born in the U.S.A.
I’m a cool rocking Daddy in the U.S.A.
Born in the U.S.A.

Iklan

(Bukan) Soundtrack

Inspirasi sebuah lagu bisa datang dari mana saja: pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, obrolan/curhat sesama teman, observasi/peengamatan langsung, kejadian nyata, mimpi, atau sekadar lamunan di siang bolong. Dalam hubungannya dengan karya lain seperti buku dan film, sebuah lagu biasanya menjadi suara latar atau soundtrack yang fungsi utamanya adalah mempromosikan film, atau dalam beberapa kasus sebuah buku. Jika film itu berdasarkan sebuah buku, maka soundtrack bisa mempromosikan keduanya sekaligus.

Namun, dalam beberapa kasus bisa juga sebuah lagu menginspirasi buku atau film, atau sebuah lagu dibuat karena terinspirasi sebuah buku atau film tanpa menjadi soundtrack. Di bawah ini akan diahas dua contoh lagu yang ditulis berdasarkan buku (dan bukunya sudah dibuat film), namun lagu tersebut bukan merupakan soundtracknya. Uniknya, kedua lagu ini merupakan debut single dari artis yang membawakannya.

  1. Wuthering Heights (1978): Seorang remaja Inggris berusia 17 tahun bernama Kate Bush menghabiskan tiga tahun untuk menyiapkan album perdananya sejak menandatangani kontrak dengan EMI. Pada akhirnya album itu, yang berjudul The Kick Inside, siap dirilis pada tahun 1978. Pihak label menginginkan lagu James and the Cold Gun menjadi single pertama untuk mempromosikan album itu, namun Kate lebih menyukai lagu Wuthering Heights. Pada akhirnya, kengototan Kate berbuah manis saat Wuthering Heights menduduki posisi puncak di tangga lagu Inggris dan meluncurkan karier musik Kate Bush yang bertahan hingga kini. Lagu Wuthering Heights terinspirasi dari karya klasik Emily Bronte dan telah difilmkan beberapa kali (pertama kali tahun 1939 yang dibintangi Laurence Olivier dan Merle Oberon), namun tidak pernah menjadi soundtrack salah satu adaptasi tersebut.

  2. Leaving Las Vegas (1993): Sheryl Crow mengawali karier musiknya di dekade 80-an di antaranya sebagai vokalis latar pada konser Michael Jackson (pada lagu I Just Can’t Stop Loving You). Di awal 90-an, Crow merekam album perdananya, namun tidak sempat dirilis. Akhirnya, Crow bergabung dengan sejumlah musisi seperti Kevin Gilbert, David Baerwald, David Ricketts, Bill Botrell, Brian MacLeod, dan Dan Schwartz membentuk Tuesday Music Club. Kerja sama mereka dalam penulisan lagu berujung pada rilis album pertama Sheryl Crow, Tuesday Night Music Club (1993). Singel pertama yang diluncurkan adalah Leaving Las Vegas, yang terinspirasi oleh novel karya John O’Brien yang kemudian difilmkan pada tahun 1995 dengan bintang Nicolas Cage dan Elisabeth Shue. Salah satu anggota Tuesday Music Club, David Baerwald, adalah sahabat dekat O’Brien. Single ini tidak terlalu sukses dan hanya menduduki posisi ke-60 di tangga lagu Billboard. Single selanjutnya, All I Wanna Do, berhasil menduduki posisi ke-2 dan meluncurkan karier Sheryl Crow. Hubungan Crow dan anggota Tuesday Music Club memburuk, puncaknya ketika Kevin Gilbert ditemukan sudah tak bernyawa di apartemennya pada tahun 1996. John O’Brien, penulis novel Leaving Las Vegas, bunuh diri di tahun 1994 di tengah-tengah pembuatan film berjudul sama. Lagu ini tidak termasuk dalam album soundtrack untuk film Leaving Las Vegas.

Dunia Musik Indonesia Berduka

Dalam rentang waktu yang lumayan berdekatan, dunia musik Indonesia kehilangan tiga artis musik legendaris. Yang pertama adalah Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo dan Jemnbatan Merah. Yang kedua adalah Pance F. Pondaag, pencipta lagu dan penyanyi era 80-an yang terkenal dengan lagu-lagu ‘pop manis’. Yang terakhir adalah Andi Meriem Mattalatta, penyanyi cantuk yang memulai kariernya di akhir 70-an dan terkenal dengan lagu-lagu seperti Bimbang, Januari yang Biru, dan Lenggang Jakarta.

Ketiganya akan dikenang dalam kapasitasnya masing-masing. Lagu Bengawan Solo telah menjadi semacam lagu wajib bagi pecinta musik keroncong. Lagu ini sangat terkenal di Jepang, sampai-sampai seorang Jepang yang berkunjung ke Indonesia, atau tepatnya ke Solo, belum afdol kalau melewatkan kunjungan ke Bengawan Solo (menurut cerita adik Penulis). Beberapa tahun yang lalu sempat mencuat masalah royalti lagu Bengawan Solo yang tidak terbayarkan karena masalah pengakuan hak cipta (HaKI) di Indonesia. Sebuah peringatan bahwa pengakuan HaKI sangat penting, terutama saat kita dalam posisi seorang pencipta.

Pance F. Pondaag merupakan salah satu pemulis lagu pop yang sangat terkenal di era 80-an. Bersama dengan Obbie Messakh, Pance adalah hitmaker untuk sejumlah penyanyi di bawah naungan JK Records pimpinan Judhi Kristianto. Lagu Tak Ingin Sendiri ciptaannya yang dinyanyikan oleh Dian Piesesha konon mencapai penjualan sejuta kopi, yang merupakan penjualan tetinggi di masa itu. Setelah sukses sebagai pencipta lagu, Pance juga mencoba peruntungannya sebagai penyanyi. Salah satu lagu yang dinyanyikannya, Kucari Jalan Terbaik (?), sampai sekarang masih banyak terdengar dinyanyikan oleh para pengamen jalanan. Pance juga pernah meluncurkan album duet bersama penyanyi Maryantje Manthouw.

Andi Meriem Mattalatta dijuluki “Mutiara dari Selatan” seperti salah satu judul lagu yang pernah dipopulerkannya. Memulai kariernya di akhir 70-an, Andi mencapai sukses si awal 80-an dengan lagu-lagu seperti Bimbang, Hasrat dan Cinta, Januari yang Biru, Cinta yang Hitam, dan Lenggang Jakarta. Kariernya mulai menurun di era 90-an dan yang sempat terdengar adalah kisruh rumah tangganya. Sempat menikmati comeback dengan lagu Mudahnya Bilang Cinta, penyanyi yang tetap cantik di usia setengah abad ini akhirnya meninggal saat mengunjungi putri tunggalnya di Belanda.

Lawnosta turut berduka cita atas meninggalnya ketiga artis musik Indonesia di atas. Semoga mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa sesuai denga amal dan perbuatannya. Dan karya-karya mereka akan tetap abadi, menghibur para penimmat musik Indonesia di manapun juga.

For Someone Up There (We Cannot Stand You…)

SIKSA
(Titik Hamzah, 1979-1980)

Adakah purnama berduka
Atau pelangi melengkung atas mentari
Banjir tlah lampaui kepalaku, Tuan
Hindari siksamu, redakan kekejamanmu

Tiap kali kau usik jiwa ini
Tiap kali kau gores hati ini
Mataku menjelma sejuta mata air hingga mengering
Ku tak sanggup menghadapimu

Jiwaku di bibirmu
Mataku di ucapanmu
Kuturut semua perintahmu

Jantung dan takutku
Adalah banggamu
Kuikut semua maumu
Ku tak sanggup menghadapimu

Jelas pada arus deras yang dibangun amblas
Siang malam engkau jadi gunjingan
Siapapun tak sanggup menghadapimu
Mataku tak kaubiarkan terpejam atas ulahmu

Tiap kali…