Posted in Musik

Dunia Musik Indonesia Berduka


Dalam rentang waktu yang lumayan berdekatan, dunia musik Indonesia kehilangan tiga artis musik legendaris. Yang pertama adalah Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo dan Jemnbatan Merah. Yang kedua adalah Pance F. Pondaag, pencipta lagu dan penyanyi era 80-an yang terkenal dengan lagu-lagu ‘pop manis’. Yang terakhir adalah Andi Meriem Mattalatta, penyanyi cantuk yang memulai kariernya di akhir 70-an dan terkenal dengan lagu-lagu seperti Bimbang, Januari yang Biru, dan Lenggang Jakarta.

Ketiganya akan dikenang dalam kapasitasnya masing-masing. Lagu Bengawan Solo telah menjadi semacam lagu wajib bagi pecinta musik keroncong. Lagu ini sangat terkenal di Jepang, sampai-sampai seorang Jepang yang berkunjung ke Indonesia, atau tepatnya ke Solo, belum afdol kalau melewatkan kunjungan ke Bengawan Solo (menurut cerita adik Penulis). Beberapa tahun yang lalu sempat mencuat masalah royalti lagu Bengawan Solo yang tidak terbayarkan karena masalah pengakuan hak cipta (HaKI) di Indonesia. Sebuah peringatan bahwa pengakuan HaKI sangat penting, terutama saat kita dalam posisi seorang pencipta.

Pance F. Pondaag merupakan salah satu pemulis lagu pop yang sangat terkenal di era 80-an. Bersama dengan Obbie Messakh, Pance adalah hitmaker untuk sejumlah penyanyi di bawah naungan JK Records pimpinan Judhi Kristianto. Lagu Tak Ingin Sendiri ciptaannya yang dinyanyikan oleh Dian Piesesha konon mencapai penjualan sejuta kopi, yang merupakan penjualan tetinggi di masa itu. Setelah sukses sebagai pencipta lagu, Pance juga mencoba peruntungannya sebagai penyanyi. Salah satu lagu yang dinyanyikannya, Kucari Jalan Terbaik (?), sampai sekarang masih banyak terdengar dinyanyikan oleh para pengamen jalanan. Pance juga pernah meluncurkan album duet bersama penyanyi Maryantje Manthouw.

Andi Meriem Mattalatta dijuluki “Mutiara dari Selatan” seperti salah satu judul lagu yang pernah dipopulerkannya. Memulai kariernya di akhir 70-an, Andi mencapai sukses si awal 80-an dengan lagu-lagu seperti Bimbang, Hasrat dan Cinta, Januari yang Biru, Cinta yang Hitam, dan Lenggang Jakarta. Kariernya mulai menurun di era 90-an dan yang sempat terdengar adalah kisruh rumah tangganya. Sempat menikmati comeback dengan lagu Mudahnya Bilang Cinta, penyanyi yang tetap cantik di usia setengah abad ini akhirnya meninggal saat mengunjungi putri tunggalnya di Belanda.

Lawnosta turut berduka cita atas meninggalnya ketiga artis musik Indonesia di atas. Semoga mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa sesuai denga amal dan perbuatannya. Dan karya-karya mereka akan tetap abadi, menghibur para penimmat musik Indonesia di manapun juga.

One thought on “Dunia Musik Indonesia Berduka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s