Posted in Musik

Yen Ing Tawang Ana Lintang


Bicara tentang lirik yang ditafsirkan lain, lagu ini salah satu contohnya. Selintas, dlihat dari liriknya lagu ini berisi ungkapan seorang jejaka yang resah menantikan kedatangan seorang dara (cah ayu). Tak heran saat lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi wanita, sering kata “cah ayu” diganti dengan “cah bagus”, mengubah sudut pandang lagu. Seandainya penyanyi tersebut mengetahui latar belakang penciptaan lagu ini tentu penggantian kata itu tidak diperlukan.

Sebenarnya Andjar Any, penulis lagu ini, mendapat ilham saat menunggui kelahiran putri pertamanya (sebelumnya beliau sudah dikaruniai tiga orang putra) di tahun 1964. Konon ceritanya, Pak Andjar ini dilarang masuk ruang bersalin dan terpaksa menunggui kelahiran putri pertamanya itu di pelataran rumah sakit. Kebetulan waktu itu malam yang cerah, dan bintang-bintang di langit pun terlihat jelas. Muncullah ide untuk menulis lagu ini, melambangkan kegelisahan dan kecemasan seorang calon ayah menantikan kelahiran putri pertamanya. Jadi, “cah ayu” dalam lirik lagu ini bukanlah seorang gadis cantik, melainkan seorang jabang bayi perempuan yang baru lahir. Maka dari itu, Waldjinah, yang memopulerkan lagu ini pun menyanyikan liriknya tanpa mengganti satu kata pun. (dan jangan tanya lagi tentang yang menganggap “tawang” itu adalah Stasiun Kereta Api Tawang di Semarang!).

Tahun 1966, perusahaan rekaman Lokananta membeli lagu ini seharga Rp 16 juta, jumlah yang sangat besar. Andjar Any yang terlalu gembira, menyimpan uang itu terlalu lama, sampai tahun 1967 saat pemotongan nilai uang rupiah memangkas jumlah itu menjadi hanya 16 ribu rupiah saja.

(R.I.P. Andjar Any: Ponorogo, 3 Maret 1936 – Surakarta, 13 November 2008)

YEN ING TAWANG ANA LINTANG
(Andjar Any)

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu
Aku ngenteni tekamu
Marang mega ing akasa, nimas
Sun takokne pawartamu

Janji-janji aku eling cah ayu
Sumedot rasaning ati
Lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas
Tresnaku sundhul wiyati

Dhek semana janjmu disekseni
Mega kartika kairing rasa tresna ati

Yen ing tawang ana lintang cah ayu
Rungokna tangising ati
Binarung swaraning ratri, nimas
ngenteni mbulan ndadari

(Sumber: Lambertus Hurek)

[terjemahan Bahasa Indonesia]

jika di langit ada bintang..duhai cantik
kunanti kehadiranmu
kepada mega di angkasa, dinda
kutanyakan kabar beritamu

semua janji ku ingat..duhai cantik
nyaris putus asa di hati ini
bintang-bintang memanggil-manggil, dinda
cintaku sepenuh hati

Kala itu, janjimu disaksikan
langit dan bintang, teriring rasa cinta di hati

jika di langit ada bintang …duhai cantik
dengarkan tangis dalam hati
bersama suara malam, dinda
menanti bulan purnama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s