Posted in Musik

Mengenang Winamp dan Media Player “Jadul”



Setelah Winamp akan diakhiri eksistensinya pada 20 Desember 2013, seakan mengingatkan satu era saat musik digital mulai berkembang. Pada periode 1997 – 2003, Winamp identik dengan pemutar mp3. Saat kapasitas bandwidth dan media penyimpanan masih terbatas, salah satu cara mendapatkan mp3 adalah dengan membeli/menyewa CD kumpulan mp3 yang di dalamnya biasanya disertakan installer Winamp sebagai pemutarnya. Tentu saja, saat itu Winamp bukan satu-satunya, berikut ini beberapa aplikasi lain yang menjadi “pesaing” Winamp saat itu:

  1. Sonique
    Aplikasi ini dikembangkan oleh Andrew McCann dan Ian Lyman. Player ini dikenal karena tampilannya yang elegan dan futuristik. Kualitas audionya konon mampu mengalahkan Winamp. Sonique kemudian dibeli oleh Lycos. Namun, pengembangannya terhenti di tahun 2002 pada versi 1.96 (stabil) dan 2.00 beta 103 (pengembangan).
  2. K-Jofol
    Player ini sempat naik daun karena kemampuannya memainkan file AAC (MPEG-2 AAC). Format ini sempat diramalkan akan menggantikan mp3, namun tidak terbukti. Tampilan K-Jofol dengan free-form skin juga beda dari yang lain. Pengembangannya terhenti sekitar tahun 2000 dengan versi terakhir K-Jofol 2000 beta 2.
  3. Musicmatch Jukebox
    Player ini mungkin tidak terlalu populer di Indonesia, namun banyak fiturnya yang diadopsi oleh aplikasi lain, terutama Winamp versi 5. Fitur seperti dynamic playlist, bahkan tampilan default Winamp 5 (Bento) terlihat sangat mirip dengan Musicmatch Jukebox. Saat Apple pertama kali memperkenalkan iPod for Windows pada tahun 2002, mereka menggunakan Musicmatch Jukebox sebagai aplikasi defaultnya, sebelum digantikan iTunes for Windows setahun kemudian. Yahoo! membeli Musicmatch Jukebox di tahun 2004 dan mengintegrasikannya dengan layanan musik mereka. Yahoo! menutup layanan musiknya tahun 2008 (menggantikannya dengan Rhapsody bekerja sama dengan Real Networks) sekaligus menghentikan pengembangan aplikasi yang sekarang dikenal sebagai Yahoo! Music Jukebox itu. Versi terakhirnya adalah 10.00.4033.
  4. JetAudio
    Berbeda dari yang lainnya, software yang satu ini masih dikembangkan sampai saat ini. Perusahaan Korea, Cowon, mengembangkan aplikasi ini sejak tahun 1997. Pada awal kemunculannya, JetAudio menjadi alternatif player mp3 bagi Winamp. Dalam perkembangannya, popularitas JetAudio semakin tergeser oleh aplikasi seperti Windows Media Player, iTunes, dan foobar2000. Versi terakhirnya dirilis bulan September 2013 (8.10). JetAudio juga merilis aplikasi untuk Android.
  5. Napster
    Sebagai pelengkap, tidak ada salahnya kita sedikit mengenang Napster sebagai pelopor file sharing P2P. Shawn Fanning menulis aplikasi ini pada tahun 1999 dan langsung menjadi populer karena kemampuannya berbagi file mp3, sehingga memudahkan untuk menemukan dan mengunduhnya. Popularitas Napster disambut dengan ancaman hukum dari berbagai pihak seperti label rekaman, asosiasi industri musik, dan para artisnya sendiri (Metallica dan Dr. Dre). Napster akhirnya ditutup tahun 2001. Brand Napster sendiri kemudian dipakai untuk nama layanan musik online (legal). Berbagai layanan file sharing pun muncul (dan tenggelam) pascapenutupan Napster seperti: Gnutella, Freenet, FastTrack, Grokster, eDonkey, dan BitTorrent.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s