Posted in Film

The Act of Killing dan Kontroversi Film tentang Sejarah Indonesia


Baru-baru ini diumumkan nominasi penghargaan sinema tingkat dunia Academy Award atau yang dikenal dengan Piala Oscar untuk tahun 2013. Salah satu nominee untuk kategori film dokumenter terbaik, dan juga salah satu favorit pemenang adalah The Act of Killing. Film yang disutradarai oleh sineas Amerika Serikat Joshua Oppenheimer ini dalam Bahasa Indonesia berjudul Jagal. Bagi yang tidak mengikuti perkembangan dunia sinema, film Jagal alias The Act of Killing ini bercerita tentang para “Jagal” yang ikut melakukan “pembersihan” pasca peristiwa 30 September 1965 (G-30-S). Tiga orang asal Sumatera Utara ini bukan hanya diwawancarai, namun juga memeragakan kembali aksi mereka saat melakukan “pembersihan” tersebut. film ini juga membahas peranan organisasi massa tertentu dalam aksi pembersihan ini. Pembuatan film ini memakan waktu delapan tahun, dan kru film asal Indonesia sampai saat ini tidak dicantumkan namanya dalam kredit akhir, hanya sebagai “Anonymous”, karena khawatir akan keselamatan mereka mengingat materi film yang dinilai sensitif.

Film ini tidak pernah dikirimkan ke Lembaga Sensor Film (LSF), dan dengan sendirinya tidak pernah beredar secara komersial. Film ini beredar di Indonesia secara gerilya via pemutaran di kampus atau event lainnya. Mereka yang berminat mengadakan event ini bisa meminta DVD film ini gratis. Bahkan, mulai tanggal 30 September 2013 film ini bisa diunduh gratis dari situs resminya khusus dari wilayah Indonesia, begitu pun dari YouTube. Materi tambahannya pun diedarkan secara gratis via BitTorrent Bundle. Materi tambahan ini meliputi trailer, wawancara, artikel Majalah Tempo, dan capture dari film.

Sebelum film The Act of Killing ini, ada beberapa film tentang sejarah Indonesia yang menuai kontroversi, antara lain:

  1. Balibo (2009)
    Film Australia ini berkisah tentang lima jurnalis Australia yang terbunuh saat meliput perang di Timor Timur tahun 1975. Diklaim kelimanya dibunuh oleh tentara Indonesia, sementara Pemerintah RI menyatakan kelimanya adalah korban perang.
  2. Murudeka 17805 (2001)
    Flm ini dibuat atas kerja sama dengan rumah produksi Jepang dan bercerita tentang sukarelawan Jepang yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Film ini menjadi kontroversi konon karena adanya adegan seorang perempuan tua yang mencium kaki serdadu Jepang di awal film.
  3. The Year of Living Dangerously (1982)
    Film ini diangkat dari novel karya Christopher Koch, disutradarai oleh sineas Australia Peter Weir (Witness, The Truman Show, Master and Commander), dan dibintangi oleh bintang besar Hollywood Mel Gibson (Mad Max, Lethal Weapon, Braveheart) dan Sigourney Weaver (Alien, Ghostbusters, Avatar). Berkisah tentang seorang wartawan Australia yang meliput situasi seputar peristiwa G-30-S, film ini dibuat di Philipina karena larangan untuk melakukan syuting di Indonesia oleh penguasa waktu itu. Meskipun kalah terkenal dari Weir, Gibson, dan Weaver, aktris Linda Hunt berhasil memenangkan Oscar untuk perannya sebagai Billy Kwan, seorang pria bertubuh mungil.
  4. Max Havelaar (1976)
    Diangkat dari karya Multatuli, film ini dibuat bekerja sama dengan Belanda dengan judul asli Max Havelaar of de koffieveilingen der Nederlandsche handelsmaatschappij. Film ini tertahan di Badan Sensor Film selama sepuluh tahun dan akhirnya dilarang beredar di bioskop oleh penguasa saat itu. Film ini menjadi wakil Belanda di kategori film berbahasa asing pada Academy Award 1976, namun gagal menjadi nominee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s