Posted in Musik

Distribusi Musik: Dari Piringan Hitam ke MP3


Bagi generasi “ABG” (Angkatan Babe Gue) seperti Penulis, menikmati musik adalah kaset, generasi sebelumnya mungkin lebih mengenal piringan hitam, generasi yang lebih muda lebih mengenal CD dan generasi ABG beneran hanya tahu mp3. Distribusi rekaman musik memang berkembang sesuai zaman dan teknologi. Dan di dalamnya, pelaku industri musik (artis, label rekaman, distributor/pengecer) juga menyikapinya dengan caranya masing-masing. Selain istilah-istilah di atas, beberapa teknologi yang dikembangkan untuk mendistribusikan rekaman musik, namun tidak sukses dan akhirnya terlupakan, atau akhirnya menemukan ceruk penggunaan di sektor lain.
Fonograf (Sumber: wikipedia)

Reproduksi suara mulai dimungkinkan dengan penemuan fonograf di tahun 1877 oleh Thomas Alva Edison. Prinsip kerjanya adalah: pengguna berbicara ke dalam corong, yang akan menggetarkan membran di ujungnya, yang terhubung dengan jarum. Jarum ini akan merekam suara ini pada silinder berlapis lilin yang diputar dengan memutar handel di samping mesin. Untuk memainkan kembali, digunakan jarum yang berbeda, yang tidak akan merusak hasil rekaman. Pada perkembangannya, media perekaman digantikan dengan piringan vinyl berwarna hitam dengan diameter maksimal 30 cm. Dengan kecepatan standar 33 1/3 rpm, piringan hitam bisa merekam sampai 22 menit per sisi, atau 44 menit per piringan. Format ini menjadi standar rekaman musik sampai dekade 80-an ketika Compact Disc (CD) mengambil alih.
Piringan Hitam LP (Sumber: wikipedia)

Sebelum membahas CD, ada baiknya kita membahas kaset terlebih dahulu. Kaset yang kita kenal selama ini menggunakan media pita magnetis yang merekam suara menggunakan perangkat yang disebut head. Untuk memainkan kembali rekaman, digunakan head dengan kekuatan magnetis yang tidak sekuat head untuk merekam. Standar kaset untuk rekaman musik diperkenalkan pada tahun 1965, dan menjadi populer di Indonesia pada pertengahan 70-an karena lebih murah dibandingkan piringan hitam. Kapasitasnya juga lebih besar dibandingkan piringan hitam, bisa mencapai 2 jam rekaman per kaset bergantung pada ketebalan pita. Menariknya, format ini tidak pernah bisa menggeser piringan hitam sebagai standar rekaman musik di Amerika dan Eropa. Bagi kolektor kaset sebelum tahun 1987 tentu mengenal “kreativitas” para pengedar kaset barat waktu itu. Rekaman album barat menggunakan standar piringan hitam sepanjang 44 menit, sementara kaset standar yang digunakan minimal 60 menit, sehingga pembeli album kaset barat mendapatkan “bonus track” di setiap copy. Album yang dirilis sebagai dobel album dalam format piringan hitam, di sini cukup didapatkan dalam satu kaset C-90.
Kaset (Sumber: forum indoflasher)

Format yang resmi menggantikan piringan hitam adalah Compact Disc (CD) yang dikembangkan perusahaan Sony dan Phillips dan dirilis pada tahun 1982. Format ini dikembangkan dari LaserDisc yang dirilis tahun 1978. Berbeda dengan piringan hitam dan kaset, CD direkam dengan teknologi digital menggunakan sinar laser merah yang ditembakkan ke piringan aluminium dengan diameter 12 cm. CD audio mampu merekam sampai 74 menit, yang dengan pengembangan lebih lanjut meningkat menjadi 80 menit. Salah satu artis yang pertama kali memanfaatkan kapasitas CD secara maksimal adalah Michael Jackson dengan album Dangerous (1991) yang berdurasi 77 menit. Mungkin alasan utama mengapa CD lebih dipilih daripada kaset sebagai standar rekaman musik adalah teknologi penggandaan CD yang lebih mahal (pada saat itu) dibandingkan kaset. Sementara itu, di Indonesia format ini malah kurang berkembang karena alasan klasik: mahal, baik medianya maupun pemutarnya.
Compact Disc (Sumber: wikipedia)

Dan akhirnya, distribusi musik saat ini adalah dalam format digital, melalui internet. Dimulai dengan pengembangan teknologi kompresi audio dan video digital oleh badan MPEG (Motion Picture Experts Group) yang melahirkan standar MPEG-1 di tahun 1993, yang diikuti MPEG-2 di tahun 1995. Salah satu standar ini, yang disebut MPEG-1/MPEG-2 Audio Layer III, mendefinisikan standar kompresi audio digital, yang disingkat MP3. Bersamaan dengan ini, internet mulai booming penggunaannya. Pada tahun 1997, program pemutar MP3, Winamp, dirilis. Penyebaran musik dalam format MP3 via internet pun semakin populer, terutama setelah aplikasi Napster dirilis pada tahun 1999. Sempat dimusuhi pada awalnya, akhirnya industri musik pun “menyerah” dan saat ini musik digital didistribusikan di internet melalui situs seperti Apple iTunes Store, Amazon Music, dan Google Play Music. Bagaimana di Indonesia? MP3 sudah menjadi istilah untuk menyebut lagu atau album musik, meskipun distribusi musik digital yang legal tidak populer di sini.

Sebelum ditutup, Penulis ingin membahas beberapa teknologi rekaman musik yang pernah muncul, namun gagal menjadi standar. Beberapa di antaranya mungkin pernah Anda dengar atau lihat:

  1. Digital Audio Tape (DAT): Dikembangkan oleh Sony dan dirilis pada tahun 1987, teknologi ini merekam sinyal digital pada pita magnetik. Format ini gagal karena alasan yang sama dengan kaset (analog): mudah digandakan. Format ini akhirnya lebih banyak digunakan untuk pengguna profesional dan penyimpanan data backup di komputer. Pada tahun 2005, Sony mengumumkan penghentian produksi DAT.

    (Sumber: wikipedia)
  2. Digital Compact Cassette (DCC): Dikembangkan oleh Phillips dan Matsushita dan dirilis pada tahun 1992. Teknologinya mirip dengan DAT, namun menggunakan kompresi data yang disebut PASC (Precision Adaptive Sub-band Coding). Pemutar DCC juga bisa memutar kaset (analog) biasa. DCC dihentikan produksinya pada tahun 1996 karena kalah bersaing dengan teknologi lain.

    (Sumber: wikipedia)
  3. MiniDisc (MD): Dikembangkan oleh Sony dan dirilis pada tahun 1992, bersamaan (dan berhadapan langsung) dengan DCC. Format ini menggunakan teknologi MO (Magneto-Optical) untuk perekamannya. MiniDisc berbentuk mirip Floppy Disk untuk komputer dan menggunakan teknologi kompresi data yang disebut ATRAC (Adaptive Transform Acoustic Coding). Meskipun MiniDisc memenangkan persaingan melawan DCC dan cukup populer di Jepang, format ini tidak mampu melawan perkembangan MP3 di dunia. Sony akhirnya menghentikan produksi MiniDisc di tahun 2013.

    (Sumber: wikipedia)
  4. Super Audio CD (SACD): Dikembangkan oleh Sony dan Phillips dan dirilis tahun 1999, format ini menjanjikan kualitas suara yang lebih baik dibandingkan CD standar. Format ini tidak terlalu populer dan hanya terbatas di kalangan audiophile.
  5. DVD-Audio (DVD-A): Dikembangkan oleh konsorsium DVD untuk menyaingi SACD. Teknologi ini menggunakan media DVD yang berkapasitas lebih besar dibandingkan CD untuk merekam musik kualitas tinggi. DVD-A pun tidak terlalu populer di kalangan konsumen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s