Posted in Musik

Album-album yang “Didaur Ulang”


Di dunia perfilman, sudah jamak kita temui film-film yang “didaur ulang”, biasanya dengan kru dan pemain yang berbeda. Di dunia musik, kita juga mengenal daur ulang lagu (cover version), album, atau kompilasi (album tribute) oleh artis lain (bukan aslinya). Namun bagaimana dengan album yang didaur ulang oleh artis aslinya sendiri? Tentunya ada alasan tersendiri di balik keputusan tersebut. Berikut ini beberapa album yang didaur ulang oleh artisnya sediri:

  1. Let It Be…Naked (The Beatles, 2003)
    Album terakhir The Beatles, Let It Be (1970) memang bermasalah sejak awal. Bermula sebagai proyek “back to basic” dengan judul tentatif Get Back, sesi rekaman album ini penuh drama, mulai keluar (dan kembalinya) George Harrison, konser spontan di atap studio Abbey Road, kehadiran Yoko Ono, dan tentu pertengkaran antarpersonal. Semua itu terekam dalam film yang kemudian dirilis dengan judul Let It Be (1971). Sesi rekaman kemudian dihentikan sebelum selesai, dan The Beatles memulai sesi baru, yang berjalan lancar hingga dirilisnya album Abbey Road (1969). Ketika The Beatles di ambang bubar, pihak manajemen kembali melirik material dari sesi rekaman Get Back yang belum selesai itu. Produser Phil Spector kemudian ditugasi untuk mengompilasi sesi rekaman tersebut menjadi satu album yang layak dirilis, dan lahirlah album Let It Be. Bubarnya The Beatles menjadi momen yang melejitkan album ini, single Let It Be dan The Long and Winding Road menduduki posisi pertama di Billboard Chart, dan filmnya memenangkan penghargaan Oscar untuk musik asli terbaik.

    Paul McCartney berulang kali mengungkapkan ketidakpuasannya akan album ini, terutama aransemen pada lagu The Long and Winding Road yang menggunakan teknik Wall of Sound khas Phil Spector. Akhirnya di tahun 2003 album Let It Be dirilis ulang dengan judul Let It Be…Naked yang menunjukkan “warna asli” lagu-lagu dalam album ini tanpa campur tangan Phil Spector.
  2. Kayak: Bard of the Unseen (Kayak, 2003)
    Grup progressive rock asal Belanda, Kayak, mulai merintis karier di tahun 1972. Ironisnya, mereka mulai dikenal secara internasional dengan hit Ruthless Queen (1979) yang beraroma pop. Pada tahun 1981 Kayak mencoba kembali ke warna progressive rock mereka lewat album konsep Merlin. Sayangnya, atas desakan pihak label mereka terpaksa mengisi separuh album ini dengan lagu-lagu berirama pop seperti Seagull, sehingga album Merlin ini terasa kurang “utuh”. Akhirnya di tahun 2003 Kayak mempunyai kesempatan untuk melengkapi album konsep mereka ini, yang dirilis dengan judul Merlin: Bard of the Unseen.
  3. Director’s Cut (Kate Bush, 2011)
    Pada tahun 2011 Kate Bush merekam kembali empat lagu dari album The Sensual World (1989) dan tujuh lagu dari album The Red Shoes (1993) menjadi satu album “baru” berjudul Director’s Cut. Kate merekam ulang vokalnya untuk semua lagu, beberapa instrumen direkam ulang, tiga lagu direkam ulang dari awal (This Woman’s Work, Rubberband Girl, dan Moments of Pleasure, dan satu lagu, The Sensual World, diganti seluruh liriknya dan diberikan judul baru, Flower of the Mountain. Menurut Kate, ia memang bermaksud merekam lagu itu dengan lirik dari puisi karya James Joyce berjudul Ulysses, namun gagal mendapatkan izin, sehingga akhirnya ia menulis lirik sendiri dengan judul The Sensual World.
  4. The Snow Goose (Camel, 2013)
    Grup musik progressive rock asal Inggris, Camel, pada tahun 1974 ingin membuat album konsep untuk rilis mereka selanjutnya. Mereka sebelumnya merekam lagu White Rider yang berbasis buku The Lord of the Rings dalam album Mirage (1973). Mula-mula mereka menulis album berdasarkan buku Shiddharta karya Herman Hesse, namun di tengah jalan diputuskan untuk menggunakan novella karya Paul Gallico, The Snow Goose. Sayangnya, mereka gagal mendapatkan izin dari pihak Gallico, sehingga judul album pun disesuaikan menjadi Music Inspired by The Snow Goose, dan rencana menggunakan novella sebagai lirik pun dibatalkan. Album konsep ini pun dirilis sepenuhnya instrumental. Namun di luar dugaan, album ini menjadikan Camel dikenal secara internasional dan dianggap sebagai masterpiece di genre Symphonic Rock. Pada tahun 2013 Camel merekam ulang album ini dengan judul The Snow Goose (tanpa embel-embel) untuk menandai kembalinya Camel melakukan tur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s