Selamat Jalan, Glenn dan Didi Kempot


Saat musisi/penyanyi Glenn Fredly meninggal dunia pada tanggal 8 April 2020 yang lalu, sebenarnya Penulis sudah gatal untuk menulis di blog ini. Ternyata, butuh waktu hampir sebulan untuk itu, saat musisi/penyanyi lain juga meninggal dunia, kali ini Didi Kempot, yang meninggal pada tanggal 5 Mei 2020. (Sebelumnya, musisi Erwin Prasetya, mantan bassis Dewa 19, dan Andy Ayunir juga meninggal dunia). Kiprah keduanya di musik Indonesia terbilang cukup lama, hanya berjarak kurang dari sepuluh tahun. Didi Kempot memulai kiprahnya sebagai artis (rekaman) pada tahun 1989 saat merekam album pertamanya bersama Batara Group, Glenn merekam album pertamanya sebagai vokalis band Funk Section di tahun 1997. Keduanya akhirnya mencetak sukses sebagai penyanyi solo (meskipun Glenn bukan orang Solo :)). Keduanya juga berasal dari keluarga seniman. Paman Glenn adalah musisi Ongen Latuihamallo, sedangkan ayah Didi adalah seniman panggung Ranto Edi Gudel, dan kakaknya adalah komedian Mamiek Prakoso. Untuk selengkapnya, masing-masing akan dibahas di bawah ini:

Glenn Fredly Deviano Latuihamallo dilahirkan di Jakarta pada tanggal 30 September 1975. Karier bermusiknya dimulai sebagai vokalis band Funk Section. Band ini bisa dikatakan sebagai salah satu supergrup di Indonesia, dengan personil-personil yang sangat berpengalaman di dunia musik. Siapa yang tidak mengenal nama-nama seperti Mus Mujiono, Inang Noor Said, Yance Manusama, Ekka Bhakti, dan Irfan Chasmala. Sebelum meninggal, musisi Christ Kayhatu juga menjadi salah satu personil Funk Section. Pada tahun 1997, Funk Section merilis album pertamanya dengan lagu andalan Terpesona  (dirilis ulang sebagai duet Glenn dan Audy) dan Di Pantai Cinta. Waktu itu Penulis menyaksikan penampilan Funk Section di televisi, dan sedikit terkejut dengan penampilan sang vokalis yang masih kelihatan “culun”. Tak berselang lama, sang vokalis itu sudah bersolo karier dan merilis album perdananya, Glenn (1998) dengan hit Cukup Sudah. Meskipun dua album perdananya terbilang sukses, baru pada album ketiga, Selamat Pagi, Dunia!, nama Glenn Fredly menjadi superstar, dengan lagu hitnya yang berjudul Januari. Karier Glenn terus bersinar, bukan hanya sebagai penyanyi solo, ia juga membentuk Trio Lestari bersama Tompi dan Sandhy Sondoro, serta terjun ke dunia film: sebagai aktor (?) dan produser (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi). Pada tanggal 8 April 2020 Glenn Fredly meninggal dunia karena sakit meningitis, meninggalkan seorang istri dan seorang putri.

Dionysius Didik Prasetyo dilahirkan di Solo pada tanggal 31 Desember 1966. Sejak kecil kedua orang tuanya bercerai dan ia tinggal bersama sang Ibunda di Ngawi. Jika Ayah dan kakaknya lebih menggeluti seni peran, Didi, begitu nama panggilannya, lebih memilih seni musik. Ia bahkan nekat menjual sepeda hadiah sang Ayah untuk membeli gitar. Tahun 1984 ia memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Di Jakarta, ia menjadi pengamen di seputaran Slipi dan Palmerah. Di sela-sela pekerjaannya, ia menulis dan merekam lagunya pada kaset demo yang kemudian dikirimkannya ke sejumlah label rekaman. [Salah satu] Album pertamanya direkam bersama grup Batara, yang terdiri atas musisi Pompy, Dani S, dan kakaknya sendiri, Mamiek Prakoso. [Sebelumnya, Didi pernah merekam album pop Indonesia berduet dengan Viara Rizky berjudul Bungkus Saja dan album solo berjudul Malam Mingguan] Ia menggunakan nama panggung Didi Kempot, yang terinspirasi nama penyanyi seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kempot menurutnya adalah singkatan dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Album perdananya itu mengandalkan lagu berjudul We-Cen-Yu, namun justru lagu lain yang berjudul Cidro yang menentukan perjalanan kariernya. Lagu Cidro yang diilhami pengalaman pribadinya saat perjalanan cintanya bersama sang kekasih tidak direstui pihak keluarga ini diam-diam populer di Belanda dan Suriname. Sejak itu Didi berkali-kali diundang ke Suriname untuk mengadakan konser dan popularitasnya di sana tidak pernah memudar. Di Indonesia sendiri, namanya baru melejit setelah merekam album Stasiun Balapan di tahun 1999. Lagu inilah yang menjadi patron (template) kesuksesannya: irama campursari (lebih tepatnya congdut alias keroncong-dangdut), lirik lagu berbahasa Jawa, dan tema lagu patah hati. Sejak itu, Didi seolah menjadi simbol musik campursari. Lagu-lagunya yang banyak dikenal di antaranya: Sewu Kutho, Terminal Tirtonadi, Parangtritis, Tanjung Mas Ninggal Janji, Lingsir Wengi, Aku Dudu Rojo, Klengkeng Bandungan, Cintaku Sekonyong Konyong Koder, dan Nunut Ngiyup. Belakangan, namanya kembali melejit dengan nama julukan seperti: The Godfather of Broken Heart dan Lord Didi dan komunitas yang dikenal dengan nama Sobat Ambyar. Di tengah pandemi Covid-19, Didi mengadakan konser amal yang berhasil menggalang dana hingga 7 miliar rupiah. Mendadak, ia meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 2020 meninggalkan dua seorang istri dan dua seorang putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.