Meat Loaf (1947 – 2022)

Sembilan bulan sejak meninggalnya musisi Jim Steinman, dunia musik kehilangan vokalis yang identik dengan lagu-lagu karyanya, Michael (terlahir: Marvin) Lee Aday a.k.a. Meat Loaf meninggal dunia pada tanggal 21 Januari 2022. Mendapatkan julukan “Meat Loaf” dari pelatih football-nya semasa SMA, ia mengawali kariernya dalam band Meat Loaf Soul yang kemudian terus berganti-ganti nama (dan personel). Akhirnya, kariernya mulai menanjak setelah bergabung dalam produksi drama musikal Hair di Los Angeles. Ia kemudian membentuk duet bersama penyanyi Shaun Murphy dengan nama Stoney & Meat Loaf yang kemudian merilis album di tahun 1971. Sayangnya, album ini gagal di pasaran dan duet Stoney & Meat Loaf pun tidak bertahan lama. Ia bertemu Jim Steinman saat melakukan audisi untuk produksi drama musikal More Than You Deserve. Mereka mulai menggarap konsep album Bat Out of Hell, namun Meat Loaf kemudian disibukkan oleh kariernya sebagai aktor dalam The Rocky Horror Picture Show dan National Lampoon: Lemmings.

Meat Loaf akhirnya memutuskan untuk lebih berkonsentrasi pada karier musiknya di tahun 1974. Pada awalnya Bat Out of Hell ditolak oleh semua label, hingga mereka bertemu musisi Todd Rundgren yang setuju untuk memproduksi album tersebut. Akhirnya, Bat Out of Hell pun dirilis tahun 1977, itupun tidak langsung meledak di pasaran. Barulah setelah penampilan di beberapa acara televisi dan melakukan pertunjukan live, album ini mulai terjual. Tidak tanggung-tanggung, diperkirakan sampai saat ini telah terjual 43 juta kopi di seluruh dunia. Sayangnya, sukses ini tidak bertahan lama, masalah dengan vokalnya yang menghilang membuat rencana album keduanya yang akan diberi judul Bad for Good pun gagal. Jim Steinman akhirnya mengisi vokalnya sendiri untuk album tersebut. Steinman kembali menulis lagu untuk album berikutnya dari Meat Loaf yang berjudul Dead Ringer (1981), namun konflik dengan pihak label dan juga dengan Meat Loaf membuat kerja sama keduanya berakhir. Popularitas Meat Loaf pun menurun tajam. Album-album berikutnya seperti Midnight at the Lost and Found (1983), Bad Attitude (1984), dan Blind Before I Stop (1986) gagal mengulang sukses kedua album pertamanya meskipun ia mencoba berkolaborasi dengan musisi/produser seperti John Parr dan Frank Farian. Di akhir dekade 80-an, ia hanya mampu tampil di pertunjukan kecil-kecilan sebelum kembali bekerja sama dengan Jim Steinman untuk menggarap album Bat Out of Hell II: Back into Hell (1993). Album ini sukses besar dan mengembalikan statusnya sebagai superstar. Singel I’d Do Anything for Love (But I Won’t Do That) menjadi hit terbesarnya, menduduki posisi pertama di 28 negara termasuk Amerika Serikat dan Inggris dan terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia. Lagu ini juga mengantarkannya meraih penghargaan Grammy sebagai penampilan rock solo vokal terbaik.

Meat Loaf masih merilis album hingga yang terakhir di tahun 2016 (Braver Than We Are) yang seluruh lagunya ditulis oleh Jim Steinman, seperti halnya album perdananya (Bat Out of Hell). Album ini menjadi album studio terakhirnya, sekaligus penutup kariernya yang panjang selama lebih dari 50 tahun. Selain sebagai penyanyi, ia juga masih berakting, salah satunya dalam film Fight Club (1999) sebagai Robert Paulson. Selamat Jalan Meat Loaf!

Diskografi:

  • Stoney & Meatloaf (1971)
  • Bat Out of Hell (1977)
  • Dead Ringer (1981)
  • Midnight at the Lost and Found (1983)
  • Bad Attitude (1984)
  • Blind Before I Stop (1986)
  • Bat Out of Hell II: Back Into Hell (1993)
  • Welcome to the Neighborhood (1995)
  • Couldn’t Have Said It Better (2003)
  • Bat Out of Hell III: The Monster Is Loose (2006)
  • Hang Cool Teddy Bear (2010)
  • Hell in a Handbasket (2011)
  • Braver Than We Are (2016)

Dschinghis Khan (Huh…Hah!)

Sebuah kepingan dari masa lalu, atau masa kecil di akhir dekade 70-an dan awal 80-an. Saat musik yang didengarkan tidak melulu karya musisi lokal, namun juga mancanegara. Menariknya, sebagian besar yang terekam di ingatan ternyata adalah artis-artis Eropa, terutama ABBA dan Boney M. Bagi seorang anak kecil, semua artis mancanegara itu sama, atau istilah orang “bule” atau dalam Bahasa Jawa, “londho”. Perbedaannya tentu pada lirik lagu yang berbahasa Inggris (meskipun beberapa musisi Indonesia pernah merilis lagu berlirik Bahasa Inggris). Baru kemudian kita tahu bahwa grup ABBA berasal dari Swedia, sedangkan Boney M beranggotakan artis-artis dari Karibia (Jamaika, Montserrat dan Aruba) dan dibentuk oleh produser asal Jerman (Frank Farian), serta tak satupun anggotanya (ataupun produsernya) bernama Boney!.

Namun, ada satu lagu yang selama ini masih memancing rasa penasaran, satu lagu berirama disko berbahasa bukan Inggris yang satu-satunya potongan lirik yang teringat adalah kurang lebih seperti ini: “…Hey hey Jenghis Khan…” dan vokal latarnya hanyalah teriakan Huh, hah, huh, hah. Untunglah di era masa kini tidak sulit melacak lagu-lagu lama, cukup mengandalkan Google, Wikipedia plus YouTube. Dan ternyata ingatan sepotong-potong itu tidak jauh meleset dari kenyataan. Alhasil, muncullah judul lagu yang dicari: Dschinghis Khan oleh grup dengan nama yang sama. Setelah menyimak lebih lanjut, ternyata grup ini mempunyai latar belakang yang bak persilangan antara ABBA dan Boney M. Seperti Boney M, Dschinghis Khan dibentuk oleh produser asal Jerman Ralph Siegel. Seperti ABBA, grup ini mengawali kariernya dari kontes musik Eurovision. Di tahun 1979, Ralph Siegel menulis lagu berjudul Dschinghis Khan (ejaan Jerman untuk Jenghis Khan) untuk mengikuti kontes Eurovision mewakili Jerman dengan lirik yang ditulis oleh Bernd Meuninger. Untuk membawakannya, ia membentuk grup yang beranggotakan enam orang yang bukan hanya berasal dari Jerman: Steve Bender dan Wolfgang Heichel keduanya memang asli Jerman, namun istri Heichel, Henriette Strobel berasal dari Belanda. Berikutnya ada dua artis asal Hungaria: Edina Pop dan Leslie Mándoki, dan Louis Hendrik Potgier, seorang penari asal Afrika Selatan.

Lagu (dan grup) Dschinghis Khan kemudian terpilih untuk mewakili Jerman pada kontes Eurovision 1979 yang diselenggarakan di Israel. Meskipun mendapat sambutan meriah dari penonton saat tampil, perwakilan Jerman akhirnya hanya menduduki posisi keempat. Namun demikian, itu cukup untuk mengantar mereka masuk dapur rekaman untuk merilis album pertama mereka Dschinghis Khan (1979). Singel pertama mereka, Dschinghis Khan, menduduki posisi pertama di Jerman. Singel kedua mereka, Moskau, juga sukses menduduki posisi ketiga di Jerman. Menyusul sukses di daratan Eropa, grup ini mulai mencoba menembus pasar internasional dengan merilis ulang lagu-lagu mereka dalam Bahasa Inggris. Versi Bahasa Inggris dari Moskau yang berjudul Moscow mencetak sukses di Australia setelah dijadikan lagu tema liputan Olimpiade Moskow 1980 di stasiun televisi Channel 7. Moscow menduduki posisi pertama selama enam pekan di tangga lagu Australia. Mereka merilis tiga album susulan: Rom (1980), Wir sitzen alle im selben Boot (1981), Helden, Schurken & der Dudelmoser (1982), dan Corrida (1983) sebelum membubarkan diri. Di tahun 1986 tiga anggota mereka, Henriette Heichel, Leslie Mándoki, dan Louis Potgier kembali menyanyikan lagu Wir gehör’n zusammen untuk kontes Eurovision atas nama Dschinghis Khan Family. Mereka hanya menduduki posisi kedua pada tahap kualifikasi untuk Jerman.

Louis Potgier meninggal dunia pada tahun 1994. Leslie Mándoki bersolo karier dan tidak pernah terlibat lagi dalam Dschinghis Khan. Pada tahun 2005, empat personel Dschinghis Khan: Wolfgang Heichel, Henriette Strobel, Edina Pop, dan Steve Bender bereuni dengan melakukan konser di stadion Olimpiade Moskow. Stefan Track menjadi personel kelima Dschinghis Khan dalam konser tersebut menggantikan Louis Potgier. Steve Bender meninggal dunia pada tahun 2006. Di tahun 2007, Dschinghis Khan merilis album 7 Leben, 24 tahun sejak album studio terakhir mereka. Setelah itu, Dschinghis Khan kembali vakum hingga tahun 2018 saat lagu Moskau direkam ulang untuk pergelaran Piala Dunia sepak bola di Moskow. Sejak itu, ada dua versi Dschinghis Khan, yang pertama menampilkan Henriette Strobel dan Edina Pop, yang kedua dengan Wolfgang Heichel dan Stefan Track (yang juga mempunyai projek spin-off dari Dschinghis Khan bernama Rocking Son). Hal ini, ironisnya, juga menimpa Boney M, yang masing-masing personelnya memiliki versi grup Boney M-nya masing-masing. Pada tahun 2021 Dschinghis Khan versi Wolfgang Heichel merilis album baru yang berjudul Here We Go. Sebagai penutup, selamat mendengarkan dua versi lagu Dschinghis Khan dalam Bahasa Indonesia!