Selamat Jalan, Glenn dan Didi Kempot

Saat musisi/penyanyi Glenn Fredly meninggal dunia pada tanggal 8 April 2020 yang lalu, sebenarnya Penulis sudah gatal untuk menulis di blog ini. Ternyata, butuh waktu hampir sebulan untuk itu, saat musisi/penyanyi lain juga meninggal dunia, kali ini Didi Kempot, yang meninggal pada tanggal 5 Mei 2020. (Sebelumnya, musisi Erwin Prasetya, mantan bassis Dewa 19, dan Andy Ayunir juga meninggal dunia). Kiprah keduanya di musik Indonesia terbilang cukup lama, hanya berjarak kurang dari sepuluh tahun. Didi Kempot memulai kiprahnya sebagai artis (rekaman) pada tahun 1989 saat merekam album pertamanya bersama Batara Group, Glenn merekam album pertamanya sebagai vokalis band Funk Section di tahun 1997. Keduanya akhirnya mencetak sukses sebagai penyanyi solo (meskipun Glenn bukan orang Solo :)). Keduanya juga berasal dari keluarga seniman. Paman Glenn adalah musisi Ongen Latuihamallo, sedangkan ayah Didi adalah seniman panggung Ranto Edi Gudel, dan kakaknya adalah komedian Mamiek Prakoso. Untuk selengkapnya, masing-masing akan dibahas di bawah ini:

Glenn Fredly Deviano Latuihamallo dilahirkan di Jakarta pada tanggal 30 September 1975. Karier bermusiknya dimulai sebagai vokalis band Funk Section. Band ini bisa dikatakan sebagai salah satu supergrup di Indonesia, dengan personil-personil yang sangat berpengalaman di dunia musik. Siapa yang tidak mengenal nama-nama seperti Mus Mujiono, Inang Noor Said, Yance Manusama, Ekka Bhakti, dan Irfan Chasmala. Sebelum meninggal, musisi Christ Kayhatu juga menjadi salah satu personil Funk Section. Pada tahun 1997, Funk Section merilis album pertamanya dengan lagu andalan Terpesona  (dirilis ulang sebagai duet Glenn dan Audy) dan Di Pantai Cinta. Waktu itu Penulis menyaksikan penampilan Funk Section di televisi, dan sedikit terkejut dengan penampilan sang vokalis yang masih kelihatan “culun”. Tak berselang lama, sang vokalis itu sudah bersolo karier dan merilis album perdananya, Glenn (1998) dengan hit Cukup Sudah. Meskipun dua album perdananya terbilang sukses, baru pada album ketiga, Selamat Pagi, Dunia!, nama Glenn Fredly menjadi superstar, dengan lagu hitnya yang berjudul Januari. Karier Glenn terus bersinar, bukan hanya sebagai penyanyi solo, ia juga membentuk Trio Lestari bersama Tompi dan Sandhy Sondoro, serta terjun ke dunia film: sebagai aktor (?) dan produser (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi). Pada tanggal 8 April 2020 Glenn Fredly meninggal dunia karena sakit meningitis, meninggalkan seorang istri dan seorang putri.

Dionysius Didik Prasetyo dilahirkan di Solo pada tanggal 31 Desember 1966. Sejak kecil kedua orang tuanya bercerai dan ia tinggal bersama sang Ibunda di Ngawi. Jika Ayah dan kakaknya lebih menggeluti seni peran, Didi, begitu nama panggilannya, lebih memilih seni musik. Ia bahkan nekat menjual sepeda hadiah sang Ayah untuk membeli gitar. Tahun 1984 ia memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Di Jakarta, ia menjadi pengamen di seputaran Slipi dan Palmerah. Di sela-sela pekerjaannya, ia menulis dan merekam lagunya pada kaset demo yang kemudian dikirimkannya ke sejumlah label rekaman. [Salah satu] Album pertamanya direkam bersama grup Batara, yang terdiri atas musisi Pompy, Dani S, dan kakaknya sendiri, Mamiek Prakoso. [Sebelumnya, Didi pernah merekam album pop Indonesia berduet dengan Viara Rizky berjudul Bungkus Saja dan album solo berjudul Malam Mingguan] Ia menggunakan nama panggung Didi Kempot, yang terinspirasi nama penyanyi seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kempot menurutnya adalah singkatan dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Album perdananya itu mengandalkan lagu berjudul We-Cen-Yu, namun justru lagu lain yang berjudul Cidro yang menentukan perjalanan kariernya. Lagu Cidro yang diilhami pengalaman pribadinya saat perjalanan cintanya bersama sang kekasih tidak direstui pihak keluarga ini diam-diam populer di Belanda dan Suriname. Sejak itu Didi berkali-kali diundang ke Suriname untuk mengadakan konser dan popularitasnya di sana tidak pernah memudar. Di Indonesia sendiri, namanya baru melejit setelah merekam album Stasiun Balapan di tahun 1999. Lagu inilah yang menjadi patron (template) kesuksesannya: irama campursari (lebih tepatnya congdut alias keroncong-dangdut), lirik lagu berbahasa Jawa, dan tema lagu patah hati. Sejak itu, Didi seolah menjadi simbol musik campursari. Lagu-lagunya yang banyak dikenal di antaranya: Sewu Kutho, Terminal Tirtonadi, Parangtritis, Tanjung Mas Ninggal Janji, Lingsir Wengi, Aku Dudu Rojo, Klengkeng Bandungan, Cintaku Sekonyong Konyong Koder, dan Nunut Ngiyup. Belakangan, namanya kembali melejit dengan nama julukan seperti: The Godfather of Broken Heart dan Lord Didi dan komunitas yang dikenal dengan nama Sobat Ambyar. Di tengah pandemi Covid-19, Didi mengadakan konser amal yang berhasil menggalang dana hingga 7 miliar rupiah. Mendadak, ia meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 2020 meninggalkan dua seorang istri dan dua seorang putri.

Clivillés + Cole (C+C Music Factory)

Para penggemar musik di luar era 80-an dan 90-an mungkin kurang mengenal C+C Music Factory, namun mungkin sudah pernah mendengar hit terbesar mereka, Gonna Make You Sweat, terutama catchphrasenya …. Everybody Dance Now…! Yep, lagu dan frase tersebut sampai hari ini begitu ikonik, sampai-sampai menenggelamkan artis pelantunnya, apalagi kisah di balik lagu, artis musik, sampai drama perebutan hak cipta yang berlangsung selama bertahun-tahun setelah nama C+C Music Factory menghilang dari perhatian publik.


Semuanya berawal dari pertemuan dua orang musisi/DJ, Robert Clivillés dan David Cole di klub Better Days pada akhir dekade 80-an. Mereka kemudian terlibat di sejumlah proyek musik seperti 2 Puerto Ricans, a Blackman, and a Dominican serta 28th Street Crew. Mereka juga memproduksi lagu dan album untuk girl band Seduction dan The Cover Girls. Selain itu, mereka juga memproduksi lagu untuk vokalis The Weather Girls, Marta Wash dan rapper Freedom Wiliams. Dua nama inilah yang kemudian akan terlibat dalam proyek tersukses mereka, C+C Music Factory. Marta Wash lah yang mengisi vokal dalam lagu Gonna Make You Sweat, termasuk frase ikonik Everybody Dance Now. Namun, dalam video klip lagu ini, yang tampil adalah model/penyanyi Zelma Davis. Marta Wash kemudian mengajukan tuntutan hukum, yang berujung pada pencantuman nama Marta Wash pada kredit video Gonna Make You Sweat. Marta Wash kemudian bergabung secara resmi dengan C+C Music Factory untuk album kedua mereka, Anything Goes! (1994).

Di luar C+C Music Factory, Mereka juga merilis singel A Deeper Love sebagai Clivillés + Cole, yang menduduki posisi ke-15 di Inggris. Mereka juga memproduksi lagu-lagu untuk Mariah Carey, di antaranya Emotions dan Make It Happen. Untuk soundtrack film The Bodyguard (1992), mereka memproduksi lagu I’m Every Woman untuk Whitney Houston dan membentuk The S.O.U.L. S.Y.S.T.E.M. yang merekam lagu It’s Gonna Be a Lovely Day. David Cole meninggal dunia pada tahun 1995, Mariah Carey menulis lagu One Sweet Day bersama Walter Affanasief dan Boyz II Men untuk mengenangnya.

C+C Music Factory tidak lagi aktif setelah kematian David Cole, meskipun sempat comeback di tahun 2010. Rapper Freedom WIlliams yang meninggalkan grup ini setelah sukses album pertamanya, sekarang memegang hak atas nama (trademark) C&C Music Factory, dan sampai sekarang tampil di atas panggung mengatasnamakan C&C Music Factory. Sementara Robert Clivillés sebagai pendiri tidak mendapatkan apa-apa. Ironis memang.

Milli Vanilli dan Sejarah Para “Frontman”

Milli Vanilli akan dikenang sebagai “penipu” atau minimal “artis ilpsync”, meskipun kalau dipikir-pikir, duo Rob Pilatus dan Fab Morvan tidaklah mungkin bertindak sendiri, atas inisiatif mereka berdua. Ironisnya, bahwa produser Frank Farian sebagai mastermind utamanya sampai hari ini masih menjalani kariernya seperti biasa, dan tak seorang pun akan mengenangnya sebagai “The Real Milli Vanilli”. Di sisi lain, praktik sejenis dengan Milli Vanilli, sebuah proyek musik dengan dua sisi: seorang atau lebih produser, musisi, dan vokalis yang merekam lagu dan album di studio, dan para performer, biasanya penari dengan tampilan fisik dan kemampuan showmanship yang baik, sebagai “frontman” yang mewakili para produser, musisi, dan vokalis menampilkan lagu-lagu dari album mereka dalam pertunjukan televisi, video klip, dan panggung. Milil Vanilli bukanlah yang pertama, meskipun bisa dibilang yang tersukses, saat mereka mencetak tiga hit nomer satu di Amerika Serikat dan memenangkan penghargaan Grammy untuk artis pendatang baru terbaik. Berikut ini beberapa proyek dengan “dua sisi ”

    1. Boney M.
      Produser asal Jerman, Frank Farian, (atau produser musik pada umumnya) sebenarnya tidak asing dengan praktik “dua sisi” seperti ini. Di awal kariernya, Farian sebenarnya berambisi menjadi penyanyi dan komposer. Namun, ia juga sadar bahwa skill performer-nya sangat kurang untuk bisa mempromosikan lagu-lagu hasil karyanya. Hingga satu saat ia merekam lagu berjudul Baby Do You Wanna Bump yang dirilis atas nama “Boney M.” (diambil dari serial televisi Australia). Tanpa diduga, lagu tersebut sukses di Belanda dan Belgia. Untuk mempromosikan lagi tersebut di televisi, Frank pun merekrut empat “frontmen”: Maizie Williams, Bobby Farrell, Marcia Barrett, dan Liz Mitchell. Pada praktiknya, hanya Liz dan Marcia yang benar-benar menyanyikan lagu-lagu Boney M. di studio, sementara vokal pria diisi oleh Frank Farian sendiri. Meski demikian, untuk penampilan di panggung (live), keempatnya benar-benar mengisi suaranya sendiri. Boney M. kemudian menjadi terkenal di Eropa dan dunia berkat hit-hit seperti: Rivers of Babylon, Daddy Cool, Sunny, Hooray Hooray It’s a Holi-Holiday, Gotta Go Home, Mary’s Boy Child/Oh My Lord, Rasputin, dan Ma Baker.
    2. Village People
      Produser Jacques Morali dan Henri Belolo asal Prancis memulai proyek musiknya di Amerika dengan merekam sejumlah lagu bersama musisi studio dan vokalis, salah satunya adalah Victor Willis. Album pertamanya diberi judul Village People. Setelah album tersebut sukses, Morali dan Belolo pun merekrut “performer” untuk mempromosikan album tersebut di panggung (live) dan televisi. Victor Willis sebagai vokalis utama, ditambah beberapa penari, dengan konsep role playing sesuai stereotype kaum gay: polisi, pekerja konstruksi, penunggang motor gede, tentara/pelaut, Indian, dan koboi. Village People terkenal dengan hit-hit seperti: Macho Man, YMCA, In the Navy, dan Go West.
    3. Tight Fit
      Produser Ken Gold menginisiasi proyek musik untuk merekam medley lagu-lagu hit tahun 60-an mengikuti sukses proyek Starsound (Stars on 45), dengan nama Tight Fit. Rilis singel Back to the 60s sukses menduduki posisi ke-4 di Inggris. Kemudian, produser lain Tim Friese-Greene merekam cover version dari lagu The Lion Sleeps Tonight dan merilisnya atas nama Tight Fit. Kali ini bahkan lebih sukses dari sebelumnya setelah berhasil menduduki posisi pertama di tangga lagu Inggris selama tiga pekan. Vokalis Roy Ward mengisi vokal untuk lagu itu di studio, namun untuk mempromosikan lagu ini di televisi, Friese-Greene merekrut trio Steve Grant, Denise Gyngell, dan Julie Harris sebagai “frontmen”.
    4. Baltimora
      Produser asal Italia Maurizio Bassi merekam singel Tarzan Boy bersama sejumlah musisi studio dan merilisnya atas nama Baltimora. Untuk mempromosikan lagu ini di televisi, ia merekrut aktor dan penari keturunan Irlandia Utara, Jimmy McShane. Tarzan Boy menjadi hit di Eropa, menduduki posisi ketiga di Inggris dan posisi pertama di Prancis dan Belanda. Di Amerika Serikat, lagu ini bertahan selama enam bulan di Billboard Hot 100 dan menduduki posisi ke-13.
    5. Milli Vanilli
      Akhirnya kita sampai pada topik utama kita. Milli Vanilli adalah dua kisah yang terpisah. Kisah pertama adalah dua anak muda, Robert Pilatus asal Jerman dan Fabrice Morvan asal Prancis yang bertemu dan sepakat berduet dengan nama Milli Vanilli. Kisah kedua adalah produser Frank Farian yang membuat proyek baru dengan musisi studio dan vokalis dan rapper asal Amerika Serikat Brad Howell dan Charles Shaw, serta dua bersaudara Jodie dan Linda Rocco sebagai vokalis latar. Rob dan Fab kemudian menandatangani kontrak dengan Frank Farian dan diharuskan untuk menampilkan lagu-lagu yang telah direkam sebelumnya secara playback/lipsync. Saat Milli Vanilli mencapai sukses, Charles Shaw sempat bersuara mengenai keterlibatannya sebagai vokalis asli pada lagu-lagu Milli Vanilli. Shaw kemudian menarik pernyataannya, dan posisinya digantikan John Davis. Pada akhirnya, setelah “skandal” ini terbongkar, album-album Milli Vanilli dicueki di pasaran (termasuk proyek lanjutannya, The Real Milli Vanilli, yang menampilkan vokalis/frontmen baru seperti Ray Horton dan Gina Mohammed), begitu pun album Rob & Fab (dengan suara asli mereka). Pada tahun 1998 Frank Farian akhirnya bersedia merekam album baru Milli Vanilli dengan vokal asli Rob dan Fab berjudul Back and in Attack. Namun, Rob terlibat dalam berbagai masalah hukum menjelang rilis album tersebut dan akhirnya ditemukan meninggal dunia dalam kamar hotelnya di Frankfurt, Jerman. Album itu pun sampai sekarang tidak pernah dirilis. Fab Morvan kemudian melanjutkan kariernya sebagai DJ dan pembicara publik.

 

Neil Peart (1952 – 2020)

Sekali lagi, dunia musik khususnya musik rock/progressive rock kembali kehilangan salah satu musisi terbaiknya. Setelah Keith Emerson (ELP), Chris Squire (Yes), Greg Lake (ELP, ex-King Crimson), dan John Wetton (ex-King Crimson, Asia), pada tanggal 7 Januari 2020 Neil Peart, drummer band asal Kanada Rush meninggal dunia. Ia bergabung dengan Geddy Lee (bass, vokal) dan Alex Lifeson (gitar) di tahun 1974 menggantikan drummer sebelumnya,. Formasi ini bertahan sampai Neil meninggal dunia. Bagi penggemar musik pada umumnya, mungkin sosok Neil Peart kurang dikenal dibandingkan rekan segrupnya, tersembunyi di balik set drumnya. Siapa yang menyangka bahwa ialah penulis lirik utama untuk lagu-lagu Rush. Di kalangan musisi dan penggemar berat musik, ia dikenal sebagai salah satu drummer terbaik di dunia. Dalam satu artikel untuk USA Today, ia disebut sebagai salah satu drummer terbaik sepanjang masa bersama nama-nama seperti John Bonham (Led Zeppelin), Ringo Starr (The Beatles), Keith Moon (The Who),  Ginger Baker (Cream), dan Stewart Copeland (The Police).

Pada tahun 1997 Neil kehilangan putri pertamanya akibat kecelakaan lalu lintas. Setahun kemudian, istrinya pada saat itu terkena kanker dan meninggal dunia 10 bulan setelahnya. Neil Peart kemudian menghubungi kedua rekannya dengan pernyataan “Anggap saja saya pensiun” dan melakukan ekspedisi di atas sepeda motornya melintasi Amerika Utara dan Tengah. Ia kemudian kembali ke Rush pada tahun 2001. Ia menyatakan pensiun pada akhir tahun 2015 karena masalah kesehatan, belakangan diketahui bahwa ia didiagnosis menderita kanker otak. Rush pun dinyatakan vakum semenjak itu. Bersama kedua rekannya dalam band Rush, Neil Peart menerima penghargaan Order of Canada di tahun 1996, masuk ke dalam Canadian Songwriters Hall of Fame (2010) dan Rock and Roll Hall of Fame (2013).

Neil Innes (1944 – 2019): Bye Bye Urban Spaceman

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, siapa gerangan Neil Innes sampai-sampai perlu dibuatkan obituari khusus di sini. Jangankan di Indonesia, secara internasional pun namanya kurang begitu dikenal. Namun jika disebutkan beberapa band/proyek yang pernah dikerjakannya: The Bonzo Dog Doo-Dah Band, Monty Python, atau The Rutles. Dua fakta spesifik yang mungkin menarik: Innes mendapatkan kredit penulisan lagu Whatever (Oasis) bersama Noel Gallagher karena kemiripan dengan lagu ciptaannya, How Sweet to Be an Idiot, dan lagu ciptaannya bersama Vivian Stanshall untuk The Bonzo Dog Doo-Dah Band yang berjudul Death Cab for Cutie ditampilkan dalam film Magical Mystery Tour (The Beatles), dan menjadi inspirasi nama band yang didirikan Ben Gibbard di tahun 1997.

Neil James Innes dilahirkan di Inggris pada tanggal 9 Desember 1944. Ia bergabung dengan The Bonzo Dog Dada Band yang dibentuk oleh Vivian Stanshall dan Rodney Slater di tahun 1963. Nama band ini kemudian berubah menjadi The Bonzo Dog Doo-Dah Band dan mencetak hit I’m the Urban Spaceman (nomor 5 di Inggris) pada tahun 1968. Single ini diproduseri oleh Paul McCartney menggunakan nama alias “Apollo C Vermouth”. Sayangnya, The Bonzo Dog Band kemudian bubar di tahun 1969. Innes kemudian bergabung di band The World dan GRIMMS sebelum terlibat dalam Monty Python. Ia menulis lagu, tampil di pertunjukan TV dan film, serta menulis naskah untuk beberapa sketsa, yang membuatnya dijuluki “The Seventh Python”.

Setelah Monty Python’s Flying Circus berakhir, Neil Innes bersama salah satu anggota Python, Eric Idle, mengisi acara The Rutland Weekend Television. Salah satu segmennya menampilkan band yang tampilan dan musiknya sangat mirip dengan The Beatles. Saat klip ini dibawa ke acara Saturday Night Live di Amerika Serikat, muncul gagasan untuk menampilkan band ini, yang dinamakan The Rutles, dalam format film dan album musik. Mockumentary tentang The Rutles, All You Need Is Cash dirilis pada tahun 1978. Neil Innes memerankan Dirk Nasty, yang memarodikan John Lennon. Innes menulis semua lagu soundtrack film ini. The Rutles merilis album keduanya, Archaeology (1996) setelah The Beatles merilis Anthology (1995). Ia juga merilis album solo, salah satunya adalah How Sweet to Be an Idiot yang kemudian mengilhami lagu Oasis yang berjudul Whatever (1994).

Setelah The Rutland Weekend Television, ia mengisi acara Innes Book of Records, bereuni dengan The Bonzo Dog Band, mengisi acara tribute Concert for George, dan membentuk band The Idiot Bastard. Neil Innes meninggal dunia pada tanggal 29 Desember 2019 di Toulouse, Prancis.

Grown-Up Christmas Playlist

  1. Wham! – Last Christmas
  2. Slade – Merry Xmas Everybody
  3. Band Aid – Do They Know It’s Christmas?
  4. John Lennon – Happy X’mas (War Is Over)
  5. Greg Lake – I Believe in Father Christmas
  6. Queen – Thank God It’s Christmas
  7. Morten Harket – A Kind of Christmas Card
  8. Jim Brickman featuring Luke McMaster – Merry Christmas, Beautiful
  9. Roxette – It Must Have Been Love (Christmas for the Broken Hearted)
  10. David Foster featuring Natalie Cole – Grown-Up Christmas List

[R.I.P.] Marie Fredriksson (1958 – 2019)

Satu lagi kabar duka dari dunia musik, vokalis asal Swedia Marie Fredriksson, yang bersama musisi/vokalis Per Gessle dikenal sebagai Roxette, meninggal dunia pada tanggal 9 Desember 2019 di usia 61 tahun. Marie diketahui mengidap tumor otak sejak tahun 2002 yang membuat Roxette vakum hingga tahun 2009. Diawali penampilan spontan di tur solo Per Gessle, Roxette akhirnya kembali aktif dan merilis tiga album sebelum kembali vakum sejak tahun 2016 karena kondisi Marie tidak lagi memungkinkan untuk melakukan tur.

Dilahirkan pada tanggal 30 Mei 1958 dengan nama Gun-Marie Fredriksson, bungsu dari lima bersaudara. Ia mulai belajar musik dan menyanyi sejak usia tujuh tahun. Bersama kekasihnya (waktu itu) Stefan Dembrandt, Marie membentuk grup musik Strul pada tahun 1978. Personel grup ini sering berganti-ganti, di antaranya adalah dua musisi muda bernama Per Gessle dan Mats Persson yang kemudian membentuk grup musik Gyllene Tider, cikal bakal Roxette. Tahun 1980, hubungan Marie dan Stefan putus, dan Stefan Dembrandt meninggalkan Strul. Marie dan gitaris/vokalis Martin Sternhufvud kini menjadi anggota inti Strul, yang bertahan hingga tahun 1981 dan sempat merilis dobel singel Ki-I-Ai-Oo/Strul igen sebelum membubarkan diri tiga bulan kemudian.

Marie dan Martin kemudian membentuk MaMas Barn. Grup ini sering berlatih bersama Gyllene Tider, hingga bassis dan drummer Gyllene Tider akhirnya bergabung dengan MaMas Barn. Marie menyumbangkan vokalnya pada lagu Gyllene Tider Ingenting av vad du behöver (1981). Di tahun 1982, MaMas Barn merilis album perdananya Barn som barn. Meskipun mendapatkan ulasan yang bagus, album ini gagal di pasaran dan MaMas Barn akhirnya membubarkan diri. Per Gessle meyakinkan Marie untuk memulai solo karier. Sebelum merilis album solo perdananya, Marie menjadi vokal latar untuk Lasse Lindbom Band dan di album Gyllene Tider berbahasa Inggris, The Heartland Café (1984). Album ini dirilis di Amerika Serikat dalam format EP dengan judul Heartland menggunakan nama band Roxette. Nama Roxette diambil dari judul lagu band asal Inggris Dr. Feelgood. Setelah gagal menembus pasar internasional Gyllene Tider memutuskan untuk vakum. Per Gessle kemudian bersolo karier.

Marie Fredriksson kemudian merilis dua album solo yang sukses di Swedia. Sebaliknya, album solo Per Gessle gagal menyamai kesuksesan Gyllene Tider. Akhirnya, eksekutif EMI Swedia menyarankan Per dan Marie merekam lagu bersama dalam Bahasa Inggris. Per kemudian menerjemahkan salah satu karyanya, Svarta glas, menjadi Neverending Love, merekamnya bersama Marie dan merilisnya atas nama Roxette. Singel ini sukses dan duet ini pun langsung merekam album perdana mereka, Pearls of Passion (1986) dengan hit seperti Goodbye to You, Soul Deep, dan I Call Your Name. Akhir tahun 1987 Roxette merilis singel bertema natal, It Must Have Been Love (Christmas for the Broken Hearted). Lagu tersebut kemudian direkam ulang dengan sedikit modifikasi untuk soundtrack film Pretty Woman (1990) dan berhasil menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 serta menjadi lagu signature mereka. Album kedua mereka Look Sharp! dirilis tahun 1988. Album ini dan hit-hit seperti Dressed for Success, Listen to Your Heart, dan Chances kembali sukses seperti album sebelumnya, namun Roxette masih belum dikenal di luar Swedia. Konon, seorang siswa pertukaran asal Amerika Serikat yang membawa album ini pulang ke Minneapolis dan menyerahkannya ke stasiun radio setempat, KDWB. The Look kemudian menjadi hit di radio jauh sebelum dirilis secara resmi di Amerika Serikat, dan akhirnya menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 di awal tahun 1989. Roxette merilis sepuluh album dan mencetak hit seperti Dressed for Success, Listen to Your Heart, Dangerous, Joyride, Fading Like a Flower, Spending My Time, How Do You Do!, Queen of Rain, Almost Unreal, Sleeping in My Car, You Don’t Understand Me, Wish I Could Fly, dan The Centre of the Heart. Total mereka sudah menjual sekitar 75 juta kopi album di seluruh dunia.

Selain Roxette, Marie tetap melanjutkan solo kariernya yang sukses di negaranya, Swedia. Tak kurang delapan album dirilisnya hingga tahun 2013. Pada tahun 2002 ia didiagnosis menderita tumor otak dan harus menjalani operasi dan kemoterapi. Setelah dinyatakan sembuh ia melanjutkan kariernya sebagai penyanyi solo dan kembali aktif dalam Roxette sejak tahun 2009. Namun kesehatannya kembali menurun dan sejak tahun 2016 ia harus mengakhiri karier musiknya. Marie Fredriksson meninggalkan suami dan dua orang anak. Selain menjadi vokalis, Marie juga menulis beberapa lagu untuk Roxette di antaranya: Voices (bersama Per Andersson, album Pearls of Passion), Turn to Me (bersama Per Gessle, side B singel It Must Have Been Love [Christmas for the Broken Hearted]), Dance Away dan Cry (bersama Per Gessle), Half a Woman, Half a Shadow (album Look Sharp!), Hotblooded (bersama Per Gessle), Watercolours in the Rain (album Joyride), Go to Sleep (album Crash! Boom! Bang!), Beautiful Things (bersama Per Gessle), Waiting for the Rain (album Have a Nice Day), Little Girl (album Room Service), dan See Me (album Travelling).

Diskografi

  • Het vind (1984)
  • Den sjunde vågen (1985)
  • …Efter stormen (1987)
  • Den ständiga resan (1992)
  • I en tid som vår (1996)
  • Äntligen: Marie Fredrikssons bästa 1984–2000 (2000) – Compilation
  • Äntligen: Sommarturné (2000) – Live Album (+DVD)
  • Kärlekens guld (2002) – Boxset
  • Äntligen Live! (2003) – Live Album
  • The Change (2004)
  • Min bäste vän (2006)
  • Tid för tystnad: Marie Fredrikssons ballader (2007) – Compilation
  • Nu! (2013)