Yockie Suryoprayogo, Petualang Musik Indonesia Itu Telah Berpulang

Yockie Suryoprayogo mungkin lebih dikenal sebagai (mantan) pemain kibor band God Bless. Sebagian lagi akan mengenalnya sebagai bagian dari supergrup Kantata Takwa bersama Setiawan Djody, WS Rendra, Iwan Fals, dan Sawung Jabo. Bagi mereka pemerhati musik akhir 70-an akan mengenalnya sebagai sosok di balik layar album Badai Pasti Berlalu yang fenomenal itu (bersama Erros Djarot, Chrisye, dan Fariz RM), juga sebagai penata musik album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors tahun 1977 dan 1978 yang melejitkan lagu-lagu seperti Lilin-lilin Kecil (James F. Sundah, dibawakan oleh Chrisye) dan Kidung (Chris Manusama, dibawakan Pahama). Bila ditelisik lebih dalam, Yockie juga berada di balik layar untuk album-album solo Chrisye (bersama Erros Djarot), Mel Shandy, Ita Purnamasari, dan masih banyak lagi. Selain God Bless dan Kantata Takwa, Yockie juga pernah tergabung dalam sejumlah band seperti Jaguar, Bentoel (bersama Ian Antono dan Teddy Sujaya), Giant Step, Mercy’s, Badai Band, Swami (album kedua), Suket, dll. Sempat merilis 8 album solo, beliau juga cukup aktif menulis di blognya, jsop.net

(foto: Instagram/@yockie_suryo_prayogo)

Dilahirkan di Demak pada tanggal 14 September 1954 dan meninggal pada tanggal 5 Februari 2018, sampai akhir hayatnya Yockie tetap bersemangat dalam memperjuangkan musik Indonesia. Ia tak segan-segan melakukan konfrontasi dengan siapapun saat berurusan dengan hak cipta lagu-lagunya, termasuk dengan mantan rekan-rekannya di God Bless. Di sisi lain, Yockie adalah musisi yang sangat terbuka dalam hal bekerja sama, sebagai musisi, komposer, arranger, atau produser. Selamat jalan Bung Yockie, karya-karyamu akan tetap dikenang sepanjang masa. Sebagai penutup, silakan menyimak 10 Lagu Yockie Pilihan Denny MR.

Iklan

Dolores O’Riordan (The Cranberries) Meninggal

Sebuah kabar duka dari dunia music membuka tahun 2018. Vokalis dan penulis lagu grup band The Cranberries Dolores O’Riordan meninggal dunia di London hari ini. Dolores dilahirkan pada 6 September 1971 di Limerick, Irlandia. Dia bergabung dengan Noel Hogan, Mike Hogan, dan Fergal Lawler dalam band yang bernama The Cranberry Saw Us pada tahun 1990 setelah melalui audisi untuk menggantikan vokalis Niall Quinn. Mereka kemudian merekam demo yang salah satunya adalah versi awal dari lagu Linger dan Dreams, serta mengubah nama band menjadi The Cranberries.  Rilis album pertama mereka Everybody Else Is Doing It So Why Can’t We? (1992) dan single Dreams pada awalnya tidak menarik banyak perhatian. Baru setelah video music dari single kedua mereka, Linger, diputar di MTV The Cranberries mulai dikenal. Lagu ini diilhami pengalaman cinta pertama Dolores yang berakhir tragis saat cowok yang menciumnya pada satu malam memilih mengajak temannya untuk berdansa pada keesokan harinya. Linger menembus posisi ke-8 di Billboard Hot 100 dan album perdana mereka menduduki posisi pertama di Inggris. Album kedua mereka, No Need to Argue (1992) terjual 17 juta kopi di seluruh dunia dan single Zombie membuat mereka dikenal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Setelah merilis tiga album susulan, The Cranberries vakum sejak tahun 2003. Dolores kemudian merilis dua album solo, Are You Listening? (2007) dan No Baggage (2009). The Cranberries kembali bergabung di tahun 2009 dan merilis album Bualadh Bos: The Cranberries Live. Tiga tahun kemudian mereka merilis album studio pertama mereka dalam 11 tahun, Roses. Tahun 2017 mereka merilis album Something Else yang berisi tiga lagu baru dan sisanya lagu-lagu hits lama mereka yang dibawakan secara akustik. RIP Dolores, thanks for everything, your voice will still linger in our ears.

We’re All Alone

Lagu ini dikenal sebagai signature song artis Rita Coolidge yang merilisnya pada tahun 1977 pada album Anytime Anywhere. Lagu ini berhasil menduduki posisi ke-7 di Billboard Hot 100 dan posisi ke-6 di Inggris dan hingga kini identik dengan Rita Coolidge sebagai penyanyinya. Sebenarnya, lagu ini ditulis dan direkam oleh penyanyi lain, Boz Scaggs, dalam album tersuksesnya Silk Degrees (1976). Boz menulis sendiri lagu ini, meskipun ada kabar bahwa musiknya ditulis oleh David Paich, pemain kibor untuk album Silk Degrees yang kemudian membentuk band Toto bersama dua musisi lain yang juga mengiringi album ini, Jeff Porcaro (drum) dan David Hungate (bass). Album Silk Degrees sendiri melejit berkat dua lagu hit di dalamnya: Lowdown dan Lido Shuffle. We’re All Alone yang menjadi trek terakhir dalam album ini tidak dirilis sebagai singel, hanya menjadi bonus (side B) dari singel Lido Shuffle, meskipun di Australia lagu ini dirilis sebagai double A-side bersama Lowdown dan menduduki posisi 54. Hingga akhirnya Jerry Moss dari A&M Records menyarankan pada Rita Coolidge untuk merekamnya dalam album yang sedang dikerjakan pada waktu itu.

Meskipun kedua artis ini menyanyikan lagu ini dengan aransemen dan nada dasar yang sama, hasil akhirnya terdengar berbeda. Vokal Rita yang smooth terasa menenangkan, sedangkan vokal Boz lebih bertenaga dan terdengar melankolis. Rilis kedua versi yang hampir bersamaan sempat menimbulkan ide untuk menduetkan keduanya seperti yang kemudian dilakukan pada lagu You Don’t Bring Me Flowers oleh Neil Diamond dan Barbra Streisand.

We’re All Alone
written by William R. Royce “Boz” Scaggs

Outside the rain begins
And it may never end
So cry no more
On the shore, a dream
Will take us out to sea
Forever more, forever more

Close your eyes and dream
And you can be with me
‘Neath the waves
Through the caves of ours
Long forgotten now
We’re all alone, we’re all alone

Close the window, calm the light
And it will be all right
No need to bother now
Let it out, let it all begin
Learn how to pretend

Once a story’s told
It can’t help but grow old
Roses do, lovers too
So cast your seasons to the wind
And hold me, dear
Oh, hold me, dear

Close the window, calm the light
And it will be all right
No need to bother now
Let it out, let it all begin
All’s forgotten now
We’re all alone, oh, we’re all alone

Close the window, calm the light
And it will be all right
No need to bother now
Let it out, let it all begin
Owe it to the wind
My love

© 1977 Spirit Music Group

Happy Centennial… Dame Vera Lynn

Tidak banyak dari kita yang mencapai usia 100 tahun, apalagi mereka yang berstatus artis/selebriti. Vera Margaret Welch, yang dikenal dengan nama panggungnya Vera Lynn, dilahirkan pada tanggal 20 Maret 1917 di Inggris. Ini berarti seminggu lagi, beliau akan merayakan ulang tahun ke-100 (centennial). Vera mulai tampil di publik pada usia tujuh tahun dengan menggunakan nama keluarga neneknya, Lynn. Pada tahun 1936 ia merekam singel pertamanya, Up the Wooden Hill to Berfordshire. Vera Lynn dikenal luas setelah merekam lagu We’ll Meet Again di tahun 1939. Lagu yang ditulis oleh Ross Parker dan Hughie Charles ini lmenjadi populer di kalangan prajurit selama Perang Dunia II. Dalam sebuah polling Vera menjadi penyanyi terfavorit di antara pasukan Inggris selama perang dan memberinya julukan “The Forces’ Sweetheart” Lagu lainnya yang terkenal di masa perang adalah (There’ll be Bluebirds Over) The White Cliffs of Dover yang bercerita tentang skuadron pesawat tempur sekutu. Selama perang, Vera meluncurkan program radio khusus untuk mengirim pesan bagi prajurit Inggris yang bertempur di garis depan. Pada tahun 1943, Vera membintangi film We’ll Meet Again bersama aktor Geraldo.

Setelah perang, Vera melanjutkan kariernya di dunia musik. Di tahun 1952, ia menjadi artis Inggris pertama yang menduduki posisi pertama di tangga lagu Amerika Serikat lewat lagu Auf Wiederseh’n Sweetheart. Sedangkan di Inggris Vera juga menempatkan hit nomor satu My Son, My Son di tahun 1954. Pada tahun 2009 album kompilasinya, Well Meet Again: The Very Best of Vera Lynn menduduki posisi pertama di Inggris, menjadikannya artis tertua yang menduduki posisi pertama di tangga album Inggris pada usia 92 tahun. Pada tahun 2014, album kompilasinya National Treasure: Ultimate Collection menduduki posisi ke-13 di Inggris. Untuk ulang tahunnya ke-100 direncanakan untuk perilisan album Vera Lynn 100 yang berisi aransemen baru lagu-lagu hitnya. Selain itu, juga akan dirilis album Her Greatest from Abbey Road yang berisi rekaman lagu-lagu hitnya yang dibuat di studio legendaris Abbey Road, ditambah lima rekaman yang belum pernah dirilis sebelumnya.

Vera Lynn menerima beberapa penghargaan dari kerajaan Inggris atas jasa-jasanya selama Perang Dunia II, termasuk Dame Commander of the Order of the British Empire (DBE) pada tahun 1975. Grup rock Pink Floyd dalam albumnya The Wall (1979) merekam lagu berjudul Vera, yang liriknya mengacu pada Vera Lynn dan hit populernya We’ll Meet Again:

Does anybody remember Vera Lynn?
Remember how she said that we would meet again, some sunny day?
Vera! Vera! what has become of you?
Does anybody else in here feel the way I do?

Close (Y)Our Eyes…Tommy Page

Akhirnya blog ini benar-benar berubah menjadi rangkaian obituari artis/musisi era 70an-90an. Meskipun telah berusaha menyeleksi, Penulis tidak bisa mengabaikan rentetan kabar duka sepanjang dua tahun terakhir ini. Kabar terakhir menyebutkan bahwa penyanyi, penulis lagu, dan eksekutif musik Tommy Page meninggal dunia pada 3 Maret 2017 lalu, diduga bunuh diri. Terlahir sebagai Thomas Alden Page di New Jersey, USA pada tanggal 24 Mei 1970, pada usia 16 tahun ia bekerja sebagai penjaga titipan mantel di sebuah klub di New York ketika demo tapenya yang dimainkan oleh DJ setempat menarik perhatian Seymour Stein, pemilik label Sire Records. Dua tahun kemudian ia menulis lagu untuk film Shag dan album perdananya dirilis, dengan singel A Shoulder to Cry on menembus Billboard Hot 100 di posisi ke-29. Page kemudian menjadi pembuka tur New Kids on the Block dan bersama dua personel NKOTB Jordan Knight dan Danny Wood ia menulis lagu I’ll Be Your Everything. Lagu itu ditawarkan kepada Jordan untuk dibawakan NKOTB sebelum akhirnya Page memutuskan untuk merekamnya sendiri untuk album keduanya Paintings on My Mind (1990). Personel NKOTB lainnya, Donnie Wahlberg memproduksi trek ini bersama Jordan Knight dan musisi/produser Michael Jonzun. I’ll Be Your Everything berhasil menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 pada minggu kedua April 1990. Album-album Tommy Page selanjutnya tidak mampu menyamai sukses album keduanya, namun popularitasnya di Asia masih cukup tinggi. Page kemudian melanjutkan sekolahnya dan menjadi eksekutif di bidang musik setelah lulus. Ia bekerja di Warner Bros, Billboard, Pandora, dan terakhir menjabat sebagai Vice President of musical partnership untuk Village Voice. Ia meninggalkan tiga anak bersama partnernya, Charlie. Di masa jayanya, Tommy Page adalah ikon musik bagi remaja (putri) bersama New Kids on the Block.

John Wetton (1949 – 2017)

Berita duka di dunia hiburan, termasuk musik, nampaknya belum berakhir sejak tahun 2016. Fans musik rock progresif baru saja kehilangan Keith Emerson, Chris Squire, Greg Lake, dan sekarang kembali kehilangan John Wetton yang meninggal dunia pada 31 Januari 2017 akibat sakit kanker. Terlahir sebagai John Kenneth Wetton di Derbyshire, Wetton mulai dikenal saat bergabung dengan King Crimson di tahun 1972. Setelah Robert Fripp membubarkan King Crimson di tahun 1974, Wetton bersama Bill Bruford membentuk supergrup U.K. bersama Eddie Jobson dan Allan Holdsworth. Bruford dan Holdsworth kemudian keluar dan Terry Bozzio masuk. Tahun 1981 U.K. bubar, John Wetton pun bergabung dengan Steve Howe, Carl Palmer, dan Geoffrey Downes dalam supergrup Asia. Asia mencetak sukses dengan album perdananya yang menjadi album terlaris tahun 1982 dan hit top 10 Heat of the Moment. Perjalanan Asia penuh liku, setelah album kedua Alpha (1983) gagal menyamai pendahulunya, Wetton sempat keluar untuk digantikan Greg Lake, namun kembali lagi untuk merekam album Astra (1985) dengan Mandy Meyer menggantikan Steve Howe. Di tahun 1990, Wetton, Palmer, dan Downes kembali merekam lagu baru untuk album Then & Now, sebelum kembali bubar.Wetton dan Downes kemudian berkolaborasi dalam projek iCon sebelum bereuni dengan Howe dan Palmer kembali dalam grup Asia di tahun 2006. Reuni ini menghasilkan tiga album: Phoenix (2008), Omega (2010), dan XXX (2012). Steve Howe kemudian keluar dan digantikan Sam Coulson. Formasi terakhir ini menghasilkan album Gravitas (2014). Selain di King Crimson, U.K., dan Asia, Wetton juga bergabung dengan Uriah Heep (1975 – 1976), Jack-Knife (1979), Wishbone Ash (1980), dan Qango (1999 – 2000). Ia juga merilis enam album solo.

R.I.P. Al Jarreau

Al Jarreau, terlahir sebagai Alwin Lopez Jarreau pda tahun 1940 di Milwaukee, Amerika Serikat. Menariknya, menyanyi bukanlah pilihan karier baginya. Selain menjalani studi di bidang psikologi hingga jenjang pascasarjana, olah raga juga merupakan bidang kegemarannya. Barulah di tahun 1967, Al tampil bersama gitaris Julio Martinez di klub malam Gatsby’s di Sausalito yang membulatkan tekadnya terjun di musik. Namun baru di tahun 1975 ia mendapatkan kontrak rekaman dari Warner Bros dengan merilis album perdananya, We Got By. Di tahun 1978, ia meraih penghargaan Grammy untuk penampilan jazz dengan vokal terbaik, pertama dari tujuh yang diterima sepanjang hayatnya. Di tahun 1981, album Breakin’ Away menjadi puncak kesuksesannya. Hit We’re in This Love Together menembus posisi ke-15 di Billboard Hot 100 dan memenangkan dua grammy untuk penampilan pop dan jazz dengan vokal pria terbaik serta dinominasikan untuk album terbaik. Al juga banyak menyanyikan lagu tema untuk film dan televisi. Yang paling dikenal adalah lagu tema untuk serial televisi Moonlighting (1989). Al Jarreau meninggal pada 12 Februari 2017, sebulan sebelum ulang tahunnya ke-77. Al mempunyai gaya vokal unik yang dikenal sebagai scat singing dan vocal percussion. Dua hit yang menggunakan teknik ini di antaranya Spain (I Can Recall) dan Roof Garden.