Mengenang Scatman John (1942-1999)

Kalau di Indonesia kita mengenal Mbah Surip, seorang seniman/musisi yang terkenal di usia lanjut, dan kemudian meninggal dunia, di dunia internasional kita mengenal seorang Scatman John, seorang pianis jazz yang sukses sebagai “rapper” atau tepatnya scat singer. Bernama asli John Paul Larkin, ia mengawali kariernya sebagai pianis jazz di tahun 70-an dan 80-an. Album solo perdananya dirilis pada tahun 1986 dengan judul John Larkin. Pada tahun 1990-an ia pindah ke Berlin, Jerman dan bertemu dengan seorang produser Tony Catania, yang menyarankannya untuk memadukan scat singing dengan musik dance/hip-hop. John, yang agak gagap dalam berbicara sebelumnya suka menambahkan scat singing pada penampilan livenya, sempat takut akan ditertawakan oleh penontonnya. Namun istrinya berhasil meyakinkannya dan ia pun merekam singel perdananya, Scatman (Ski-Ba-Bop-Ba-Dop-Bop) pada bulan November 1994 yang mencetak sukses di mana-mana, termasuk posisi ketiga di tangga lagu Inggris dan top 10 di tangga lagu Billboard Hot Dance Club Play (posisi ke-60 di Billboard Hot 100). Sejak itu, ia lebih dikenal sebagai Scatman John.

Singel keduanya, Scatman’s World, menembus posisi ke-10 di tangga lagu Inggris melanjutkan sukses singel pertamanya. Di usis 53 tahun, Larkin menjadi superstar kelas dunia. Album pertamanya, yang juga berjudul Scatman’s World, terjual di atas sejuta kopi di seluruh dunia. Album keduanya, Everybody Jam! (1996) tidak sesukses album pertamanya, namun berhasil mendapat perhatian di Jepang. Album ketiganya, Take Your Time (1999) dirilis sebelum kematiannya akibat kanker paru-paru di akhir tahun 1999. Selamat jalan Scatman John.

Jim Steinman (1947 – 2021), Heaven Can’t Wait

Now the bat is finally back into hell? of course, good girls (and men) go to heaven and bad girls (and men) go everywhere. James Richard Steinman, lebih dikenal dengan panggilan Jim, adalah musisi dan penulis lagu kelahiran New York, Amerika Serikat yang dikenal dengan gaya “bombastis”. Melejit lewat album Bat Out of Hell (1977) yang seluruh lagu di dalamnya ditulis oleh Jim Steinman, diproduksi oleh Todd Rungren, dan dinyanyikan oleh Marvin Lee Aday, atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Meat Loaf. Album ini pada awalnya ditolak oleh setiap label rekaman saat ditawarkan, kemudian menjadi salah satu album terlaris sepanjang masa dengan lebih dari 40 juta kopi terjual. Hubungan Jim Steinman dan Meat Loaf mewarnai karier keduanya seolah drama opera sabun: antara cinta dan benci. Album Bad for Good (1981), ditulis untuk Meat Loaf sebagai follow-up album Bat Out of Hell, terpaksa direkam oleh Jim sendiri karena Meat Loaf kehilangan suaranya. Jim dan Meat Loaf kemudian kembali bekerja sama dalam album Dead Ringer (1981) yang gagal mengulang sukses Bat Out of Hell. Kemudian, Jim memilih bekerja sama dengan artis lain seperti Bonnie Tyler dan Sisters of Mercy dan merilis album konsep Original Sin (1989), sementara Meat Loaf bekerja sama dengan produser asal Jerman Frank Farian. Keduanya kembali bekerja sama untuk album Bat Out of Hell II: Back to Hell (1993) yang melahirkan hit nomor satu I’d Do Anything for Love (But I Won’t Do That). Empat belas tahun kemudian Meat Loaf merilis album Bat Out of Hell III: The Monster Is Loose, tanpa campur tangan Jim Steinman. Peluncuran album ini diikuti sengketa hukum seputar pemakaian judul “Bat Out of Hell”.

Tentu saja, Meat Loaf bukanlah satu-satunya artis yang sukses membawakan karya-karya Jim Steinman, meskipun mungkin yang paling identik. Berikut ini sejumlah lagu hit yang ditulis oleh Jim Steinman: Total Eclipse of the Heart (Bonnie Tyler), Making Love Out of Nothing at All (Air Supply), It’s All Coming Back to Me Now (Celine Dion), No Matter What (Boyzone, ditulis bersama Andrew Lloyd Webber). Selain musik , Jim Steinman juga banyak terlibat dalam drama musikal, di antaranya The Dream Engine (1969), More Than You Deserve (1973), The Confidence Man (1976), dan Neverland (1977). Faktanya, Jim Steinman dan Meat Loaf bertemu pertama kali di proyek drama musikal More Than You Deserve. Ia kemudian menulis lirik untuk karya musikal Andrew Lloyd Webber, Whistle Down the Wind (1997), kemudian menulis musik untuk drama musikal Tanz der Vampire (1997). Setelah berjuang bertahun-tahun, akhirnya musikal Bat Out of Hell (2017) yang berisikan lagu-lagu yang pernah ditulisnya, mulai dipentaskan pada tahun 2017. Jim Steinman juga menulis lagu untuk soundtrack film Footloose (Holding Out for a Hero) dan Streets of Fire (Tonight Is What It Means to Be Young), selain The Shadow (Original Sin).

Membicarakan Jim Steinman, setiap yang mendengar lagu (hit) karyanya akan mengenali ciri khas penulisan lagunya: musik yang menggelegar (ciri khas power ballad) dan lirik dengan repetisi yang cukup untuk merentang lagu-lagu karyanya menjadi sangat panjang, di atas lima menit, versi album I’d Do Aything for Love bahkan sepanjang 12 menit. Ia juga dikenal sangat menyukai repetisi, bukan hanya lirik dalam lagunya, namun juga dalam hal lagu karyanya yang dibawakan ulang oleh artis lain: It’s All Coming Back to Me Now dan Original Sin aslinya dibawakan oleh Pandora’s Box sebelum dibawakan Celine Dion dan Taylor Dayne, sebelum akhirnya dinyanyikan Meat Loaf, Total Eclipse of the Heart dibawakan ulang oleh Nicki French, Meat Loaf sendiri menyanyikan ulang hampir semua karya Jim Steinman yang sebelumnya dibawakan artis lain. Gaya bermusiknya banyak dikritik namun sejujurnya, tidak ada yang mampu menulis karya-karya seperti Jim Steinman dan sukses. Seperti potongan lirik dalam salah satu karyanya: “…It ‘s a dirty job but somebody’s gotta do it…”. Hanya ada satu Jim Steinman, dan hanya ada satu style musik ala Jim Steinman. Jim pernah terkena stroke pada tahun 2004 yang mempengaruhi kemampuannya untuk bicara. Ia mengalaminya lagi pada tahun 2017. Ia meninggal pada tanggal 19 April 2021 akibat gagal ginjal. Ia meninggalkan sederet karya musik yang telah menginspirasi generasi demi generasi, you won’t be forgotten, Mr. Jim Steinman, it’s just heaven can’t wait much longer… the beat is yours forever, that’s when rock and roll dreams come through

Diane Warren #1s Playlist

  • Starship – Nothing’s Gonna Stop Us Now (1987) US #1, UK #1
  • Aswad – Don’t Turn Around (1988) US #45, UK #1
  • Taylor Dayne – Love Will Lead You Back (1989) US #1, UK #69
  • Bad English – When I See You Smile (1989) US#1, UK #61
  • Milli Vanilli – Blame It on the Rain (1989) US #1, UK #52
  • Chicago – Look Away (1989) US #1, UK #77
  • Celine Dion – Because You Loved Me (1996) US #1, UK #5
  • Toni Braxton – Un-Break My Heart (1996) US #1, UK #2
  • Brandy – Have You Ever? (1998) US #1, UK #13
  • Aerosmith – I Don’t Want to Miss a Thing (1998) US #1, UK #4
  • LeAnn Rimes – Can’t Fight the Moonlight (2000) US #11, UK #1
  • Lou Ottens, Penemu Kaset (dan CD) Meninggal Dunia

    Mungkin tidak banyak yang memperhatikan saat kabar ini pertama menyebar. Lodewijk Frederik Ottens, seorang engineer di perusahaan elektronik Philips, meninggal dunia pada 6 Maret 2021 di usia 94 tahun. Lou Ottens dilahirkan di Bellingwolde pada tahun 1926 dan sangat menggemari elektronik sejak muda. Saat pendudukan Jerman di Perang Dunia II, ia merakit radio sendiri untuk menerima siaran Radio Oranje, lengkap dengan antena yang dirancang khusus untuk menghindari pengacak sinyal milik Jerman. Ottens mulai bekerja di Philips pada tahun 1952, kemudian dipromosikan ke bagian pengembangan produk pada tahun 1960.

    Lou Ottens dan Ciptaannya (sumber: nrc.nl)

    Ottens kemudian mengembangkan kaset (cassette tape) untuk mengatasi kelemahan reel-to-reel tape yang besar dan berat, sehingga tidak mudah digunakan atau dibawa-bawa. Ia kemudian mengembangkan casing seukuran kantung baju/celana, sehingga mudah untuk dibawa ke mana-mana. Pada tahun 1963, kaset mulai diperkenalkan pada pameran elektronik, yang menarik perhatian sejumlah pengunjung asal Jepang. Beberapa waktu kemudian, muncullah produk serupa kaset di Jepang, namun dengan ukuran yang lebih besar. Ottens merasa ini tidak sesuai dengan tujuannya menciptakan kaset, sehingga ia meyakinkan Philips untuk melisensikan desain kaset kepada Sony dan membuatnya menjadi standar industri. And the rest is history…

    Perbandingan Reel-to-Reel dan Cassette Tape (sumber: imagefilms.net)

    Kaset pun menjadi format rekaman populer, terutama karena lebih murah dan praktis dibandingkan priringan hitam, selain kapasitasnya yang lebih besar (60 – 90 menit musik pada kaset dibandingkan 45 menit pada piringan hitam). Kaset juga lebih mudah direkam, sehingga muncullah trend “mixtape” yaitu merekam lagu-lagu pilihan dari koleksi piringan hitam ke dalam satu kaset. Bila generasi sekarang mengenal playlist di layanan streaming musik, generasi “ABG” mempunyai mixtape sebagai playlist pada zaman itu. Di Indonesia, kaset menjadi format utama untuk distribusi musik dan untuk mengakomodasi pembuatan mixtape, muncullah produk double deck tape recorder yang bisa merekam dari satu kaset ke kaset lain.

    Double Deck Tape (Compo) (Sumber: jualo.com)

    Ottens kemudian menjadi direktur audio pada Philips NatLab pada tahun 1972 yang saat itu mulai mengembangkan Compact Disc (CD). Lewat kerja sama dengan Sony, CD akhirnya distandardisasi pada tahun 1980. Ottens akhirnya pensiun di tahun 1986. Ia sempat mengungkapkan kekecewaan pada perusahan tempatnya bekerja, Philips, yang dinilainya kurang inovatif dibandingkan perusahaan Jepangg seperti Sony. Produk walkman, yang dikembangkan pertama kali oleh Sony, menurutnya adalah aplikasi paling ideal untuk kaset. Sony juga meluncurkan produk CD setahun lebih dulu dibandingkan Philips pada 1982. Ia juga mengkritik kebangkitan kembali piringan hitam (dan kaset) di kalangan konsumen (khususnya audiophile). Menurut pendapatnya, suara yang dihasilkan piringan hitam tidaklah lebih baik dibandingkan CD, dan kesan “hangat” yang didapatkan penggemar piringan hitam adalah sepenuhnya psikologis.

    Lawnosta Playlist: Bee Gees Covers

    How Can You Mend a Broken Heart? (Al Green, 1972)

    Don’t Forget to Remember (Skeeter Davis, 1973)
    To Love Somebody (Michael Bolton, 1992)
    I Started a Joke (Faith No More, 1995)
    Too Much Heaven (Jordan Hill, 1996)
    Words (Boyzone, 1996)
    How Deep Is Your Love (Take That, 1997)
    Tragedy (Steps, 1998)
    More Than a Woman (911, 1999)
    Emotion (Destiny’s Child, 2001)

    Gerry Marsden (1942 – 2021)

    Well, untuk mengawali tahun 2021 ini, satu lagi kabar duka dalam dunia musik dengan meninggalnya musisi Gerry Marsden. Ia mungkin tidak begitu dikenal di Indonesia, begitu pula band yang didirikannya di tahun 60-an, Gerry and the Pacemakers. Namun, saat Anda menyebut lagu You’ll Never Walk Alone, hampir semua orang terutama pemerhati sepak bola, khususnya fan klub Inggris Liverpool FC akan mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Lagu tersebut bukanlah karya Marsden, melainkan duo Richard Rogers dan Oscar Hammerstein II yang menulisnya untuk pertunjukan musikal Carousel di tahun 1945. Lagu tersebut menjadi terkenal dan direkam ulang oleh sejumlah artis, namun versi Gerry and the Pacemakers-lah yang menjadi versi definitif, terutama bagi fan klub Liverpool FC.

    Gerry Marsden dilahirkan di Liverpool pada 24 September 1942 dan mendirikan band Gerry and the Mars Bars pada ahun 1959 bersama saudaranya Freddie (drum), Les Chadwick (bass) dan Arthur McMahon (piano, digantikan oleh Les Maguire di tahun 1961). Mereka berharap mendapatkan sponsor dari produsen coklat Mars Bar, namun alih-alih Mars corporation malah menuntut mereka. Gerry and the Mars Bars akhirnya berganti nama menjadi Gerry and the Pacemakers. Band ini kemudian mengasah kemampuan mereka di klub Tavern dan juga di Hamburg, Jerman bersama band asal Liverpool lainnya, The Beatles. Kedua band ini kemudian menandatangani kontrak manajemen dengan Brian Epstein. Saat merekam single petama dan keduanya, The Beatles menolak merilis lagu karya Mitch Murray, How Do You Do It?, dan memilih lagu-lagu karya Lennon/McCartney, Love Me Do dan Please Please Me. Lagu How Do You Do It? kemudian direkam oleh Gerry and the Pacemakers dan dirilis sebagai single perdana mereka. Alhasil, Love Me Do mencapai posisi ke-17 dan Please Please Me menduduki posisi kedua sementara How Do You Do It? menduduki posisi pertama. Dua single Gerry and the Pacemakers berikutnya, I Like It (juga ditulis oleh Mitch Murray) dan You’ll Never Walk Alone juga menduduki posisi pertama yang menjadikan mereka artis pertama yang menempatkan tiga single pertamanya di posisi pertama tangga lagu Inggris. Band asal Liverpool lainnya, Frankie Goes to Hollywood menyamai pencapaian ini di tahun 1985.

    And the rest is history… The Beatles kemudian mencetak hit nomor satu lewat single ketiganya, From Me to You, dan mencapai sukses yang bertahan hingga kini. Gerry and the Pacemakers, yang saat itu dianggap sebagai rival terberat The Beatles, tidak pernah lagi mencetak hit nomor satu, hanya tiga hit top 10: I’m the One (posisi ke-2), Don’t Let the Sun Catch You Crying (posisi ke-6) dan Ferry Cross the Mersey (posisi ke-8), ketiganya ditulis oleh Gerry Marsden. Gerry and the Pacemakers akhirnya bubar di tahun 1967, dan dibentuk kembali tahun 1972. Setelah itu, Gerry Marsden bermain dalam pertunjukan musikal Charlie Girl, dan merekam ulang dua hitnya untuk keperluan amal: You’ll Never Walk Alone (1985) setelah tragedi kebakaran stadion Bradford dan Ferry Cross the Mersey (1989) setelah kerusuhan di stadion Hillsborough. Kedua rilis tersebut menduduki posisi pertama di tangga lagu Inggris. Gerry Marsden meninggal dunia pada 3 Januari 2001, meninggalkan seorang istri dan dua putri.

    Eddie Van Halen (1955-2020)

    Edward Lodewijk Van Halen, terlahir dari pasangan Jan Van Halen dan Eugenia de Beers (keturunan Indo-Belanda) pada tahun 1955. Keluarga Van Halen kemudian beremigrasi ke Pasadena, California. Eddie dan kakaknya Alex mulai belajar memainkan alat musik, Eddie memainkan drum dan Alex memainkan gitar. Suatu hari, Eddie mendengar Alex memainkan drumnya, labih baik daripada dirinya selama ini. Sejak saat itu keduanya bertukar instrumen. Siapa sangka, Eddie akan menjadi legenda pemain gitar pada akhirnya.

    Alex dan Eddie kemudian mencoba membentuk band, mula-mula dinamakan The Broken Combs, kemudian The Trojan Rubber Co. Pada tahun 1972 mereka mengajak pemain bass Mark Stone dan vokalis David Lee Roth (pemilik persewaan sound system langganan Van Halen bersaudara) dalam band yang dinamakan Genesis. Michael Anthony kemudian bergabung menggantikan Stone dan nama band pun berubah menjadi Mammoth kemudian atas usul Lee Roth diubah menjadi Van Halen. Mereka kemudian mulai bermain di klub seputar California, hingga menarik perhatian vokalis/bassis band Kiss Gene Simmons. Ia memproduksi sebuah album demo sebelum merasa bahwa Van Halen “tidak memiliki masa depan”. Namun demikian, dua eksekutif Warner Bros, Mo Ostin dan Ted Templeman (produser The Doobie Brothers), kemudian menawarkan kontrak rekaman kepada Van Halen, dan sisanya adalah sejarah.

    Daya tarik utama Van Halen adalah sound mereka yang unik, ditandai permainan gitar Eddie yang revolusioner. Eddie memopulerkan teknik tapping, yaitu memainkan leher gitar dengan kedua tangan. Seperti yang terlihat pada lagu Eruption dari album perdana mereka, Van Halen (1978). Ditambah lagi dengan aksi David Lee Roth saat di atas panggung membuat Van Halen menjadi band terdepan di dunia musik rock. Saat Lee Roth meninggalkan Van Halen setelah album tersukses mereka MCMLXXXIV (1984), penggantinya adalah vokalis/gitaris band Montrose, Sammy Hagar. Bersama Hagar, Van Halen semakin sukses secara komersial, empat album yang mereka rilis menduduki posisi pertama di Amerika Serikat versi Billboard 200. Sayangnya, setelah itu konflik antarpersonal mulai bermunculan, mulai pemecatan Hagar, kembalinya Lee Roth untuk album kompilasi (The Best of Volume 1) sebelum digantikan oleh vokalis Extreme, Gary Cherone untuk album Van Halen III (1999) yang flop, Michael Anthony dikeluarkan dari grup, kembalinya Hagar untuk album kompilasi The Best of Both Worlds (2004), dan akhirnya rilis album studio terakhir mereka A Different Kind of Truth (2012) dengan Lee Roth sebagai vokalis dan putra Eddie, Wolfgang, sebagai bassis.

    Selain merekam album bersama bandnya, Eddie juga membantu rekaman album artis lain, yang paling terkenal mungkin adalah kontribusinya untuk hit Michael Jackson, Beat It. Mulanya, Eddie mengira ajakan Quincy Jones untuk mengisi solo gitar di lagu ini sebagai candaan, pda akhirnya ia melakukan sedikit perubahan pada lagu ini secara keseluruhan. Eddie melakukannya tanpa dibayar dan namanya bahkan tidak tercantum pada kredit album Thriller yang memuat lagu Beat It. Eddie pernah menceritakan satu anekdot bahwa suatu hari saat sedang berada di Tower Records, dua orang remaja sedang mendengarkan lagu Beat It yang tengah diputar melalui speaker toko. Salah satunya berkomentar bahwa solo gitar di lagu ini berusaha terlalu keras meniru Eddie Van Halen. Kontan saja, Eddie langsung menyela bahwa memang ialah yang memainkan solo gitar tersebut!

    Eddie diketahui mengalami masalah kesehatan selama dua puluh tahun terakhir. Kegemarannya merokok dan minum alkohol semakin memperburuk kondisinya. Eddie mengidap kanker lidah dan harus dioperasi, kemudian setahun terakhir harus berjuang melawan kanker tenggorokan. Ia meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 2020 di Santa Monica, California, meninggalkan istri keduanya dan seorang putra dari istri pertamanya (aktris Valerie Bertinelli).

    Selamat Jalan, Glenn dan Didi Kempot

    Saat musisi/penyanyi Glenn Fredly meninggal dunia pada tanggal 8 April 2020 yang lalu, sebenarnya Penulis sudah gatal untuk menulis di blog ini. Ternyata, butuh waktu hampir sebulan untuk itu, saat musisi/penyanyi lain juga meninggal dunia, kali ini Didi Kempot, yang meninggal pada tanggal 5 Mei 2020. (Sebelumnya, musisi Erwin Prasetya, mantan bassis Dewa 19, dan Andy Ayunir juga meninggal dunia). Kiprah keduanya di musik Indonesia terbilang cukup lama, hanya berjarak kurang dari sepuluh tahun. Didi Kempot memulai kiprahnya sebagai artis (rekaman) pada tahun 1989 saat merekam album pertamanya bersama Batara Group, Glenn merekam album pertamanya sebagai vokalis band Funk Section di tahun 1997. Keduanya akhirnya mencetak sukses sebagai penyanyi solo (meskipun Glenn bukan orang Solo :)). Keduanya juga berasal dari keluarga seniman. Paman Glenn adalah musisi Ongen Latuihamallo, sedangkan ayah Didi adalah seniman panggung Ranto Edi Gudel, dan kakaknya adalah komedian Mamiek Prakoso. Untuk selengkapnya, masing-masing akan dibahas di bawah ini:

    Glenn Fredly Deviano Latuihamallo dilahirkan di Jakarta pada tanggal 30 September 1975. Karier bermusiknya dimulai sebagai vokalis band Funk Section. Band ini bisa dikatakan sebagai salah satu supergrup di Indonesia, dengan personil-personil yang sangat berpengalaman di dunia musik. Siapa yang tidak mengenal nama-nama seperti Mus Mujiono, Inang Noor Said, Yance Manusama, Ekka Bhakti, dan Irfan Chasmala. Sebelum meninggal, musisi Christ Kayhatu juga menjadi salah satu personil Funk Section. Pada tahun 1997, Funk Section merilis album pertamanya dengan lagu andalan Terpesona  (dirilis ulang sebagai duet Glenn dan Audy) dan Di Pantai Cinta. Waktu itu Penulis menyaksikan penampilan Funk Section di televisi, dan sedikit terkejut dengan penampilan sang vokalis yang masih kelihatan “culun”. Tak berselang lama, sang vokalis itu sudah bersolo karier dan merilis album perdananya, Glenn (1998) dengan hit Cukup Sudah. Meskipun dua album perdananya terbilang sukses, baru pada album ketiga, Selamat Pagi, Dunia!, nama Glenn Fredly menjadi superstar, dengan lagu hitnya yang berjudul Januari. Karier Glenn terus bersinar, bukan hanya sebagai penyanyi solo, ia juga membentuk Trio Lestari bersama Tompi dan Sandhy Sondoro, serta terjun ke dunia film: sebagai aktor (?) dan produser (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi). Pada tanggal 8 April 2020 Glenn Fredly meninggal dunia karena sakit meningitis, meninggalkan seorang istri dan seorang putri.

    Dionysius Didik Prasetyo dilahirkan di Solo pada tanggal 31 Desember 1966. Sejak kecil kedua orang tuanya bercerai dan ia tinggal bersama sang Ibunda di Ngawi. Jika Ayah dan kakaknya lebih menggeluti seni peran, Didi, begitu nama panggilannya, lebih memilih seni musik. Ia bahkan nekat menjual sepeda hadiah sang Ayah untuk membeli gitar. Tahun 1984 ia memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta. Di Jakarta, ia menjadi pengamen di seputaran Slipi dan Palmerah. Di sela-sela pekerjaannya, ia menulis dan merekam lagunya pada kaset demo yang kemudian dikirimkannya ke sejumlah label rekaman. [Salah satu] Album pertamanya direkam bersama grup Batara, yang terdiri atas musisi Pompy, Dani S, dan kakaknya sendiri, Mamiek Prakoso. [Sebelumnya, Didi pernah merekam album pop Indonesia berduet dengan Viara Rizky berjudul Bungkus Saja dan album solo berjudul Malam Mingguan] Ia menggunakan nama panggung Didi Kempot, yang terinspirasi nama penyanyi seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kempot menurutnya adalah singkatan dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Album perdananya itu mengandalkan lagu berjudul We-Cen-Yu, namun justru lagu lain yang berjudul Cidro yang menentukan perjalanan kariernya. Lagu Cidro yang diilhami pengalaman pribadinya saat perjalanan cintanya bersama sang kekasih tidak direstui pihak keluarga ini diam-diam populer di Belanda dan Suriname. Sejak itu Didi berkali-kali diundang ke Suriname untuk mengadakan konser dan popularitasnya di sana tidak pernah memudar. Di Indonesia sendiri, namanya baru melejit setelah merekam album Stasiun Balapan di tahun 1999. Lagu inilah yang menjadi patron (template) kesuksesannya: irama campursari (lebih tepatnya congdut alias keroncong-dangdut), lirik lagu berbahasa Jawa, dan tema lagu patah hati. Sejak itu, Didi seolah menjadi simbol musik campursari. Lagu-lagunya yang banyak dikenal di antaranya: Sewu Kutho, Terminal Tirtonadi, Parangtritis, Tanjung Mas Ninggal Janji, Lingsir Wengi, Aku Dudu Rojo, Klengkeng Bandungan, Cintaku Sekonyong Konyong Koder, dan Nunut Ngiyup. Belakangan, namanya kembali melejit dengan nama julukan seperti: The Godfather of Broken Heart dan Lord Didi dan komunitas yang dikenal dengan nama Sobat Ambyar. Di tengah pandemi Covid-19, Didi mengadakan konser amal yang berhasil menggalang dana hingga 7 miliar rupiah. Mendadak, ia meninggal dunia pada tanggal 5 Mei 2020 meninggalkan dua seorang istri dan dua seorang putri.

    Clivillés + Cole (C+C Music Factory)

    Para penggemar musik di luar era 80-an dan 90-an mungkin kurang mengenal C+C Music Factory, namun mungkin sudah pernah mendengar hit terbesar mereka, Gonna Make You Sweat, terutama catchphrasenya …. Everybody Dance Now…! Yep, lagu dan frase tersebut sampai hari ini begitu ikonik, sampai-sampai menenggelamkan artis pelantunnya, apalagi kisah di balik lagu, artis musik, sampai drama perebutan hak cipta yang berlangsung selama bertahun-tahun setelah nama C+C Music Factory menghilang dari perhatian publik.


    Semuanya berawal dari pertemuan dua orang musisi/DJ, Robert Clivillés dan David Cole di klub Better Days pada akhir dekade 80-an. Mereka kemudian terlibat di sejumlah proyek musik seperti 2 Puerto Ricans, a Blackman, and a Dominican serta 28th Street Crew. Mereka juga memproduksi lagu dan album untuk girl band Seduction dan The Cover Girls. Selain itu, mereka juga memproduksi lagu untuk vokalis The Weather Girls, Marta Wash dan rapper Freedom Wiliams. Dua nama inilah yang kemudian akan terlibat dalam proyek tersukses mereka, C+C Music Factory. Marta Wash lah yang mengisi vokal dalam lagu Gonna Make You Sweat, termasuk frase ikonik Everybody Dance Now. Namun, dalam video klip lagu ini, yang tampil adalah model/penyanyi Zelma Davis. Marta Wash kemudian mengajukan tuntutan hukum, yang berujung pada pencantuman nama Marta Wash pada kredit video Gonna Make You Sweat. Marta Wash kemudian bergabung secara resmi dengan C+C Music Factory untuk album kedua mereka, Anything Goes! (1994).

    Di luar C+C Music Factory, Mereka juga merilis singel A Deeper Love sebagai Clivillés + Cole, yang menduduki posisi ke-15 di Inggris. Mereka juga memproduksi lagu-lagu untuk Mariah Carey, di antaranya Emotions dan Make It Happen. Untuk soundtrack film The Bodyguard (1992), mereka memproduksi lagu I’m Every Woman untuk Whitney Houston dan membentuk The S.O.U.L. S.Y.S.T.E.M. yang merekam lagu It’s Gonna Be a Lovely Day. David Cole meninggal dunia pada tahun 1995, Mariah Carey menulis lagu One Sweet Day bersama Walter Affanasief dan Boyz II Men untuk mengenangnya.

    C+C Music Factory tidak lagi aktif setelah kematian David Cole, meskipun sempat comeback di tahun 2010. Rapper Freedom WIlliams yang meninggalkan grup ini setelah sukses album pertamanya, sekarang memegang hak atas nama (trademark) C&C Music Factory, dan sampai sekarang tampil di atas panggung mengatasnamakan C&C Music Factory. Sementara Robert Clivillés sebagai pendiri tidak mendapatkan apa-apa. Ironis memang.

    Milli Vanilli dan Sejarah Para “Frontman”

    Milli Vanilli akan dikenang sebagai “penipu” atau minimal “artis ilpsync”, meskipun kalau dipikir-pikir, duo Rob Pilatus dan Fab Morvan tidaklah mungkin bertindak sendiri, atas inisiatif mereka berdua. Ironisnya, bahwa produser Frank Farian sebagai mastermind utamanya sampai hari ini masih menjalani kariernya seperti biasa, dan tak seorang pun akan mengenangnya sebagai “The Real Milli Vanilli”. Di sisi lain, praktik sejenis dengan Milli Vanilli, sebuah proyek musik dengan dua sisi: seorang atau lebih produser, musisi, dan vokalis yang merekam lagu dan album di studio, dan para performer, biasanya penari dengan tampilan fisik dan kemampuan showmanship yang baik, sebagai “frontman” yang mewakili para produser, musisi, dan vokalis menampilkan lagu-lagu dari album mereka dalam pertunjukan televisi, video klip, dan panggung. Milil Vanilli bukanlah yang pertama, meskipun bisa dibilang yang tersukses, saat mereka mencetak tiga hit nomer satu di Amerika Serikat dan memenangkan penghargaan Grammy untuk artis pendatang baru terbaik. Berikut ini beberapa proyek dengan “dua sisi ”

      1. Boney M.
        Produser asal Jerman, Frank Farian, (atau produser musik pada umumnya) sebenarnya tidak asing dengan praktik “dua sisi” seperti ini. Di awal kariernya, Farian sebenarnya berambisi menjadi penyanyi dan komposer. Namun, ia juga sadar bahwa skill performer-nya sangat kurang untuk bisa mempromosikan lagu-lagu hasil karyanya. Hingga satu saat ia merekam lagu berjudul Baby Do You Wanna Bump yang dirilis atas nama “Boney M.” (diambil dari serial televisi Australia). Tanpa diduga, lagu tersebut sukses di Belanda dan Belgia. Untuk mempromosikan lagi tersebut di televisi, Frank pun merekrut empat “frontmen”: Maizie Williams, Bobby Farrell, Marcia Barrett, dan Liz Mitchell. Pada praktiknya, hanya Liz dan Marcia yang benar-benar menyanyikan lagu-lagu Boney M. di studio, sementara vokal pria diisi oleh Frank Farian sendiri. Meski demikian, untuk penampilan di panggung (live), keempatnya benar-benar mengisi suaranya sendiri. Boney M. kemudian menjadi terkenal di Eropa dan dunia berkat hit-hit seperti: Rivers of Babylon, Daddy Cool, Sunny, Hooray Hooray It’s a Holi-Holiday, Gotta Go Home, Mary’s Boy Child/Oh My Lord, Rasputin, dan Ma Baker.
      2. Village People
        Produser Jacques Morali dan Henri Belolo asal Prancis memulai proyek musiknya di Amerika dengan merekam sejumlah lagu bersama musisi studio dan vokalis, salah satunya adalah Victor Willis. Album pertamanya diberi judul Village People. Setelah album tersebut sukses, Morali dan Belolo pun merekrut “performer” untuk mempromosikan album tersebut di panggung (live) dan televisi. Victor Willis sebagai vokalis utama, ditambah beberapa penari, dengan konsep role playing sesuai stereotype kaum gay: polisi, pekerja konstruksi, penunggang motor gede, tentara/pelaut, Indian, dan koboi. Village People terkenal dengan hit-hit seperti: Macho Man, YMCA, In the Navy, dan Go West.
      3. Tight Fit
        Produser Ken Gold menginisiasi proyek musik untuk merekam medley lagu-lagu hit tahun 60-an mengikuti sukses proyek Starsound (Stars on 45), dengan nama Tight Fit. Rilis singel Back to the 60s sukses menduduki posisi ke-4 di Inggris. Kemudian, produser lain Tim Friese-Greene merekam cover version dari lagu The Lion Sleeps Tonight dan merilisnya atas nama Tight Fit. Kali ini bahkan lebih sukses dari sebelumnya setelah berhasil menduduki posisi pertama di tangga lagu Inggris selama tiga pekan. Vokalis Roy Ward mengisi vokal untuk lagu itu di studio, namun untuk mempromosikan lagu ini di televisi, Friese-Greene merekrut trio Steve Grant, Denise Gyngell, dan Julie Harris sebagai “frontmen”.
      4. Baltimora
        Produser asal Italia Maurizio Bassi merekam singel Tarzan Boy bersama sejumlah musisi studio dan merilisnya atas nama Baltimora. Untuk mempromosikan lagu ini di televisi, ia merekrut aktor dan penari keturunan Irlandia Utara, Jimmy McShane. Tarzan Boy menjadi hit di Eropa, menduduki posisi ketiga di Inggris dan posisi pertama di Prancis dan Belanda. Di Amerika Serikat, lagu ini bertahan selama enam bulan di Billboard Hot 100 dan menduduki posisi ke-13.
      5. Milli Vanilli
        Akhirnya kita sampai pada topik utama kita. Milli Vanilli adalah dua kisah yang terpisah. Kisah pertama adalah dua anak muda, Robert Pilatus asal Jerman dan Fabrice Morvan asal Prancis yang bertemu dan sepakat berduet dengan nama Milli Vanilli. Kisah kedua adalah produser Frank Farian yang membuat proyek baru dengan musisi studio dan vokalis dan rapper asal Amerika Serikat Brad Howell dan Charles Shaw, serta dua bersaudara Jodie dan Linda Rocco sebagai vokalis latar. Rob dan Fab kemudian menandatangani kontrak dengan Frank Farian dan diharuskan untuk menampilkan lagu-lagu yang telah direkam sebelumnya secara playback/lipsync. Saat Milli Vanilli mencapai sukses, Charles Shaw sempat bersuara mengenai keterlibatannya sebagai vokalis asli pada lagu-lagu Milli Vanilli. Shaw kemudian menarik pernyataannya, dan posisinya digantikan John Davis. Pada akhirnya, setelah “skandal” ini terbongkar, album-album Milli Vanilli dicueki di pasaran (termasuk proyek lanjutannya, The Real Milli Vanilli, yang menampilkan vokalis/frontmen baru seperti Ray Horton dan Gina Mohammed), begitu pun album Rob & Fab (dengan suara asli mereka). Pada tahun 1998 Frank Farian akhirnya bersedia merekam album baru Milli Vanilli dengan vokal asli Rob dan Fab berjudul Back and in Attack. Namun, Rob terlibat dalam berbagai masalah hukum menjelang rilis album tersebut dan akhirnya ditemukan meninggal dunia dalam kamar hotelnya di Frankfurt, Jerman. Album itu pun sampai sekarang tidak pernah dirilis. Fab Morvan kemudian melanjutkan kariernya sebagai DJ dan pembicara publik.