Greg Lake Meninggal Dunia (RIP)

Setelah meninggalnya Keith Emerson di bulan Maret, kini rekan segrupnya dalam trio ELP, Greg Lake, menyusul pada tanggal 7 Desember 2016. Pemain bass dan vokalis ELP itu meninggal pada usia 69 tahun (dilahirkan 10 November 1947) akibat penyakit kanker yang dideritanya. Lake mulai dikenal saat bergabung dengan grup King Crimson di tahun 1968 bersama sahabatnya Robert Fripp. Selain sebagai vokalis dan pemain bass, Lake juga bertindak sebagai produser untuk album perdana King Crimson, In the Court of the Crimson King (1969). Saat melakukan tur, Lake bertemu Keith Emerson, pemain kibor grup The Nice yang menjadi band pembuka. Keluarnya Mike Giles membuat Lake mulai tidak betah di King Crimson, meskipun ia bertahan sampai rilis album kedua King Crimson, In the Wake of Poseidon (1970). Emerson dan Lake kemudian sepakat untuk membentuk band baru. Setelah mempertimbangkan drumer The Jimi Hendrix Experience Mitch Mitchell, mereka akhirnya merekrut Carl Palmer (Atomic Rooster, The Crazy World of Arthur Brown) dan menamakan grup mereka Emerson, Lake & Palmer. Trio ini dikenal karena style mereka yang didominasi permainan dan aksi panggung Keith Emerson. Namun, beberapa komposisi Lake yang cenderung minimalis dan akustik juga banyak dikenal hingga sekarang, seperti Lucky Man, C’est La Vie, From the Beginning, dan I Believe in Father Christmas. Emerson, Lake & Palmer bubar di tahun 1979 setelah rilis album Love Beach. Di tahun 1985 Lake sempat menggantikan posisi John Wetton di supergrup Asia (dengan Carl Palmer sebagai drumer). Di tahun yang sama, ia kembali bersama Keith Emerson dan drumer Cozy Powell membentuk Emerson, Lake, and Powell. Di tahun 1992, Emerson, Lake & Palmer bereuni dan merilis album Black Moon (1992) dan In the Hot Seat (1994) sebelum kembali bubar di tahun 1998. Emerson, Lake & Palmer melakukan tur terakhirnya di tahun 2010.

Iklan

Laura Branigan, Spesialis “Cover Version”

Penikmat musik era 80-an pasti mengenal Laura Branigan, penyanyi Amerika Serikat keturunan Irlandia ini. Dikenal berkat lagu-lagu dance electronic seperti Gloria dan Self Control, Branigan memulai kariernya sebagai vokalis grup beraliran folk rock Meadow di tahun 1972 yang beranggotakan Walker Daniels, Sharon Storm, dan Chris van Cleave. Meadow merilis album perdananya, The Friend Ship (1973), namun segera membubarkan diri setelah Daniels bunuh diri. Branigan akhirnya memulai karier solonya pada tahun 1979 saat menandatangani kontrak dengan Atlantic Record. Namun, kesuksesan baru dicapainya setelah merilis album Branigan (1982) dan single Gloria, yang aslinya adalah hit di Eropa di tahun 1979 yang ditulis dan dibawakan oleh artis asal Italia Umberto Tozzi. Gloria aslinya berlirik bahasa Italia, bercerita tentang kisah cinta dengan gadis imajiner bernama Gloria. Jonathan King menulis lirik versi Inggrisnya. Saat Branigan akan merekam versinya, ia dan produser Jack White berniat mengubah liriknya dari sudut pandang seorang gadis dan menyesuaikan judulnya menjadi Mario. Namun akhirnya, penulis lirik Trevor Veitch tidak mengubah judul lagu dan memilih menyesuaikan lirik dengan tema selain asmara. Gloria menjadi signature song Laura Branigan hingga kini, menduduki posisi kedua dan bertahan 36 pekan di Billboard Hot 100 dan memberikan nominasi Grammy baginya.

Album kedua Branigan 2 (1983) melejitkan hit Solitaire, yang aslinya ditulis dan dibawakan artis Prancis Martine Clemencau. Solitaire menduduki posisi ketujuh di Billboard Hot 100 dengan lirik bahasa Inggris yang ditulis oleh Diane Warren (hit top 10 pertamanya). Single kedua dari Branigan 2 adalah How Am I Supposed to Live Without You yang ditulis oleh Michael Bolton (hit pertamanya), menduduki posisi 12 di Billboard Hot 100 dan posisi pertama di Adult Contemporary Chart. Lagu ini mulanya ditulis Bolton untuk Air Supply, namun urung karena produser Clive Davis menginginkan perubahan pada liriknya. Akhirnya, lagu ini kemudian dibawakan oleh penciptanya di album Soul Provider (1989), menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100.

Album ketiganya, Self Control (1984) melejitkan hit berjudul sama, yang aslinya adalah hit di Eropa oleh artis Italia Raffaele Rifioli yang dikenal dengan nama panggungnya Raff. Dua versi lagu ini merajai tangga lagu di Eropa. Hit kedua dari album ini, The Lucky One, menduduki posisi ke-20 di Billboard Hot 100 dan menjuarai Tokyo Pop Festival di tahun 1984. Album berikutnya, Hold Me (1985) tidak sesukses album-album sebelumnya. Lagu andalan album ini yang ditulis oleh Michael Bolton, I Found Someone, hanya menduduki posisi ke-90 di Billboard Hot 100. Album ini lebih dikenang oleh cover version dari hit milik grup asal Jerman Alphaville, Forever Young. Album berikutnya, Touch (1987) kembali mengandalkan cover version, kali ini hit Jennifer Rush yang juga pernah dibawakan Air Supply,  Power of Love, menjadi hit top 40 terakhirnya di Amerika Serikat.

Dua album terakhirnya, Laura Branigan (1990) dan Over My Heart (1993) masih mencetak sukses di luar Amerika Serikat. Branigan menulis tiga lagu untuk album Over My Heart, salah satunya, Didn’t We Almost Win It All, dirilis sebagai single. Sang adik, Billy Branigan, membantu menulis lagu Over You, dan menjadi vokalis latar. Pada video klip Didn’t We Almost Win It All, Billy ikut tampil bersama sang kakak. Setelah rilis album ini, Branigan mengumumkan rehat dari dunia musik untuk merawat suaminya yang mengidap kanker usus, hingga akhirnya meninggal dunia di tahun 1996. Pada tahun 2001, Branigan mengumumkan akan kembali ke dunia musik, namun di tahun 2004 ia didiagnosis menderita aneurism otak, yang akhirnya merenggut nyawanya. Laura Ann Branigan meninggal dunia pada tanggal 26 Agustus 2004 pada usia 47 tahun di New York. RIP.

January Christy Tutup Mata

Krestini Anggraini Wiradisuria, yang dikenal dengan nama panggungnya January Christy, meninggal dunia pada 16 September 2016 dalam usia 58 tahun. Almarhumah sebelumnya diketahui mengidap penyakit paru-paru dan telah dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Kelahiran 17 Januari 1958 ini memulai kariernya di Jerman sebelum pulang ke Indonesia dan merekam album perdananya, Melayang (1986). Karakter suaranya yang unik, ditambah penampilannya yang cenderung androgyny ditambah lagu-lagunya yang catchy, langsung melejitkan namanya di blantika musik Indonesia tahun 80-an. Namun sebenarnya, ia sudah menyumbangkan suaranya untuk album Festival Lagu Populer Indonesia 1983, menyanyikan lagu berjudul Putaran Resah, yang kemudian direkam ulang untuk album ketiganya, Mana (1989). January Christy juga mengisi vokal pada album pertama band Karimata, Pasti (1986), berduet dengan Ricky Basuki pada lagu Yang Terjadi. Album keduanya melejitkan namanya lewat lagu yang identik dengan namanya, Aku Ini Punya Siapa? (1987). Ia masih merilis dua album lagi, Mana (1989) dan Tutup Mata (1991) yang tidak sesukses dua album sebelumnya. Sempat menghilang lama, January Christy merilis album kompilasi Collections (2001) dengan dua lagu baru: Putra Sang Fajar dan Tertawalah. Selamat Jalan, January Christy!

Memory of Bangkok

Perjalanan Penulis ke Bangkok baru-baru ini menyisakan sederet cerita, setumpuk foto, sedikit cenderamata, dan rasa lelah yang menyenangkan. Negara dengan bahasa dan aksara yang sangat asing, meskipun secara geografis dan kultur cukup dekat dengan Indonesia, termasuk iklim dan makanan. Faktor bahasa ini juga membuat musik dan film Thailand susah dinikmati selama di sana. Karena itu, yang teringat malah lagu-lagu berbahasa Inggris (dan Indonesia) mengenai Thailand, yang beberapa di antaranya akan dibagikan di bawah ini:

  1. Pantai Pattaya (Dara Puspita)
  2. A Passage to Bangkok (Rush)
  3. One Night in Bangkok (Murray Head)
  4. Made in Thailand, Made in USA (Memory of Bangkok)
  5. Pure Shores (All Saints), from “The Beach”

If You Could Read My Mind

Pertama kali Penulis mendengar lagu ini dinyanyikan oleh supergrup “Stars on 54” sebagai soundtrack dari film 54 (1998). Tidak pernah terbayang bahwa lagu ini adalah cover version dari penyanyi Kanada Gordon Lightfoot. Lagu ini adalah hit pertama Gordon di Amerika Serikat, menduduki posisi ke-5 di tangga lagu Billboard pada tahun 1970. Lagu yang liriknya diilhami kegagalan pernikahan penulisnya ini ternyata memiliki kemiripan dengan sebuah lagu inspiratif yang ditulis Michael Masser dan Linda Creed untuk film biopic Muhammad Ali, The Greatest (1977). Lagu itu berjudul The Greatest Love of All, yang dibawakan oleh George Benson, yang kemudian direkam ulang oleh Whitney Houston untuk album debutnya (1985). Di tahun 1987 Gordon Lightfoot mengajukan tuntutan hukum atas plagiarisme, sebelum menariknya kembali karena tidak ingin mengganggu perjalanan karier Whitney Houston.

If You Could Read My Mind
Written and Performed by Gordon Lightfoot

If you could read my mind love,
What a tale my thoughts could tell.
Just like an old time movie
About a ghost from a wishing well.
In a castle dark or a fortress strong
With chains upon my feet.
You know that ghost is me
And I will never be set free
As long as I’m a ghost that you can see.

If I could read your mind love,
What a tale your thoughts could tell.
Just like a paperback novel,
The kind the drugstore sells.
When you reach the part where the heartaches
Come the hero would be me.
Heroes often fail.
And you won’t read that book again
Because the endings just to hard to take.

I walk away like a movie star
Who gets burned in a three way script.
Enter number two, a movie queen
To play the scene of bringing all the good things out in me,
But for now love lets be real.

I never thought I could act this way
And I’ve got to say that I just don’t get it.
I don’t know where we went wrong
But the feelings gone and I just can’t get it back.

If you could read my mind love,
What a tale my thoughts could tell.
Just like an old time movie about a ghost from a wishing well.
In a castle dark or a fortress strong
With chains upon my feet the story always ends.
And if you read between the lines
You’ll know that I’m just trying to understand
The feeling that you left.

I never thought I could feel this way
And I got to say that I just don’t get it.
I don’t know where we went wrong
But the feelings gone
And I just can’t get it back.

Publisher: Warner/Chappell Music, Inc.

The Prince Is Dead (RIP)

Musisi dan artis serbabisa, Prince Rogers Nelson, yang dikenal dengan nama Prince, meninggal dunia pada usia 57 tahun di Minnesota, Amerika Serikat. Dikenal sebagai penyanyi dan penulis lagu kelas dunia, Prince merilis album perdananya, For You , di tahun 1978. Album keduanya, Prince (1979) sukses berkat hit Why You Wanna Treat Me So Bad? dan I Wanna Be Your Lover. Puncaknya, ketika ia merilis film Purple Rain (1984) yang memenangkan penghargaan Oscar untuk Best Original Song Score dan album soundtracknya memenangkan dua Grammy. Hit-hit yang dicetak oleh Prince antara lain: 1999, Little Red Corvette, When Doves Cry, Let’s Go Crazy, Purple Rain, Kiss, Sign O’ the Times, Batdance, Cream, Diamonds and Pearls, Gold, dan The Most Beautiful Girl in the World.

Ia “menghilang” dari percaturan musik dunia setelah pertikaiannya dengan label rekaman Warner Bros, dan sejak itu ia mengedarkan album-albumnya secara independen. Ia juga dikenal sebagai penulis lagu hit yang dipopulerkan oleh artis lain seperti: Manic Monday (The Bangles), I Feel for You (Chaka Khan), dan tentunya Nothing Compares 2U (Sinead O’Connor). Kontroversi yang sempat dibuatnya saat ia mengganti namanya menjadi simbol di tahun 1993, dan media menyebutnya sebagai The Artist Formerly Known as Prince (T.A.F.K.A.P). Prince juga dikenal sangat anti terhadap internet, sehingga lagu-lagunya sulit ditemukan di situs-situs online. Ia menutup situs resminya pada tahun 2006 dan sejak itu ia melakukan banyak upaya hukum untuk melindungi karya ciptanya dari pembajakan atau penanyangan di internet. Well, Nothing Compares to You, Prince, Rst in Peace!

Eagles Bubar, Keith Emerson Meninggal (RIP)

Kabar duka seakan susul-menyusul akhir-akhir ini, terutama bagi fans musik era 70-an. Setelah meninggalnya David Bowie, Glenn Frey, baru-baru ini musisi Keith Emerson ditemukan meninggal dunia dengan luka tembak di kepalanya, diduga bunuh diri. Emerson dikenal sebagai pemain kibor dalam supergrup Emerson, Lake & Palmer bersama Greg Lake dan Carl Palmer. Meninggalnya Glenn Frey juga menandai bubarnya Eagles, grup rock legendaris Amerika Serikat yang dikenal lewat megahitnya Hotel California. Don Henley, vokalis dan pemain drum Eagles, telah mengonfirmasikan bahwa penampilan Eagles di Grammy Awards 2016 adalah yang terakhir.

Eagles dibentuk tahun 1971 oleh musisi-musisi studio yang biasa mengiringi sejumlah penyanyi solo, di antaranya Linda Ronstadt. Anggota band saat dibentuk adalah Glenn Frey, Deon Henley, Randy Meisner, dan Bernie Leadon. Dua album pertama mereka Eagles (1972) dan Desperado (1973) cukup sukses, namun baru pada album ketiga mereka On the Border (1974) mereka benar-benar dikenal luas. Pada album ketiganya, gitaris Don Felder bergabung dan mengubah warna musik mereka dari country rock ke hard rock. Lagu Best of My Love menjadi hit nomor satu mereka yang pertama di tangga lagu Billboard. Album keempat mereka, One of These Nights (1975) menjadikan Eagles superstar, menduduki posisi pertama di tangga album Billboard. Singel pertama dari album itu, One of These Nights, juga berhasil menduduki posisi pertama di Billboard. Sementara, singel berikutnya, Lyin’ Eyes, mengantarkan mereka meraih penghargaan Grammy Award untuk Penampilan Pop Terbaik oleh Grup atau Duo. Album kompilasi Their Greatest Hits (1971-1975), menjadi album terlaris sepanjang masa, hanya kalah dari album Thriller (Michael Jackson). Bernie Leadon meninggalkan Eagles dan digantikan oleh Joe Walsh saat penggarapan album Hotel California (1977). Hotel California menjadi album tersukses Eagles, dan lagu berjudul sama menjadi hit nomor satu keempat mereka (setelah singel pertama New Kid in Town), dan membawa mereka memenangkan penghargaan Grammy Award untuk Rekaman Terbaik. Randy Meisner keluar dari Eagles setelah album ini untuk digantikan oleh Timothy B. Schmit. Album kelima Eagles, The Long Run (1979) tidak sesukses Hotel California, dan konflik pun mulai merebak, terutama antara Glenn Frey dan Don Felder. Album berikutnya, Eagles Live, diselesaikan secara terpisah oleh Frey dan keempat anggota lainnya. Eagles membubarkan diri setelah rilis album ini. Mereka kembali bersama di tahun 1994 dan merilis album Hell Freezes Over, yang berisi beberapa lagu baru seperti Love Will Keep Us Alive dan lagu-lagu lama mereka yang dibawakan secara akustik seperti Hotel California. Don Felder dikeluarkan dari Eagles pada tahun 2001, yang diikuti dengan pertikaian dengan keempat anggota lain, terutama Don Henley dan Glenn Frey. Long Road Out of Eden (2007) menjadi album studio ketujuh Eagles (dan yang terakhir). Glenn Frey meninggal dunia pada 18 Januari 2016 karena sakit dan Henley sebagai pendiri Eagles yang tersisa akhirnya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan Eagles.

Keith Noel Emerson dilahirkan di Inggris pada tanggal 2 September 1944. Emerson mulai dikenal saat bergabung dengan band The Nice pada tahun 1967. Salah satu ciri khas penampilan The Nice saat itu adalah atraksi Emerson dan organ Hammond-nya. Atraksinya menggunakan organ Hammond pun sering dibandingkan dengan Jimi Hendrix dan gitar elektriknya. Pada tahun 1970 Emerson meninggalkan The Nice untuk membentuk supergrup ELP (Emerson, Lake & Palmer) bersama Greg Lake, pemain bass dan vokalis King Crimson dan Carl Palmer, pemain drum Atomic Rooster. Emerson mulai menggunakan synthesizer Moog dalam penampilannya, dan menjadi identik dengan dirinya. ELP mencapai sukses dengan album-albumnya sebelum bubar di tahun 1979. Emerson kemudian membentuk proyek Emerson, Lake & Powell (1985) dan 3 (Emerson,Berry & Palmer, 1987) sebelum bereuni dengan Lake dan Palmer pada tahun 1992 untuk album Black Moon. ELP kemudian merilis album studio terakhir mereka, In the Hot Seat (1994) dan melakukan tur. Namun, kendala fisik menghinggap Palmer dan Emerson yang menyebabkan mereka tidak bisa tampil maksimal. Konon, ini juga mempengaruhi kondisi mental Keith Emerson menjelang kematiannya.

Selamat Jalan Glenn Frey, Keith Emerson, dan juga David Bowie, karya-karya kalian akan tetap abadi di telinga dan hati kami!