Neil Peart (1952 – 2020)

Sekali lagi, dunia musik khususnya musik rock/progressive rock kembali kehilangan salah satu musisi terbaiknya. Setelah Keith Emerson (ELP), Chris Squire (Yes), Greg Lake (ELP, ex-King Crimson), dan John Wetton (ex-King Crimson, Asia), pada tanggal 7 Januari 2020 Neil Peart, drummer band asal Kanada Rush meninggal dunia. Ia bergabung dengan Geddy Lee (bass, vokal) dan Alex Lifeson (gitar) di tahun 1974 menggantikan drummer sebelumnya,. Formasi ini bertahan sampai Neil meninggal dunia. Bagi penggemar musik pada umumnya, mungkin sosok Neil Peart kurang dikenal dibandingkan rekan segrupnya, tersembunyi di balik set drumnya. Siapa yang menyangka bahwa ialah penulis lirik utama untuk lagu-lagu Rush. Di kalangan musisi dan penggemar berat musik, ia dikenal sebagai salah satu drummer terbaik di dunia. Dalam satu artikel untuk USA Today, ia disebut sebagai salah satu drummer terbaik sepanjang masa bersama nama-nama seperti John Bonham (Led Zeppelin), Ringo Starr (The Beatles), Keith Moon (The Who),  Ginger Baker (Cream), dan Stewart Copeland (The Police).

Pada tahun 1997 Neil kehilangan putri pertamanya akibat kecelakaan lalu lintas. Setahun kemudian, istrinya pada saat itu terkena kanker dan meninggal dunia 10 bulan setelahnya. Neil Peart kemudian menghubungi kedua rekannya dengan pernyataan “Anggap saja saya pensiun” dan melakukan ekspedisi di atas sepeda motornya melintasi Amerika Utara dan Tengah. Ia kemudian kembali ke Rush pada tahun 2001. Ia menyatakan pensiun pada akhir tahun 2015 karena masalah kesehatan, belakangan diketahui bahwa ia didiagnosis menderita kanker otak. Rush pun dinyatakan vakum semenjak itu. Bersama kedua rekannya dalam band Rush, Neil Peart menerima penghargaan Order of Canada di tahun 1996, masuk ke dalam Canadian Songwriters Hall of Fame (2010) dan Rock and Roll Hall of Fame (2013).

Neil Innes (1944 – 2019): Bye Bye Urban Spaceman

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, siapa gerangan Neil Innes sampai-sampai perlu dibuatkan obituari khusus di sini. Jangankan di Indonesia, secara internasional pun namanya kurang begitu dikenal. Namun jika disebutkan beberapa band/proyek yang pernah dikerjakannya: The Bonzo Dog Doo-Dah Band, Monty Python, atau The Rutles. Dua fakta spesifik yang mungkin menarik: Innes mendapatkan kredit penulisan lagu Whatever (Oasis) bersama Noel Gallagher karena kemiripan dengan lagu ciptaannya, How Sweet to Be an Idiot, dan lagu ciptaannya bersama Vivian Stanshall untuk The Bonzo Dog Doo-Dah Band yang berjudul Death Cab for Cutie ditampilkan dalam film Magical Mystery Tour (The Beatles), dan menjadi inspirasi nama band yang didirikan Ben Gibbard di tahun 1997.

Neil James Innes dilahirkan di Inggris pada tanggal 9 Desember 1944. Ia bergabung dengan The Bonzo Dog Dada Band yang dibentuk oleh Vivian Stanshall dan Rodney Slater di tahun 1963. Nama band ini kemudian berubah menjadi The Bonzo Dog Doo-Dah Band dan mencetak hit I’m the Urban Spaceman (nomor 5 di Inggris) pada tahun 1968. Single ini diproduseri oleh Paul McCartney menggunakan nama alias “Apollo C Vermouth”. Sayangnya, The Bonzo Dog Band kemudian bubar di tahun 1969. Innes kemudian bergabung di band The World dan GRIMMS sebelum terlibat dalam Monty Python. Ia menulis lagu, tampil di pertunjukan TV dan film, serta menulis naskah untuk beberapa sketsa, yang membuatnya dijuluki “The Seventh Python”.

Setelah Monty Python’s Flying Circus berakhir, Neil Innes bersama salah satu anggota Python, Eric Idle, mengisi acara The Rutland Weekend Television. Salah satu segmennya menampilkan band yang tampilan dan musiknya sangat mirip dengan The Beatles. Saat klip ini dibawa ke acara Saturday Night Live di Amerika Serikat, muncul gagasan untuk menampilkan band ini, yang dinamakan The Rutles, dalam format film dan album musik. Mockumentary tentang The Rutles, All You Need Is Cash dirilis pada tahun 1978. Neil Innes memerankan Dirk Nasty, yang memarodikan John Lennon. Innes menulis semua lagu soundtrack film ini. The Rutles merilis album keduanya, Archaeology (1996) setelah The Beatles merilis Anthology (1995). Ia juga merilis album solo, salah satunya adalah How Sweet to Be an Idiot yang kemudian mengilhami lagu Oasis yang berjudul Whatever (1994).

Setelah The Rutland Weekend Television, ia mengisi acara Innes Book of Records, bereuni dengan The Bonzo Dog Band, mengisi acara tribute Concert for George, dan membentuk band The Idiot Bastard. Neil Innes meninggal dunia pada tanggal 29 Desember 2019 di Toulouse, Prancis.

Grown-Up Christmas Playlist

  1. Wham! – Last Christmas
  2. Slade – Merry Xmas Everybody
  3. Band Aid – Do They Know It’s Christmas?
  4. John Lennon – Happy X’mas (War Is Over)
  5. Greg Lake – I Believe in Father Christmas
  6. Queen – Thank God It’s Christmas
  7. Morten Harket – A Kind of Christmas Card
  8. Jim Brickman featuring Luke McMaster – Merry Christmas, Beautiful
  9. Roxette – It Must Have Been Love (Christmas for the Broken Hearted)
  10. David Foster featuring Natalie Cole – Grown-Up Christmas List

[R.I.P.] Marie Fredriksson (1958 – 2019)

Satu lagi kabar duka dari dunia musik, vokalis asal Swedia Marie Fredriksson, yang bersama musisi/vokalis Per Gessle dikenal sebagai Roxette, meninggal dunia pada tanggal 9 Desember 2019 di usia 61 tahun. Marie diketahui mengidap tumor otak sejak tahun 2002 yang membuat Roxette vakum hingga tahun 2009. Diawali penampilan spontan di tur solo Per Gessle, Roxette akhirnya kembali aktif dan merilis tiga album sebelum kembali vakum sejak tahun 2016 karena kondisi Marie tidak lagi memungkinkan untuk melakukan tur.

Dilahirkan pada tanggal 30 Mei 1958 dengan nama Gun-Marie Fredriksson, bungsu dari lima bersaudara. Ia mulai belajar musik dan menyanyi sejak usia tujuh tahun. Bersama kekasihnya (waktu itu) Stefan Dembrandt, Marie membentuk grup musik Strul pada tahun 1978. Personel grup ini sering berganti-ganti, di antaranya adalah dua musisi muda bernama Per Gessle dan Mats Persson yang kemudian membentuk grup musik Gyllene Tider, cikal bakal Roxette. Tahun 1980, hubungan Marie dan Stefan putus, dan Stefan Dembrandt meninggalkan Strul. Marie dan gitaris/vokalis Martin Sternhufvud kini menjadi anggota inti Strul, yang bertahan hingga tahun 1981 dan sempat merilis dobel singel Ki-I-Ai-Oo/Strul igen sebelum membubarkan diri tiga bulan kemudian.

Marie dan Martin kemudian membentuk MaMas Barn. Grup ini sering berlatih bersama Gyllene Tider, hingga bassis dan drummer Gyllene Tider akhirnya bergabung dengan MaMas Barn. Marie menyumbangkan vokalnya pada lagu Gyllene Tider Ingenting av vad du behöver (1981). Di tahun 1982, MaMas Barn merilis album perdananya Barn som barn. Meskipun mendapatkan ulasan yang bagus, album ini gagal di pasaran dan MaMas Barn akhirnya membubarkan diri. Per Gessle meyakinkan Marie untuk memulai solo karier. Sebelum merilis album solo perdananya, Marie menjadi vokal latar untuk Lasse Lindbom Band dan di album Gyllene Tider berbahasa Inggris, The Heartland Café (1984). Album ini dirilis di Amerika Serikat dalam format EP dengan judul Heartland menggunakan nama band Roxette. Nama Roxette diambil dari judul lagu band asal Inggris Dr. Feelgood. Setelah gagal menembus pasar internasional Gyllene Tider memutuskan untuk vakum. Per Gessle kemudian bersolo karier.

Marie Fredriksson kemudian merilis dua album solo yang sukses di Swedia. Sebaliknya, album solo Per Gessle gagal menyamai kesuksesan Gyllene Tider. Akhirnya, eksekutif EMI Swedia menyarankan Per dan Marie merekam lagu bersama dalam Bahasa Inggris. Per kemudian menerjemahkan salah satu karyanya, Svarta glas, menjadi Neverending Love, merekamnya bersama Marie dan merilisnya atas nama Roxette. Singel ini sukses dan duet ini pun langsung merekam album perdana mereka, Pearls of Passion (1986) dengan hit seperti Goodbye to You, Soul Deep, dan I Call Your Name. Akhir tahun 1987 Roxette merilis singel bertema natal, It Must Have Been Love (Christmas for the Broken Hearted). Lagu tersebut kemudian direkam ulang dengan sedikit modifikasi untuk soundtrack film Pretty Woman (1990) dan berhasil menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 serta menjadi lagu signature mereka. Album kedua mereka Look Sharp! dirilis tahun 1988. Album ini dan hit-hit seperti Dressed for Success, Listen to Your Heart, dan Chances kembali sukses seperti album sebelumnya, namun Roxette masih belum dikenal di luar Swedia. Konon, seorang siswa pertukaran asal Amerika Serikat yang membawa album ini pulang ke Minneapolis dan menyerahkannya ke stasiun radio setempat, KDWB. The Look kemudian menjadi hit di radio jauh sebelum dirilis secara resmi di Amerika Serikat, dan akhirnya menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 di awal tahun 1989. Roxette merilis sepuluh album dan mencetak hit seperti Dressed for Success, Listen to Your Heart, Dangerous, Joyride, Fading Like a Flower, Spending My Time, How Do You Do!, Queen of Rain, Almost Unreal, Sleeping in My Car, You Don’t Understand Me, Wish I Could Fly, dan The Centre of the Heart. Total mereka sudah menjual sekitar 75 juta kopi album di seluruh dunia.

Selain Roxette, Marie tetap melanjutkan solo kariernya yang sukses di negaranya, Swedia. Tak kurang delapan album dirilisnya hingga tahun 2013. Pada tahun 2002 ia didiagnosis menderita tumor otak dan harus menjalani operasi dan kemoterapi. Setelah dinyatakan sembuh ia melanjutkan kariernya sebagai penyanyi solo dan kembali aktif dalam Roxette sejak tahun 2009. Namun kesehatannya kembali menurun dan sejak tahun 2016 ia harus mengakhiri karier musiknya. Marie Fredriksson meninggalkan suami dan dua orang anak. Selain menjadi vokalis, Marie juga menulis beberapa lagu untuk Roxette di antaranya: Voices (bersama Per Andersson, album Pearls of Passion), Turn to Me (bersama Per Gessle, side B singel It Must Have Been Love [Christmas for the Broken Hearted]), Dance Away dan Cry (bersama Per Gessle), Half a Woman, Half a Shadow (album Look Sharp!), Hotblooded (bersama Per Gessle), Watercolours in the Rain (album Joyride), Go to Sleep (album Crash! Boom! Bang!), Beautiful Things (bersama Per Gessle), Waiting for the Rain (album Have a Nice Day), Little Girl (album Room Service), dan See Me (album Travelling).

Diskografi

  • Het vind (1984)
  • Den sjunde vågen (1985)
  • …Efter stormen (1987)
  • Den ständiga resan (1992)
  • I en tid som vår (1996)
  • Äntligen: Marie Fredrikssons bästa 1984–2000 (2000) – Compilation
  • Äntligen: Sommarturné (2000) – Live Album (+DVD)
  • Kärlekens guld (2002) – Boxset
  • Äntligen Live! (2003) – Live Album
  • The Change (2004)
  • Min bäste vän (2006)
  • Tid för tystnad: Marie Fredrikssons ballader (2007) – Compilation
  • Nu! (2013)

La Bamba

Suka dengan musik latin? Bagaimana dengan lagu-lagu berlirik Bahasa Spanyol/Portugis? Setidaknya di tiap dekade ada lagu-lagu latin yang populer di seluruh dunia. Baru-baru ini ada Despacito (Luis Fonzi), sebelumnya ada Lambada (Kaoma), Macarena (Los Del Rio), dan Asereje (Las Ketchup). Tapi, tahukah Anda lagu mana yang jadi pionir? Tak lain adalah La Bamba. Lagu ini dipopulerkan oleh Ritchie Valens, seorang musisi dan penyanyi bernama asli Ricardo Valenzuela ini memulai kariernya di usia 17 tahun dan hanya berlangsung selama sekitar delapan bulan sebelum mengalami kecelakaan pesawat terbang bersama dua artis lain, Buddy Holly dan “The Big Bopper” pada tanggal 3 Februari 1959. Peristiwa ini diabadikan dalam lagu American Pie (Don McLean) dan dikenal sebagai “The Day the Music Died”.

Lagu ini bukanlah karya orisinal Valens melainkan sebuah lagu tradisional (folk) Meksiko dari daerah Veracruz dan umumnya dinyanyikan dalam acara dansa di resepsi pernikahan. Rekaman tertua lagu ini tercatat pada tahun 1939 oleh Alvaro Hernández Ortiz alias El Jarocho.  Dalam film biopic La Bamba (1987) Ritchie bersama kakaknya, Bob Morales, sedang berada di sebuah pub di Meksiko ketika sebuah band (diperankan oleh Los Lobos, pengisi soundtrack film ini) menyanyikan versi asli La Bamba. Ritchie kemudian terinspirasi untuk mengaransemen ulang La Bamba menjadi lagu berirama Rock n’ Roll. Lagu ini dirilis sebagai side B singel tersuksesnya, Donna (no. 2 di Billboard Hot 100). Setelah ia meninggal, La Bamba masuk ke tangga lagu Billboard dan menduduki posisi ke-22. Di tahun 1987, Los Lobos merekam ulang lagu ini untuk soundtrack film biopic La Bamba yang dibintangi Lou Diamond Phillips (memerankan Ritchie Valens), dan berhasil menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 dan The Official Charts Company (Inggris).

La Bamba
(Traditional, adapted by Ritchie Valens)

Para bailar La Bamba
Para bailar La Bamba
Se necessita una poca de gracia
Una poca de gracia
Para mi, para ti, ay arriba, ay arriba
Ay, arriba arriba
Por ti sere, por ti sere, por ti sere
Yo no soy marinero
Yo no soy marinero, soy capitan
Soy capitan, soy capitan
Bamba, bamba
Bamba, bamba
Bamba, bamba, bam
Para bailar La Bamba
Para bailar La Bamba
Se necessita una poca de gracia
Una poca de gracia
Para mi, para ti, ay arriba, ay arriba
Para bailar La Bamba
Para bailar La Bamba
Se necessita una poca de gracia
Una poca de gracia
Para mi, para ti, ay arriba, ay arriba
Ay, arriba arriba
Por ti sere, por ti sere, por ti sere
Bamba, bamba
Bamba, bamba
Bamba, bamba

The Lion (Finally) Sleeps, Tonight

Meskipun bukan lagu terpopuler dari film The Lion King (1994), The Lion Sleeps Tonight menjadi lebih populer dari sebelumnya berkat penampilannya dalam film tersebut. Sederhana, hanya sekitar tiga bait syair ditambah chant dan scatting, lagu ini ternyata berawal dari sebuah studio rekaman di Afrika Selatan, Gallo Studios, pada tahun 1939. Saat itu grup vokal The Original Evening Birds dengan penyanyi dan penulis lagu utamanya, Solomon Linda, merekam album dengan salah satu lagunya yang berjudul Mbube.Solomon Linda dilahirkan di Zulu pada tahun 1909 sebelum pindah ke Johannesburg di tahun 1920-an. Ia buta huruf, namun mempunyai skill untuk merangkai nada dan menulis lagu. Mbube (dalam bahasa Zulu berarti singa) ditulis berdasarkan pengalamannya menggembala ternak dan mengawasinya dari incaran predator, salah satunya singa. Lagu ini berbasis chant “aye mbube” (Akulah singa) dan liriknya berbasis pada frase “mbube zimbe” (singa berhentilah), seolah ia mengusir singa yang hendak memangsa ternak gembalaannya. Album hasil rekaman tersebut sukses, terjual 100.000 kopi di Afrika Selatan, pertama kali hal itu tercapai.

Popularitas Mbube akhirnya mencapai Eropa pada tahun 1940-an ketika Alan Lomax, sejarawan musik, memperdengarkannya untuk musisi folk asal Amerika Serikat, Pete Seeger. Seeger, yang terkesan dengan chant dalam lagu ini (disalahtafsirkan sebagai “wimoweh”), kemudian membuat aransemen baru bersama grupnya, The Weavers. Hasilnya, versi The Weavers dengan judul Wimoweh menembus Top 20 pada tahun 1952. Pencipta lagu ini adalah “Paul Campbell” sebuah nama alias untuk grup The Weavers untuk mendaftarkan hak intelektual lagu-lagu mereka. Pete Seeger, yang semula menyangka Mbube adalah lagu tradisional Afrika Selatan, kemudian menyadari kesalahannya dan sejak itu mengirimkan royalti atas nama pribadinya ke Gallo Studios. Solomon Linda sendiri hanya menerima 10 Shilling untuk menyerahkan hak cipta lagu-lagunya ke Gallo Studios, sebagai kompensasinya ia mendapatkan pekerjaan sebagai tukang sapu dan penyaji minuman teh.

Pada tahun 1961, produser Hugo & Little menugaskan penulis lirik George Alan Weiss untuk menuliskan lirik berbahasa Inggris untuk Wimoweh, dan The Lion Sleeps Tonight pun tercipta. Lagu ini direkam oleh grup vokal The Tokens dan menduduki posisi pertama di tangga lagu Billboard. Setahun kemudian, Solomon Linda meninggal dunia dengan meninggalkan $22 di rekening banknya. Istrinya bahkan tidak bisa membelikan batu nisan untuk kuburannya.Masalah hak cipta lagu ini seolah tenggelam sampai Disney menggunakan lagu ini untuk film The Lion King (1994). Pada tahun 2000, jurnalis Afrika Selatan Rian Malan menulis artikel untuk majalah The Rolling Stone mengenai sejarah lagu ini, dilanjutkan pada tahun 2002 dengan dirilisnya dokumenter The Lion’s Trail oleh sutradara Francois Verster membangkitkan kembali perjuangan mengembalikan hak cipta lagu ini kepada penciptanya, Solomon Linda. Akhirnya di tahun 2006 kesepakatan mengenai royalti lagu ini dicapai,dan keluarga Solomon Linda akhirnya menerima haknya.

Selain oleh The Weavers dan The Tokens, lagu ini juga telah direkam lebih dari 150 kali. Beberapa versi yang terkenal adalah oleh Robert John, Tight Fight (Nomor satu di Inggris pada tahun 1982), Lebo M. (soundtrack The Lion King), R.E.M., Ladysmith Black Mambazzo, dan NSYNC.

THE LION SLEEPS TONIGHT (a.k.a. MBUBE/WIMOWEH)
Song by Solomon Linda, English Lyrics by George Alan Weiss

(African Chant)

(Aye Mbube/Wimoweh…)

In the jungle, the mighty jungle, the lion sleeps tonight
In the jungle, the quiet jungle, the lion sleeps tonight

(Aye Mbube/Wimoweh…)

Near the village, the peaceful village, the lion sleeps tonight
Near the village, the quiet village, the lion sleeps tonight

(Aye Mbube/Wimoweh…)

Hush my darling, don’t fear my darling, the lion sleeps tonight
Hush my darling, don’t fear my darling, the lion sleeps tonight

(Aye Mbube/Wimoweh…)

Eva Cassidy, Ternama Setelah Tiada

Alkisah seorang artis penyanyi, yang selama hidupnya berjuang untuk meniti karier. Sambil menyanyi untuk beberapa band dan musisi, ia masih harus bekerja untuk menyambung hidup. Hasil kerjanya ditabung sedikit demi sedikit untuk merintis karier musiknya, seperti menbiayai rekaman demo album. Pada akhirnya, kerja kerasnya mulai menampakkan hasil. Sebuah album kolaborasi dengan musisi lain sudah dirilis, satu album studio siap diedarkan, dan satu pertunjukan langsung sudah didokumentasikan. Namun, tak dinyana cobaan pun datang menerpa. Gejala penyakit yang selama ini diabaikan seiring kerja kerasnya merintis karier ternyata awal dari penyakit mematikan. Saat disadari, semuanya sudah terlambat, dan ia harus menyerah pada keganasan penyakit yang dideritanya. Karier musik yang baru dirintis pun harus berakhir. Hasil kerja kerasnya seolah bakal sia-sia dan terlupakan. Ternyata, kini namanya menjadi legenda dan album-albumnya laris di pasaran, hal yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Yup, kita sedang membicarakan seorang penyanyi bernama Eva Cassidy.

Terlahir dengan nama Eva Marie Cassidy di tahun 1963, ia mulai bermain musik sejak kanak-kanak. Ayahnya mengajarkan cara bermain gitar saat Eva berusia 9 tahun. Pada tahun 1986 ia diajak oleh gitaris David Lourim, yang pernah bersama-sama tergabung di band Stonehenge, untuk menyumbangkan vokalnya di proyek band terakhirnya Method Actor. Di sinilah Eva bertemu dengan pemain bass Chris Blondo yang kemudian mengenalkannya kepada Al Dale yang kemudian menjadi managernya. Blondo kemudian membawa rekaman vokalnya kepada Chuck Brown, yang tertarik untuk mengajaknya rekaman. Album duet Chuck Brown dan Eva Cassidy The Other Side dirilis pada tahun 1992. Selama periode ini, Eva berusaha mendapatkan kontrak rekaman, namun tak satu pun yang dirasanya sesuai. Akhirnya, dengan mencairkan tabungan hasil kerja sampingannya, Eva merekam albumnya sendiri secara live di Blues Alley, Washington DC. Album Live at Blues Alley dirilis pada tahun 1996, album terakhir yang dirilisnya selama ia masih hidup. Penyakit melanoma yang dideritanya sejak tahun 1993 akhirnya merenggut nyawanya. Eva Cassidy meninggal di akhir tahun 1996 pada usia 33 tahun.

Album studio perdananya, Eva by Heart, dirilis setahun berikutnya (1997). Pada tahun 1998 album kompilasi Songbird dirilis dan selama dua tahun praktis tidak mendapat perhatian sampai Terry Wogan mulai memainkan lagu-lagu dari album ini dalam acara radio BBC Wake Up to Wogan di tahun 2000. Di akhir tahun 2000 sebuah klip video penampilan Eva di Blues Alley menyanyikan Over the Rainbow ditayangkan di acara Top of the Pops 2. Segera saja album Songbird melesat ke puncak tangga lagu di Inggris. Sejumlah dokumenter tentang Eva ditayangkan di saluran televisi dan penjualan album-albumnya meroket. Jika sebelumnya ia hanya sempat merilis tiga album (salah satunya diedarkan setelah meninggal), sampai saat ini tak kurang dari 17 album Eva Cassidy telah dirilis, termasuk album live, kompilasi, dan bootleg (rilis tidak resmi). Album-album ini laris terjual (10 album di antaranya tersertifikasi gold dan platinum), tiga di antaranya menduduki posisi pertama di Inggris (Songbird, Imagine, dan American Tune), sebuah prestasi yang jarang dicapai artis lain yang masih hidup. Penyanyi Katie Melua yang mengidolakannya, merekam lagu What a Wonderful World dan merilisnya sebagai duet bersama versi yang dinyanyikan Eva Cassidy. Hasilnya, lagu ini menduduki posisi pertama di tangga lagu Inggris di akhir tahun 2007.

Diskografi

Album Studio

  • The Other Side (bersama Chuck Brown) (1992)
  • Eva by Heart (1997)
  • Time After Time (2000)
  • Imagine (2002)
  • Somewhere (2008)
  • Simply Eva (2011) – Album Akustik

Album Live

  • Live at Blues Alley (1996)
  • American Tune (2003)
  • Nightbird (2015) – versi lengkap dari Live at Blues Alley

Kompilasi

  • Songbird (1998)
  • Wonderful World (2004)
  • The Best of Eva Cassidy (2012)
  • Acoustic (2017)
  • Songbird 20 (2018) – Rilis ulang Songbird dengan 4 bonus acoustic track

Unofficial Releases

  • Live at Pearl’s (1994) – direkam di Pearl’s Restaurant Annapolis, Maryland
  • No Boundaries (2000) – koleksi rekaman studio pada periode tahun 1987 – 1991
  • Method Actor (2002) – album studio band Method Actor pada tahun 1988, dengan vokal Eva pada setiap track

Video

  • Eva Cassidy Sings (2004)

R.I.P. James Ingram (1952 – 2019)

Meskipun sudah (sangat) terlambat, tidak ada salahnya kita kali ini membahas salah satu vokalis R&B terdepan di era 80-an dan 90-an, James Ingram, yang meninggal pada tahun 30 Januari 2019 lalu akibat penyakit kanker otak. Terlahir dengan nama James Edward Ingram, ia memulai karier sebagai pemain kibor untuk grup Revelation Funk. Setelah bandnya bubar, James Ingram kemudian bekerja serabutan, menjadi musisi latar, penyanyi demo, dan pengarah musik untuk sejumlah penyanyi. Akhirnya, kesempatan datang saat salah satu demo yang dinyanyikannya, sebuah lagu karya Barry Mann dan Cynthia Weil berjudul Just Once sampai ke tangan produser ternama Quincy Jones. Jones kemudian mengajaknya untuk terlibat dalam proyek albumnya yang berjudul The Dude (1981). James Ingram menyanyikan dua lagu dalam album itu, Just Once dan One Hundred Ways, ditambah duetnya bersama Michael Jackson untuk menyanyikan The Dude. Kedua lagu yang dinyanyikannya berhasil menembus Top 20 di tangga lagu Billboard, memberikannya tiga nominasi Grammy Award, dan memenangkan satu di antaranya (Penampilan R&B Pria Terbail untuk One Hundred Ways). Di tahun 1982, James menyanyikan Baby, Come to Me berduet dengan Patti Austin. Lagu ini berhasil menembus posisi pertama di Billboard Hot 100 setelah muncul di tayangan serial TV General Hospital. Album solo pertamanya, It’s Your Night dirilis tahun 1983 dan memunculkan hit How Do You Keep the Music Playing? (kembali berduet dengan Patti Austin) dan Yah Mo B There (duet dengan Michael McDonald). Lewat penampilannya bersama Michael McDonald untuk lagu Yah Mo B There ia meraih penghargaan Grammy Award untuk Penampilan duo atau grup R&B Terbaik. Pada tahun 1986 album keduanya, Never Felt So Good, dirilis. Setahun kemudian James Ingram berduet dengan Linda Ronstadt untuk lagu tema film animasi An American Tail, Somewhere Out There. Lagu ini menduduki posisi kedua di Billboard Hot 100 dan memenangkan Grammy Award untuk Song of the Year (diberikan kepada penulis lagunya, James Horner, Barry Mann, dan Cynthia Weil). Mengakhiri dekade 80-an, album ketiganya, It’s Real dirilis pada tahun 1989.

James Ingram kembali bekerja sama dengan Quincy Jones dalam album Back on the Block (1990) membawakan lagu The Secret Garden (Sweet Seduction Suite) bersama Barry White, Al B Sure, dan El DeBarge. Album tersebut kemudian memenangkan penghargaan Grammy Award untuk Album of the Year. Di tahun yang sama, James Ingram akhirnya mencapai posisi pertama Billboard Hot 100 lewat lagu I Don’t Have the Heart, hit nomor satu keduanya dan yang pertama sebagai artis solo. Ia mendapat dua nominasi Golden Globe dan Oscar untuk Best Original Song: The Day I Fall in Love (bersama Cliff Magness dan Carole Bayer Sager) dari film Beethoven’s 2nd (1994) dan Look at What Love Has Done (bersama James Newton Howard, Carole Bayer Sager, dan Patty Smyth) dari film Junior (1995). Album keempatnya, Always You, dirilis pada tahun 1993. Album terakhirnya, Stand (in the Light), dirilis pada tahun 2008. Selain sebagai vokalis dan musisi, James Ingram juga dikenal sebagai penulis lagu. Salah satunya, P.Y.T. (Pretty Young Thing) direkam oleh Michael Jackson dalam album Thriller (1982) dan diunggulkan dalam Grammy Award untuk Lagu R&B Terbaik. Selamat jalan, James Ingram, terima kasih atas semuanya.

Diskografi:

Album Studio:

  • It’s Your Night (1983)
  • Never Felt So Good (1986)
  • It’s Real (1989)
  • Always You (1993)
  • Stand (in the Light) (2008)

Kompilasi:

  • Greatest Hits: The Power of Great Music (1991)
  • Forever More: Long Songs, Hits & Duet (1999)

Soundtrack (Songs Appear on Movie/TV Series):

  • Just Once (The Last American Virgin)
  • Baby, Come to Me (General Hospital)
  • How Do You Keep the Music Playing? (Best Friends)
  • Somewhere Out There (An American Tail)
  • One More Time (Sarafina!)
  • Where Did My Heart Go? (City Slickers)
  • The Brightest Star (Precious Moment’s Timmy’s Gift)
  • The Day I Fall in Love (Beethoven’s 2nd)
  • Our Time Has Come (Cats Don’t Dance)
  • When You Love Someone (Forget Paris)

Lagu Hit sebagai Komposer:

  • P.Y.T. (Pretty Young Thing) oleh Michael Jackson
  • Look What Love Has Done oleh Patyty Smyth (lagu tema film Junior)

Top 10 Rap Sampling

  1. Gangsta’s Paradise (Coolio featuring L.V.), sampled from Pastime Paradise (Stevie Wonder)
  2. Set Adrift on a Memory Bliss (P.M. Dawn), sampled from True (Spandau Ballet)
  3. I’ll Be Missing You (Puff Daddy featuring Faith Evans & 112), sampled from Every Breath You Take (The Police)
  4. Ghetto Supastar (Pras Michel featuring Mya), sampled from Islands in the Stream (Kenny Rogers & Dolly Parton)
  5. Stan (Eminem featuring Dido), sampled from Thank You (Dido)
  6. U Can’t Touch This (MC Hammer), sampled from Superfreak (Rick James)
  7. Ice Ice Baby (Vanilla Ice), sampled from Under Pressure (Queen & David Bowie)
  8. Looking Through Patient Eyes (P.M. Dawn), sampled from Father Figure (George Michael)
  9. Dilemma (Nelly featuring Kelly Rowland) sampled from Love, Need and Want You (Patti Labelle)
  10. Good Vibration (Marky Mark & The Funky Bunch) sampled from Love Sensation (Loleatta Holloway)
  11. (BONUS): Old Town Road (Lil Nas X featuring Billy Ray Cyrus) sampled from 34 Ghosts IV (Nine Inch Nails)

Fenomena Viral “Africa” (by Toto)

Mereka yang lahir, dibesarkan, dan mengalami era 80-an, terutama di tahun 1982-83 tentu mengenal band asal California, Amerika Serikat, Toto. Didirikan pada tahun 1978 oleh sekumpulan musisi session (studio) seperti Jeff Porcaro, David Paich, Steve Lukather, Steve Porcaro, David Hungate, dan vokalis Bobby Kimball, album perdana mereka, Toto (1978), melahirkan hit Hold the Line yang menduduki posisi kelima di tangga lagu Billboard. Toto juga dinominasikan sebagai pendatang baru terbaik dalam ajang penghargaan Grammy Award. Dua album berikutnya, Hydra (1979) dan Turn Back (1980) melahirkan sejumlah hit seperti 99 dan Goodbye Elenore, namun gagal mengulangi sukses album perdana dan singel Hold the Line. Pihak label mereka pun “mengancam” untuk memutus kontrak mereka jika album selanjutnya gagal di pasaran. Sesi rekaman album Toto selanjutnya pun menjadi ajang pertaruhan masa depan band ini. Di antara lagu yang direkam untuk album mereka yang kemudian dirilis dengan judul Toto IV itu adalah sebuah lagu yang kemudian dikenal sebagai Africa. Ditulis oleh David Paich dan Jeff Porcaro, lirik lagu ini mencerminkan proses pembuatannya, mengenai seorang yang menulis tentang benua Afrika tanpa pernah menginjakkan kakinya di sana. David Paich menulis lirik lagunya diilhami oleh advertorial Unicef mengenai kelaparan di Afrika dan percakapannya dengan para misionaris yang pernah bertugas di Afrika, dimana mereka merestui (blessing) segala sesuatu, termasuk hujan. Personel Toto yang lain membenci (lirik) lagu ini dan ramai-ramai menolak lagu ini dimasukkan dalam album Toto IV. Bagi Steve Porcaro dan Steve Lukather, bait lirik tentang Serengiti dan …I bless the rains down in Africa… tidak masuk akal. Seorang eksekutif CBS (label rekaman Toto) meyakinkan grup ini bukan hanya untuk memasukkan Africa dalam Toto IV, tapi juga merilisnya sebagai singel. Africa akhirnya dimasukkan dalam Toto IV, direkam paling akhir dan ditempatkan di urutan terakhir dalam album tersebut, dengan lagu unggulan mereka, Rosanna, di urutan pertama. And the rest is history… Africa menjadi hit nomor satu di tangga lagu Billboard pada awal tahun 1983, mengalahkan hit mereka sebelumnya Rosanna, yang memenangkan penghargaan Grammy Award untuk Rekaman Terbaik, yang hanya menduduki posisi kedua di tahun 1982.

Popularitas Toto sejak itu terus menurun, bahkan sempat membubarkan diri di tahun 2008 sebelum muncul kembali dua tahun kemudian, namun hit-hit mereka, terutama Africa masih tetap menjadi lagu yang mencerminkan dekade 80-an. Tak dinyana, di tahun 2018 ini lagu itu kembali menjadi perbincangan dan  menjadi fenomena viral di internet dan media. Berawal dari penggunaan lagu ini dalam serial Netflix, Stranger Things, seorang penggemar band Weezer “meneror” band idolanya itu untuk membawakan lagu ini (cover version). Makan waktu enam bulan, termasuk rilis lagu Rosanna (hit Toto yang lain) oleh Weezer sebelum rilis Africa oleh Weezer di bulan Mei 2018 lengkap dengan video klip yang dibintangi oleh “Weird Al” Yankovic. Africa versi Weezer ini menduduki posisi ke-51 di Billboard Hot 100 dan posisi pertama di Billboard Alternative Songs Airplay Chart. Toto kemudian merilis cover version lagu Weezer, Hash Pipe, sebagai balasannya. Fenomena online juga melibatkan akun (bot) Twitter, @africabytotobot yang menge-twit sebaris lirik lagu ini tiap hari sejak Agustus 2016, situs ibless.therains.downin.africa yang memainkan video klip lagu ini terus-menerus (looping) sejak Agustus 2017, sederet cover version, dan juga internet meme.  Africa juga diperdengarkan di PBB saat penganugerahan Lifetime Achievement Award kepada uskup Desmond Tutu dan saat pemakaman Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Lagu ini tercatat sudah didengarkan 400 juta kali via Spotify dan sejumlah yang hampir sama disaksikan video klipnya via YouTube. Terima kasih pada fenomena ini, Africa yang sebelumnya tersertifikasi Gold di tahun 1991 kini tersertifikasi Platinum. Bless the rains in Africa indeed…

(NB: Jangan lewatkan penampilan live Toto di Johannesburg, Afrika Selatan saat membawakan Africa di akhir tulisan ini)

UPDATE: Seorang artis asal Namibia, Max Sidedentopf, membuat instalasi di tengah gurun untuk memainkan lagu ini secara terus-menerus. Instalasi ini terdiri atas mp3 player (berisi satu lagu Africa by Toto), enam speaker, dan solar cell untuk memasok daya.

Africa
(David Paich / Jeff Porcaro)
I hear the drums echoing tonight
But she hears only whispers of some quiet conversation
She’s coming in, 12:30 flight
The moonlit wings reflect the stars that guide me towards salvation
I stopped an old man along the way
Hoping to find some long forgotten words or ancient melodies
He turned to me as if to say,
“Hurry boy, it’s waiting there for you”
It’s gonna take a lot to take me away from you
There’s nothing that a hundred men or more could ever do
I bless the rains down in Africa
Gonna take some time to do the things we never had
The wild dogs cry out in the night
As they grow restless, longing for some solitary company
I know that I must do what’s right
As sure as Kilimanjaro rises like Olympus above the Serengeti
I seek to cure what’s deep inside, frightened of this thing that I’ve become
It’s gonna take a lot to drag me away from you
There’s nothing that a hundred men or more could ever do
I bless the rains down in Africa
Gonna take some time to do the things we never had
Hurry boy, she’s waiting there for you
It’s gonna take a lot to drag me away from you
There’s nothing that a hundred men or more could ever do
I bless the rains down in Africa
I bless the rains down in Africa
(I bless the rain)
I bless the rains down in Africa
(I bless the rain)
I bless the rains down in Africa
I bless the rains down in Africa
(Ah, gonna take the time)
Gonna take some time to do the things we never had

© Sony/ATV Music Publishing LLC, Kobalt Music Publishing Ltd