Lawnosta-B
Keep Lawnosta Rollin’

Okt
19

Setelah grup musik Toto membubarkan diri, satu lagi band era 80-an, a-ha, mengumumkan pembubaran dirinya pada tanggal 15 Oktober 2009. Trio asal Norwegia yang dibentuk tahun 1982 ini melejit lewat hit Take on Me, yang menduduki posisi puncak di Amerika di tahun 1985. Video musiknya yang menggunakan teknik animasi “sketsa pensil” ini sempat menguasai MTV dan memborong 6 penghargaan MTV Video Music Award 1985. HIt kedua mereka, The Sun Always Shines on TV, menduduki posisi puncak di Inggris dan masuk Top 20 di Amerika. Sempat menghilang sejak merilis album Memorial Beach (1993), mereka kembali di tahun 2000 lewat album Minor Earth | Major Sky. Walaupun tidak lagi sepopuler di era 80-an, terutama di Amerika, a-ha tetap eksis di Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Album terakhir mereka, Foot of the Mountain (2009) mengembalikan mereka ke Top 10 di Inggris, menduduki posisi kelima.
Disinyalir, perbedaan visi musikal antara Paul Waaktar-Savoy (gitar) dan Morten Harket (vokal) bersama Magne Furuholmen (kibor) memicu keputusan pembubaran ini. Sebelum resmi membubarkan diri akhir tahun depan, a-ha akan mengadakan tur dunia perpisahan selama 13 bulan yang ditutup dengan konser di Oslo, Norwegia pada tanggal 3 dan 4 Desember 2010.

Okt
19

Selain Fields of Gold, ini adalah lagu Sting favorit Penulis. Sebagai bagian dari album The Soul Cages (1990) yang bertemakan kematian (ayah Sting meninggal sebelum pembuatan album ini), Why Should I Cry for You? merupakan lagu pertama yang ditulis pada sesi The Soul Cages dan banyak menggunakan metafora tentang pelayaran untuk melukiskan kesepian dan penderitaan. Berulang kali Sting melukiskan penyesalan seputar hubungannya dengan sang ayah, kesedihan, dan kemarahannya, dan akhirnya, (What would you want me to? What Would it mean to say that I love you in my fashion?) melukiskan penolakan dan rasa sayang yang tak berbalas.

Waktu mendengar lagu ini untuk pertama kali, Penulis mau tidak mau langsung teringat pada lagu lain yang juga cukup populer di tahun 1986, I’ll Be Over You dari Toto. Silakan simak kemiripan kedua lagu itu di bawah ini:

Why Should I Cry for You?
Written by Sting

Under the dog star sail
Over the reefs of moonshine
Under the skies of fall
North, north west, the stones of Faroe

Under the Arctic fire
Over the seas of silence
Hauling on frozen ropes
For all my days remaining
But would north be true?

All colors bleed to red
Asleep on the ocean’s bed
Drifting in empty seas
For all my days remaining

But would north be true?
Why should I?
Why should I cry for you?
Dark angels follow me
Over a godless sea
Mountains of endless falling,
For all my days remaining,

What would be true?

Sometimes I see your face,
The stars seem to lose their place
Why must I think of you?
Why must I?
Why should I?
Why should I cry for you?
Why would you want me to?
And what would it mean to say,
That, “I loved you in my fashion”?

What would be true?
Why should I?
Why should I cry for you?

Agu
21

Pecinta musik lebih mengenal Morten Harket sebagai vokalis grup asal Norwegia a-ha, yang pada tahun 1985 mencetak hit Take on Me dan The Sun Always Shines on TV. Grup ini masih cukup populer di Indonesia sampai tahun 1993 dengan hit-hit seperti I’ve Been Losing You, The Living Daylight, Stay on These Roads, dan Crying in the Rain. Setelah merilis album Memorial Beach (1993) dengan hit Dark Is the Night for All dan menulis lagu untuk Paralympics 1994 di Lilehammer, Shapes that Go Together, a-ha menghilang dari blantika musik dunia.

Kalau gitaris dan penulis lagu utama a-ha Pal Waaktar membentuk grup Savoy bersama istrinya, Lauren Savoy, Morten memutuskan bersolo karier.  Ia merilis album Poetenes Evangelium (1993) yang hanya beredar di Norwegia dan Swedia. Album keduanya, Wild Seed (1995), merupakan album solo internasionalnya yang pertama. Dari album itu muncul hit seperti A Kind of Christmas CardSpanish Steps, dan Los Angeles. Salah satu lagu yang menarik adalah yang berjudul East-Timor, yang bercerita tentang Timor Timur yang waktu itu masih menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Morten memang sejak lama menjadi pendukung kemerdekaan Timor Timur dan merupakan sahabat dari Ramos Horta (sekarang Presiden Timor Timur). Konon, Morten adalah salah satu yang mengusulkan Horta dan Uskup Bello menerima penghargaan Nobel Perdamaian, yang memang mereka terima tahun 1996. Morten akhirnya mengunjungi Timor Timur tahun 1999 dan 2003.

East-Timor
by Morten Harket

Sandalwood trees are evergreen
Cut them down
Plant coffee beans
Build no schools
Construct no roads
Mark them as fools
Let ignorance rule
Leave them stranded on their island
Treat them to the tune of silence
Red is the cross that covers out shame
Every Kingdom, every land
Has it’s heart in the common man
Silently the tide shifts the sand

Bury my heart on East-Timor
In coral sands
On golden shores
Buried are those
Who lived their lives
No place to hide for
Father and child
Leave them stranded on their island
Treat them to the tune of silence
We shake the hands that kill and forgive
Every Kingdom, every land
Has its heart in the common man
Silently the tide shifts the sand

Bury my heart on East-Timor
On barren graves
Where flowers won’t grow
Blooms our Red cross lovingly
This nightingale deed
So we can be free
Stranded on their island
This army of the silent
We toast our own goodwill and forget
Every kingdom, every land
Has its heart in the common man
Silently the tide shifts the sand

Agu
09

Mana yang dipilih antara mempunyai karier pendek yang mengesankan dengan karier panjang tapi biasa-biasa saja? Di dunia hiburan, khususnya dunia musik, persaingan antarartis penyanyi sangat ketat dan sangat memungkinkan satu artis yang hari ini sangat terkenal dan melahirkan banyak hit dalam waktu beberapa tahun kemudain sudah tidak terdengar lagi. Untuk sebuah grup band yang di dalamnya terdiri atas beberapa personal yang tentunya mempunyai ego masing-masing, biasanya karier mereka bisa terhenti atau terhambat karena perpecahan antarpersonal yang berakibat bubar atau pecahnya grup yang bersangkutan. Berikut ini beberapa grup musik yang pernah mempunyai karier yang mengesankan, namun hanya berusia singkat:

  1. Mr.Mister
    Grup ini dibentuk tahun 1982 oleh Richard Page (bass) dan Steve George (keyboard), yang kemudian dilengkapi oleh Pat Mastelotto (drum) dan Steve Farris (gitar). Album pertama mereka, I Wear the Face (1984) dan singel Hunters of the Night hanya mencapai posisi 170 dan 57 di Billboard Chart. Namun, album kedua mereka, Welcome to the Real World (1985) sukses menembus posisi pertama. Lagu Broken Wings dan Kyrie mencapai nomor satu, dan Is It Love mencapai posisi tujuh.Kejayaan mereka tak berlangsung lama. Album berikutnya, Go On…(1987) hanya mencapai posisi ke-55 dan singel Something Real (Inside Me/Inside You) di posisi ke-29.  Album keempat mereka, Pull, tidak pernah dirilis dan Mr Mister bubar di tahun 1989.
  2. Wilson Phillips
    Grup vokal ini dibentuk oleh dua bersaudara, Carnie dan Wendy Wilson, putri dari musisi Brian Wilson (The Beach Boys), dan Chynna Phillips, putri dari pasangan John dan Michelle Phillips (The Mamas and the Papas). Bakat musik yang mengalir dalam diri mereka diwujudkan dengan dirilisnya album Wilson Phillips (1990) yang sebagian besar lagunya mereka tulis sendiri bersama produser Glen Ballard. Album perdana mereka itu berhasil menduduki posisi dua dan melahirkan tiga hit nomor satu, Hold On, Release Me, dan You’re in Love. Dua lagu lain, Impulsive menduduki posisi empat, dan The Dream Is Still Alive menduduki posisi kedua belas.
    Lagi-lagi kesuksesan mereka tidak bertahan lama. Album kedua mereka, Shadows and Light (1992) berhasil menduduki posisi keempat dan singel You Won’t See Me Cry menduduki posisi kedua puluh. Namun, hasil itu sangat jauh daripada pencapaian album pertama. Tak lama setelah itu, Wilson Phillips bubar.Mereka akhirnya berkumpul lagi di tahun 2000 dan merilis album ketiga, California (2004) yang sepenuhnya berisi lagu-lagu hit klasik dari artis lain.
  3. Wham!
    Dibentuk tahun 1981 oleh George Michael dan Andrew Ridgeley, duo ini menjadi highlight musik tahun 80-an lewat album-albumnya, Fantastic (1982) dan Make It Big (1984). Album pertama mereka, Fantastic (1982), menjadi nomor satu di Inggris dan hit-hit seperti Wham Rap (Enjoy What You Do), Young Guns (Go for It), Bad Boys, dan Club Tropicana menjadi hit top 10. Make It Big (1984) menandai sukses mereka di Amerika Serikat dengan hit-hit seperti Wake Me Up Before You Go Go, Careless Whispers, Freedom, Everything She Wants, dan Last Christmas. Namun, tahun 1986, mereka memutuskan untuk bubar setelah menggelar konser perpisahan bertajuk Wham! The Final. Album terakhir mereka, Wham! The Final (1986), yang dirilis di Amerika dengan judul Music at the Edge of Heaven masih mencetak hit seperti I’m Your Man, A Different Corner, dan The Edge of Heaven.George Michael kemudian sukses sebagai artis solo dengan album seperti Faith (1987), Listen Without Prejudice Volume 1 (1990), dan Older (1995).
  4. The Buggles
    Grup ini dibentuk oleh Trevor Horn (vokal, bass), Geoffrey Downes (keyboard), dan Bruce Wolley di tahun 1977.  Namun, menjelang rilis singel pertama mereka, Video Killed the Radio Star, Woolley mengundurkan diri. Lagu itu menjadi hit nomor satu di Inggris dan video klipnya menjadi video pertama yang dimainkan oleh channel musik MTV di saat siaran perdananya di tahun 1981. Album The Age of Plastic digarap saat grup ini menjalani tur promosinya, menduduki posisi ke-27 di Inggris. Saat mengerjakan album keduanya,  Adventures in Modern Recording, di tahun 1980, grup rock progresif Yes  sedang rekaman di studio yang bersebelahan. Horn dan Downes yang merupakan fans berat Yes menawarkan lagu ciptaan mereka ke grup, yang sedang kebingungan karena ditinggalkan vokalis dan keyboardis mereka Jon Anderson dan Rick Wakeman.Akhirnya Horn dan Downes malah diajak bergabung dengan Yes menggantikan Anderson dan Wakeman. Hasilnya, album Drama (1980) pun dirilis dan berhasil menduduki posisi kedua di Inggris. Formasi ini kemudian merampungkan tur yang juga sukses. Namun, penerimaan fans terhadap Horn dan Downes kurang menggembirakan, sehingga Yes pun bubar usai tur. Downes kemudian bergabung dengan supergrup Asia sampai hari ini. Album kedua The Buggles diselesaikan Horn bersama beberapa musisi lain. Album kedua ini gagal mengulangi sukses album pertama. Horn pun membubarkan The Buggles dan menjadi produser yang sukses sampai sekarang.
  5. 4 Non Blondes
    Dibentuk pada tahun 1989 oleh Linda Perry (vokal), Shauna Hall (gitar), Christa Hillhouse (bass), dan Wanda Day (drum). Menjelang rilis album perdana mereka, Bigger, Better, Faster, More! di tahun 1992 Hall digantikan Roger Rocha dan Day digantikan Dawn Richardson. Mereka mencetak hit What’s Up? di tahun 1993 yang menduduki posisi pertama di Jerman dan Belanda, nomor 2 di Inggris, dan nomor 14 di Amerika. Grup ini bubar pada tahun 1994 saat merekam album kedua mereka, yang akhirnya tidak terselesaikan.Linda Perry kemudian bersolo karir dan menjadi produser dan penulis lagu untuk Christina Aguilera (Beautiful), Alicia Keys (Superwoman), Pink (Get the Party Started), dan Gwen Stefani (What You Waiting for).

BONUS:

Milli Vanilli

Duo bentukan produser Frank Farian yang terdiri atas Rob Pilatus dan Fabrice Morvan ini menggebrak percaturan musik di alhir 80-an dengan hit-hit seperti Girl You Know It’s True, I’m Gonna Miss You, Baby Don’t Forget My Number, dan Blame It on the Rain (tiga lagu terakhir menduduki posisi pertama di Amerika). Puncaknya saat merela memenangkan Grammy untuk Best New Artist.  Saat tampil untuk MTV (live), tape nyanyian mereka “nglokor” dan membuat mereka menghentikan penampilan mereka. Beberapa saat kemudian, produser Frank Farian mengumumkan bahwa Rob dan Fab tidak menyanyikan satupun lagu dalam album Milli Vanilli. Rupanya, Rob dan Fab berkeras menggunakan suara mereka sendiri dalam album kedua Milli Vanilli yang sedang dikerjakan. Publik marah, membuang semua album mereka dan menuntut penghargaan Grammy mereka dicabut.

Album itu akhirnya dirilis dengan judul Moment of Truth di bawah nama The Real Milli Vanilli dan menampilkan penyanyi ‘yang sebenarnya’: Brad Howell, John Davis, Ray Horton, Gina Mohamed, dan sang produser Frank Farian sendiri. Rob dan Fab kemudian merilis album Rob & Fab menggunakan suara mereka sendiri. Keduanya tidak mampu menyamai sukses album Milli Vanilli pertama, dan akhirnya proyek selanjutnya dibatalkan.

Agu
07

Baru saja kita dikejutkan dengan meninggalnya Mbah Surip, dua hari kemudian kita kehilangan lagi sosok seniman (yang jauh lebih) besar, Willibrordus Surendra Broto alias Wahyu Sulaiman Rendra, yang dikenal dengan WS Rendra. Kita baru disadarkan akan kondisi seniman yang terkenal dengan julukan Burung Merak ini gara-gara wasiat Mbah Surip yang ingin dimakamkan di kompleks Bengkel Teater, dan bahwa Rendra tidak bisa menghadiri pemakaman Mbah Surip disebabkan kondisinya yang sedang opname di rumah sakit. Ternyata, hanya berselang dua hari kemudian Beliaunya sendiri menyusul sahabatnya menghadap Yang Maha Kuasa.

Rendra dikenal sebagai seniman serbabisa. Lebih dulu mencuat sebagai Penyair, juga berkiprah di teater lewat Bengkel Teaternya, pernah membintangi film Al Kautsar, dan terlibat dalam proyek musik Kantata sebagai penulis lirik.Sebagaimana puisi-puisinya yang sering bernada tajam mengritisi rezim yang sedang berkuasa, Rendra sering terjun dalam kegiatan politik dan kemasyarakatan. Tak terasa beliau sudah menginjak usia 74 tahun, dan seolah tak tergantikan oleh yang lain.

Penulis terkenang saat pertama kali berlatih membaca puisi untuk sebuah lomba waktu duduk di kelas empat SD. Puisi itu berjudul Balada Terbunuhnya Atmo Karpo, karya Rendra. Penulis tidak pernah mengikuti satupun lomba baca puisi, namun puisi itu secara tidak langsung mengilhami Penulis untuk mulai menulis puisi saat SMP, meskipun saat ini pun sudah mulai jarang. Saat belajar sastra di SMP, Rendra juga termasuk salah satu yang digolongkan angkatan 50-an, yang berarti sudah 50 tahun lebih berkiprah di dunia sastra Indonesia. Saat munculnya Kantata Takwa di tahun 1990, yang lirik lagu-lagunya sebagian ditulis oleh Rendra semakin menguatkan eksistensinya di mata masyarakat. Saat menjadi mahasiswa, kesempatan untuk menyimak karya-karyanya semakin terbuka dengan membaca buku-buku kumpulan puisi Rendra koleksi teman.

Selamat Jalan Rendra, semoga kepergianmu menginspirasi generasi mendatang untuk mengepak sayap burung merak (ataukah rajawali) semakin tinggi.

Agu
04

Akhirnya, menulis juga tentang Mbah Surip. Bisa dikatakan akhirnya, karena beliaunya memang sudah meninggal tanggal 4 Agustus 2009 pukul 10.30 WIB di RS Pusdikkes Jakarta Timur. Banyak spekulasi seputar kematiannya, seperti halnya kematian orang terkenal lainnya, namun faktanya hanya satu: Urip Ariyanto a.k.a. Mbah Surip sudah meninggal titik.

Sosok Mbah Surip memang fenomenal, namanya melejit dalam waktu relatif singkat. Album dan lagu Tak Gendong menjadi hit di mana-mana dan konon menghasilkan pemasukan 4 miliar lebih, meski belum jelas berapa yang akan diterimanya. Meskipun ia sudah lama bermusik, mengamen, menggelandang, dan merilis beberapa album independen, yang konon dijajakan di WC-WC Umum.

Latar belakangnya tak kalah misterius. Tahun lahirnya bervariasi, antara 1949, 1960, 1963, sampai 1969, yang membuat rentang usianya antara 40-60 tahun. Belakangan, dikonfirmasi bahwa kampung halamannya di Mojokerto, bahwa ia berpisah dengan istrinya via surat, dan anaknya yang berusia 25 tahun sebenarnya akan menikah tanggal 16 Agustus 2009. Menurut pengakuannya, ia lulusan Doktor (atau MBA?) di beberapa universitas dan pernah bekerja di sektor perminyakan (atau pertambangan?), menjadi bosan, dan akhirnya menggelandang sampai menjadi terkenal. Belakangan, pihak keluarga menyatakan bahwa ia pernah menjadi calo tiket bioskop sebelum menjadi musisi. Rambutnya yang gimbal konon terinsipirasi Tony Rastafara, musisi jalanan, untuk membentuknya sempat diguyur cat oleh seniman ancol, dan mengeramasinya dengan shampoo untuk kucing.

Dalam hal bermusik, Mbah Surip melejit dengan lagu-lagu berlirik jenaka seperti yang pernah dilakukan Gombloh, PSP, PMR, Bill & Brod, Padhyangan, Project Pop, dan juga Iwan Fals serta Slank. Berbicara tentang Gombloh, ada kesamaan denan Mbah Surip. Keduanya sama-sama punya penampilan khas, musik dan lirik yang jenaka, dan sama-sama meninggal di puncak ketenarannya. Gombloh meninggal di tahun 1986 setelah populer lewat lagu Kugadaikan Cintaku dan Apel. Selamat jalan Urip Ariyanto. Biarkan kami mengenangmu sebagai Mbah Surip yang apa adanya, selalu rendah hati dan tidak silau dengan ketenaran, semoga diterima semua amalnya dan diampuni semua dosanya.

Jul
13

Dilahirkan dengan nama Alfred Matthew Yankovic, ia mendapat julukan “Weird Al” karena kaca mata yang dipakainya menimbulkan kesan “nerd”. Kenyataannya, ia masuk sekolah setingkat di atas anak-anak seusianya dan masih mampu mencetak nilai akademik sempurna. Ia juga diarahkan belajar akordion dan musik polka, yang secara bercanda disebutnya sebagai “warisan keluarga” (salah satu musisi polka terkenal bernama Franky Yankovic, meski ia tidak berhubungan darah dengan Al). Saat di perguruan tinggi, ia iseng-iseng membuat parodi (pelesetan) lirik lagu My Sharona (The Knack) menjadi My Bologna. Lagu yang direkam Al dengan iringan akordion ini dikirimkan ke acara radio yang dibawakan Dr. Demento, seorang komedian. Lagu ini ternyata sukses, dan bahkan mendapat sambutan baik dari penulis aslinya, The Knack. Sejak itulah Al mulai berpikir untuk serius meniti karier sebagai musisi khusus lagu-lagu parodi.

Meskipun membawakan lagu-lagu parodi dan lagu berlirik komedi original, Al tetap serius membawakannya. Dia selalu meminta izin kepada artis aslinya sebelum merekam parodinya, meskipun itu tidak diwajibkan secara hukum. Lirik pelesetannya tidak memasukkan unsur seks dan kekerasan, meskipun beberapa kali sempat menyinggung etnis tertentu, seperti lagu Amish Paradise (parodi dari Gangsta’s Paradise). Beberapa kali Al menemui hambatan untuk memarodikan beberapa lagu, seperti lagu Ammish Paradise tadi, yang ternyata tidak disetujui oleh Coolio. Terakhir, lagu You’re Pitiful, yang merupakan parodi dari lagu You’re Beautiful (James Blunt) telah mendapat izin dari penyanyi aslinya dan telah selesai direkam untuk album Straight Outta Lynwood. Namun, di saat terakhir, label Atlantic Records yang menaungi Blunt menolak memberikan izin sehingga Al terpaksa menarik lagu itu dan menunda peredaran albumnya untuk merekam lagu pengganti.

Secara umum, hubungan Al dengan artis lain terjalin baik. Sebagian besar artis bahkan senang lagunya diparodikan oleh Al, karena itu berarti lagu mereka cukup dikenal di masyarakat. Grup Nirvana pernah menyatakan bahwa mereka baru percaya bahwa mereka cukup terkenal setelah lagu mereka Smells Like Teen Spirit diparodikan oleh Al dengan judul Smells Like Nirvana. Karier Al yang dimulai tahun 1979 terbukti mampu bertahan selama 30 tahun, melampaui beberapa artis yang diparodikannya, seperti Men without Hats (Safety Dance, diparodikan menjadi The Brady Bunch), The Knack, dan Toni Basil (Mickey diparodikan menjadi Ricky). Popularitasnya sebagai artis parodi sempat menimbulkan kesulitan sejak merebaknya internet dan music sharing, karena hampir semua lagu parodi yang beredar di internet dianggap sebagai lagunya, sementara lagu itu memuat lirik yang kurang etis dan bertentangan dengan prinsip Al.

Jul
06

Bagaikan tidak percaya, saat mendengar berita kematian Michael Jackson, tanggal 25 Juni 2009 lalu. Sang penyanyi yang terkenal dengan julukan King of Pop ini sudah terkenal dengan berita-berita sensasional, membuat kematiannya sempat disangka sebagai hoax. Seperti halnya kematian bintang besar seperti Elvis Presley, Marilyn Monroe, Kurt Cobain, atau Presiden Kennedy, kematian Jacko menyisakan banyak pertanyaan seputar penyebabnya. Untuk sementara, penyebab kematian dinyatakan sebagai serangan jantung, namun masih ada kontroversi seputar penggunaan obat, dan kemungkinan stress yang menimpa sang bintang.

Meski lama tidak merilis album sejak tahun 2001 (Invicible), dan prestasinya tak secemerlang era 80an, Jacko tetaplah seorang megabintang dengan segala atribut selebritasnya. Menyanyi sejak usia 6 tahun sampai meninggal di usia 50, Jacko memang entertainer sejati. Berjaya bersama keempat saudaranya lewat The Jackson Five, diekade 80an melihatnya sebagai megabintang lewat album Off the Wall, Thriller (yang terjual 50 juta kopi), dan Bad. Dekade 90an melihat Jacko mulai surut, meskipun masih menikmati sukses lewat album Dangerous, HIStory, dan Blood on the Dance Floor, namun masih jauh dari kesuksesannya di era 80an.

Di tahun 2001, Jacko merilis Invicible, yang secara kualitas maupun komersial tidak sebaik album-album sebelumnya. Jacko pun tak mampu menandingi kabar-kabar negatif di seputar kehidupan pribadinya dengan prestasinya di bidang musik. Belum lagi kabar tentang dirinya yang akhir-akhir ini terlilit utang, menyusul kabar comebacknya ke atas panggung yang direncanakan menjelang kematiannya.

Karier musiknya yang gemilang harus ditebus dengan kehidupan pribadinya yang berantakan. Kehilangan masa kecilnya membuat Jacko menjadi pribadi yang tertutup dan menarik diri. Pernikahannya dua kali gagal, dan kini ketiga anaknya harus kehilangan sang ayah. Seribu pertanyaan akan tetap menggantung setelah kematian Jacko, ditambah sikapnya yang misterius membuat banyak hal akan tetap menjadi spekulasi. Bgaaimanapun juga, warisannya terhadap dunia musik akan selalu abadi. Selamat Jalan, Jacko!

Mar
23

Festival Film Indonesia (FFI), mau tidak mau, diakui sebagai festival film tertua dan bergengsi di tanah air. Terlepas dari kontroversi yang mengiringi, terutama dalam tiga tahun terakhir. FFI pertama kali diadakan tahun 1955, menyusul tahun 1960 dan 1967. Sejak tahun 1973 sampai 1992, FFI mulai teratur diselenggarakan tiap tahun dengan menganugerahkan penghargaan Piala Citra. Mulai tahun 1979 sistem nominasi mulai diterapkan. Setelah terhenti selama 12 tahun, mulai tahun 2004 FFI kembali diselenggarakan tiap tahun. Pada setiap penyelenggaraan, diperebutkan 12-13 kategori penghargaan, dan berikut ini beberapa fakta unik seputar pemenang dan nominee:

  • Film terbaik dengan perolehan piala Citra terbanyak: Ibunda (1986) dengan 9 piala Citra
  • Film dengan perolehan nominee terbanyak: Tjoet Nja’ Dhien (1988) dan Pacar Ketinggalan Kereta (1989) dengan 13 nominee
  • Film terbaik dengan perolehan piala Citra tersedikit: Senyum di Pagi Bulan Desember (1975) dengan 2 piala Citra (Film terbaik dan Penata Musik terbaik)
  • Film dengan perolehan nominee terbanyak tanpa memenangkan satupun piala Citra: Biarkan Bulan Itu (1987) dengan 12 nominee
  • Film yang memenangkan piala Citra terbanyak tanpa penghargaan Film Terbaik: Ranjang Pengantin (1975) dengan 5 piala Citra
  • Film yang memenangkan 5 penghargaan utama (film, sutradara, aktor, aktris, skenario terbaik): Taksi (1990) dan Ramadhan dan Ramona (1992)
  • Tidak ada film yang memenangkan keempat penghargaan akting (aktor utama/pembantu, aktris utama/pembantu), namun ada tiga film yang memenangkan tiga dari empat kategori akting: Di Balik Kelambu (1983), Pacar Ketinggalan Kereta (1989), dan Arisan! (2004)
  • Pemenang piala Citra terbanyak untuk semua kategori: Idris Sardi dengan 10 piala Citra
  • Pemenang piala Citra terbanyak untuk kategori Sutradara Terbaik: Teguh Karya dengan 6 piala Citra
  • Pemenang piala Citra terbanyak untuk kategori Aktor Terbaik (Utama/Pembantu): Deddy Mizwar dengan 5 piala Citra
  • Pemenang piala Citra terbanyak untuk kategori Aktris Terbaik (Utama/Pembantu): Christine Hakim dengan 6 piala Citra
  • Pemenang piala Citra terbanyak untuk kategori Skenario Terbaik: Asrul Sani dengan 5 piala Citra

Info lebih lanjut: Festival Film Indonesia di Wikipedia

Nov
27

Sebuah lagu yang sangat populer, khususnya di Amerika Serikat, bercerita tentang hubungan antara ayah dan anak lelakinya. Sang ayah yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak sempat meluangkan waktu untuk bermain bersama anak lelakinya. Sang anak yang kecewa sambil mencoba memaklumi, bertekad untuk menjadi seperti ayahnya. Pada akhirnya, saat sang anak beranjak dewasa, giliran sang ayah yang kecewa karena sang anak tidak punya waktu untuk bersamanya!

Lagu ini ditulis oleh suami istri Harry dan Sandy Chapin dan dinyanyikan oleh Harry Chapin dalam album Verities and Balderdash (1974). Produser Harry menginginkan lagu ini dirilis sebagai single pertama, berlawanan dengan Harry sendiri yang beranggapan lagu ini hanya akan disukai oleh pria berusia 45 tahun yang tidak akan memebeli rekaman ini. Nyatanya, lagu ini menjadi nomor satu di Billboard Hot 100 (satu-satunya hit dari Harry Chapin) dan terjual jutaan kopi.

Istri Harry, Sandy Chapin menulis versi awal lirik lagu sebagai puisi berdasarkan hubungan suami pertamanya dengan ayah(mertua)nya dan sebah lagu country yang didengarnya di radio. Harry menulis lagu berdasar puisi ini setelah kelahiran anak laki-lakinya, Josh. Lagu ini dinominasikan dalam Grammy Award 1974 untuk Song of the Year, dan direkam ulang oleh banyak artis seperti Johny Cash, Ricky Scaggs, dan yang terbaru oleh kelompok rap DMC (Run DMC tanpa salah seorang anggotanya yang tewas tahun 2002) dengan bagian refrain yang dinyanyikan oleh Sarah McLachlan berjudul Just Like Me. Versi yang terkenal adalah yang dinyanyikan oleh kelompok Ugly Kid Joe yang menduduki posisi 6 di Billboard Hot 100 tahun 1990. Jika versi Harry Chapin sering disalahpahami sebagai lagu yang dinyanyikan Cat Stevens (aka Yusuf Islam), maka versi Ugly Kid Joe sering dianggap dianyanyikan oleh Guns N’ Roses atau Skid Row. Cat Stevens pernah meulis lagu tentang ayah dan anak lelaki yang berjudul Father and Son, dan menulis lagu berjudul Cat’s Cradle untuk albumnya di tahun 1977, namun sama sekali tidak ada hubungannya dengan lagu ini.

Cat’s in the Cradle
written by Harry and Sandy Chapin
My child arrived just the other day,
He came to the world in the usual way.
But there were planes to catch, and bills to pay.
He learned to walk while I was away.
And he was talking ‘fore I knew it, and as he grew,
He’d say, “I’m gonna be like you, dad.
You know I’m gonna be like you.”

And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, dad?” “I don’t know when,
But we’ll get together then.
You know we’ll have a good time then.”

My son turned ten just the other day.
He said, “Thanks for the ball, dad, come on let’s play.
Can you teach me to throw?” I said, “Not today,
I got a lot to do.” He said, “That’s ok.”
And he walked away, but his smile never dimmmed,
Said, “I’m gonna be like him, yeah.
You know I’m gonna be like him.”

And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, dad?” “I don’t know when,
But we’ll get together then.
You know we’ll have a good time then.”

Well, he came from college just the other day,
So much like a man I just had to say,
“Son, I’m proud of you. Can you sit for a while?”
He shook his head, and he said with a smile,
“What I’d really like, dad, is to borrow the car keys.
See you later. Can I have them please?”

And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, son?” “I don’t know when,
But we’ll get together then, dad.
You know we’ll have a good time then.”

I’ve long since retired and my son’s moved away.
I called him up just the other day.
I said, “I’d like to see you if you don’t mind.”
He said, “I’d love to, dad, if I could find the time.
You see, my new job’s a hassle, and the kid’s got the flu,
But it’s sure nice talking to you, dad.
It’s been sure nice talking to you.”
And as I hung up the phone, it occurred to me,
He’d grown up just like me.
My boy was just like me.

And the cat’s in the cradle and the silver spoon,
Little boy blue and the man in the moon.
“When you coming home, son?” “I don’t know when,
But we’ll get together then, dad.
We’re gonna have a good time then.”