Apakah kita bisa menebak isi pikiran orang lain? Pertanyaan sederhana yang seharusnya ditanyakan setiap kita mendiskusikan tentang orang lain. Sebuah karya seni, baik itu berupa seni rupa maupun seni suara (musik) penuh dengan unsur subyektivitas dan situasional. Sebuah lagu, jika proses kreatif penciptaannya menghasilkan sesuatu yang menarik dan patut dikenang (memorable), akan mampu menembus dimensi waktu, jauh setelah diciptakan dan populer. Lirik lagu, yang ditulis dalam bahasa tertentu, akan mengalami proses interpretasi oleh para pendengarnya, yang tidak mustahil melahirkan pemaknaan yang berbeda-beda, dan kadang-kadang jauh dari makna lugas atau bahkan yang dimaksudkan oleh sang penulisnya sendiri.
Tentu saja, seorang penulis (lirik) lagu yang kreatif biasanya tidak membiarkan karyanya berhenti pada satu level penafsiran saja. Walau kadang-kadang penafsiran lirik bisa sangat fantastis, terutama pada karya musisi barat, tema-tema kontroversial seperti homoseksualitas dan narkoba bisa tiba-tiba muncul pada lagu yang kedengaran “normal”. Bagi yang tertarik, bisa menyimak diskusi di situs-situs seperti songfacts.com, lagu-lagu seperti Kiss from a Rose (Seal) dan 25 or 6 to 4 (Chicago) ternyata bisa dihubungkan dengan narkoba, dan We Are the Champions (Queen) dan How Soon Is Now? (The Smiths) bisa dihubungkan dengan homoseksualitas (gay). Mereka yang mencari lagu bertema narkoba mungkin tidak terlu puas dengan lagu seperti White Lines (Grandmaster Flash yang dinyanyikan ulang oleh Duran Duran) atau Toy Soldiers (Martika, dicuplik oleh Eminem), atau tema homoseksualitas dalam lagu I’m Too Sexy (Right Said Fred) dan I Kissed a Girl (Jill Sobule, bisa juga Katie Perry).
Lalu, sedalam mana lirik-lirik lagu Indonesia? Jika Anda memperhatikan lagu-lagu yang populer beberapa tahun belakangan ini mungkin Anda bisa menjawab bahwa lirik lagu populer Indonesia cuma begitu-begitu saja. Mereka yang mengikuti perkembangan musik Indonesia sejak dekade 70-an mungkin akan sangat merindukan lirik-lirk lagu dari Iwan Abdurrachman, Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua (yang banyak berkolaborasi dengan para penyair), Iwan Fals, Sawung Jabo, Dorrie Kalmas, atau Katon Bagaskara. Untungnya, tema-tema kontroversial tidak terlalu banyak diangkat dan didiskusikan, mungkin karena kita telah terbiasa menerima apa adanya tema yang disodorkan para penulis lirik. Kalau kita menganalisis seperti di atas, mungkin lagu karya Sonny Josz, Minggat, bisa diartikan lain, karena nama Sri di Jawa itu juga bisa menjadi nama seorang pria…..

