Lirik Lagu dan Arti di Baliknya

Apakah kita bisa menebak isi pikiran orang lain? Pertanyaan sederhana yang seharusnya ditanyakan setiap kita mendiskusikan tentang orang lain. Sebuah karya seni, baik itu berupa seni rupa maupun seni suara (musik) penuh dengan unsur subyektivitas dan situasional. Sebuah lagu, jika proses kreatif penciptaannya menghasilkan sesuatu yang menarik dan patut dikenang (memorable), akan mampu menembus dimensi waktu, jauh setelah diciptakan dan populer. Lirik lagu, yang ditulis dalam bahasa tertentu, akan mengalami proses interpretasi oleh para pendengarnya, yang tidak mustahil melahirkan pemaknaan yang berbeda-beda, dan kadang-kadang jauh dari makna lugas atau bahkan yang dimaksudkan oleh sang penulisnya sendiri.

Tentu saja, seorang penulis (lirik) lagu yang kreatif biasanya tidak membiarkan karyanya berhenti pada satu level penafsiran saja. Walau kadang-kadang penafsiran lirik bisa sangat fantastis, terutama pada karya musisi barat, tema-tema kontroversial seperti homoseksualitas dan narkoba bisa tiba-tiba muncul pada lagu yang kedengaran “normal”. Bagi yang tertarik, bisa menyimak diskusi di situs-situs seperti songfacts.com, lagu-lagu seperti Kiss from a Rose (Seal) dan 25 or 6 to 4 (Chicago) ternyata bisa dihubungkan dengan narkoba, dan We Are the Champions (Queen) dan How Soon Is Now? (The Smiths) bisa dihubungkan dengan homoseksualitas (gay). Mereka yang mencari lagu bertema narkoba mungkin tidak terlu puas dengan lagu seperti White Lines (Grandmaster Flash yang dinyanyikan ulang oleh Duran Duran) atau Toy Soldiers (Martika, dicuplik oleh Eminem), atau tema homoseksualitas dalam lagu I’m Too Sexy (Right Said Fred) dan I Kissed a Girl (Jill Sobule, bisa juga Katie Perry).

Lalu, sedalam mana lirik-lirik lagu Indonesia? Jika Anda memperhatikan lagu-lagu yang populer beberapa tahun belakangan ini mungkin Anda bisa menjawab bahwa lirik lagu populer Indonesia cuma begitu-begitu saja. Mereka yang mengikuti perkembangan musik Indonesia sejak dekade 70-an mungkin akan sangat merindukan lirik-lirk lagu dari Iwan Abdurrachman, Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua (yang banyak berkolaborasi dengan para penyair), Iwan Fals, Sawung Jabo, Dorrie Kalmas, atau Katon Bagaskara. Untungnya, tema-tema kontroversial tidak terlalu banyak diangkat dan didiskusikan, mungkin karena kita telah terbiasa menerima apa adanya tema yang disodorkan para penulis lirik. Kalau kita menganalisis seperti di atas, mungkin lagu karya Sonny Josz, Minggat, bisa diartikan lain, karena nama Sri di Jawa itu juga bisa menjadi nama seorang pria…..


2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 35.000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 13 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.


Warren Wiebe

Warren Wiebe

Warren Wiebe

Mungkin banyak yang akan bertanya-tanya, “Siapa Gerangan Warren Wiebe?” Well, kenalkah Anda dengan lagu This Must Be Love? Lagu yang terdapat dalam album David Foster, River of Love (1989) ini cukup populer di Indonesia, mungkin sampai saat ini. Lagu ini tidak dinyanyikan oleh David Foster sendiri, namun oleh dua vokalis, Warren Wiebe dan Jeff Pescetto. Wiebe juga menyanyikan empat lagu lain dalam album River of Love: River of Love (bersama Bryan Adams dan Hamish Stuart), Walkaway, Is There a Chance, dan Living for the Moment. Ya, Ia adalah salah satu vokalis kesayangan David Foster, yang dikenal sebagai penulis lagu dan produser bertangan dingin itu. Wiebe sering dipercaya untuk merekam versi demo dari beberapa lagu yang ditullis atau diproduseri oleh Foster.

Lagu-lagu lain yang mungkin Anda kenal adalah: Only Love (dari album Sadao Watanabe, Sweet Deal), Roxann (dari album Jay Graydon, Airplay for the Planet) dan Voices That Care (1991) juga dinyanyikan oleh Wiebe. Voices That Care merupakan proyek yang serupa dengan Band Aid atau USA for Africa yang bertujuan untuk memberikan dukungan moral bagi pasukan Amerika Serikat dalam Operasi Badai Gurun (Desert Storm) dalam Perang Irak 1991. Versi demo lagu ini dinyanyikan oleh Wiebe, dan dalam versi resminya vokal Wiebe dapat didengar pada bagian akhir lagu ini.

Dilahirkan pada tanggal 18 Juli 1953, Warren Wiebe mengawali kariernya sebagai pemain bass pada beberapa band jazz di San Diego, Wiebe ditemukan oleh David Foster dan Burt Bacharach di tahun 1987. Wiebe merekam lagu tema film Listen to Me (1989) bersama Celine Dion,namun tidak pernah dirilis secara resmi. Konon, saat merekam versi demo untuk lagu When I Fall in Love untuk soundtrack film Sleepless in Seattle (1992), Celine Dion sangat menyukainya, bahkan menyarankan agar Wiebe menyanyikan versi resminya menggantikan Clive Griffin. Wiebe banyak tampil sebagai vokalis tamu dan latar di banyak album, di antaranya sebagai vokal latar dalam lagu I Swear (All-4-One) dan Send Me a Lover (Taylor Dayne). Ia juga tampil pada pernikahan Celine Dion dan Rene Agnelli pada tahun 1994. Sayangnya, Wiebe memilih mengakhiri hidupnya pada tanggal 25 Oktober 1998, setelah berjuang dengan masalah psikologis. Sampai hari ini, ia belum merilis satu album solo pun dan lagu-lagu yang dinyanyikannya belum dirilis dalam bentuk album kompilasi. Selamat tinggal Warren Wiebe, suaramu akan tetap mengalun bertahun-tahun dari hari ini dan kami akan tetap mengenangmu dalam kondisi terbaikmu. (Sumber: Wikipedia dan warrenwiebe.com)
.

This Must Be Love
written by David Foster and Lamont Dozier
vocals by Warren Wiebe and Jeff Pescetto

What is this look I often see
faces filled with ecstasy
what’s going ’round,tell me what have they found
I’ve been searchin’ for the answer
trying to work my feelings out
I been up all night,girl
nothing is goin’ right
Since we met I’ve had some problems
with words I couldn’t say
now you’ve changed my life forever

Chorus:
This must be love
the one I heard about
no other kind of feeling
turns me inside out
Yes this must be love
controlling my heart and mind
let’s take a vow to make it last
’til the end of time,’til the end of time.

It’s a strange sensation,a new creation
and I just don’t have a defense against it
I’m completely outdone
for the first time there’s only one
the things I did,I don’t do no more
there’s no desire,no looking for
who or what is to blame
no it cannot be explained
since we’ve met I’ve had some problems
with words I couldn’t say
now you’ve changed my life forever

-Repeat Chorus-

Bridge:
Something’s come over me
you’re all my eyes can see
whatever it may be

-Repeat Chorus-


R.E.M. Bubar!

Yep, they call it a day. Setelah berkarier selama 31 tahun (1980 – 2011), grup musik R.E.M. akhirnya membubarkan diri.Selama 31 tahun itu, mereka merilis 15 album studio, yang terakhir dirilis bulan Maret 2011 lalu berjudul Collapse Into Now. Band ini didirikan tahun 1980 di Athens, Georgia oleh Michael Stipe (vokal), Peter Buck (gitar), Mike Mills (bass), dan Bill Berry (drum). R.E.M. mengawali kariernya sebagai band underground yang terkenal di kalangan mahasiswa, merilis lima album dengan label indie IRS: Murmur (1983), Reckoning (1984), Fables of the Reconstruction (1985), Lifes Rich Pageant (1986), dan Document (1987). Warner Bros kemudian mengontrak mereka sampai sekarang. Lima album kemudian dirilis: Green (1988), Out of Time (1991), Automatic for the People (1992), Monster (1994), dan New Advenures in Hi-Fi (1996) sebelum Bill Berry mengundurkan diri. Berry mendesak band untuk tetap berlanjut sebagai trio, yang kemudian merilis lima album terakhir: Up (1998), Reveal (2001), Around the Sun (2004), Accelerate (2008), dan Collapse Into Now (2011).

R.E.M. mulai dikenal di Amerika Serikat berkat hit top 10, The One I Love dari album Document (1987). Setelah menandatangani kontrak dengan Warner Bros, mereka mulai dikenal di seluruh dunia. Album Green (1988) mencetak hit top 10 selanjutnya, Stand. Namun, baru setelah album Out of Time (1991) dan hit Losing My Religion (no. 4 di Billboard Hot 100), R.E.M. benar-benar populer. Sepeninggal Berry, popularitas mereka terus menurun, namun tidak dengan kreativitas dan produktivitas mereka. R.E.M. akan selalu dikenang sebagai band underground/indie sebelum istilah underground/indie menjadi populer. Mereka juga dikenal sebagai salah satu pelopor musik alternatif sebelum musik alternatif menjadi genre tersendiri. Lagu-lagu mereka yang populer selain Losing My Religion antara lain: Everybody Hurts, Man on the Moon, Shiny Happy People, Imitation of Life, Radio Free Europe, Superman, dan It’s the End of the World as We Know It (And I Feel Fine).

Diskografi

Album Studio

  • Murmur (1983)
  • Reckoning (1984)
  • Fables of the Reconstruction (1985)
  • Lifes Rich Pageant (1986)
  • Document (1987)
  • Green (1988)
  • Out of Time (1991)
  • Automatic for the People (1992)
  • Monster (1994)
  • New Adventures in Hi-Fi (1996)
  • Up (1998)
  • Reveal (2001)
  • Around the Sun (2004)
  • Accelerate (2008)
  • Collapse Into Now (2011)

Kompilasi

  • Dead Letter Office (1986)
  • Eponymous (1987)
  • The Best of R.E.M. (1991)
  • In TIme: The Best of R.E.M. 1988 – 2003 (2003)
  • And I Feel Fine…The Best of IRS Years 1982 – 1987 (2006)
  • Part Lies, Part Heart, Part Truth, Part Garbage 1982–2011 (2011)

Album Live

  • R.E.M. Live (2007)
  • Live at the Olympia (2009)

Lain-lain

  • Chronic Town EP (1982)
  • Man on the Moon (1999) – Soundtrack

R.I.P: Utha Likumahuwa

Indonesia kembali kehilangan salah satu seniman terbaiknya, Doa Putra Ebal Johan Likumahuwa, atau yang lebih dikenal dengan nama Utha Likumahuwa, yang meninggal di Jakarta pada tanggal 13 September 2011.Utha, yang juga adik kandung musisi Benny Likumahuwa (The Rollies) ini dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1955 dan mulai mengibarkan namanya di dunia musik Indonesia saat menyanyikan lagu Tembang Pribumi dalam album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1981. Sejak itu, nama Utha seolah tidak pernah hilang dari percaturan musik Indonesia. Mulai album solo, duet, kolaborasi (keroyokan) sampai festival lagu selalu ada namanya.

Dari album solonya terlahir hit seperti: Esok Kan Masih Ada, Gayamu, Aku Pasti Datang, Aku Tetap Cinta, Puncak Asmara, dan Untuk Apa Lagi. Sedangkan yang berupa duet dan kolaborasi anatra lain: Mungkinkah Terjadi dan Kisah Kehidupan (dengan Trie Utami), Percayalah dan Maafkan Kasih (dengan Vonny Sumlang), Kekagumanku (Miracle) (bersama Fariz RM dan Mus Mujiono), dan Cinta di Jalan Ilahi (dengan Louise Hutauruk). Di ajang festival, Utha antara lain menyanyikan Sesaat Kau Hadir (Festival Lagu Populer Indoneisa 1987), Sejuta Mimpiku (Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1988-89), dan Kusadari (Festival Lagu Populer Indonesia 1990). Nama Utha juga tercantum dalam album-album musisi seperti Dodo Zakaria (Akira), Oddie Agam (Beri Setengah Saja), dan Emerald (Cemas).

Nama Utha Likumahuwa perlahan menghilang mulai tahun 1990-an, dan akhirnya penyakit stroke, diabetes, dan gangguan jantung menaklukkannya. Dia pun telah dipanggil menghadap Sang Pencipta. Selamat Jalan, Bang Utha, kami tak kan melupakanmu.


Antara 1000 (A Thousand) Miles dan Sewu Kutho

Konon, orang Jawa hanya bisa menghitung sampai 1000, sehingga jumlah yang sangat banyak akan “dibulatkan” menjadi 1000 atau dalam bahasa Jawanya “sewu”. Di Semarang ada sebuah gedung milik PT KA yang terkenal dengan sebutan Lawang Sewu atau Seribu Pintu. Julukan yang diberikan karena gedung itu punya banyak ruang/kamar, dan terlihat dari jauh adalah pintu-pintu kamar tersebut yang jumlahnya saking banyaknya pun dibulatkan oleh masyarakat menjadi seribu (jumlah persisnya, kurang dari seribu).

Ternyata, orang barat pun tidak jauh berbeda, paling tidak dalam dunia sastra/musik. Buktinya, ada lagu berjudul 1000 Miles (Kimberly Frank, 1994) dan A Thousand Miles (Vanessa Carlton, 2002) yang menyebut jarak seribu mil (1 mil adalah sekitar 1,6 Km) untuk menyebut jarak yang sangat jauh. Dalam konteks kedua lagu itu, mungkin saja jaraknya tidak sampai 1000 mil.

Di Indonesia sendiri, kita mengenal lagu Sewu Kuto yang dipopulerkan oleh penyanyi campursari Didi Kempot. Lagu ini versi aslinya berjudul Hanya Sekejap, ditulis oleh (alm) Arie Wibowo dan dirilis dalam album Bill & Brod berjudul Kodok pun Ikut Bernyanyi (1987). Versi Didi Kempot mengalihbahasakan liriknya menjadi Bahasa Jawa dan mengubah judulnya menjadi Sewu Kuto yang diambil dari baris pertama lirik lagu ini.


Yen Ing Tawang Ana Lintang

Bicara tentang lirik yang ditafsirkan lain, lagu ini salah satu contohnya. Selintas, dlihat dari liriknya lagu ini berisi ungkapan seorang jejaka yang resah menantikan kedatangan seorang dara (cah ayu). Tak heran saat lagu ini dinyanyikan oleh penyanyi wanita, sering kata “cah ayu” diganti dengan “cah bagus”, mengubah sudut pandang lagu. Seandainya penyanyi tersebut mengetahui latar belakang penciptaan lagu ini tentu penggantian kata itu tidak diperlukan.

Sebenarnya Andjar Any, penulis lagu ini, mendapat ilham saat menunggui kelahiran putri pertamanya (sebelumnya beliau sudah dikaruniai tiga orang putra) di tahun 1964. Konon ceritanya, Pak Andjar ini dilarang masuk ruang bersalin dan terpaksa menunggui kelahiran putri pertamanya itu di pelataran rumah sakit. Kebetulan waktu itu malam yang cerah, dan bintang-bintang di langit pun terlihat jelas. Muncullah ide untuk menulis lagu ini, melambangkan kegelisahan dan kecemasan seorang calon ayah menantikan kelahiran putri pertamanya. Jadi, “cah ayu” dalam lirik lagu ini bukanlah seorang gadis cantik, melainkan seorang jabang bayi perempuan yang baru lahir. Maka dari itu, Waldjinah, yang memopulerkan lagu ini pun menyanyikan liriknya tanpa mengganti satu kata pun. (dan jangan tanya lagi tentang yang menganggap “tawang” itu adalah Stasiun Kereta Api Tawang di Semarang!).

Tahun 1966, perusahaan rekaman Lokananta membeli lagu ini seharga Rp 16 juta, jumlah yang sangat besar. Andjar Any yang terlalu gembira, menyimpan uang itu terlalu lama, sampai tahun 1967 saat pemotongan nilai uang rupiah memangkas jumlah itu menjadi hanya 16 ribu rupiah saja.

(R.I.P. Andjar Any: Ponorogo, 3 Maret 1936 – Surakarta, 13 November 2008)

YEN ING TAWANG ANA LINTANG
(Andjar Any)

Yen ing tawang ana lintang, cah ayu
Aku ngenteni tekamu
Marang mega ing akasa, nimas
Sun takokne pawartamu

Janji-janji aku eling cah ayu
Sumedot rasaning ati
Lintang-lintang ngiwi-iwi, nimas
Tresnaku sundhul wiyati

Dhek semana janjmu disekseni
Mega kartika kairing rasa tresna ati

Yen ing tawang ana lintang cah ayu
Rungokna tangising ati
Binarung swaraning ratri, nimas
ngenteni mbulan ndadari

(Sumber: Lambertus Hurek)

[terjemahan Bahasa Indonesia]

jika di langit ada bintang..duhai cantik
kunanti kehadiranmu
kepada mega di angkasa, dinda
kutanyakan kabar beritamu

semua janji ku ingat..duhai cantik
nyaris putus asa di hati ini
bintang-bintang memanggil-manggil, dinda
cintaku sepenuh hati

Kala itu, janjimu disaksikan
langit dan bintang, teriring rasa cinta di hati

jika di langit ada bintang …duhai cantik
dengarkan tangis dalam hati
bersama suara malam, dinda
menanti bulan purnama


Forever Young (2)

Setelah membahas mengenai lagu Forever Young dari Alphaville, kali ini akan dibahas mengenai lagu lain berjudul sama yang ditulis oleh musisi Bob Dylan. Lagu ini dirilis dalam album Planet Waves (1974) dan berisi pengharapan seorang ayah (orang tua) kepada anaknya. Lagu ini telah beberapa kali dinyanyikan kembali oleh artis lain, terakhir digunakan sebagai iklan Pepsi di tahun 2009 (versi remix dari will.i.am).

Pada tahun 1988, Rod Stewart menulis lagu berjudul Forever Young untuk albumnya, Out of Order. Lagu ini ternyata mirip dengan lagu Bob Dylan dalam melodi dan sebagian besar lirik. Akhirnya, Stewart pun mengakui tidak sengaja meniru lagu Dylan dan setuju untuk membagi royalti dan mencantumkan nama Bob Dylan dalam kredit pencipta lagu. Pada tahun 1996, Stewart merekam versi slow lagu ini untuk album kompilasi If We Fall in Love Tonight. Silakan menyimak kemiripan kedua lagu tersebut di bawah ini.

Forever Young

(Bob Dylan)

May God bless and keep you always
May your wishes all come true
May you always do for others
And let others do for you
May you build a ladder to the stars
And climb on every rung
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young

May you grow up to be righteous
May you grow up to be true
May you always know the truth
And see the lights surrounding you
May you always be courageous
Stand upright and be strong
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young

May your hands always be busy
May your feet always be swift
May you have a strong foundation
When the winds of changes shift
May your heart always be joyful
May your song always be sung
May you stay forever young
Forever young, forever young
May you stay forever young

Copyright © 1973 by Ram’s Horn Music; renewed 2001 by Ram’s Horn Music

Forever Young

(Jim Cregan, Kevin Savigar, Bob Dylan, Rod Stewart)

May the good Lord be with you
Down every road you roam
And may sunshine and happiness
surround you when you’re far from home
And may you grow to be proud
Dignified and true
And do unto others
As you’d have done to you

Be courageous and be brave
And in my heart you’ll always stay
Forever Young, Forever Young
Forever Young, Forever Young

May good fortune be with you
May your guiding light be strong
Build a stairway to heaven
with a prince or a vagabond

And may you never love in vain
and in my heart you will remain
Forever Young, Forever Young
Forever Young, Forever Young
Forever Young
Forever Young

And when you finally fly away
I’ll be hoping that I served you well
For all the wisdom of a lifetime
No one can ever tell

But whatever road you choose
I’m right behind you, win or lose
Forever Young, Forever Young
Forever Young ,Forever Young
Forever Young, Forever Young


Forever Young (1)

Tentu saja kita tidak sedang membicarakan tentang usaha MLM, melainkan tentang lagu dengan judul di atas. Sebenarnya, lagu berjudul Forever Young ditulis dan dinyanyikan pertama kali oleh Bob Dylan di tahun 1974 (akan kita bahas di jiid kedua), namun yang akan kita bahas di sini adalah lagu berjudul sama dengan isi berbeda yang dirilis oleh grup musik asal Jerman, Alphaville, di tahun 1984. Trio Marian Gold, Bernhard Lloyd, dan Frank Mertens kemungkinan besar terpengaruh oleh lagu Bob Dylan tersebut, bahkan pada awalnya mereka menamakan grup mereka Forever Young, sebelum mengambil nama dari sebuah film berjudul Alphaville.

Lagu ini populer sebagai pengiring dansa gara-gara baris pertama liriknya berbunyi: Let’s dance in style, let’s dance for a while… padahal secara keseluruhan liriknya bercerita tentang ketakutan akan penuaan dan kematian. Referensi perang dingin tercermin pada baris lirik:…hoping for the best but expecting the worst, are you gonna drop the bomb or not?… Lagu ini membawa kepopuleran Alphaville di dunia, kecuali di Amerika Serikat. Popularitas lagu ini di Amerika Serikat adalah berkat penggunaan lagu ini di beberapa film bioskop dan serial televisi, di antaranya Listen to Me, Napoleon Dynamite, Queer as a Folk, One Tree Hill, dan Passion. Selain itu, penyanyi Laura Branigan menyanyikan ulang lagu ini dalam albumnya Hold Me (1985) dan menggunakannya sebagai lagu penutup dalam konsernya.

Akhirnya, di tahun 2010, rapper Jay-Z menggunakan lagu ini sebagai basis bagi lagu hitnya berjudul Young Forever, dari albumnya The Blueprint 3. Penyanyi Mr Hudson menyanyikan lirik Forever Young di sela-sela Jay-Z nge-rap. Lagu ini menduduki posisi ke-10 di tangga lagu Amerika Serikat (Billboard) dan Inggris dan menjadi versi tersukses dari lagu Forever Young.

FOREVER YOUNG
(Marian Gold/Bernhard Lloyd/Frank Mertens)

Let’s dance in style, let’s dance for a while
Heaven can wait, we’re only watching the sky
Hoping for the best, but expecting the worst
Are you gonna drop the bomb or not?

Let’s just die young or let just live forever
We don’t have the power, but we never say never
Sitting in the sandpit, life is a short trip
The music’s for the sad man

Can you imagine when the races won?
Turn our golden faces into the sun
Praising our leaders, we’re getting in tunes
the music’s played by the, the mad man

Forever young, I want to be forever young
Do you really want to live forever?
Forever, and ever

Forever young, I want to be forever young
Do you really want to live forever?
Forever, forever young

Some are like the water, some are like the heat
Some are the melodies and some are the beat
Sooner or later they already gone
Why don’t they stay young?

It’s so hard to get old without a cause
I don’t want to perish like a fading horse
Youth’s like diamonds in the sun
and diamonds are forever!

So many adventures couldn’t happen today
So many songs we forgot to play
So many dreams swinging out of the blue
Oh, let them come true…


Perjalanan Franky Sahilatua Telah Berakhir

Hari ini, Rabu 20 April 2011 pukul 15.15 WIB, Indonesia kembali kehilangan salah satu musisi terbaiknya. Franky Hubert Sahilatua (kelahiran Surabaya, 16 Agustus 1953) meninggal dunia di RS Permata Hijau Jakarta akibat penyakit kanker sumsum tulang belakang yang telah beberapa waktu terakhir ini diidapnya. Penyakit ini pula yang praktis mengakhiri kiprah musisi, pencipta lagu, dan penyanyi yang dikenal dengan lagu-lagu berirama balada/folk/country sejak setahun terakhir. Seminggu sebelumnya, musisi Arie Wibowo dari grup Bill & Brod yang terkenal dengan lagu Madu dan Racun juga meninggal dunia karena serangan jantung.

Franky mengawali kariernya sebagai musisi di kota kelahirannya, antara lain berkolaborasi dengan musisi seperti Gombloh dan Leo Kristi dalam kelompok musik Lemon Tree’s Anno ’69. Bersama adiknya, Jane Sahilatua, Franky membentuk duo Franky & Jane, yang kemudian hijrah ke Jakarta untuk merekam album Kembalilah (1975), yang kurang sukses. Teguh Esha, penulis yang terkenal dengan karyanya Ali Topan Anak Jalanan, merekrut Franky & Jane untuk merekam album Balada Ali Topan (1976), yang mendapat sambutan baik. Jackson Record kemudian mengontrak Franky & Jane untuk merekam album Musim Bunga (1977) yang melejitkan nama Franky & Jane di blantika musik Indonesia, sampai-sampai album ini dianggap sebagai album pertama mereka. Dalam perjalanannya, Franky dan Jane masing-masing juga pernah merilis album solo, dengan juga melibatkan saudara mereka, Johnny Sahilatua. Setelah Jane menikah di tahun 1985, Franky lebih banyak tampil solo, selain berkolaborasi dengan musisi/seniman lain seperti Iwan Fals, Ian Antono, dan Emha Ainun Nadjib. Masih ingat dengan lagu Kemesraanyang sangat populer di akhir dekade 80-an? Lagu ini dikenal sebagai lagunya Iwan Fals, namun tahukah Anda bahwa lagu ini ditulis oleh dua bersaudara Franky dan Johnny Sahilatua?

Album Franky Sahilatua

Album Franky Sahilatua (sumber:http://sosok.kompasiana.com/2011/04/21/franky-sahilatua-bis-kota-sudah-menunggumu-selamat-jalan/)

Franky juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan juga menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum marginal dan minoritas, terutama saat-saat transisi politik 1998. Sampai akhir hayatnya, komitmen Franky tidak pernah luntur. Album-album terakhirnya, mulai dari Terminal, Anak Emas, Orang Pinggiran, Perahu Retak, dan Menangis adalah refleksi dari keprihatinannya terhadap kaum lemah. Tahun 2010 Franky dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement SCTV Awards atas dedikasinya di dunia musik Indonesia.

Sebagai penutup, Penulis ingin mengutip syair dari lagu Franky & Jane yang berjudul November sebagai berikut:

Jangan pikirkan akhir perjalanan ini,
Kemarin dan esok bukanlah batas dari waktu,
Di depan kita terbentang langit bebas,
Tak setiap jalan harus berakhir di ujung…


Selamat jalan Bung Franky! Terima kasih atas dedikasi, kreasi, dan karya-karya Anda selama ini.

Lebih Lanjut tentang Franky Sahilatua:


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.