Posted in Musik

Billy Vera, Artis Multitalenta

Naik turunnya karier bermusik seseorang tidak ditentukan oleh bakat dan kerja keras semata, namun juga keberuntungan. Menjadi seorang “one hit wonder” tidaklah selalu memalukan, apalagi jika hit itu terjadi akibat faktor keberuntungan yang dominan. Ambillah contoh seorang artis, musisi, komposer, dan aktor bernama Billy Vera. Terlahir dengan nama William McCord Jr. pada tahun 1944, ia mengawali kariernya sebagai penulis lagu dan vokalis di era 60-an. Salah satu lagunya Storybook Children mungkin cukup familiar di telinga penggemar lagu-lagu nostalgia (oldies). Lagu ini ditulisnya bersama Chip Taylor dan dinyanyikannya bersama vokalis wanita berkulit hitam, Judy Clay dan dirilis pada tahun 1967. Di luar itu, kariernya terhitung datar-datar saja. Di tahun 1979, lagu yang ditulisnya untuk Dolly Parton, I Really Got the Feeling, hanya menjadi sisi B (bonus track) untuk single Baby, I’m Burning. Di luar dugaan, publik lebih menyukai lagu karyanya, dan I Really Got the Feeling memuncaki tangga lagu Billboard Hot Country Singles di bulan Januari 1979.

Memasuki dekade 80-an, Billy bertemu teman lamanya, pemain bass Chuck Fiore. Keduanya sepakat membentuk band yang dinamakan The Beaters. Band ini kemudian dikontrak oleh label rekaman asal Jepang, Alfa Records dengan nama Billy & The Beaters. Album perdana mereka dirilis pad atahun 1981 dan single I Can Take Care of Myself menduduki posisi ke-39 di Billboard Hot 100. Namun, rilis single kedua mereka terganggu saat staf promosi Alfa Records mengundurkan diri. Single kedua mereka, At This Moment, hanya menduduki posisi ke-79. Setahun kemudian Alfa Records menutup operasinya di Amerika Serikat dan Billy & The Beaters pun kehilangan kontrak rekamannya. Band ini masih tampil di klub-klub seputar California. Suatu malam, produser serial televisi Family Ties menyaksikan penampilan mereka yang membawakan lagu At This Moment. Sang produser kemudian menggunakan lagu tersebut untuk salah satu episode di season ke-4 Family Ties. Lagu itu ternyata disukai oleh para penggemar Family Ties, sementara album Billy & The Beaters sudah tidak beredar di pasaran setelah label rekamannya gulung tikar. Billy kemudian menghubungi beberapa label, namun tak satu pun tertarik, sampai akhirnya ia bertemu Richard Foos, pemilik label Rhino Records. Foos setuju untuk mengedarkan ulang At This Moment, yang kemudian menjadi hit nomor satu di Billboard Hot 100 pada akhir Januari 1987  setelah kembali digunakan dalam season kelima Family Ties. Kali ini, nama yang digunakan adalah Billy Vera & The Beaters.

Billy Vera juga menjalani karier sebagai aktor, terutama televisi. Kesuksesan At This Moment membuat Billy Vera & The Beaters tampil dan mengisi oundtrack untuk film Blind Date (1987) yang dibintangi Bruce Wilis dan Kim Basinger. Selain itu, Billy Vera juga dikenal sebagai ahli sejarah musik dan banyak menulis catatan (liner notes) untuk album-album reissue dan boxset. Pada tahun 2013 ia memenangkan Grammy Award untuk Best Album Notes yang ditulisnya untuk Singular Genius: The Complete ABC Singles dari Ray Charles.

Posted in Musik

The Last Christmas of George Michael

Makna yang berbeda dari judul salah satu lagu terpopuler karya George Michael yang dibawakan bersama Andrew Ridgeley (Wham!) ini terngiang begitu mendengar kabar duka ini. Terlahir sebagai Georgios Kyriacos Panayiotou pada tanggal 25 Juni 1963 di London, ia bertemu Andrew Ridgeley saat keduanya bersekolah di Bushey Meads School. Keduanya membentuk Wham! di tahun 1981. Album perdana mereka, Fantastic (1982) menduduki posisi puncak di tangga lagu Inggris. Album kedua mereka, Make It Big (1984) membawa mereka merajai tangga lagu di seluruh dunia termasuk Amerika Serikat dengan lagu-lagu hit seperti Wake Me Up Before You Go Go, Freedom, Last Christmas, Everything She Wants, I’m Your Man, dan The Edge of Heaven. Tahun 1986 Wham! membubarkan diri, dan George Michael mulai bersolo karier dengan meluncurkan single I Want Your Sex.

Sebelum Wham! bubar, George Michael sebenarnya sudah mulai bersiap untuk solo karier dengan single seperti Careless Whisper dan A Different Corner. Di tahun 1987 George merilis album solo pertamanya, Faith. Album ini sukses terjual 25 juta kopi di seluruh dunia, memenangkan penghargaan Grammy untuk album terbaik, dan melahirkan hit seperti Faith, Father Figure, Monkey, Kissing a Fool, dan One More Try. Album keduanya, Listen Without Prejudice Volume 1 (1990) dibuat dengan ambisi untuk menunjukkan sisi lain dirinya sebagai artis yang serius. Hasilnya, album ini tidak sesukses Faith, meskipun masih melahirkan hit seperti Praying for Time dan Freedom ’90. Alhasil, tidak ada Listen Without Prejudice Volume 2. Yang terjadi adalah George Michael menuntut labelnya, Sony Music, karena dianggap tidak mempromosikan albumnya. Album-album George berikutnya seperti Older (1994), Songs from the Last Century (1999), Patience (2004), dan Symphonica (2014) masih mencetak sukses di Inggris dan Eropa, namun tidak banyak dikenal di Amerika Serikat. George justru lebih dikenal karena skandal di luar musik, terutama soal orientasi seksualnya. Selain solo karier dan Wham!, George Michael juga mencetak sukses lewat kolaborasinya dengan  Aretha Franklin (I Knew You Were Waiting), Elton John (Don’t  Let the Sun Go Down on Me), dan Queen/Lisa Stansfield (Somebody to Love/These Are the Days of Our Lives). Akhirnya, di hari natal 2016 George Michael meninggal dunia, selamat jalan, RIP.

Diskografi George Michael:

  • Fantastic (1982) – bersama Wham!
  • Make It Big (1984) – bersama Wham!
  • The Final (1986) – bersama Wham!
  • Music from the Edge of Heaven (1986) – bersama Wham! (hanya beredar di Amerika Serikat dan Jepang)
  • Faith (1987)
  • 12″ Mixes (1988) – bersama Wham!
  • Listen Without Prejudice Volume 1 (1990)
  • Five Live (1993) – bersama Queen dan Lisa Stansfield
  • Older (1994)
  • The Best of Wham!: If You Were There… (1995) – bersama Wham!
  • Ladies & Gentlemen: The Best of George Michael (1998)
  • Songs from the Last Century (1999)
  • Patience (2004)
  • Twenty Five (2006)
  • Symphonica (2014)
Posted in Musik

Greg Lake Meninggal Dunia (RIP)

Setelah meninggalnya Keith Emerson di bulan Maret, kini rekan segrupnya dalam trio ELP, Greg Lake, menyusul pada tanggal 7 Desember 2016. Pemain bass dan vokalis ELP itu meninggal pada usia 69 tahun (dilahirkan 10 November 1947) akibat penyakit kanker yang dideritanya. Lake mulai dikenal saat bergabung dengan grup King Crimson di tahun 1968 bersama sahabatnya Robert Fripp. Selain sebagai vokalis dan pemain bass, Lake juga bertindak sebagai produser untuk album perdana King Crimson, In the Court of the Crimson King (1969). Saat melakukan tur, Lake bertemu Keith Emerson, pemain kibor grup The Nice yang menjadi band pembuka. Keluarnya Mike Giles membuat Lake mulai tidak betah di King Crimson, meskipun ia bertahan sampai rilis album kedua King Crimson, In the Wake of Poseidon (1970). Emerson dan Lake kemudian sepakat untuk membentuk band baru. Setelah mempertimbangkan drumer The Jimi Hendrix Experience Mitch Mitchell, mereka akhirnya merekrut Carl Palmer (Atomic Rooster, The Crazy World of Arthur Brown) dan menamakan grup mereka Emerson, Lake & Palmer. Trio ini dikenal karena style mereka yang didominasi permainan dan aksi panggung Keith Emerson. Namun, beberapa komposisi Lake yang cenderung minimalis dan akustik juga banyak dikenal hingga sekarang, seperti Lucky Man, C’est La Vie, From the Beginning, dan I Believe in Father Christmas. Emerson, Lake & Palmer bubar di tahun 1979 setelah rilis album Love Beach. Di tahun 1985 Lake sempat menggantikan posisi John Wetton di supergrup Asia (dengan Carl Palmer sebagai drumer). Di tahun yang sama, ia kembali bersama Keith Emerson dan drumer Cozy Powell membentuk Emerson, Lake, and Powell. Di tahun 1992, Emerson, Lake & Palmer bereuni dan merilis album Black Moon (1992) dan In the Hot Seat (1994) sebelum kembali bubar di tahun 1998. Emerson, Lake & Palmer melakukan tur terakhirnya di tahun 2010.

Posted in Musik

Laura Branigan, Spesialis “Cover Version”

Penikmat musik era 80-an pasti mengenal Laura Branigan, penyanyi Amerika Serikat keturunan Irlandia ini. Dikenal berkat lagu-lagu dance electronic seperti Gloria dan Self Control, Branigan memulai kariernya sebagai vokalis grup beraliran folk rock Meadow di tahun 1972 yang beranggotakan Walker Daniels, Sharon Storm, dan Chris van Cleave. Meadow merilis album perdananya, The Friend Ship (1973), namun segera membubarkan diri setelah Daniels bunuh diri. Branigan akhirnya memulai karier solonya pada tahun 1979 saat menandatangani kontrak dengan Atlantic Record. Namun, kesuksesan baru dicapainya setelah merilis album Branigan (1982) dan single Gloria, yang aslinya adalah hit di Eropa di tahun 1979 yang ditulis dan dibawakan oleh artis asal Italia Umberto Tozzi. Gloria aslinya berlirik bahasa Italia, bercerita tentang kisah cinta dengan gadis imajiner bernama Gloria. Jonathan King menulis lirik versi Inggrisnya. Saat Branigan akan merekam versinya, ia dan produser Jack White berniat mengubah liriknya dari sudut pandang seorang gadis dan menyesuaikan judulnya menjadi Mario. Namun akhirnya, penulis lirik Trevor Veitch tidak mengubah judul lagu dan memilih menyesuaikan lirik dengan tema selain asmara. Gloria menjadi signature song Laura Branigan hingga kini, menduduki posisi kedua dan bertahan 36 pekan di Billboard Hot 100 dan memberikan nominasi Grammy baginya.

Album kedua Branigan 2 (1983) melejitkan hit Solitaire, yang aslinya ditulis dan dibawakan artis Prancis Martine Clemencau. Solitaire menduduki posisi ketujuh di Billboard Hot 100 dengan lirik bahasa Inggris yang ditulis oleh Diane Warren (hit top 10 pertamanya). Single kedua dari Branigan 2 adalah How Am I Supposed to Live Without You yang ditulis oleh Michael Bolton (hit pertamanya), menduduki posisi 12 di Billboard Hot 100 dan posisi pertama di Adult Contemporary Chart. Lagu ini mulanya ditulis Bolton untuk Air Supply, namun urung karena produser Clive Davis menginginkan perubahan pada liriknya. Akhirnya, lagu ini kemudian dibawakan oleh penciptanya di album Soul Provider (1989), menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100.

Album ketiganya, Self Control (1984) melejitkan hit berjudul sama, yang aslinya adalah hit di Eropa oleh artis Italia Raffaele Rifioli yang dikenal dengan nama panggungnya Raff. Dua versi lagu ini merajai tangga lagu di Eropa. Hit kedua dari album ini, The Lucky One, menduduki posisi ke-20 di Billboard Hot 100 dan menjuarai Tokyo Pop Festival di tahun 1984. Album berikutnya, Hold Me (1985) tidak sesukses album-album sebelumnya. Lagu andalan album ini yang ditulis oleh Michael Bolton, I Found Someone, hanya menduduki posisi ke-90 di Billboard Hot 100. Album ini lebih dikenang oleh cover version dari hit milik grup asal Jerman Alphaville, Forever Young. Album berikutnya, Touch (1987) kembali mengandalkan cover version, kali ini hit Jennifer Rush yang juga pernah dibawakan Air Supply,  Power of Love, menjadi hit top 40 terakhirnya di Amerika Serikat.

Dua album terakhirnya, Laura Branigan (1990) dan Over My Heart (1993) masih mencetak sukses di luar Amerika Serikat. Branigan menulis tiga lagu untuk album Over My Heart, salah satunya, Didn’t We Almost Win It All, dirilis sebagai single. Sang adik, Billy Branigan, membantu menulis lagu Over You, dan menjadi vokalis latar. Pada video klip Didn’t We Almost Win It All, Billy ikut tampil bersama sang kakak. Setelah rilis album ini, Branigan mengumumkan rehat dari dunia musik untuk merawat suaminya yang mengidap kanker usus, hingga akhirnya meninggal dunia di tahun 1996. Pada tahun 2001, Branigan mengumumkan akan kembali ke dunia musik, namun di tahun 2004 ia didiagnosis menderita aneurism otak, yang akhirnya merenggut nyawanya. Laura Ann Branigan meninggal dunia pada tanggal 26 Agustus 2004 pada usia 47 tahun di New York. RIP.

Posted in Musik

January Christy Tutup Mata

Krestini Anggraini Wiradisuria, yang dikenal dengan nama panggungnya January Christy, meninggal dunia pada 16 September 2016 dalam usia 58 tahun. Almarhumah sebelumnya diketahui mengidap penyakit paru-paru dan telah dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Kelahiran 17 Januari 1958 ini memulai kariernya di Jerman sebelum pulang ke Indonesia dan merekam album perdananya, Melayang (1986). Karakter suaranya yang unik, ditambah penampilannya yang cenderung androgyny ditambah lagu-lagunya yang catchy, langsung melejitkan namanya di blantika musik Indonesia tahun 80-an. Namun sebenarnya, ia sudah menyumbangkan suaranya untuk album Festival Lagu Populer Indonesia 1983, menyanyikan lagu berjudul Putaran Resah, yang kemudian direkam ulang untuk album ketiganya, Mana (1989). January Christy juga mengisi vokal pada album pertama band Karimata, Pasti (1986), berduet dengan Ricky Basuki pada lagu Yang Terjadi. Album keduanya melejitkan namanya lewat lagu yang identik dengan namanya, Aku Ini Punya Siapa? (1987). Ia masih merilis dua album lagi, Mana (1989) dan Tutup Mata (1991) yang tidak sesukses dua album sebelumnya. Sempat menghilang lama, January Christy merilis album kompilasi Collections (2001) dengan dua lagu baru: Putra Sang Fajar dan Tertawalah. Selamat Jalan, January Christy!

Posted in Musik

Memory of Bangkok

Perjalanan Penulis ke Bangkok baru-baru ini menyisakan sederet cerita, setumpuk foto, sedikit cenderamata, dan rasa lelah yang menyenangkan. Negara dengan bahasa dan aksara yang sangat asing, meskipun secara geografis dan kultur cukup dekat dengan Indonesia, termasuk iklim dan makanan. Faktor bahasa ini juga membuat musik dan film Thailand susah dinikmati selama di sana. Karena itu, yang teringat malah lagu-lagu berbahasa Inggris (dan Indonesia) mengenai Thailand, yang beberapa di antaranya akan dibagikan di bawah ini:

  1. Pantai Pattaya (Dara Puspita)
  2. A Passage to Bangkok (Rush)
  3. One Night in Bangkok (Murray Head)
  4. Made in Thailand, Made in USA (Memory of Bangkok)
  5. Pure Shores (All Saints), from “The Beach”
Posted in Musik

If You Could Read My Mind

Pertama kali Penulis mendengar lagu ini dinyanyikan oleh supergrup “Stars on 54” sebagai soundtrack dari film 54 (1998). Tidak pernah terbayang bahwa lagu ini adalah cover version dari penyanyi Kanada Gordon Lightfoot. Lagu ini adalah hit pertama Gordon di Amerika Serikat, menduduki posisi ke-5 di tangga lagu Billboard pada tahun 1970. Lagu yang liriknya diilhami kegagalan pernikahan penulisnya ini ternyata memiliki kemiripan dengan sebuah lagu inspiratif yang ditulis Michael Masser dan Linda Creed untuk film biopic Muhammad Ali, The Greatest (1977). Lagu itu berjudul The Greatest Love of All, yang dibawakan oleh George Benson, yang kemudian direkam ulang oleh Whitney Houston untuk album debutnya (1985). Di tahun 1987 Gordon Lightfoot mengajukan tuntutan hukum atas plagiarisme, sebelum menariknya kembali karena tidak ingin mengganggu perjalanan karier Whitney Houston.

If You Could Read My Mind
Written and Performed by Gordon Lightfoot

If you could read my mind love,
What a tale my thoughts could tell.
Just like an old time movie
About a ghost from a wishing well.
In a castle dark or a fortress strong
With chains upon my feet.
You know that ghost is me
And I will never be set free
As long as I’m a ghost that you can see.

If I could read your mind love,
What a tale your thoughts could tell.
Just like a paperback novel,
The kind the drugstore sells.
When you reach the part where the heartaches
Come the hero would be me.
Heroes often fail.
And you won’t read that book again
Because the endings just to hard to take.

I walk away like a movie star
Who gets burned in a three way script.
Enter number two, a movie queen
To play the scene of bringing all the good things out in me,
But for now love lets be real.

I never thought I could act this way
And I’ve got to say that I just don’t get it.
I don’t know where we went wrong
But the feelings gone and I just can’t get it back.

If you could read my mind love,
What a tale my thoughts could tell.
Just like an old time movie about a ghost from a wishing well.
In a castle dark or a fortress strong
With chains upon my feet the story always ends.
And if you read between the lines
You’ll know that I’m just trying to understand
The feeling that you left.

I never thought I could feel this way
And I got to say that I just don’t get it.
I don’t know where we went wrong
But the feelings gone
And I just can’t get it back.

Publisher: Warner/Chappell Music, Inc.