Piala Dunia dan Musik

Selama bulan Juni – Juli 2018, perhatian para bolamania akan tertuju pada even empat tahunan Piala Dunia FIFA. Diskusi mengenai pertandingan, formasi tim, pemain, pelatih, sampai WAG dan desain kostum mewarnai pergelaran sepak bola (olah raga?) terbesar ini. Namun jangan lupakan satu sisi dari pergelaran empat tahunan ini yaitu musik. Musik dan sepak bola, dan olah raga pada umumnya sudah menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Suporter klub atau negara menggunakan yel-yel, chant, sampai lagu untuk menyemangati timnya saat bertanding. Even olah raga besar seperti Olimpiade dan Piala Dunia FIFA sudah lama memasukkan musik sebagai bagiannya, dalam bentuk lagu/album resmi. Menurut rangkuman di Wikipedia, lagu resmi Piala Dunia FIFA bahkan sudah ada sejak tahun 1962 saat digelar di Chili. Saat itu sebuah lagu berjudul El Rock del Mundial ditetapkan sebagai lagu resmi Piala Dunia FIFA. Lagu itu ditulis oleh Jose Rojas Astorga dan dibawakan oleh band Los Ramblers (The Ramblers dalam Bahasa Inggris).

Selanjutnya, untuk Piala Dunia 1966 sampai 1986 lagu resminya adalah:

  • Inggris 1966: World Cup Willie (ditulis dan dibawakan oleh Lonnie Donegan)
  • Meksiko 1970: Fútbol México 70 (ditulis oleh Roberto do Nascimento, dibawakan oleh Los Hermanos Zavala)
  • Jerman Barat 1974: Futbol, Futbol, Futbol (ditulis oleh Jonasz Kofta dan Leszek Bogdanowicz, dibawakan oleh Maryla Rodowicz)
  • Argentina 1978: El Mundial (ditulis oleh Ennio Moriccone)
  • Spanyol 1982: El Mundial (ditulis oleh Alfredo Garrido dan José Torregrosa, dibawakan oleh Placido Domingo)
  • Meksiko 1986: A Special Kind of Hero (ditulis oleh Nik Kershaw, dibawakan oleh Stephanie Lawrence)

Piala Dunia FIFA 1990 di Italia untuk pertama kalinya(?) menampilkan album resmi Piala Dunia FIFA. Lagu resminya sendiri dirilis dalam dua versi, Bahasa Inggris dan Bahasa Italia. Versi Bahasa Inggris ditulis oleh Giorgio Moroder dan Tom Whitlock dengan judul To Be Number One (Summer 1990) dan dibawakan oleh Giorgio Moroder Project dengan vokalis utama Paul Engemann. Versi Bahasa Italia (liriknya) ditulis dan dibawakan oleh duo artis Italia Edoardo Benatto dan Gianna Nannini dengan judul Un’estate Italiana. Sampai saat ini, bagi Penulis lagu tema Piala Dunia 1990 inilah yang paling berkesan di telinga.

Selanjutnya, saat Piala Dunia FIFA 1994 digelar di Amerika Serikat, dirilislah album resmi Piala Dunia berjudul Gloryland, dengan lagu resmi berjudul sama, ditulis oleh Charlie Skarbek dan Rick Blaskey dan dibawakan oleh Daryl Hall (Hall & Oates) bersama Sounds of Blackness. Berbeda dengan lagu resmi di Piala Dunia sebelumnya (1990), Gloryland lebih terasa seperti lagu hymne yang serius dibanding To Be Number One yang lebih ngepop. Album Gloryland malah menawarkan lagu lawasnya Queen, We Are the Champions, sebagai salah satu lagu unggulan, yang tentu saja sedikit mengecewakan mengingat berjibunnya musisi populer di Amerika Serikat. Untunglah, empat tahun kemudian di Piala Dunia FIFA 1998 penggarapan album musiknya lebih serius, melibatkan banyak musisi dan vokalis dari seluruh dunia, dan hasilnya album resmi Piala Dunia 1998 Allez! Ola! Ole! menjadi album Piala Dunia yang tidak terlupakan. Kali ini ada dua lagu resmi Piala Dunia: Do You Mind If I Play (La Cour Des Grands) yang ditulis oleh Youssou N’Dour, Simon Richmond, Steve Hopwood, dan Jon Sharp serta dibawakan oleh Youssou N’Dour dan Axelle Red sebagai official anthem, serta The Cup of Life (La Copa de La Vida) yang ditulis oleh Desmond Childdan Robi Rosa serta dibawakan oleh Ricky Martin sebagai official song. Dari album Allez! Ola! Ole! Penulis mempunyai satu lagu favorit yaitu Top of the World  (Olé, Olé, Olé) yang dinyanyikan oleh band asal Inggris Chumbawamba. Lagunya sangat simpel, dengan lirik yang straightforward dan tentu saja refrein yang menggelora.

Untuk Piala Dunia selanjutnya, selalu dipilih dua lagu resmi sebagai official anthem dan official song. Berikut ini daftarnya:

  • Korea/Jepang 2002:
    • Official Anthem: Anthem (ditulis oleh Vangelis dan Takkyu Ishino, dibawakan oleh Vangelis)
    • Official Song: Boom! (ditulis oleh Anastacia dan Glenn Ballard, dibawakan oleh Anastacia)
  • Jerman 2006:
    • Official Anthem: Zeit dass sich was dreht (Celebrate The Day) (ditulis oleh Herbert Grönemeyer, dibawakan oleh Herbert Grönemeyer bersama Amadou & Mariam)
    • Official Song: Time of Our Lives (ditulis oleh Jörgen Elofsson dan Steve Mac, dibawakan oleh Il Divo dan Toni Braxton)
  • Afrika Selatan 2010:
    • Official Anthem: Sign of a Victory (ditulis oleh R. Kelly, dibawakan oleh R. Kelly dan Soweto Spiritual Singers)
    • Official Song: Waka Waka (This Time for Africa) (ditulis oleh John Hill, Golden Sound, dan Shakira, dibawakan oleh Shakira dan Freshlyground)
  • Brazil 2014:
    • Official Anthem: Dar um Jeito (We Will Find a Way) (ditulis oleh Alexandre Pires, Arash Pournouri, Rami Yacoub, Carl Falk, Tim Bergling, Arnon Woolfson, Diogo Vianna, dan Wyclef Jean, dibawakan oleh Carlos Santana, Wyclef Jean, Avicii, dan Alexandre Pires)
    • Official Song: We Are One (Ole Ola) (ditulis oleh Armando C. Perez, Thomas Troelsen, Jennifer Lopez, Claudia Leitte, Daniel Murcia, Sia Furler, Lukasz Gottwald, Henry Walter, dan Nadir Khayat, dibawakan oleh Pitbull, Jennifer Lopez, dan Claudia Leitte)
  • Rusia 2018: Live It Up (ditulis oleh Marty James, Will Smith, Jean-Baptiste, Thomas Wesley Pentz, Nick Rivera Caminero, Quavious Marshall, Jocelyn Donald, Clement Picard, Juan Diego Medina Vélez, Maxime Picard, Michael McHenry, dan Era Istrefi, dibawakan oleh Nicky Jam, Will Smith, dan Era Istrefi).

Selain lagu resmi, banyak juga beredar lagu-lagu bertema sepak bola/piala dunia saat berlangsungnya Piala Dunia di luar rilis resmi. Beberapa lagu yang cukup sukses menyaingi popularitas lagu-lagu resmi Piala Dunia di antaranya Carnaval de Paris (ditulis oleh Paul Spencer, Scott Rosser, dan Stephen Spencer, dibawakan oleh Dario G) serta Wavin’ Flag (Coca Cola Celebration Mix) (ditulis oleh K’naan, Bruno Mars, Philip Lawrence, dan Jean Daval, dibawakan oleh K’naan). Nah, manakah lagu Piala Dunia favorit Anda?

Iklan

Hari Moekti Telah Berpulang

Satu lagi kabar duka dari dunia musik Indonesia (semoga Pembaca tidak bosan). Hariadi Wibowo, yang dikenal dengan nama panggung Hari Moekti, meninggal dunia pada tanggal 24 Juni 2018 pada usia 61 tahun. Karier musiknya sudah dimulai di awal dekade 80-an sebagai vokalis di band Makara (bersama kakak beradik Andi Yulias dan Adi Adrian) dan Krakatau (bersama Dwiki Dharmawan dan Budhy Haryono). Masuk dapur rekaman bersama Makara di tahun 1986 lewat album Laron-laron, dengan hit Laron-laron dan Rosita (berduet dengan vokalis Makara lainnya, Mohammad Kadri). Album ini gagal meledak, dan Hari kemudian mulai melirik prosperk solo karier. Diawali penampilan dalam Festival Lagu Populer Indonesia 1987 saat ia menyanyikan lagu karya Tigor Gypsy, Dalam Kegelapan. Lagu ini tidak menjadi pemenang festival, Hari pun tidak memenangkan penghargaan penampilan terbaik, namun potensinya sebagai penyanyi solo mulai mencuat.

Akhirnya, pada tahun 1988 dirilislah album solo pertamanya, Tantangan. Meskipun persona dirinya adalah rocker, lagu yang menjadi hit dari album ini, Ada Kamu, adalah lagu pop dengan sentuhan lirik yang sedikit nyeleneh. Bayangkan baris lirik seperti “…walau kamu tal semancung gunung-gunung di belahan bumi pertiwi…” menjadi legendaris dibawakan oleh Hari Moekti. Atau caranya menyanyikan refrein lagu ini “…Adudududududududuh kau tak percaya, adudududududududuh mengapa kucinta, untuk kamu belahah dadaku ini saja…”. Album Tantangan ini memuat lagu-lagu yang tak kalah potensial sebagai hit, dengan lirik dan aransemen yang lebih mainstream seperti JJS Lintas Melawai dan Tantangan, tetap saja Ada Kamu menjadi signature-nya Hari Moekti sebagai artis solo. Pada Festival Lagu Populer Indonesia 1989 Hari Moekti membawakan lagu karya Dharma Oratmangun, Aku Suka Kamu Suka, bersama kelompok vokal Cantora Geronimo. Kali ini lagu itu menjadi pemenang kedua festival. Album solo keduanya, Nona Nona Nona (1990) memunculkan hit Nona Nona Nona, Hujan Rindu, dan Apel Pertama, disusul album (mini?) ketiganya Kita Masih (1991?). Pada tahun 1992 Hari merilis album kompilasi Maukah Kamu. Di tahun yang sama, Hari bergabung dengan band Adegan bersama Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Mathes, dan mantan gitaris Krakatau Donny Suhendra. Bersama Adegan, Hari merilis dua album, Langkah Berikutnya (1992) dengan hit Satu Kata, yang menjadi signature-nya Adegan, serta Waktu Berjalan (1995) dengan hit Ozone, yang sekaligus menjadi rilis terakhirnya sebagai penyanyi. Sejak tahun 1995 ia beralih menjadi pendakwah hingga meninggalnya di tahun 2018. Selamat jalan Hari Moekti.

Yockie Suryoprayogo, Petualang Musik Indonesia Itu Telah Berpulang

Yockie Suryoprayogo mungkin lebih dikenal sebagai (mantan) pemain kibor band God Bless. Sebagian lagi akan mengenalnya sebagai bagian dari supergrup Kantata Takwa bersama Setiawan Djody, WS Rendra, Iwan Fals, dan Sawung Jabo. Bagi mereka pemerhati musik akhir 70-an akan mengenalnya sebagai sosok di balik layar album Badai Pasti Berlalu yang fenomenal itu (bersama Erros Djarot, Chrisye, dan Fariz RM), juga sebagai penata musik album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors tahun 1977 dan 1978 yang melejitkan lagu-lagu seperti Lilin-lilin Kecil (James F. Sundah, dibawakan oleh Chrisye) dan Kidung (Chris Manusama, dibawakan Pahama). Bila ditelisik lebih dalam, Yockie juga berada di balik layar untuk album-album solo Chrisye (bersama Erros Djarot), Mel Shandy, Ita Purnamasari, dan masih banyak lagi. Selain God Bless dan Kantata Takwa, Yockie juga pernah tergabung dalam sejumlah band seperti Jaguar, Bentoel (bersama Ian Antono dan Teddy Sujaya), Giant Step, Mercy’s, Badai Band, Swami (album kedua), Suket, dll. Sempat merilis 8 album solo, beliau juga cukup aktif menulis di blognya, jsop.net

(foto: Instagram/@yockie_suryo_prayogo)

Dilahirkan di Demak pada tanggal 14 September 1954 dan meninggal pada tanggal 5 Februari 2018, sampai akhir hayatnya Yockie tetap bersemangat dalam memperjuangkan musik Indonesia. Ia tak segan-segan melakukan konfrontasi dengan siapapun saat berurusan dengan hak cipta lagu-lagunya, termasuk dengan mantan rekan-rekannya di God Bless. Di sisi lain, Yockie adalah musisi yang sangat terbuka dalam hal bekerja sama, sebagai musisi, komposer, arranger, atau produser. Selamat jalan Bung Yockie, karya-karyamu akan tetap dikenang sepanjang masa. Sebagai penutup, silakan menyimak 10 Lagu Yockie Pilihan Denny MR.

Dolores O’Riordan (The Cranberries) Meninggal

Sebuah kabar duka dari dunia music membuka tahun 2018. Vokalis dan penulis lagu grup band The Cranberries Dolores O’Riordan meninggal dunia di London hari ini. Dolores dilahirkan pada 6 September 1971 di Limerick, Irlandia. Dia bergabung dengan Noel Hogan, Mike Hogan, dan Fergal Lawler dalam band yang bernama The Cranberry Saw Us pada tahun 1990 setelah melalui audisi untuk menggantikan vokalis Niall Quinn. Mereka kemudian merekam demo yang salah satunya adalah versi awal dari lagu Linger dan Dreams, serta mengubah nama band menjadi The Cranberries.  Rilis album pertama mereka Everybody Else Is Doing It So Why Can’t We? (1992) dan single Dreams pada awalnya tidak menarik banyak perhatian. Baru setelah video music dari single kedua mereka, Linger, diputar di MTV The Cranberries mulai dikenal. Lagu ini diilhami pengalaman cinta pertama Dolores yang berakhir tragis saat cowok yang menciumnya pada satu malam memilih mengajak temannya untuk berdansa pada keesokan harinya. Linger menembus posisi ke-8 di Billboard Hot 100 dan album perdana mereka menduduki posisi pertama di Inggris. Album kedua mereka, No Need to Argue (1992) terjual 17 juta kopi di seluruh dunia dan single Zombie membuat mereka dikenal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Setelah merilis tiga album susulan, The Cranberries vakum sejak tahun 2003. Dolores kemudian merilis dua album solo, Are You Listening? (2007) dan No Baggage (2009). The Cranberries kembali bergabung di tahun 2009 dan merilis album Bualadh Bos: The Cranberries Live. Tiga tahun kemudian mereka merilis album studio pertama mereka dalam 11 tahun, Roses. Tahun 2017 mereka merilis album Something Else yang berisi tiga lagu baru dan sisanya lagu-lagu hits lama mereka yang dibawakan secara akustik. RIP Dolores, thanks for everything, your voice will still linger in our ears.

We’re All Alone

Lagu ini dikenal sebagai signature song artis Rita Coolidge yang merilisnya pada tahun 1977 pada album Anytime Anywhere. Lagu ini berhasil menduduki posisi ke-7 di Billboard Hot 100 dan posisi ke-6 di Inggris dan hingga kini identik dengan Rita Coolidge sebagai penyanyinya. Sebenarnya, lagu ini ditulis dan direkam oleh penyanyi lain, Boz Scaggs, dalam album tersuksesnya Silk Degrees (1976). Boz menulis sendiri lagu ini, meskipun ada kabar bahwa musiknya ditulis oleh David Paich, pemain kibor untuk album Silk Degrees yang kemudian membentuk band Toto bersama dua musisi lain yang juga mengiringi album ini, Jeff Porcaro (drum) dan David Hungate (bass). Album Silk Degrees sendiri melejit berkat dua lagu hit di dalamnya: Lowdown dan Lido Shuffle. We’re All Alone yang menjadi trek terakhir dalam album ini tidak dirilis sebagai singel, hanya menjadi bonus (side B) dari singel Lido Shuffle, meskipun di Australia lagu ini dirilis sebagai double A-side bersama Lowdown dan menduduki posisi 54. Hingga akhirnya Jerry Moss dari A&M Records menyarankan pada Rita Coolidge untuk merekamnya dalam album yang sedang dikerjakan pada waktu itu.

Meskipun kedua artis ini menyanyikan lagu ini dengan aransemen dan nada dasar yang sama, hasil akhirnya terdengar berbeda. Vokal Rita yang smooth terasa menenangkan, sedangkan vokal Boz lebih bertenaga dan terdengar melankolis. Rilis kedua versi yang hampir bersamaan sempat menimbulkan ide untuk menduetkan keduanya seperti yang kemudian dilakukan pada lagu You Don’t Bring Me Flowers oleh Neil Diamond dan Barbra Streisand.

We’re All Alone
written by William R. Royce “Boz” Scaggs

Outside the rain begins
And it may never end
So cry no more
On the shore, a dream
Will take us out to sea
Forever more, forever more

Close your eyes and dream
And you can be with me
‘Neath the waves
Through the caves of ours
Long forgotten now
We’re all alone, we’re all alone

Close the window, calm the light
And it will be all right
No need to bother now
Let it out, let it all begin
Learn how to pretend

Once a story’s told
It can’t help but grow old
Roses do, lovers too
So cast your seasons to the wind
And hold me, dear
Oh, hold me, dear

Close the window, calm the light
And it will be all right
No need to bother now
Let it out, let it all begin
All’s forgotten now
We’re all alone, oh, we’re all alone

Close the window, calm the light
And it will be all right
No need to bother now
Let it out, let it all begin
Owe it to the wind
My love

© 1977 Spirit Music Group

Happy Centennial… Dame Vera Lynn

Tidak banyak dari kita yang mencapai usia 100 tahun, apalagi mereka yang berstatus artis/selebriti. Vera Margaret Welch, yang dikenal dengan nama panggungnya Vera Lynn, dilahirkan pada tanggal 20 Maret 1917 di Inggris. Ini berarti seminggu lagi, beliau akan merayakan ulang tahun ke-100 (centennial). Vera mulai tampil di publik pada usia tujuh tahun dengan menggunakan nama keluarga neneknya, Lynn. Pada tahun 1936 ia merekam singel pertamanya, Up the Wooden Hill to Berfordshire. Vera Lynn dikenal luas setelah merekam lagu We’ll Meet Again di tahun 1939. Lagu yang ditulis oleh Ross Parker dan Hughie Charles ini lmenjadi populer di kalangan prajurit selama Perang Dunia II. Dalam sebuah polling Vera menjadi penyanyi terfavorit di antara pasukan Inggris selama perang dan memberinya julukan “The Forces’ Sweetheart” Lagu lainnya yang terkenal di masa perang adalah (There’ll be Bluebirds Over) The White Cliffs of Dover yang bercerita tentang skuadron pesawat tempur sekutu. Selama perang, Vera meluncurkan program radio khusus untuk mengirim pesan bagi prajurit Inggris yang bertempur di garis depan. Pada tahun 1943, Vera membintangi film We’ll Meet Again bersama aktor Geraldo.

Setelah perang, Vera melanjutkan kariernya di dunia musik. Di tahun 1952, ia menjadi artis Inggris pertama yang menduduki posisi pertama di tangga lagu Amerika Serikat lewat lagu Auf Wiederseh’n Sweetheart. Sedangkan di Inggris Vera juga menempatkan hit nomor satu My Son, My Son di tahun 1954. Pada tahun 2009 album kompilasinya, Well Meet Again: The Very Best of Vera Lynn menduduki posisi pertama di Inggris, menjadikannya artis tertua yang menduduki posisi pertama di tangga album Inggris pada usia 92 tahun. Pada tahun 2014, album kompilasinya National Treasure: Ultimate Collection menduduki posisi ke-13 di Inggris. Untuk ulang tahunnya ke-100 direncanakan untuk perilisan album Vera Lynn 100 yang berisi aransemen baru lagu-lagu hitnya. Selain itu, juga akan dirilis album Her Greatest from Abbey Road yang berisi rekaman lagu-lagu hitnya yang dibuat di studio legendaris Abbey Road, ditambah lima rekaman yang belum pernah dirilis sebelumnya.

Vera Lynn menerima beberapa penghargaan dari kerajaan Inggris atas jasa-jasanya selama Perang Dunia II, termasuk Dame Commander of the Order of the British Empire (DBE) pada tahun 1975. Grup rock Pink Floyd dalam albumnya The Wall (1979) merekam lagu berjudul Vera, yang liriknya mengacu pada Vera Lynn dan hit populernya We’ll Meet Again:

Does anybody remember Vera Lynn?
Remember how she said that we would meet again, some sunny day?
Vera! Vera! what has become of you?
Does anybody else in here feel the way I do?

Close (Y)Our Eyes…Tommy Page

Akhirnya blog ini benar-benar berubah menjadi rangkaian obituari artis/musisi era 70an-90an. Meskipun telah berusaha menyeleksi, Penulis tidak bisa mengabaikan rentetan kabar duka sepanjang dua tahun terakhir ini. Kabar terakhir menyebutkan bahwa penyanyi, penulis lagu, dan eksekutif musik Tommy Page meninggal dunia pada 3 Maret 2017 lalu, diduga bunuh diri. Terlahir sebagai Thomas Alden Page di New Jersey, USA pada tanggal 24 Mei 1970, pada usia 16 tahun ia bekerja sebagai penjaga titipan mantel di sebuah klub di New York ketika demo tapenya yang dimainkan oleh DJ setempat menarik perhatian Seymour Stein, pemilik label Sire Records. Dua tahun kemudian ia menulis lagu untuk film Shag dan album perdananya dirilis, dengan singel A Shoulder to Cry on menembus Billboard Hot 100 di posisi ke-29. Page kemudian menjadi pembuka tur New Kids on the Block dan bersama dua personel NKOTB Jordan Knight dan Danny Wood ia menulis lagu I’ll Be Your Everything. Lagu itu ditawarkan kepada Jordan untuk dibawakan NKOTB sebelum akhirnya Page memutuskan untuk merekamnya sendiri untuk album keduanya Paintings on My Mind (1990). Personel NKOTB lainnya, Donnie Wahlberg memproduksi trek ini bersama Jordan Knight dan musisi/produser Michael Jonzun. I’ll Be Your Everything berhasil menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 pada minggu kedua April 1990. Album-album Tommy Page selanjutnya tidak mampu menyamai sukses album keduanya, namun popularitasnya di Asia masih cukup tinggi. Page kemudian melanjutkan sekolahnya dan menjadi eksekutif di bidang musik setelah lulus. Ia bekerja di Warner Bros, Billboard, Pandora, dan terakhir menjabat sebagai Vice President of musical partnership untuk Village Voice. Ia meninggalkan tiga anak bersama partnernya, Charlie. Di masa jayanya, Tommy Page adalah ikon musik bagi remaja (putri) bersama New Kids on the Block.