Dschinghis Khan (Huh…Hah!)

Sebuah kepingan dari masa lalu, atau masa kecil di akhir dekade 70-an dan awal 80-an. Saat musik yang didengarkan tidak melulu karya musisi lokal, namun juga mancanegara. Menariknya, sebagian besar yang terekam di ingatan ternyata adalah artis-artis Eropa, terutama ABBA dan Boney M. Bagi seorang anak kecil, semua artis mancanegara itu sama, atau istilah orang “bule” atau dalam Bahasa Jawa, “londho”. Perbedaannya tentu pada lirik lagu yang berbahasa Inggris (meskipun beberapa musisi Indonesia pernah merilis lagu berlirik Bahasa Inggris). Baru kemudian kita tahu bahwa grup ABBA berasal dari Swedia, sedangkan Boney M beranggotakan artis-artis dari Karibia (Jamaika, Montserrat dan Aruba) dan dibentuk oleh produser asal Jerman (Frank Farian), serta tak satupun anggotanya (ataupun produsernya) bernama Boney!.

Namun, ada satu lagu yang selama ini masih memancing rasa penasaran, satu lagu berirama disko berbahasa bukan Inggris yang satu-satunya potongan lirik yang teringat adalah kurang lebih seperti ini: “…Hey hey Jenghis Khan…” dan vokal latarnya hanyalah teriakan Huh, hah, huh, hah. Untunglah di era masa kini tidak sulit melacak lagu-lagu lama, cukup mengandalkan Google, Wikipedia plus YouTube. Dan ternyata ingatan sepotong-potong itu tidak jauh meleset dari kenyataan. Alhasil, muncullah judul lagu yang dicari: Dschinghis Khan oleh grup dengan nama yang sama. Setelah menyimak lebih lanjut, ternyata grup ini mempunyai latar belakang yang bak persilangan antara ABBA dan Boney M. Seperti Boney M, Dschinghis Khan dibentuk oleh produser asal Jerman Ralph Siegel. Seperti ABBA, grup ini mengawali kariernya dari kontes musik Eurovision. Di tahun 1979, Ralph Siegel menulis lagu berjudul Dschinghis Khan (ejaan Jerman untuk Jenghis Khan) untuk mengikuti kontes Eurovision mewakili Jerman dengan lirik yang ditulis oleh Bernd Meuninger. Untuk membawakannya, ia membentuk grup yang beranggotakan enam orang yang bukan hanya berasal dari Jerman: Steve Bender dan Wolfgang Heichel keduanya memang asli Jerman, namun istri Heichel, Henriette Strobel berasal dari Belanda. Berikutnya ada dua artis asal Hungaria: Edina Pop dan Leslie Mándoki, dan Louis Hendrik Potgier, seorang penari asal Afrika Selatan.

Lagu (dan grup) Dschinghis Khan kemudian terpilih untuk mewakili Jerman pada kontes Eurovision 1979 yang diselenggarakan di Israel. Meskipun mendapat sambutan meriah dari penonton saat tampil, perwakilan Jerman akhirnya hanya menduduki posisi keempat. Namun demikian, itu cukup untuk mengantar mereka masuk dapur rekaman untuk merilis album pertama mereka Dschinghis Khan (1979). Singel pertama mereka, Dschinghis Khan, menduduki posisi pertama di Jerman. Singel kedua mereka, Moskau, juga sukses menduduki posisi ketiga di Jerman. Menyusul sukses di daratan Eropa, grup ini mulai mencoba menembus pasar internasional dengan merilis ulang lagu-lagu mereka dalam Bahasa Inggris. Versi Bahasa Inggris dari Moskau yang berjudul Moscow mencetak sukses di Australia setelah dijadikan lagu tema liputan Olimpiade Moskow 1980 di stasiun televisi Channel 7. Moscow menduduki posisi pertama selama enam pekan di tangga lagu Australia. Mereka merilis tiga album susulan: Rom (1980), Wir sitzen alle im selben Boot (1981), Helden, Schurken & der Dudelmoser (1982), dan Corrida (1983) sebelum membubarkan diri. Di tahun 1986 tiga anggota mereka, Henriette Heichel, Leslie Mándoki, dan Louis Potgier kembali menyanyikan lagu Wir gehör’n zusammen untuk kontes Eurovision atas nama Dschinghis Khan Family. Mereka hanya menduduki posisi kedua pada tahap kualifikasi untuk Jerman.

Louis Potgier meninggal dunia pada tahun 1994. Leslie Mándoki bersolo karier dan tidak pernah terlibat lagi dalam Dschinghis Khan. Pada tahun 2005, empat personel Dschinghis Khan: Wolfgang Heichel, Henriette Strobel, Edina Pop, dan Steve Bender bereuni dengan melakukan konser di stadion Olimpiade Moskow. Stefan Track menjadi personel kelima Dschinghis Khan dalam konser tersebut menggantikan Louis Potgier. Steve Bender meninggal dunia pada tahun 2006. Di tahun 2007, Dschinghis Khan merilis album 7 Leben, 24 tahun sejak album studio terakhir mereka. Setelah itu, Dschinghis Khan kembali vakum hingga tahun 2018 saat lagu Moskau direkam ulang untuk pergelaran Piala Dunia sepak bola di Moskow. Sejak itu, ada dua versi Dschinghis Khan, yang pertama menampilkan Henriette Strobel dan Edina Pop, yang kedua dengan Wolfgang Heichel dan Stefan Track (yang juga mempunyai projek spin-off dari Dschinghis Khan bernama Rocking Son). Hal ini, ironisnya, juga menimpa Boney M, yang masing-masing personelnya memiliki versi grup Boney M-nya masing-masing. Pada tahun 2021 Dschinghis Khan versi Wolfgang Heichel merilis album baru yang berjudul Here We Go. Sebagai penutup, selamat mendengarkan dua versi lagu Dschinghis Khan dalam Bahasa Indonesia!

Antara Brandy dan Mandy

Mungkin banyak yang beranggapan bahwa kita akan membicarakan soal dua penyanyi wanita: Brandy Norwood dan Mandy Moore, atau yang lebih generik lagi mengenai soal minuman keras dan kegiatan setelah bangun tidur (dalam lagu berjudul Bangun Tidur yang bukan dinyanyikan oleh Mbah Surip). Tapi sayangnya, kali ini kita akan membicarakan soal lagu. Sebagian dari kita tentu mengenal lagu berjudul Mandy. Penggemar musik tahun 90-an/2000-an mengenal lagu ini saat dibawakan oleh boyband asal Irlandia, Westlife, sementara generasi 70-an dan 80-an mengenalnya sebagai lagu hit yang dibawakan oleh penyanyi Barry Manilow. Namun ternyata penulis lagu dan yang membawakannya pertama kali adalah musisi Scott English di tahun 1971. Ia menulis lagu ini bersama Richard Kerr dengan judul Brandy (!).

Lalu mengapa Brandy berubah menjadi Mandy? tentu bukan akibat operasi plastik atau semacamnya. Saat dirilis pertama kali, lagu Brandy ini tidak terlalu sukses, hanya menduduki posisi ke-91 di Billboard Hot 100, sedangkan di Inggris lebih baik dengan mencapai posisi ke-12. Di tahun 1972, band pendatang baru Looking Glass merilis album perdananya, Looking Glass, dengan singel andalannya yang berjudul Brandy (You’re a Fine Girl). Nah, lagu ini sukses mencapai posisi pertama di Billboard Hot 100.

Saat Barry Manilow hendak merekam ulang lagu Brandy dari Scott English ini di tahun 1974, ia mengubah judulnya menjadi Mandy untuk menghindari kebingungan antara lagu ini dengan hit dari band Looking Glass di atas. Ternyata, versi Barry Manilow ini lebih sukses dibandingkan versi aslinya karena berhasil mencapai posisi pertama di Billboard Hot 100. AKhirnya, lagu ini pun lebih dikenal bukan dengan judul aslinya.

Fakta menarik bahwa Scott English konon menulis lagu Brandy karena terinspirasi ucapan seseorang saat mabuk minuman brandy di Prancis, “Brandy goes down fine after dinner, doesn’t she”. Saat ditanyai seorang reporter yang menelponnya pagi-pagi buta, Scott menjawab dengan agak kesal bahwa lagu Brandy ditulis untuk anjing kesayangannya. Setelah lagu Looking Glass (yang jelas-jelas menyatakan Brandy sebagai nama seorang gadis) menjadi hit, popularitas nama Brandy sebagai nama anak perempuan meroket di Amerika Serikat, yang mungkin juga mengilhami nama penyanyi Brandy Norwood. Meski demikian, belum ada konfirmasi apakah popularitas lagu Mandy saat dinyanyikan oleh Barry Manilow meroketkan popularitas nama Mandy untuk anak perempuan dan mengilhami nama penyanyi Mandy Moore (yang nama panjangnya Amanda Leigh Moore itu).

Oddie Agam (1953 – 2021)… Akhirnya

Kabar duka kembali mewarnai dunia musik Indonesia. Imran Madjid, atau lebih dikenal dengan Oddie Agam, meninggal dunia pada 27 Oktober 2021 karena sakit. Oddie Agam dikenal sebagai musisi, vokalis, dan pencipta lagu yang populer di akhir 80-an hingga awal 90-an. Sebelum meniti karier di Indonesia, Oddie mengawalinya sebagai musisi di luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Australia. Di Australia, ia sempat bergabung dengan band rock White Stallion Band dan band reggae Dumbala, Pada awal kariernya, ia merilis album perdananya, Aku Kau & Dia pada tahun 1983, Bellina pada tahun 1984, disusul album keduanya, Gadis Sentimentil (1986). Kedua album itu bisa dikatakan gagal di pasaran , meskipun lagu Gadis Sentimentil cukup populer di radio-radio saat itu. Namun ternyata karier sebagai penulis lagu yang akan menjadikannya legenda. Sebuah lagu ciptaannya yang berjudul Antara Anyer dan Jakarta mula-mula direkam oleh Atiek CB dan dijadikan lagu andalan dari album berjudul sama yang dirilis pada tahun 1986. Sayangnya, album dan lagu ini tidak berhasil menjadi hit. Setahun kemudian penyanyi asala Malaysia Sheila Majid merekam album keduanya yang berjudul Emosi. Oddie Agam adalah satu-satunya komposer non-Malaysia yang terlibat di sini, menyumbangkan dua lagu: Antara Anyer dan Jakarta dan Tua Sebelum Waktunya, Tanpa diduga, Antara Anyer dan Jakarta kali ini menjadi hit, mengantarkan Sheila Majid menjadi penyanyi yang terkenal di Indonesia, sekaligus melejitkan nama Oddie Agam sebagai komposer lagu hit. Sejak itu, Oddie menjadi salah satu hitmaker di era yang disebut pop kreatif akhir dekade 80-an. Silakan menyimak daftar lagu hit hasil karya Oddie Agam di bawah ini:

  1. Surat Cinta (Vina Panduwinata)
  2. Puncak Asmara (Utha Likumahuwa)
  3. Kesempatan (Oddie Agam & Dewi Yull)
  4. Bahasa Cinta (Broery Pesolima & Vina Panduwinata)
  5. Arti Kehidupan ((Mus Mujiono)
  6. Aku Cinta Padamu (Itang Yunasz)
  7. Memori (Ruth Sahanaya)
  8. Begitulah Cinta (Harvey Malaihollo & Vina Panduwinata)
  9. Tanda Tanda (Mus Mujiono)
  10. Anak Sekolah (Chrisye)
  11. Koq Jadi Gini (Hetty Koes Endang)
  12. Ujung Rambut ke Ujung Kaki (Chintami Atmanagara)
  13. Mau Tak Mau (Harvey Malaihollo)
  14. Logika (Vina Panduwinata)
  15. Bojoku (Anggun C. Sasmi)

Sebagai vokalis pun Oddie Agam juga mampu membawakan karya musisi lain dengan baik, salah satunya adalah lagu berjudul Akhirnya. Lagu ciptaan Younky Soewarno dan Deddy Dhukun ini pertama kali dirilis dalam album solo Deddy Dhukun berjudul Hu Wi Yu. Warna religi dalam lagu ini membuat lagu ini tak lekang dimakan zaman.

ABBA Voyage: They’re Back!

Siapa yang tak kenal ABBA? Penggemar musik (pop) era 70-an pasti tidak asing dengan kuartet asal Swedia ini. Popularitas ABBA di dekade 70-an bisa disejajarkan dengan popularitas The Beatles di dekade 60-an, terutama di Inggris. Meskipun telah “bubar” di tahun 1982, ABBA masih tetap populer, album-album mereka masih laris terjual, lagu-lagu mereka masih banyak didengarkan, terutama setelah peluncuran drama musikal Mamma Mia! (1999) yang kemudian difilmkan pada tahun 2008 dan dibintangi oleh Meryl Streep, Colin Firth, dan Pierce Brosnan. Pada saat peluncuran film Mamma Mia! inilah keempat personel ABBA berkumpul kembali sejak tahun 1986. Setelah berulang kali para personelnya menolak tawaran untuk reuni, pada tahun 2016 diumumkan bahwa ABBA akan bereuni dan melakukan tur, menggunakan teknologi digital untuk menampilkan proyeksi para personel sewaktu mereka masih muda, yang disebut “ABBAtars”. Pada tahun 2018, keempat personel ABBA mengumumkan bahwa mereka telah merekam dua lagu baru yang akan dirilis pada tahun 2019. Proyek ini kemudian ditunda hingga tahun 2021 akibat pendemi COVID-19. Akhirnya pada 2 September 2021 ABBA mengumumkan album baru mereka yang berjudul Voyage yang akan dirilis pada 5 November 2021. Dua singel baru, I Still Have Faith in You dan Don’t Shut Me Down juga dirilis pada saat bersamaan. Video musik untuk I Still Have Faith in You menampilkan teknologi ABBAtars pada bagian akhirnya.

Pada video di bawah ini Anda bisa menyaksikan proses di balik pembuatan ABBAtars, dan juga pembuatan album Voyage.

Mengenang Scatman John (1942-1999)

Kalau di Indonesia kita mengenal Mbah Surip, seorang seniman/musisi yang terkenal di usia lanjut, dan kemudian meninggal dunia, di dunia internasional kita mengenal seorang Scatman John, seorang pianis jazz yang sukses sebagai “rapper” atau tepatnya scat singer. Bernama asli John Paul Larkin, ia mengawali kariernya sebagai pianis jazz di tahun 70-an dan 80-an. Album solo perdananya dirilis pada tahun 1986 dengan judul John Larkin. Pada tahun 1990-an ia pindah ke Berlin, Jerman dan bertemu dengan seorang produser Tony Catania, yang menyarankannya untuk memadukan scat singing dengan musik dance/hip-hop. John, yang agak gagap dalam berbicara sebelumnya suka menambahkan scat singing pada penampilan livenya, sempat takut akan ditertawakan oleh penontonnya. Namun istrinya berhasil meyakinkannya dan ia pun merekam singel perdananya, Scatman (Ski-Ba-Bop-Ba-Dop-Bop) pada bulan November 1994 yang mencetak sukses di mana-mana, termasuk posisi ketiga di tangga lagu Inggris dan top 10 di tangga lagu Billboard Hot Dance Club Play (posisi ke-60 di Billboard Hot 100). Sejak itu, ia lebih dikenal sebagai Scatman John.

Singel keduanya, Scatman’s World, menembus posisi ke-10 di tangga lagu Inggris melanjutkan sukses singel pertamanya. Di usis 53 tahun, Larkin menjadi superstar kelas dunia. Album pertamanya, yang juga berjudul Scatman’s World, terjual di atas sejuta kopi di seluruh dunia. Album keduanya, Everybody Jam! (1996) tidak sesukses album pertamanya, namun berhasil mendapat perhatian di Jepang. Album ketiganya, Take Your Time (1999) dirilis sebelum kematiannya akibat kanker paru-paru di akhir tahun 1999. Selamat jalan Scatman John.

Jim Steinman (1947 – 2021), Heaven Can’t Wait

Now the bat is finally back into hell? of course, good girls (and men) go to heaven and bad girls (and men) go everywhere. James Richard Steinman, lebih dikenal dengan panggilan Jim, adalah musisi dan penulis lagu kelahiran New York, Amerika Serikat yang dikenal dengan gaya “bombastis”. Melejit lewat album Bat Out of Hell (1977) yang seluruh lagu di dalamnya ditulis oleh Jim Steinman, diproduksi oleh Todd Rungren, dan dinyanyikan oleh Marvin Lee Aday, atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Meat Loaf. Album ini pada awalnya ditolak oleh setiap label rekaman saat ditawarkan, kemudian menjadi salah satu album terlaris sepanjang masa dengan lebih dari 40 juta kopi terjual. Hubungan Jim Steinman dan Meat Loaf mewarnai karier keduanya seolah drama opera sabun: antara cinta dan benci. Album Bad for Good (1981), ditulis untuk Meat Loaf sebagai follow-up album Bat Out of Hell, terpaksa direkam oleh Jim sendiri karena Meat Loaf kehilangan suaranya. Jim dan Meat Loaf kemudian kembali bekerja sama dalam album Dead Ringer (1981) yang gagal mengulang sukses Bat Out of Hell. Kemudian, Jim memilih bekerja sama dengan artis lain seperti Bonnie Tyler dan Sisters of Mercy dan merilis album konsep Original Sin (1989), sementara Meat Loaf bekerja sama dengan produser asal Jerman Frank Farian. Keduanya kembali bekerja sama untuk album Bat Out of Hell II: Back to Hell (1993) yang melahirkan hit nomor satu I’d Do Anything for Love (But I Won’t Do That). Empat belas tahun kemudian Meat Loaf merilis album Bat Out of Hell III: The Monster Is Loose, tanpa campur tangan Jim Steinman. Peluncuran album ini diikuti sengketa hukum seputar pemakaian judul “Bat Out of Hell”.

Tentu saja, Meat Loaf bukanlah satu-satunya artis yang sukses membawakan karya-karya Jim Steinman, meskipun mungkin yang paling identik. Berikut ini sejumlah lagu hit yang ditulis oleh Jim Steinman: Total Eclipse of the Heart (Bonnie Tyler), Making Love Out of Nothing at All (Air Supply), It’s All Coming Back to Me Now (Celine Dion), No Matter What (Boyzone, ditulis bersama Andrew Lloyd Webber). Selain musik , Jim Steinman juga banyak terlibat dalam drama musikal, di antaranya The Dream Engine (1969), More Than You Deserve (1973), The Confidence Man (1976), dan Neverland (1977). Faktanya, Jim Steinman dan Meat Loaf bertemu pertama kali di proyek drama musikal More Than You Deserve. Ia kemudian menulis lirik untuk karya musikal Andrew Lloyd Webber, Whistle Down the Wind (1997), kemudian menulis musik untuk drama musikal Tanz der Vampire (1997). Setelah berjuang bertahun-tahun, akhirnya musikal Bat Out of Hell (2017) yang berisikan lagu-lagu yang pernah ditulisnya, mulai dipentaskan pada tahun 2017. Jim Steinman juga menulis lagu untuk soundtrack film Footloose (Holding Out for a Hero) dan Streets of Fire (Tonight Is What It Means to Be Young), selain The Shadow (Original Sin).

Membicarakan Jim Steinman, setiap yang mendengar lagu (hit) karyanya akan mengenali ciri khas penulisan lagunya: musik yang menggelegar (ciri khas power ballad) dan lirik dengan repetisi yang cukup untuk merentang lagu-lagu karyanya menjadi sangat panjang, di atas lima menit, versi album I’d Do Aything for Love bahkan sepanjang 12 menit. Ia juga dikenal sangat menyukai repetisi, bukan hanya lirik dalam lagunya, namun juga dalam hal lagu karyanya yang dibawakan ulang oleh artis lain: It’s All Coming Back to Me Now dan Original Sin aslinya dibawakan oleh Pandora’s Box sebelum dibawakan Celine Dion dan Taylor Dayne, sebelum akhirnya dinyanyikan Meat Loaf, Total Eclipse of the Heart dibawakan ulang oleh Nicki French, Meat Loaf sendiri menyanyikan ulang hampir semua karya Jim Steinman yang sebelumnya dibawakan artis lain. Gaya bermusiknya banyak dikritik namun sejujurnya, tidak ada yang mampu menulis karya-karya seperti Jim Steinman dan sukses. Seperti potongan lirik dalam salah satu karyanya: “…It ‘s a dirty job but somebody’s gotta do it…”. Hanya ada satu Jim Steinman, dan hanya ada satu style musik ala Jim Steinman. Jim pernah terkena stroke pada tahun 2004 yang mempengaruhi kemampuannya untuk bicara. Ia mengalaminya lagi pada tahun 2017. Ia meninggal pada tanggal 19 April 2021 akibat gagal ginjal. Ia meninggalkan sederet karya musik yang telah menginspirasi generasi demi generasi, you won’t be forgotten, Mr. Jim Steinman, it’s just heaven can’t wait much longer… the beat is yours forever, that’s when rock and roll dreams come through

Diane Warren #1s Playlist

  • Starship – Nothing’s Gonna Stop Us Now (1987) US #1, UK #1
  • Aswad – Don’t Turn Around (1988) US #45, UK #1
  • Taylor Dayne – Love Will Lead You Back (1989) US #1, UK #69
  • Bad English – When I See You Smile (1989) US#1, UK #61
  • Milli Vanilli – Blame It on the Rain (1989) US #1, UK #52
  • Chicago – Look Away (1989) US #1, UK #77
  • Celine Dion – Because You Loved Me (1996) US #1, UK #5
  • Toni Braxton – Un-Break My Heart (1996) US #1, UK #2
  • Brandy – Have You Ever? (1998) US #1, UK #13
  • Aerosmith – I Don’t Want to Miss a Thing (1998) US #1, UK #4
  • LeAnn Rimes – Can’t Fight the Moonlight (2000) US #11, UK #1
  • Lou Ottens, Penemu Kaset (dan CD) Meninggal Dunia

    Mungkin tidak banyak yang memperhatikan saat kabar ini pertama menyebar. Lodewijk Frederik Ottens, seorang engineer di perusahaan elektronik Philips, meninggal dunia pada 6 Maret 2021 di usia 94 tahun. Lou Ottens dilahirkan di Bellingwolde pada tahun 1926 dan sangat menggemari elektronik sejak muda. Saat pendudukan Jerman di Perang Dunia II, ia merakit radio sendiri untuk menerima siaran Radio Oranje, lengkap dengan antena yang dirancang khusus untuk menghindari pengacak sinyal milik Jerman. Ottens mulai bekerja di Philips pada tahun 1952, kemudian dipromosikan ke bagian pengembangan produk pada tahun 1960.

    Lou Ottens dan Ciptaannya (sumber: nrc.nl)

    Ottens kemudian mengembangkan kaset (cassette tape) untuk mengatasi kelemahan reel-to-reel tape yang besar dan berat, sehingga tidak mudah digunakan atau dibawa-bawa. Ia kemudian mengembangkan casing seukuran kantung baju/celana, sehingga mudah untuk dibawa ke mana-mana. Pada tahun 1963, kaset mulai diperkenalkan pada pameran elektronik, yang menarik perhatian sejumlah pengunjung asal Jepang. Beberapa waktu kemudian, muncullah produk serupa kaset di Jepang, namun dengan ukuran yang lebih besar. Ottens merasa ini tidak sesuai dengan tujuannya menciptakan kaset, sehingga ia meyakinkan Philips untuk melisensikan desain kaset kepada Sony dan membuatnya menjadi standar industri. And the rest is history…

    Perbandingan Reel-to-Reel dan Cassette Tape (sumber: imagefilms.net)

    Kaset pun menjadi format rekaman populer, terutama karena lebih murah dan praktis dibandingkan priringan hitam, selain kapasitasnya yang lebih besar (60 – 90 menit musik pada kaset dibandingkan 45 menit pada piringan hitam). Kaset juga lebih mudah direkam, sehingga muncullah trend “mixtape” yaitu merekam lagu-lagu pilihan dari koleksi piringan hitam ke dalam satu kaset. Bila generasi sekarang mengenal playlist di layanan streaming musik, generasi “ABG” mempunyai mixtape sebagai playlist pada zaman itu. Di Indonesia, kaset menjadi format utama untuk distribusi musik dan untuk mengakomodasi pembuatan mixtape, muncullah produk double deck tape recorder yang bisa merekam dari satu kaset ke kaset lain.

    Double Deck Tape (Compo) (Sumber: jualo.com)

    Ottens kemudian menjadi direktur audio pada Philips NatLab pada tahun 1972 yang saat itu mulai mengembangkan Compact Disc (CD). Lewat kerja sama dengan Sony, CD akhirnya distandardisasi pada tahun 1980. Ottens akhirnya pensiun di tahun 1986. Ia sempat mengungkapkan kekecewaan pada perusahan tempatnya bekerja, Philips, yang dinilainya kurang inovatif dibandingkan perusahaan Jepangg seperti Sony. Produk walkman, yang dikembangkan pertama kali oleh Sony, menurutnya adalah aplikasi paling ideal untuk kaset. Sony juga meluncurkan produk CD setahun lebih dulu dibandingkan Philips pada 1982. Ia juga mengkritik kebangkitan kembali piringan hitam (dan kaset) di kalangan konsumen (khususnya audiophile). Menurut pendapatnya, suara yang dihasilkan piringan hitam tidaklah lebih baik dibandingkan CD, dan kesan “hangat” yang didapatkan penggemar piringan hitam adalah sepenuhnya psikologis.

    Lawnosta Playlist: Bee Gees Covers

    How Can You Mend a Broken Heart? (Al Green, 1972)

    Don’t Forget to Remember (Skeeter Davis, 1973)
    To Love Somebody (Michael Bolton, 1992)
    I Started a Joke (Faith No More, 1995)
    Too Much Heaven (Jordan Hill, 1996)
    Words (Boyzone, 1996)
    How Deep Is Your Love (Take That, 1997)
    Tragedy (Steps, 1998)
    More Than a Woman (911, 1999)
    Emotion (Destiny’s Child, 2001)

    Gerry Marsden (1942 – 2021)

    Well, untuk mengawali tahun 2021 ini, satu lagi kabar duka dalam dunia musik dengan meninggalnya musisi Gerry Marsden. Ia mungkin tidak begitu dikenal di Indonesia, begitu pula band yang didirikannya di tahun 60-an, Gerry and the Pacemakers. Namun, saat Anda menyebut lagu You’ll Never Walk Alone, hampir semua orang terutama pemerhati sepak bola, khususnya fan klub Inggris Liverpool FC akan mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Lagu tersebut bukanlah karya Marsden, melainkan duo Richard Rogers dan Oscar Hammerstein II yang menulisnya untuk pertunjukan musikal Carousel di tahun 1945. Lagu tersebut menjadi terkenal dan direkam ulang oleh sejumlah artis, namun versi Gerry and the Pacemakers-lah yang menjadi versi definitif, terutama bagi fan klub Liverpool FC.

    Gerry Marsden dilahirkan di Liverpool pada 24 September 1942 dan mendirikan band Gerry and the Mars Bars pada ahun 1959 bersama saudaranya Freddie (drum), Les Chadwick (bass) dan Arthur McMahon (piano, digantikan oleh Les Maguire di tahun 1961). Mereka berharap mendapatkan sponsor dari produsen coklat Mars Bar, namun alih-alih Mars corporation malah menuntut mereka. Gerry and the Mars Bars akhirnya berganti nama menjadi Gerry and the Pacemakers. Band ini kemudian mengasah kemampuan mereka di klub Tavern dan juga di Hamburg, Jerman bersama band asal Liverpool lainnya, The Beatles. Kedua band ini kemudian menandatangani kontrak manajemen dengan Brian Epstein. Saat merekam single petama dan keduanya, The Beatles menolak merilis lagu karya Mitch Murray, How Do You Do It?, dan memilih lagu-lagu karya Lennon/McCartney, Love Me Do dan Please Please Me. Lagu How Do You Do It? kemudian direkam oleh Gerry and the Pacemakers dan dirilis sebagai single perdana mereka. Alhasil, Love Me Do mencapai posisi ke-17 dan Please Please Me menduduki posisi kedua sementara How Do You Do It? menduduki posisi pertama. Dua single Gerry and the Pacemakers berikutnya, I Like It (juga ditulis oleh Mitch Murray) dan You’ll Never Walk Alone juga menduduki posisi pertama yang menjadikan mereka artis pertama yang menempatkan tiga single pertamanya di posisi pertama tangga lagu Inggris. Band asal Liverpool lainnya, Frankie Goes to Hollywood menyamai pencapaian ini di tahun 1985.

    And the rest is history… The Beatles kemudian mencetak hit nomor satu lewat single ketiganya, From Me to You, dan mencapai sukses yang bertahan hingga kini. Gerry and the Pacemakers, yang saat itu dianggap sebagai rival terberat The Beatles, tidak pernah lagi mencetak hit nomor satu, hanya tiga hit top 10: I’m the One (posisi ke-2), Don’t Let the Sun Catch You Crying (posisi ke-6) dan Ferry Cross the Mersey (posisi ke-8), ketiganya ditulis oleh Gerry Marsden. Gerry and the Pacemakers akhirnya bubar di tahun 1967, dan dibentuk kembali tahun 1972. Setelah itu, Gerry Marsden bermain dalam pertunjukan musikal Charlie Girl, dan merekam ulang dua hitnya untuk keperluan amal: You’ll Never Walk Alone (1985) setelah tragedi kebakaran stadion Bradford dan Ferry Cross the Mersey (1989) setelah kerusuhan di stadion Hillsborough. Kedua rilis tersebut menduduki posisi pertama di tangga lagu Inggris. Gerry Marsden meninggal dunia pada 3 Januari 2001, meninggalkan seorang istri dan dua putri.