Eva Cassidy, Ternama Setelah Tiada

Alkisah seorang artis penyanyi, yang selama hidupnya berjuang untuk meniti karier. Sambil menyanyi untuk beberapa band dan musisi, ia masih harus bekerja untuk menyambung hidup. Hasil kerjanya ditabung sedikit demi sedikit untuk merintis karier musiknya, seperti menbiayai rekaman demo album. Pada akhirnya, kerja kerasnya mulai menampakkan hasil. Sebuah album kolaborasi dengan musisi lain sudah dirilis, satu album studio siap diedarkan, dan satu pertunjukan langsung sudah didokumentasikan. Namun, tak dinyana cobaan pun datang menerpa. Gejala penyakit yang selama ini diabaikan seiring kerja kerasnya merintis karier ternyata awal dari penyakit mematikan. Saat disadari, semuanya sudah terlambat, dan ia harus menyerah pada keganasan penyakit yang dideritanya. Karier musik yang baru dirintis pun harus berakhir. Hasil kerja kerasnya seolah bakal sia-sia dan terlupakan. Ternyata, kini namanya menjadi legenda dan album-albumnya laris di pasaran, hal yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Yup, kita sedang membicarakan seorang penyanyi bernama Eva Cassidy.

Terlahir dengan nama Eva Marie Cassidy di tahun 1963, ia mulai bermain musik sejak kanak-kanak. Ayahnya mengajarkan cara bermain gitar saat Eva berusia 9 tahun. Pada tahun 1986 ia diajak oleh gitaris David Lourim, yang pernah bersama-sama tergabung di band Stonehenge, untuk menyumbangkan vokalnya di proyek band terakhirnya Method Actor. Di sinilah Eva bertemu dengan pemain bass Chris Blondo yang kemudian mengenalkannya kepada Al Dale yang kemudian menjadi managernya. Blondo kemudian membawa rekaman vokalnya kepada Chuck Brown, yang tertarik untuk mengajaknya rekaman. Album duet Chuck Brown dan Eva Cassidy The Other Side dirilis pada tahun 1992. Selama periode ini, Eva berusaha mendapatkan kontrak rekaman, namun tak satu pun yang dirasanya sesuai. Akhirnya, dengan mencairkan tabungan hasil kerja sampingannya, Eva merekam albumnya sendiri secara live di Blues Alley, Washington DC. Album Live at Blues Alley dirilis pada tahun 1996, album terakhir yang dirilisnya selama ia masih hidup. Penyakit melanoma yang dideritanya sejak tahun 1993 akhirnya merenggut nyawanya. Eva Cassidy meninggal di akhir tahun 1996 pada usia 33 tahun.

Album studio perdananya, Eva by Heart, dirilis setahun berikutnya (1997). Pada tahun 1998 album kompilasi Songbird dirilis dan selama dua tahun praktis tidak mendapat perhatian sampai Terry Wogan mulai memainkan lagu-lagu dari album ini dalam acara radio BBC Wake Up to Wogan di tahun 2000. Di akhir tahun 2000 sebuah klip video penampilan Eva di Blues Alley menyanyikan Over the Rainbow ditayangkan di acara Top of the Pops 2. Segera saja album Songbird melesat ke puncak tangga lagu di Inggris. Sejumlah dokumenter tentang Eva ditayangkan di saluran televisi dan penjualan album-albumnya meroket. Jika sebelumnya ia hanya sempat merilis tiga album (salah satunya diedarkan setelah meninggal), sampai saat ini tak kurang dari 17 album Eva Cassidy telah dirilis, termasuk album live, kompilasi, dan bootleg (rilis tidak resmi). Album-album ini laris terjual (10 album di antaranya tersertifikasi gold dan platinum), tiga di antaranya menduduki posisi pertama di Inggris (Songbird, Imagine, dan American Tune), sebuah prestasi yang jarang dicapai artis lain yang masih hidup. Penyanyi Katie Melua yang mengidolakannya, merekam lagu What a Wonderful World dan merilisnya sebagai duet bersama versi yang dinyanyikan Eva Cassidy. Hasilnya, lagu ini menduduki posisi pertama di tangga lagu Inggris di akhir tahun 2007.

Diskografi

Album Studio

  • The Other Side (bersama Chuck Brown) (1992)
  • Eva by Heart (1997)
  • Time After Time (2000)
  • Imagine (2002)
  • Somewhere (2008)
  • Simply Eva (2011) – Album Akustik

Album Live

  • Live at Blues Alley (1996)
  • American Tune (2003)
  • Nightbird (2015) – versi lengkap dari Live at Blues Alley

Kompilasi

  • Songbird (1998)
  • Wonderful World (2004)
  • The Best of Eva Cassidy (2012)
  • Acoustic (2017)
  • Songbird 20 (2018) – Rilis ulang Songbird dengan 4 bonus acoustic track

Unofficial Releases

  • Live at Pearl’s (1994) – direkam di Pearl’s Restaurant Annapolis, Maryland
  • No Boundaries (2000) – koleksi rekaman studio pada periode tahun 1987 – 1991
  • Method Actor (2002) – album studio band Method Actor pada tahun 1988, dengan vokal Eva pada setiap track

Video

  • Eva Cassidy Sings (2004)
Iklan

R.I.P. James Ingram (1952 – 2019)

Meskipun sudah (sangat) terlambat, tidak ada salahnya kita kali ini membahas salah satu vokalis R&B terdepan di era 80-an dan 90-an, James Ingram, yang meninggal pada tahun 30 Januari 2019 lalu akibat penyakit kanker otak. Terlahir dengan nama James Edward Ingram, ia memulai karier sebagai pemain kibor untuk grup Revelation Funk. Setelah bandnya bubar, James Ingram kemudian bekerja serabutan, menjadi musisi latar, penyanyi demo, dan pengarah musik untuk sejumlah penyanyi. Akhirnya, kesempatan datang saat salah satu demo yang dinyanyikannya, sebuah lagu karya Barry Mann dan Cynthia Weil berjudul Just Once sampai ke tangan produser ternama Quincy Jones. Jones kemudian mengajaknya untuk terlibat dalam proyek albumnya yang berjudul The Dude (1981). James Ingram menyanyikan dua lagu dalam album itu, Just Once dan One Hundred Ways, ditambah duetnya bersama Michael Jackson untuk menyanyikan The Dude. Kedua lagu yang dinyanyikannya berhasil menembus Top 20 di tangga lagu Billboard, memberikannya tiga nominasi Grammy Award, dan memenangkan satu di antaranya (Penampilan R&B Pria Terbail untuk One Hundred Ways). Di tahun 1982, James menyanyikan Baby, Come to Me berduet dengan Patti Austin. Lagu ini berhasil menembus posisi pertama di Billboard Hot 100 setelah muncul di tayangan serial TV General Hospital. Album solo pertamanya, It’s Your Night dirilis tahun 1983 dan memunculkan hit How Do You Keep the Music Playing? (kembali berduet dengan Patti Austin) dan Yah Mo B There (duet dengan Michael McDonald). Lewat penampilannya bersama Michael McDonald untuk lagu Yah Mo B There ia meraih penghargaan Grammy Award untuk Penampilan duo atau grup R&B Terbaik. Pada tahun 1986 album keduanya, Never Felt So Good, dirilis. Setahun kemudian James Ingram berduet dengan Linda Ronstadt untuk lagu tema film animasi An American Tail, Somewhere Out There. Lagu ini menduduki posisi kedua di Billboard Hot 100 dan memenangkan Grammy Award untuk Song of the Year (diberikan kepada penulis lagunya, James Horner, Barry Mann, dan Cynthia Weil). Mengakhiri dekade 80-an, album ketiganya, It’s Real dirilis pada tahun 1989.

James Ingram kembali bekerja sama dengan Quincy Jones dalam album Back on the Block (1990) membawakan lagu The Secret Garden (Sweet Seduction Suite) bersama Barry White, Al B Sure, dan El DeBarge. Album tersebut kemudian memenangkan penghargaan Grammy Award untuk Album of the Year. Di tahun yang sama, James Ingram akhirnya mencapai posisi pertama Billboard Hot 100 lewat lagu I Don’t Have the Heart, hit nomor satu keduanya dan yang pertama sebagai artis solo. Ia mendapat dua nominasi Golden Globe dan Oscar untuk Best Original Song: The Day I Fall in Love (bersama Cliff Magness dan Carole Bayer Sager) dari film Beethoven’s 2nd (1994) dan Look at What Love Has Done (bersama James Newton Howard, Carole Bayer Sager, dan Patty Smyth) dari film Junior (1995). Album keempatnya, Always You, dirilis pada tahun 1993. Album terakhirnya, Stand (in the Light), dirilis pada tahun 2008. Selain sebagai vokalis dan musisi, James Ingram juga dikenal sebagai penulis lagu. Salah satunya, P.Y.T. (Pretty Young Thing) direkam oleh Michael Jackson dalam album Thriller (1982) dan diunggulkan dalam Grammy Award untuk Lagu R&B Terbaik. Selamat jalan, James Ingram, terima kasih atas semuanya.

Diskografi:

Album Studio:

  • It’s Your Night (1983)
  • Never Felt So Good (1986)
  • It’s Real (1989)
  • Always You (1993)
  • Stand (in the Light) (2008)

Kompilasi:

  • Greatest Hits: The Power of Great Music (1991)
  • Forever More: Long Songs, Hits & Duet (1999)

Soundtrack (Songs Appear on Movie/TV Series):

  • Just Once (The Last American Virgin)
  • Baby, Come to Me (General Hospital)
  • How Do You Keep the Music Playing? (Best Friends)
  • Somewhere Out There (An American Tail)
  • One More Time (Sarafina!)
  • Where Did My Heart Go? (City Slickers)
  • The Brightest Star (Precious Moment’s Timmy’s Gift)
  • The Day I Fall in Love (Beethoven’s 2nd)
  • Our Time Has Come (Cats Don’t Dance)
  • When You Love Someone (Forget Paris)

Lagu Hit sebagai Komposer:

  • P.Y.T. (Pretty Young Thing) oleh Michael Jackson
  • Look What Love Has Done oleh Patyty Smyth (lagu tema film Junior)

Top 10 Rap Sampling

  1. Gangsta’s Paradise (Coolio featuring L.V.), sampled from Pastime Paradise (Stevie Wonder)
  2. Set Adrift on a Memory Bliss (P.M. Dawn), sampled from True (Spandau Ballet)
  3. I’ll Be Missing You (Puff Daddy featuring Faith Evans & 112), sampled from Every Breath You Take (The Police)
  4. Ghetto Supastar (Pras Michel featuring Mya), sampled from Islands in the Stream (Kenny Rogers & Dolly Parton)
  5. Stan (Eminem featuring Dido), sampled from Thank You (Dido)
  6. U Can’t Touch This (MC Hammer), sampled from Superfreak (Rick James)
  7. Ice Ice Baby (Vanilla Ice), sampled from Under Pressure (Queen & David Bowie)
  8. Looking Through Patient Eyes (P.M. Dawn), sampled from Father Figure (George Michael)
  9. Dilemma (Nelly featuring Kelly Rowland) sampled from Love, Need and Want You (Patti Labelle)
  10. Good Vibration (Marky Mark & The Funky Bunch) sampled from Love Sensation (Loleatta Holloway)

Fenomena Viral “Africa” (by Toto)

Mereka yang lahir, dibesarkan, dan mengalami era 80-an, terutama di tahun 1982-83 tentu mengenal band asal California, Amerika Serikat, Toto. Didirikan pada tahun 1978 oleh sekumpulan musisi session (studio) seperti Jeff Porcaro, David Paich, Steve Lukather, Steve Porcaro, David Hungate, dan vokalis Bobby Kimball, album perdana mereka, Toto (1978), melahirkan hit Hold the Line yang menduduki posisi kelima di tangga lagu Billboard. Toto juga dinominasikan sebagai pendatang baru terbaik dalam ajang penghargaan Grammy Award. Dua album berikutnya, Hydra (1979) dan Turn Back (1980) melahirkan sejumlah hit seperti 99 dan Goodbye Elenore, namun gagal mengulangi sukses album perdana dan singel Hold the Line. Pihak label mereka pun “mengancam” untuk memutus kontrak mereka jika album selanjutnya gagal di pasaran. Sesi rekaman album Toto selanjutnya pun menjadi ajang pertaruhan masa depan band ini. Di antara lagu yang direkam untuk album mereka yang kemudian dirilis dengan judul Toto IV itu adalah sebuah lagu yang kemudian dikenal sebagai Africa. Ditulis oleh David Paich dan Jeff Porcaro, lirik lagu ini mencerminkan proses pembuatannya, mengenai seorang yang menulis tentang benua Afrika tanpa pernah menginjakkan kakinya di sana. David Paich menulis lirik lagunya diilhami oleh advertorial Unicef mengenai kelaparan di Afrika dan percakapannya dengan para misionaris yang pernah bertugas di Afrika, dimana mereka merestui (blessing) segala sesuatu, termasuk hujan. Personel Toto yang lain membenci (lirik) lagu ini dan ramai-ramai menolak lagu ini dimasukkan dalam album Toto IV. Bagi Steve Porcaro dan Steve Lukather, bait lirik tentang Serengiti dan …I bless the rains down in Africa… tidak masuk akal. Seorang eksekutif CBS (label rekaman Toto) meyakinkan grup ini bukan hanya untuk memasukkan Africa dalam Toto IV, tapi juga merilisnya sebagai singel. Africa akhirnya dimasukkan dalam Toto IV, direkam paling akhir dan ditempatkan di urutan terakhir dalam album tersebut, dengan lagu unggulan mereka, Rosanna, di urutan pertama. And the rest is history… Africa menjadi hit nomor satu di tangga lagu Billboard pada awal tahun 1983, mengalahkan hit mereka sebelumnya Rosanna, yang memenangkan penghargaan Grammy Award untuk Rekaman Terbaik, yang hanya menduduki posisi kedua di tahun 1982.

Popularitas Toto sejak itu terus menurun, bahkan sempat membubarkan diri di tahun 2008 sebelum muncul kembali dua tahun kemudian, namun hit-hit mereka, terutama Africa masih tetap menjadi lagu yang mencerminkan dekade 80-an. Tak dinyana, di tahun 2018 ini lagu itu kembali menjadi perbincangan dan  menjadi fenomena viral di internet dan media. Berawal dari penggunaan lagu ini dalam serial Netflix, Stranger Things, seorang penggemar band Weezer “meneror” band idolanya itu untuk membawakan lagu ini (cover version). Makan waktu enam bulan, termasuk rilis lagu Rosanna (hit Toto yang lain) oleh Weezer sebelum rilis Africa oleh Weezer di bulan Mei 2018 lengkap dengan video klip yang dibintangi oleh “Weird Al” Yankovic. Africa versi Weezer ini menduduki posisi ke-51 di Billboard Hot 100 dan posisi pertama di Billboard Alternative Songs Airplay Chart. Toto kemudian merilis cover version lagu Weezer, Hash Pipe, sebagai balasannya. Fenomena online juga melibatkan akun (bot) Twitter, @africabytotobot yang menge-twit sebaris lirik lagu ini tiap hari sejak Agustus 2016, situs ibless.therains.downin.africa yang memainkan video klip lagu ini terus-menerus (looping) sejak Agustus 2017, sederet cover version, dan juga internet meme.  Africa juga diperdengarkan di PBB saat penganugerahan Lifetime Achievement Award kepada uskup Desmond Tutu dan saat pemakaman Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Lagu ini tercatat sudah didengarkan 400 juta kali via Spotify dan sejumlah yang hampir sama disaksikan video klipnya via YouTube. Terima kasih pada fenomena ini, Africa yang sebelum tersertifikasi Gold di tahun 1991 kini tersertifikasi Platinum. Bless the rains in Africa indeed…

(NB: Jangan lewatkan penampilan live Toto di Johannesburg, Afrika Selatan saat membawakan Africa di akhir tulisan ini)

Africa
(David Paich / Jeff Porcaro)
I hear the drums echoing tonight
But she hears only whispers of some quiet conversation
She’s coming in, 12:30 flight
The moonlit wings reflect the stars that guide me towards salvation
I stopped an old man along the way
Hoping to find some long forgotten words or ancient melodies
He turned to me as if to say,
“Hurry boy, it’s waiting there for you”
It’s gonna take a lot to take me away from you
There’s nothing that a hundred men or more could ever do
I bless the rains down in Africa
Gonna take some time to do the things we never had
The wild dogs cry out in the night
As they grow restless, longing for some solitary company
I know that I must do what’s right
As sure as Kilimanjaro rises like Olympus above the Serengeti
I seek to cure what’s deep inside, frightened of this thing that I’ve become
It’s gonna take a lot to drag me away from you
There’s nothing that a hundred men or more could ever do
I bless the rains down in Africa
Gonna take some time to do the things we never had
Hurry boy, she’s waiting there for you
It’s gonna take a lot to drag me away from you
There’s nothing that a hundred men or more could ever do
I bless the rains down in Africa
I bless the rains down in Africa
(I bless the rain)
I bless the rains down in Africa
(I bless the rain)
I bless the rains down in Africa
I bless the rains down in Africa
(Ah, gonna take the time)
Gonna take some time to do the things we never had

© Sony/ATV Music Publishing LLC, Kobalt Music Publishing Ltd

 

Lawnosta Playlist 4: Father’s Day

  1. The Living Years (Mike + The Mechanics)
  2. Cats in the Cradle (Harry Chapin)
  3. Father and Son (Cat Stevens)
  4. Papa Can You Hear Me? (Barbra Streisand)
  5. Wake Me Up When September Ends (Green Day)
  6. Titip Rindu Buat Ayah (Ebiet G. Ade)
  7. Ayah (Koes Plus)
  8. Ayah (Rinto Harahap)
  9. Dance with My Father (Luther Vandross)
  10. Why Should I Cry for You? (Sting)

Lawnosta Playlist 3: Stay

  1. Stay (I Missed You) (Lisa Loeb & Nine Stories)
  2. Stay (Shakespears Sister)
  3. Stay (Sugarland)
  4. Stay with Me (Sam Smith)
  5. Stay on These Roads (a-ha)
  6. Stay with Me (Peter Cetera)
  7. Stay the Same (Joey McIntyre)
  8. Stay (Eternal)
  9. Stay (Faraway, So Close!) (U2)
  10. Stay Another Day (East 17)
  11. BONUS: Stayin’ Alive (Bee Gees)

Piala Dunia dan Musik

Selama bulan Juni – Juli 2018, perhatian para bolamania akan tertuju pada even empat tahunan Piala Dunia FIFA. Diskusi mengenai pertandingan, formasi tim, pemain, pelatih, sampai WAG dan desain kostum mewarnai pergelaran sepak bola (olah raga?) terbesar ini. Namun jangan lupakan satu sisi dari pergelaran empat tahunan ini yaitu musik. Musik dan sepak bola, dan olah raga pada umumnya sudah menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Suporter klub atau negara menggunakan yel-yel, chant, sampai lagu untuk menyemangati timnya saat bertanding. Even olah raga besar seperti Olimpiade dan Piala Dunia FIFA sudah lama memasukkan musik sebagai bagiannya, dalam bentuk lagu/album resmi. Menurut rangkuman di Wikipedia, lagu resmi Piala Dunia FIFA bahkan sudah ada sejak tahun 1962 saat digelar di Chili. Saat itu sebuah lagu berjudul El Rock del Mundial ditetapkan sebagai lagu resmi Piala Dunia FIFA. Lagu itu ditulis oleh Jose Rojas Astorga dan dibawakan oleh band Los Ramblers (The Ramblers dalam Bahasa Inggris).

Selanjutnya, untuk Piala Dunia 1966 sampai 1986 lagu resminya adalah:

  • Inggris 1966: World Cup Willie (ditulis dan dibawakan oleh Lonnie Donegan)
  • Meksiko 1970: Fútbol México 70 (ditulis oleh Roberto do Nascimento, dibawakan oleh Los Hermanos Zavala)
  • Jerman Barat 1974: Futbol, Futbol, Futbol (ditulis oleh Jonasz Kofta dan Leszek Bogdanowicz, dibawakan oleh Maryla Rodowicz)
  • Argentina 1978: El Mundial (ditulis oleh Ennio Moriccone)
  • Spanyol 1982: El Mundial (ditulis oleh Alfredo Garrido dan José Torregrosa, dibawakan oleh Placido Domingo)
  • Meksiko 1986: A Special Kind of Hero (ditulis oleh Nik Kershaw, dibawakan oleh Stephanie Lawrence)

Piala Dunia FIFA 1990 di Italia untuk pertama kalinya(?) menampilkan album resmi Piala Dunia FIFA. Lagu resminya sendiri dirilis dalam dua versi, Bahasa Inggris dan Bahasa Italia. Versi Bahasa Inggris ditulis oleh Giorgio Moroder dan Tom Whitlock dengan judul To Be Number One (Summer 1990) dan dibawakan oleh Giorgio Moroder Project dengan vokalis utama Paul Engemann. Versi Bahasa Italia (liriknya) ditulis dan dibawakan oleh duo artis Italia Edoardo Benatto dan Gianna Nannini dengan judul Un’estate Italiana. Sampai saat ini, bagi Penulis lagu tema Piala Dunia 1990 inilah yang paling berkesan di telinga.

Selanjutnya, saat Piala Dunia FIFA 1994 digelar di Amerika Serikat, dirilislah album resmi Piala Dunia berjudul Gloryland, dengan lagu resmi berjudul sama, ditulis oleh Charlie Skarbek dan Rick Blaskey dan dibawakan oleh Daryl Hall (Hall & Oates) bersama Sounds of Blackness. Berbeda dengan lagu resmi di Piala Dunia sebelumnya (1990), Gloryland lebih terasa seperti lagu hymne yang serius dibanding To Be Number One yang lebih ngepop. Album Gloryland malah menawarkan lagu lawasnya Queen, We Are the Champions, sebagai salah satu lagu unggulan, yang tentu saja sedikit mengecewakan mengingat berjibunnya musisi populer di Amerika Serikat. Untunglah, empat tahun kemudian di Piala Dunia FIFA 1998 penggarapan album musiknya lebih serius, melibatkan banyak musisi dan vokalis dari seluruh dunia, dan hasilnya album resmi Piala Dunia 1998 Allez! Ola! Ole! menjadi album Piala Dunia yang tidak terlupakan. Kali ini ada dua lagu resmi Piala Dunia: Do You Mind If I Play (La Cour Des Grands) yang ditulis oleh Youssou N’Dour, Simon Richmond, Steve Hopwood, dan Jon Sharp serta dibawakan oleh Youssou N’Dour dan Axelle Red sebagai official anthem, serta The Cup of Life (La Copa de La Vida) yang ditulis oleh Desmond Childdan Robi Rosa serta dibawakan oleh Ricky Martin sebagai official song. Dari album Allez! Ola! Ole! Penulis mempunyai satu lagu favorit yaitu Top of the World  (Olé, Olé, Olé) yang dinyanyikan oleh band asal Inggris Chumbawamba. Lagunya sangat simpel, dengan lirik yang straightforward dan tentu saja refrein yang menggelora.

Untuk Piala Dunia selanjutnya, selalu dipilih dua lagu resmi sebagai official anthem dan official song. Berikut ini daftarnya:

  • Korea/Jepang 2002:
    • Official Anthem: Anthem (ditulis oleh Vangelis dan Takkyu Ishino, dibawakan oleh Vangelis)
    • Official Song: Boom! (ditulis oleh Anastacia dan Glenn Ballard, dibawakan oleh Anastacia)
  • Jerman 2006:
    • Official Anthem: Zeit dass sich was dreht (Celebrate The Day) (ditulis oleh Herbert Grönemeyer, dibawakan oleh Herbert Grönemeyer bersama Amadou & Mariam)
    • Official Song: Time of Our Lives (ditulis oleh Jörgen Elofsson dan Steve Mac, dibawakan oleh Il Divo dan Toni Braxton)
  • Afrika Selatan 2010:
    • Official Anthem: Sign of a Victory (ditulis oleh R. Kelly, dibawakan oleh R. Kelly dan Soweto Spiritual Singers)
    • Official Song: Waka Waka (This Time for Africa) (ditulis oleh John Hill, Golden Sound, dan Shakira, dibawakan oleh Shakira dan Freshlyground)
  • Brazil 2014:
    • Official Anthem: Dar um Jeito (We Will Find a Way) (ditulis oleh Alexandre Pires, Arash Pournouri, Rami Yacoub, Carl Falk, Tim Bergling, Arnon Woolfson, Diogo Vianna, dan Wyclef Jean, dibawakan oleh Carlos Santana, Wyclef Jean, Avicii, dan Alexandre Pires)
    • Official Song: We Are One (Ole Ola) (ditulis oleh Armando C. Perez, Thomas Troelsen, Jennifer Lopez, Claudia Leitte, Daniel Murcia, Sia Furler, Lukasz Gottwald, Henry Walter, dan Nadir Khayat, dibawakan oleh Pitbull, Jennifer Lopez, dan Claudia Leitte)
  • Rusia 2018: Live It Up (ditulis oleh Marty James, Will Smith, Jean-Baptiste, Thomas Wesley Pentz, Nick Rivera Caminero, Quavious Marshall, Jocelyn Donald, Clement Picard, Juan Diego Medina Vélez, Maxime Picard, Michael McHenry, dan Era Istrefi, dibawakan oleh Nicky Jam, Will Smith, dan Era Istrefi).

Selain lagu resmi, banyak juga beredar lagu-lagu bertema sepak bola/piala dunia saat berlangsungnya Piala Dunia di luar rilis resmi. Beberapa lagu yang cukup sukses menyaingi popularitas lagu-lagu resmi Piala Dunia di antaranya Carnaval de Paris (ditulis oleh Paul Spencer, Scott Rosser, dan Stephen Spencer, dibawakan oleh Dario G) serta Wavin’ Flag (Coca Cola Celebration Mix) (ditulis oleh K’naan, Bruno Mars, Philip Lawrence, dan Jean Daval, dibawakan oleh K’naan). Nah, manakah lagu Piala Dunia favorit Anda?