Vangelis (1943 – 2022)

Musisi asal Yunani, Evángelos Odysséas Papathanassíou, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Vangelis meninggal dunia baru-baru ini di usia 79 tahun. Dikenal sebagai komposer untuk film seperti Chariots of Fire (1981), Blade Runner (1982), 1492: Conquest of Paradise (1992), The Bounty (1984), Missing (1982), Alexander (2004), dan Antarctica (1983), ia juga dikenal karena partisipasinya di grup Aphrodite’s Child dan duo Jon and Vangelis bersama pendiri grup Yes Jon Anderson. Vangelis juga dikenal sebagai pionir yang memopulerkan penggunaan synthesizer untuk musik elektronik di tahun 70-an, terutama Yamaha CS-80 yang menjadi favoritnya.

Pada tahun 1963 ia membentuk band The Formynx bersama teman-teman sekolahnya. Pada tahun 1968 ia pindah ke Paris dan membentuk band Aphrodite’s Child bersama Demis Roussos, Loukas Sideras, dan Anargyros “Silver” Koulouris. Single perdana mereka Rain and Tears menjadi hit di Eropa. Dalam proses merekam album ketiga, 666, Aphrodite’s Child bubar. Vangelis kemudian merekam album solo perdananya, Fais que ton rêve soit plus long que la nuit (Make Your Dreams Last Longer Than the Night) pada tahun 1972. Pada tahun 1975 ia diundang untuk menggantikan posisi Rick Wakeman di grup Yes, yang kemudian diisi oleh Patrick Moraz.

Pada tahun 1979 Vangelis menulis soundtrack untuk film dokumenter karya Frederic Rossif, Opera Sauvage, yang mulai menarik perhatian dunia lewat lagu LÉnfant. Ia bekerja sama dengan vokalis Irene Papas dalam album Odes, yang kemudian dilanjutkan dengan proyek berikutnya Rapsodies (1986). Vangelis kemudian bekerja sama dengan vokalis Jon Anderson (Yes) dalam proyek Jon and Vangelis dan merilis empat album: Short Stories (1980), The Friends of Mr. Cairo (1981), Private Collection (1983), dan Page of Life (1991).

Pada tahun 1980 Vangelis diminta untuk menulis musik untuk film Chariots of Fire. Meskipun filmnya berlatar belakang Olympiade musim panas tahun 1924 di Paris, ia menolak menggunakan orkestra dan tetap menggunakan synthesizer. Hasilnya adalah album soundtrack ikonik yang menduduki posisi pertama di Billboard 200. Filmnya memenangkan empat Oscar termasuk film terbaik dan musik score terbaik untuk Vangelis. Lagu pembuka film, (berjudul Titles pada albumnya) menduduki posisi pertama di Billboard Hot 100 dan menjadi lagu signaturenya yang sering digunakan pada event-event olah raga, termasuk pada pembukaan Olympiade musim panas 2012 di London lengkap dengan penampilan Rowan Atkinson sebagai Mr. Bean di atas panggung. Vangelis juga menulis lagu tema untuk Piala Dunia 2002, Anthem.

Sejak itu, namanya semakin terkenal di dunia musik. Soundtracknya untuk film Blade Runner (1982) tidak kalah ikoniknya. Vangelis juga bekerja sama dengan NASA dan ESA untuk menulis karya-karya bertema luar angkasa seperti Mythodea (2001), Rosetta (2016), dan album solo terakhirnya Juno to Jupiter (2020). Vangelis meninggal dunia di Paris pada tanggal 17 Mei 2022 karena gagal jantung. RIP.

Jim Brickman, Pencipta Lagu Wajib Valentine

Suka tidak suka, Hari Valentine sudah menjadi bagian dari budaya pop masa kini. Penjualan bunga, cokelat, dan kartu ucapan meningkat drastis menjelang tanggal 14 Februari tiap tahunnya. Lagu-lagu dan film bertema kaih sayang juga dirilis menjelang Hari Valentine. Namun, dari sekian banyak karya yang bertema Valentine, ada satu lagu yang berhasil menjadi lagu tema “wajib” Hari Valentine. Lagu tersebut berjudul Valentine (sering juga disebut My Valentine) karya musisi Jim Brickman dan Jack Kugell serta dinyanyikan oleh vokalis country Martina McBride.

Terlahir sebagai James Merill Brickman pada 20 November 1961 di Cleveland, Amerika Serikat, ia mengawali kariernya dengan menulis jingle untuk iklan di tahun 1980. Pada tahun 1994 ia menandatangani kontrak dengan label rekaman Windham Hill dan merilis album perdananya No Words (1994). Lagu Valentine sendiri dirilis dalam album ketiganya, Picture This (1997) dan berhasil menduduki posisi ke-9 di Billboard Hot Country Songs dan posisi ke-3 di Billboard Adult Contemporary Chart. Dua singlenya berhasil menduduki posisi puncak di Billboard Adult Contemporary Chart: Simple Things (dinyanyikan oleh Rebecca Lynn Howard) dan Sending You a Little Christmas (dinyanyikan oleh Kristy Starling). Ia lebih dikenal karena karya-karyanya di awal kariernya seperti Valentine, Simple Things, By Heart (dinyanyikan oleh Laura Creamer), Destiny (dinyanyikan oleh Jordan Hill dan Billy Porter), The Gift (dinyanyikan oleh Colin Raye dan Susan Ashton), Love of My Life (dinyanyikan oleh Michael W. Smith), atau Never Alone (dinyanyikan oleh Lady Antebellum), namun sebenarnya Jim Brickman justru lebih produktif merilis album akhir-akhir ini. Jika dihitung-hitung ia sudah merilis lebih dari 100 album (termasuk kompilasi) selama 27 tahun kariernya. Artinya rata-rata Jim Brickman merilis empat album per tahun! Harus diingat bahwa pada 10 tahun pertama kariernya ia hanya merilis satu (kadang-kadang dua) album setahun.

Valentine
(Jim Brickman/Jack Kugell)

If there were no words
No way to speak
I would still hear you
If there were no tears
No way to feel inside
I’d still feel for you

And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
Until the end of time
You’re all I need, my love, my Valentine

All of my life
I have been waiting for
All you give to me
You’ve opened my eyes
And shown me how to love unselfishly

I’ve dreamed of this a thousand times before
But in my dreams I couldn’t love you more
I will give you my heart
Until the end of time
You’re all I need, my love, my Valentine

And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
Until the end of time
‘Cause all I need is you, my Valentine
You’re all I need, my love, my Valentine
© 1997 Windham Hill

Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak(s)

Sebuah grup dangdut mahasiswa yang lahir di akhir dekade 70-an ini melejit berkat kolaborasinya dengan Warkop Prambors. Dibentuk di tengah pergolakan antara mahasiswa dan pemerintahan orde baru kala itu, mereka memulai debutnya di lomba orkes dangdut mahasiswa di kampus UI. Nama Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP) pun tercetus nyaris spontan menjelang mereka naik panggung. Orkes Moral adalah pelesetan dari Orkes Melayu (O.M.) yang saat itu menjadi atribut wajib grup yang memainkan musik dangdut. Nama Pancaran Sinar Petromaks juga merupakan pelesrtan dari nama-nama Orkes Melayu saat itu seperti Pancaran Cinta. Personel OM PSP ada delapan yaitu; Ade Anwar, Rizali Wilmar Indrakesuma, Monos, Norman “Omen” Sonisontani, Andra, Dindin, James R. Lapian, dan Adit. Pada HUT ke-16 TVRI, mereka tampil live bersama Warkop Prambors yang kemudian dikasetkan oleh DD Records. Dalam penampilan tersebut mereka membawakan tujuh lagu di antaranya Cubit-cubitan (Koes Plus), Siksa Kubur (Ida Laila), dan Milikmu (A Rafiq).

(Sumber: https://web.facebook.com/people/Orkes-Moral-Pancaran-Sinar-Petromaks/100052099099786/)

Seperti halnya Warkop Prambors, OM PSP kemudian melejit kariernya di dunia hiburan. Album perdana mereka berisi cover version dari lagu Kidung (Chris Manusama/Pahama), Dracula (Ellya Khadam) dan My Bonnie, namun juga melejitkan lagu-lagu karya sendiri seperti Fatimah dan Gaya Mahasiswa. Album kedua mereka berisi lagu-lagu seperti Bapak Kena Lotere, Bye Bye Love, Trio Kodok, dan Nostalgia Duta Merlin. Mereka juga tampil dalam beberapa film seperti: Manis Manis Sombong (1980), Orang Orang Sinting (1980), dan Rayuan Gombal (1981). Setelah para personelnya lulus kuliah, aktivitas OM PSP mulai mengendur meskipun mereka tidak pernah bubar. Pada tahun 2019 kisah mereka difilmkan dengan judul Gaya Mahasiswa.

Diskografi

  • PSP/Warung Kopi Prambors (Ini Baru Komplit!!) (1978)
  • OM PSP (1979)
  • Trio Kodok (1980)
  • Pancaran Sinar Petromaks (John Lennon) (1981)
  • Nonstop Music (1982)
  • Monggo Mas! (1987)
  • PSP Reuni (1995)
  • Album Baru PSP (Mengapa Tiada Maaf) (1996)

Meat Loaf (1947 – 2022)

Sembilan bulan sejak meninggalnya musisi Jim Steinman, dunia musik kehilangan vokalis yang identik dengan lagu-lagu karyanya, Michael (terlahir: Marvin) Lee Aday a.k.a. Meat Loaf meninggal dunia pada tanggal 21 Januari 2022. Mendapatkan julukan “Meat Loaf” dari pelatih football-nya semasa SMA, ia mengawali kariernya dalam band Meat Loaf Soul yang kemudian terus berganti-ganti nama (dan personel). Akhirnya, kariernya mulai menanjak setelah bergabung dalam produksi drama musikal Hair di Los Angeles. Ia kemudian membentuk duet bersama penyanyi Shaun Murphy dengan nama Stoney & Meat Loaf yang kemudian merilis album di tahun 1971. Sayangnya, album ini gagal di pasaran dan duet Stoney & Meat Loaf pun tidak bertahan lama. Ia bertemu Jim Steinman saat melakukan audisi untuk produksi drama musikal More Than You Deserve. Mereka mulai menggarap konsep album Bat Out of Hell, namun Meat Loaf kemudian disibukkan oleh kariernya sebagai aktor dalam The Rocky Horror Picture Show dan National Lampoon: Lemmings.

Meat Loaf akhirnya memutuskan untuk lebih berkonsentrasi pada karier musiknya di tahun 1974. Pada awalnya Bat Out of Hell ditolak oleh semua label, hingga mereka bertemu musisi Todd Rundgren yang setuju untuk memproduksi album tersebut. Akhirnya, Bat Out of Hell pun dirilis tahun 1977, itupun tidak langsung meledak di pasaran. Barulah setelah penampilan di beberapa acara televisi dan melakukan pertunjukan live, album ini mulai terjual. Tidak tanggung-tanggung, diperkirakan sampai saat ini telah terjual 43 juta kopi di seluruh dunia. Sayangnya, sukses ini tidak bertahan lama, masalah dengan vokalnya yang menghilang membuat rencana album keduanya yang akan diberi judul Bad for Good pun gagal. Jim Steinman akhirnya mengisi vokalnya sendiri untuk album tersebut. Steinman kembali menulis lagu untuk album berikutnya dari Meat Loaf yang berjudul Dead Ringer (1981), namun konflik dengan pihak label dan juga dengan Meat Loaf membuat kerja sama keduanya berakhir. Popularitas Meat Loaf pun menurun tajam. Album-album berikutnya seperti Midnight at the Lost and Found (1983), Bad Attitude (1984), dan Blind Before I Stop (1986) gagal mengulang sukses kedua album pertamanya meskipun ia mencoba berkolaborasi dengan musisi/produser seperti John Parr dan Frank Farian. Di akhir dekade 80-an, ia hanya mampu tampil di pertunjukan kecil-kecilan sebelum kembali bekerja sama dengan Jim Steinman untuk menggarap album Bat Out of Hell II: Back into Hell (1993). Album ini sukses besar dan mengembalikan statusnya sebagai superstar. Singel I’d Do Anything for Love (But I Won’t Do That) menjadi hit terbesarnya, menduduki posisi pertama di 28 negara termasuk Amerika Serikat dan Inggris dan terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia. Lagu ini juga mengantarkannya meraih penghargaan Grammy sebagai penampilan rock solo vokal terbaik.

Meat Loaf masih merilis album hingga yang terakhir di tahun 2016 (Braver Than We Are) yang seluruh lagunya ditulis oleh Jim Steinman, seperti halnya album perdananya (Bat Out of Hell). Album ini menjadi album studio terakhirnya, sekaligus penutup kariernya yang panjang selama lebih dari 50 tahun. Selain sebagai penyanyi, ia juga masih berakting, salah satunya dalam film Fight Club (1999) sebagai Robert Paulson. Selamat Jalan Meat Loaf!

Diskografi:

  • Stoney & Meatloaf (1971)
  • Bat Out of Hell (1977)
  • Dead Ringer (1981)
  • Midnight at the Lost and Found (1983)
  • Bad Attitude (1984)
  • Blind Before I Stop (1986)
  • Bat Out of Hell II: Back Into Hell (1993)
  • Welcome to the Neighborhood (1995)
  • Couldn’t Have Said It Better (2003)
  • Bat Out of Hell III: The Monster Is Loose (2006)
  • Hang Cool Teddy Bear (2010)
  • Hell in a Handbasket (2011)
  • Braver Than We Are (2016)

Dschinghis Khan (Huh…Hah!)

Sebuah kepingan dari masa lalu, atau masa kecil di akhir dekade 70-an dan awal 80-an. Saat musik yang didengarkan tidak melulu karya musisi lokal, namun juga mancanegara. Menariknya, sebagian besar yang terekam di ingatan ternyata adalah artis-artis Eropa, terutama ABBA dan Boney M. Bagi seorang anak kecil, semua artis mancanegara itu sama, atau istilah orang “bule” atau dalam Bahasa Jawa, “londho”. Perbedaannya tentu pada lirik lagu yang berbahasa Inggris (meskipun beberapa musisi Indonesia pernah merilis lagu berlirik Bahasa Inggris). Baru kemudian kita tahu bahwa grup ABBA berasal dari Swedia, sedangkan Boney M beranggotakan artis-artis dari Karibia (Jamaika, Montserrat dan Aruba) dan dibentuk oleh produser asal Jerman (Frank Farian), serta tak satupun anggotanya (ataupun produsernya) bernama Boney!.

Namun, ada satu lagu yang selama ini masih memancing rasa penasaran, satu lagu berirama disko berbahasa bukan Inggris yang satu-satunya potongan lirik yang teringat adalah kurang lebih seperti ini: “…Hey hey Jenghis Khan…” dan vokal latarnya hanyalah teriakan Huh, hah, huh, hah. Untunglah di era masa kini tidak sulit melacak lagu-lagu lama, cukup mengandalkan Google, Wikipedia plus YouTube. Dan ternyata ingatan sepotong-potong itu tidak jauh meleset dari kenyataan. Alhasil, muncullah judul lagu yang dicari: Dschinghis Khan oleh grup dengan nama yang sama. Setelah menyimak lebih lanjut, ternyata grup ini mempunyai latar belakang yang bak persilangan antara ABBA dan Boney M. Seperti Boney M, Dschinghis Khan dibentuk oleh produser asal Jerman Ralph Siegel. Seperti ABBA, grup ini mengawali kariernya dari kontes musik Eurovision. Di tahun 1979, Ralph Siegel menulis lagu berjudul Dschinghis Khan (ejaan Jerman untuk Jenghis Khan) untuk mengikuti kontes Eurovision mewakili Jerman dengan lirik yang ditulis oleh Bernd Meuninger. Untuk membawakannya, ia membentuk grup yang beranggotakan enam orang yang bukan hanya berasal dari Jerman: Steve Bender dan Wolfgang Heichel keduanya memang asli Jerman, namun istri Heichel, Henriette Strobel berasal dari Belanda. Berikutnya ada dua artis asal Hungaria: Edina Pop dan Leslie Mándoki, dan Louis Hendrik Potgier, seorang penari asal Afrika Selatan.

Lagu (dan grup) Dschinghis Khan kemudian terpilih untuk mewakili Jerman pada kontes Eurovision 1979 yang diselenggarakan di Israel. Meskipun mendapat sambutan meriah dari penonton saat tampil, perwakilan Jerman akhirnya hanya menduduki posisi keempat. Namun demikian, itu cukup untuk mengantar mereka masuk dapur rekaman untuk merilis album pertama mereka Dschinghis Khan (1979). Singel pertama mereka, Dschinghis Khan, menduduki posisi pertama di Jerman. Singel kedua mereka, Moskau, juga sukses menduduki posisi ketiga di Jerman. Menyusul sukses di daratan Eropa, grup ini mulai mencoba menembus pasar internasional dengan merilis ulang lagu-lagu mereka dalam Bahasa Inggris. Versi Bahasa Inggris dari Moskau yang berjudul Moscow mencetak sukses di Australia setelah dijadikan lagu tema liputan Olimpiade Moskow 1980 di stasiun televisi Channel 7. Moscow menduduki posisi pertama selama enam pekan di tangga lagu Australia. Mereka merilis tiga album susulan: Rom (1980), Wir sitzen alle im selben Boot (1981), Helden, Schurken & der Dudelmoser (1982), dan Corrida (1983) sebelum membubarkan diri. Di tahun 1986 tiga anggota mereka, Henriette Heichel, Leslie Mándoki, dan Louis Potgier kembali menyanyikan lagu Wir gehör’n zusammen untuk kontes Eurovision atas nama Dschinghis Khan Family. Mereka hanya menduduki posisi kedua pada tahap kualifikasi untuk Jerman.

Louis Potgier meninggal dunia pada tahun 1994. Leslie Mándoki bersolo karier dan tidak pernah terlibat lagi dalam Dschinghis Khan. Pada tahun 2005, empat personel Dschinghis Khan: Wolfgang Heichel, Henriette Strobel, Edina Pop, dan Steve Bender bereuni dengan melakukan konser di stadion Olimpiade Moskow. Stefan Track menjadi personel kelima Dschinghis Khan dalam konser tersebut menggantikan Louis Potgier. Steve Bender meninggal dunia pada tahun 2006. Di tahun 2007, Dschinghis Khan merilis album 7 Leben, 24 tahun sejak album studio terakhir mereka. Setelah itu, Dschinghis Khan kembali vakum hingga tahun 2018 saat lagu Moskau direkam ulang untuk pergelaran Piala Dunia sepak bola di Moskow. Sejak itu, ada dua versi Dschinghis Khan, yang pertama menampilkan Henriette Strobel dan Edina Pop, yang kedua dengan Wolfgang Heichel dan Stefan Track (yang juga mempunyai projek spin-off dari Dschinghis Khan bernama Rocking Son). Hal ini, ironisnya, juga menimpa Boney M, yang masing-masing personelnya memiliki versi grup Boney M-nya masing-masing. Pada tahun 2021 Dschinghis Khan versi Wolfgang Heichel merilis album baru yang berjudul Here We Go. Sebagai penutup, selamat mendengarkan dua versi lagu Dschinghis Khan dalam Bahasa Indonesia!

Antara Brandy dan Mandy

Mungkin banyak yang beranggapan bahwa kita akan membicarakan soal dua penyanyi wanita: Brandy Norwood dan Mandy Moore, atau yang lebih generik lagi mengenai soal minuman keras dan kegiatan setelah bangun tidur (dalam lagu berjudul Bangun Tidur yang bukan dinyanyikan oleh Mbah Surip). Tapi sayangnya, kali ini kita akan membicarakan soal lagu. Sebagian dari kita tentu mengenal lagu berjudul Mandy. Penggemar musik tahun 90-an/2000-an mengenal lagu ini saat dibawakan oleh boyband asal Irlandia, Westlife, sementara generasi 70-an dan 80-an mengenalnya sebagai lagu hit yang dibawakan oleh penyanyi Barry Manilow. Namun ternyata penulis lagu dan yang membawakannya pertama kali adalah musisi Scott English di tahun 1971. Ia menulis lagu ini bersama Richard Kerr dengan judul Brandy (!).

Lalu mengapa Brandy berubah menjadi Mandy? tentu bukan akibat operasi plastik atau semacamnya. Saat dirilis pertama kali, lagu Brandy ini tidak terlalu sukses, hanya menduduki posisi ke-91 di Billboard Hot 100, sedangkan di Inggris lebih baik dengan mencapai posisi ke-12. Di tahun 1972, band pendatang baru Looking Glass merilis album perdananya, Looking Glass, dengan singel andalannya yang berjudul Brandy (You’re a Fine Girl). Nah, lagu ini sukses mencapai posisi pertama di Billboard Hot 100.

Saat Barry Manilow hendak merekam ulang lagu Brandy dari Scott English ini di tahun 1974, ia mengubah judulnya menjadi Mandy untuk menghindari kebingungan antara lagu ini dengan hit dari band Looking Glass di atas. Ternyata, versi Barry Manilow ini lebih sukses dibandingkan versi aslinya karena berhasil mencapai posisi pertama di Billboard Hot 100. AKhirnya, lagu ini pun lebih dikenal bukan dengan judul aslinya.

Fakta menarik bahwa Scott English konon menulis lagu Brandy karena terinspirasi ucapan seseorang saat mabuk minuman brandy di Prancis, “Brandy goes down fine after dinner, doesn’t she”. Saat ditanyai seorang reporter yang menelponnya pagi-pagi buta, Scott menjawab dengan agak kesal bahwa lagu Brandy ditulis untuk anjing kesayangannya. Setelah lagu Looking Glass (yang jelas-jelas menyatakan Brandy sebagai nama seorang gadis) menjadi hit, popularitas nama Brandy sebagai nama anak perempuan meroket di Amerika Serikat, yang mungkin juga mengilhami nama penyanyi Brandy Norwood. Meski demikian, belum ada konfirmasi apakah popularitas lagu Mandy saat dinyanyikan oleh Barry Manilow meroketkan popularitas nama Mandy untuk anak perempuan dan mengilhami nama penyanyi Mandy Moore (yang nama panjangnya Amanda Leigh Moore itu).

Oddie Agam (1953 – 2021)… Akhirnya

Kabar duka kembali mewarnai dunia musik Indonesia. Imran Madjid, atau lebih dikenal dengan Oddie Agam, meninggal dunia pada 27 Oktober 2021 karena sakit. Oddie Agam dikenal sebagai musisi, vokalis, dan pencipta lagu yang populer di akhir 80-an hingga awal 90-an. Sebelum meniti karier di Indonesia, Oddie mengawalinya sebagai musisi di luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Australia. Di Australia, ia sempat bergabung dengan band rock White Stallion Band dan band reggae Dumbala, Pada awal kariernya, ia merilis album perdananya, Aku Kau & Dia pada tahun 1983, Bellina pada tahun 1984, disusul album keduanya, Gadis Sentimentil (1986). Kedua album itu bisa dikatakan gagal di pasaran , meskipun lagu Gadis Sentimentil cukup populer di radio-radio saat itu. Namun ternyata karier sebagai penulis lagu yang akan menjadikannya legenda. Sebuah lagu ciptaannya yang berjudul Antara Anyer dan Jakarta mula-mula direkam oleh Atiek CB dan dijadikan lagu andalan dari album berjudul sama yang dirilis pada tahun 1986. Sayangnya, album dan lagu ini tidak berhasil menjadi hit. Setahun kemudian penyanyi asala Malaysia Sheila Majid merekam album keduanya yang berjudul Emosi. Oddie Agam adalah satu-satunya komposer non-Malaysia yang terlibat di sini, menyumbangkan dua lagu: Antara Anyer dan Jakarta dan Tua Sebelum Waktunya, Tanpa diduga, Antara Anyer dan Jakarta kali ini menjadi hit, mengantarkan Sheila Majid menjadi penyanyi yang terkenal di Indonesia, sekaligus melejitkan nama Oddie Agam sebagai komposer lagu hit. Sejak itu, Oddie menjadi salah satu hitmaker di era yang disebut pop kreatif akhir dekade 80-an. Silakan menyimak daftar lagu hit hasil karya Oddie Agam di bawah ini:

  1. Surat Cinta (Vina Panduwinata)
  2. Puncak Asmara (Utha Likumahuwa)
  3. Kesempatan (Oddie Agam & Dewi Yull)
  4. Bahasa Cinta (Broery Pesolima & Vina Panduwinata)
  5. Arti Kehidupan ((Mus Mujiono)
  6. Aku Cinta Padamu (Itang Yunasz)
  7. Memori (Ruth Sahanaya)
  8. Begitulah Cinta (Harvey Malaihollo & Vina Panduwinata)
  9. Tanda Tanda (Mus Mujiono)
  10. Anak Sekolah (Chrisye)
  11. Koq Jadi Gini (Hetty Koes Endang)
  12. Ujung Rambut ke Ujung Kaki (Chintami Atmanagara)
  13. Mau Tak Mau (Harvey Malaihollo)
  14. Logika (Vina Panduwinata)
  15. Bojoku (Anggun C. Sasmi)

Sebagai vokalis pun Oddie Agam juga mampu membawakan karya musisi lain dengan baik, salah satunya adalah lagu berjudul Akhirnya. Lagu ciptaan Younky Soewarno dan Deddy Dhukun ini pertama kali dirilis dalam album solo Deddy Dhukun berjudul Hu Wi Yu. Warna religi dalam lagu ini membuat lagu ini tak lekang dimakan zaman.

ABBA Voyage: They’re Back!

Siapa yang tak kenal ABBA? Penggemar musik (pop) era 70-an pasti tidak asing dengan kuartet asal Swedia ini. Popularitas ABBA di dekade 70-an bisa disejajarkan dengan popularitas The Beatles di dekade 60-an, terutama di Inggris. Meskipun telah “bubar” di tahun 1982, ABBA masih tetap populer, album-album mereka masih laris terjual, lagu-lagu mereka masih banyak didengarkan, terutama setelah peluncuran drama musikal Mamma Mia! (1999) yang kemudian difilmkan pada tahun 2008 dan dibintangi oleh Meryl Streep, Colin Firth, dan Pierce Brosnan. Pada saat peluncuran film Mamma Mia! inilah keempat personel ABBA berkumpul kembali sejak tahun 1986. Setelah berulang kali para personelnya menolak tawaran untuk reuni, pada tahun 2016 diumumkan bahwa ABBA akan bereuni dan melakukan tur, menggunakan teknologi digital untuk menampilkan proyeksi para personel sewaktu mereka masih muda, yang disebut “ABBAtars”. Pada tahun 2018, keempat personel ABBA mengumumkan bahwa mereka telah merekam dua lagu baru yang akan dirilis pada tahun 2019. Proyek ini kemudian ditunda hingga tahun 2021 akibat pendemi COVID-19. Akhirnya pada 2 September 2021 ABBA mengumumkan album baru mereka yang berjudul Voyage yang akan dirilis pada 5 November 2021. Dua singel baru, I Still Have Faith in You dan Don’t Shut Me Down juga dirilis pada saat bersamaan. Video musik untuk I Still Have Faith in You menampilkan teknologi ABBAtars pada bagian akhirnya.

Pada video di bawah ini Anda bisa menyaksikan proses di balik pembuatan ABBAtars, dan juga pembuatan album Voyage.

Mengenang Scatman John (1942-1999)

Kalau di Indonesia kita mengenal Mbah Surip, seorang seniman/musisi yang terkenal di usia lanjut, dan kemudian meninggal dunia, di dunia internasional kita mengenal seorang Scatman John, seorang pianis jazz yang sukses sebagai “rapper” atau tepatnya scat singer. Bernama asli John Paul Larkin, ia mengawali kariernya sebagai pianis jazz di tahun 70-an dan 80-an. Album solo perdananya dirilis pada tahun 1986 dengan judul John Larkin. Pada tahun 1990-an ia pindah ke Berlin, Jerman dan bertemu dengan seorang produser Tony Catania, yang menyarankannya untuk memadukan scat singing dengan musik dance/hip-hop. John, yang agak gagap dalam berbicara sebelumnya suka menambahkan scat singing pada penampilan livenya, sempat takut akan ditertawakan oleh penontonnya. Namun istrinya berhasil meyakinkannya dan ia pun merekam singel perdananya, Scatman (Ski-Ba-Bop-Ba-Dop-Bop) pada bulan November 1994 yang mencetak sukses di mana-mana, termasuk posisi ketiga di tangga lagu Inggris dan top 10 di tangga lagu Billboard Hot Dance Club Play (posisi ke-60 di Billboard Hot 100). Sejak itu, ia lebih dikenal sebagai Scatman John.

Singel keduanya, Scatman’s World, menembus posisi ke-10 di tangga lagu Inggris melanjutkan sukses singel pertamanya. Di usis 53 tahun, Larkin menjadi superstar kelas dunia. Album pertamanya, yang juga berjudul Scatman’s World, terjual di atas sejuta kopi di seluruh dunia. Album keduanya, Everybody Jam! (1996) tidak sesukses album pertamanya, namun berhasil mendapat perhatian di Jepang. Album ketiganya, Take Your Time (1999) dirilis sebelum kematiannya akibat kanker paru-paru di akhir tahun 1999. Selamat jalan Scatman John.

Jim Steinman (1947 – 2021), Heaven Can’t Wait

Now the bat is finally back into hell? of course, good girls (and men) go to heaven and bad girls (and men) go everywhere. James Richard Steinman, lebih dikenal dengan panggilan Jim, adalah musisi dan penulis lagu kelahiran New York, Amerika Serikat yang dikenal dengan gaya “bombastis”. Melejit lewat album Bat Out of Hell (1977) yang seluruh lagu di dalamnya ditulis oleh Jim Steinman, diproduksi oleh Todd Rungren, dan dinyanyikan oleh Marvin Lee Aday, atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya, Meat Loaf. Album ini pada awalnya ditolak oleh setiap label rekaman saat ditawarkan, kemudian menjadi salah satu album terlaris sepanjang masa dengan lebih dari 40 juta kopi terjual. Hubungan Jim Steinman dan Meat Loaf mewarnai karier keduanya seolah drama opera sabun: antara cinta dan benci. Album Bad for Good (1981), ditulis untuk Meat Loaf sebagai follow-up album Bat Out of Hell, terpaksa direkam oleh Jim sendiri karena Meat Loaf kehilangan suaranya. Jim dan Meat Loaf kemudian kembali bekerja sama dalam album Dead Ringer (1981) yang gagal mengulang sukses Bat Out of Hell. Kemudian, Jim memilih bekerja sama dengan artis lain seperti Bonnie Tyler dan Sisters of Mercy dan merilis album konsep Original Sin (1989), sementara Meat Loaf bekerja sama dengan produser asal Jerman Frank Farian. Keduanya kembali bekerja sama untuk album Bat Out of Hell II: Back to Hell (1993) yang melahirkan hit nomor satu I’d Do Anything for Love (But I Won’t Do That). Empat belas tahun kemudian Meat Loaf merilis album Bat Out of Hell III: The Monster Is Loose, tanpa campur tangan Jim Steinman. Peluncuran album ini diikuti sengketa hukum seputar pemakaian judul “Bat Out of Hell”.

Tentu saja, Meat Loaf bukanlah satu-satunya artis yang sukses membawakan karya-karya Jim Steinman, meskipun mungkin yang paling identik. Berikut ini sejumlah lagu hit yang ditulis oleh Jim Steinman: Total Eclipse of the Heart (Bonnie Tyler), Making Love Out of Nothing at All (Air Supply), It’s All Coming Back to Me Now (Celine Dion), No Matter What (Boyzone, ditulis bersama Andrew Lloyd Webber). Selain musik , Jim Steinman juga banyak terlibat dalam drama musikal, di antaranya The Dream Engine (1969), More Than You Deserve (1973), The Confidence Man (1976), dan Neverland (1977). Faktanya, Jim Steinman dan Meat Loaf bertemu pertama kali di proyek drama musikal More Than You Deserve. Ia kemudian menulis lirik untuk karya musikal Andrew Lloyd Webber, Whistle Down the Wind (1997), kemudian menulis musik untuk drama musikal Tanz der Vampire (1997). Setelah berjuang bertahun-tahun, akhirnya musikal Bat Out of Hell (2017) yang berisikan lagu-lagu yang pernah ditulisnya, mulai dipentaskan pada tahun 2017. Jim Steinman juga menulis lagu untuk soundtrack film Footloose (Holding Out for a Hero) dan Streets of Fire (Tonight Is What It Means to Be Young), selain The Shadow (Original Sin).

Membicarakan Jim Steinman, setiap yang mendengar lagu (hit) karyanya akan mengenali ciri khas penulisan lagunya: musik yang menggelegar (ciri khas power ballad) dan lirik dengan repetisi yang cukup untuk merentang lagu-lagu karyanya menjadi sangat panjang, di atas lima menit, versi album I’d Do Aything for Love bahkan sepanjang 12 menit. Ia juga dikenal sangat menyukai repetisi, bukan hanya lirik dalam lagunya, namun juga dalam hal lagu karyanya yang dibawakan ulang oleh artis lain: It’s All Coming Back to Me Now dan Original Sin aslinya dibawakan oleh Pandora’s Box sebelum dibawakan Celine Dion dan Taylor Dayne, sebelum akhirnya dinyanyikan Meat Loaf, Total Eclipse of the Heart dibawakan ulang oleh Nicki French, Meat Loaf sendiri menyanyikan ulang hampir semua karya Jim Steinman yang sebelumnya dibawakan artis lain. Gaya bermusiknya banyak dikritik namun sejujurnya, tidak ada yang mampu menulis karya-karya seperti Jim Steinman dan sukses. Seperti potongan lirik dalam salah satu karyanya: “…It ‘s a dirty job but somebody’s gotta do it…”. Hanya ada satu Jim Steinman, dan hanya ada satu style musik ala Jim Steinman. Jim pernah terkena stroke pada tahun 2004 yang mempengaruhi kemampuannya untuk bicara. Ia mengalaminya lagi pada tahun 2017. Ia meninggal pada tanggal 19 April 2021 akibat gagal ginjal. Ia meninggalkan sederet karya musik yang telah menginspirasi generasi demi generasi, you won’t be forgotten, Mr. Jim Steinman, it’s just heaven can’t wait much longer… the beat is yours forever, that’s when rock and roll dreams come through